Rune Knight (Monster Tamer)

Rune Knight (Monster Tamer)
BAB III Legenda Yang Terhapus


__ADS_3

3.4 Gilgamesh.


Getaran dan suara gemuruh yang sangat kuat membuatku terpontang-panting. Butiran-butiran kerikil dari langit-langit gua satu-persatu jatuh. Aku mencoba untuk tetap terjaga agar tidak mengeluarkan suara.


Selain itu aku melihat laki-laki berbaju hitam sedang berjongkok untuk menyeimbangkan badannya. Akhirnya akupun mengambil posisi duduk tepat di depan laki-laki tadi.


"krakkkk krakkk," terdengar suara retakan. Suara itu mirip dengan suara retakan kaca.


"Duar," suara ledakan yang sangat dahsyat membuat aku dan laki-laki di depanku tersentak kaget.


Kami berdua berusaha mengintip untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. Angin kencang serta getaran yang sangat kuat membuat kami kesulitan untuk mengintip di dalam ruangan. Aku memperkirakan bahwa angin itu berasal dari ledakan yang barusan terjadi.


"Ahhh, siapa yang berani-berani membangunkanku?," suara yang sangat kencang terdengar olehku saat getaran mulai mereda.


Setelah getaran mulai reda, aku dan laki-laki di depanku langsung mengendap-ngendap mendekati suara tadi.


Terlihat seorang laki-laki yang sebelumnya tidak aku lihat berada di depan para demon dan satu wanita.


"Maafkan aku yang mulia mengganggu istirahat anda. Saya adalah Teresa, mungkin tuan mengingatku," kata wanita yang bersama demon di dekatnya.


Laki-laki tadi terlihat sedang berpikir. Dia memegang dagunya seakan-akan sangat serius memikirkan sesuatu.


"Oh, Teresa anak yang cengeng dulu yah," kata laki-laki tadi setelah menepuk kedua tangannya sekali.


Setelah itu mereka terlihat sangat akrab dan mengobrol. Orang yang mengendap-ngendap bersamaku telah hilang dari posisinya. Aku tidak sadar dia hilang kemana.


Lalu ketika aku berbalik ingin melihat lokasi para demon tadi, ternyata laki-laki yang bersama Teresa sudah ada di depanku.


"Hei bocah siapa kau?" tanya laki-laki itu yang terlihat sangat berwibawa.


"Hehehe," aku hanya tertawa dan benar-benar tidak bisa melakukan apapun.


Sialan, tubuhku benar-benar tidak bisa bergerak kataku dalam hati sambil mencoba menggerakkan tubuhku.


Aura yang di keluarkan laki-laki di depanku membuatku tal berkutik. Akhirnya aku di tangkap oleh mereka dan kami berjalan menyusuri gua.


Aku hanya berjalan di tengah-tengah sambil di awasi oleh demon. Sementara laki-laki yang mengeluarkan aura berbahaya tadi berda tepat di belakangku. Selain itu wanita yang bernama Teresa berjalan seperti menjadi seorang guide.


Gawat aku merasa tidak dapat melawan mereka kataku dalam hati sambil terus berjalan mengikuti mereka.


"Sebenarnya kalian siapa?" tanyaku setelah beberapa saat mengumpulkan keberanian.


"Hahaha, untuk apa aku menjawab hal itu?, sedangkan di awal tadi kamu tidak menjawab pertanyaanku," kata orang yang berada tepat di belakangku.


Setelah itu kami berhenti di suatu tempat di dalam gua. Terlihat ada aliran air seperti sungai yang cukup deras. Selain itu tempat itu terasa lebih segar dari pada tempat yang sebelumnya.


Tiba-tiba serangan mendadak muncul dari arah belakang kami. Itu terlihat seperti skill tebasan milik seorang shogun. Tebasan berkali-kali datang dari sisi gelap tempat itu.


Serangan itu membuat formasi demon dan teresa yang melingkariku hancur. Akan tetapi laki-laki di belakangku terlihat santai dan tidak menunjuklan kepanikan.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian muncullah orang yang menggunakan baju serba hitam yang aku temui di ruangan sebelumnya.


"Hei Teresa," sapa orang itu yang terlihat sangat misterius dan sepertinya mengenal Teresa.


"Siapa kamu?" tanya Teresa yang tidak mengenal orang itu.


"Aku Andi, apakah kau masih ingat?" kata laki-laki yang menggunakan baju berwana hitam tadi sambil berpose aneh.


"Aku tidak mengenal Andi, ayo kita pergi," kata Teresa cuek dan mengajak para demon dan laki-laki beraura kuat pergi dari tempat itu.


"Hei jangan cueki aku," kata Andi sambil menebas beberapa kali.


Teresa yang menjadi incaran tebasan tadi hanya bergerak sedikit untuk menghindari serangan itu.


"Kamu masih kuat seperti dulu," kata Andi dan langsung menyerang Teresa.


Andi berusaha menyerang Teresa dengan pedang samurai yang ada di tangan kanannya.


Teresa mengambil tombak yang berada di punggungnya lalu menangkis serangan demi serangan dari Andi. Sementara para demon dan laki-laki beraura kuat hanya duduk di belakangku.


Aku melihat pertarungan yang sangat luar biasa. Ini sama halnya ketika pak Jihan melawan Dion ketika di arena pertarungan dulu. Tapi tingkat pertarungan Andi dan Teresa sepertinya lebih tinggi sedikit.


"Menurutmu siapa yang akan menang bocah?" tanya laki-laki beraura kuat sambil memandangi pertarungan Tersan dan Andi.


"Aku tidak tahu," jawabku bersamaan dengan beberapa kali suara tabrakan senjata Teresa dan Andi.


"Aku akan membebaskanmu jika tebakanmu bekar," kata laki-laki beraura kuat tadi.


"Hahaha, baiklah. Kita lihat saja siapa yang akan menang," kata laki-laki beraura kuat yang sepertinya merencanakan sesuatu.


"Bocah namaku Gilgamesh, siapa namamu?" lanjut laki-laki beaura kuat itu.


"Aku Kenang, siapa sebenarnya dirimu?" jawabku kepada Gilgamesh lalu bertanya.


"Aku adalah orang yang sangat kuat," kata Gilgamesh yang terlihat percaya diri.


Sementara di pertarungan, beberapa serangan Andi memang tidak begitu efektif. Hal itu dapat dilihat dari matanya yang terlihat sudah tidak dapat tenang. Sementara Teresa masih tetap tenang menghadapinya.


Ketika Andi mulai kehabisan nafas dan lengah, Teresa langlung mengarahkan tombaknya menuju tubuh Andi. Tetapi hal aku tidak duga terjadi. Tiba-tiba penutup wajah Andi terbuka dan terjadi ledakan kuat dimana penutup wajah Andi terbang. Teresa yang menyerang berhenti karena melihat wajah Andi.


Aku langsung melihat ke arah Gilgamesh. Tetapi Gilgamesh hanya tersenyum. Ini pasti perbuatannya kataku dalam hati.


"Kamu pasti melakukan seuatu," kataku pada Gilgamesh yang sedikit kesal karena Teresa harusnya dapat memenangkan pertarungan.


"Hahaha, aku hanya melempar kerikil," kata Gilgames santai.


Entah mengapa Teresa tiba-tiba berhenti dan terkaget. Lalu Andi menggunakan kesempatan tersebut untuk meledakkan bom asap.


Asap menutupi setiap sudut ruangan. Aku tidak dapat melihat sekitarku. Tiba-tiba ada tangan yang ku rasa menarik tangan kananku. Tetapi aku tidak dapat bergerak. Kau tidak dapat bergerak karena tangan kiriku di tahan oleh orang lain.

__ADS_1


***


Aku beridir di sebuah ruangan yang sangat hijau. Rumput tumbuh subur di ruangan itu. Tidak hanya rumput, tapi ada satu pohon yang terlihat sangat rimbun. Aku merasa kagum dengan ruangan itu. Aku kagum karena di bagian paling dalam gua ada tempat seperti ini.


Aku hanya berbaring di rumput tersebut sambio mendengar perdebatan seorang pria dan wanita.


"Kenapa kami tidak membunuhku?" tanya pria yang sedang berdebat dengan seorang wanita.


"Itu karena aku tidak ingin membunuh orang yang aku kenal," kata wanita yang berada di depannya berdiri.


"Jika seperti ini, aku yang akan membunuhmu Teresa," kata pria yang juga berdiri di depan wanita tadi.


"Aku tak masalah jika kau membunuhku, tapi jika kamu berjanji akan keluar dari kelompok raja monster mitos yang sekarang, Andi," kata Teresa yang terdengar sangat serius.


"Aku tidak bisa. Aku akan mengabdikan diriku pada raja monster mitos," kata Andi sangat keras kepala.


"Kau adalah manusia Andi, sama sepertiku," kata Teresa yang terlihat cukup sedih.


"Aku memang manusia, tapi ada hal-hal yang aku harus ku lakukan. Meskipun aku harus menjadi budak mereka," kata Andi setelah mengusap wajahnya.


"Sudah-sudah kalian berdua tak perlu bertengkar. Kalian sudah lama tak bertemu lebih baik mengobrolkan hal lain," kata seseorang yang tiba-tiba datang di tengah mereka berdua.


"Ah iya baginda raja Gilgamesh," kata Teresa yang terlihat sangat menghormati Gilgamesh.


"Jangan panggil aku raja. Aku sudah bukan raja. Sekarang aku hanyalah monster mitos biasa," kata Gilgamesh dengan santai.


"Tapi raja tetaplah raja dimataku," kata Teresa sangat percaya diri.


Sementara itu aku yang mendengar dan melihat mereka sangat terkejut. Aku tak mengira bahwa Gilgamesh adalah seorang monster mitos.


Sefelah mereka bertiga mengobrol akhirnya aku paham bahwa Gilgamesh adalah raja para monster mitos sebelumnya.


Sementara Teresa dan Andi adalah teman masa kecil yang di rawat oleh raja Gilgamesh dari bayi. Usia Teresa dan Andi sangat tua yaitu seratus tahun. Hal ini juga membuatku terkejut karena mereka adalah manusia tetapi dapat berumur panjang dan tidak menunjukkan penuaan pada tubuhnya. Mereka terlihat seperti manusia berusia 20 tahunan.


Teresa merupakan bagian dari The Order. The Order merupakan orang-orang yang ingin menjatuhkan raja monster mitos saat ini. Mereka saling bahu membahu antara beberapa manusia dan monster mitos yang memiliki pemikiran sama.


Tetapi Andi adalah orang yang mendukung raja monster mitos yang sekarang. Meskipun dia tidak menjawab pertanyaan Teresa mengapa dia menjadi budak raja Hornig.


"Kenang, Kenang. Woiii. Dimana kau berada?" teriak seseorang yang ku kenal dari arah saat pertamakali aku memasuki ruangan ini.


Itu adalah suara Elric. Dia keluar dari kegelapan bersama Escanor. Ketika mereka melihatku, mereka langsung berlari ke arahku.


"Hei Escanor lama tak berjumpa," kata Gilgamesh mendekati kami.


Escanor yang sepertinya kaget dengan suara yang dia dengar dan berbalik.


"Baginda raja," kata Escanor sambil berlutut di depan Gilgamesh.


"Hei-hei ada apa dengan kalian ini?, aku sudah bukan raja. Berdirilah Escanor!" kata Gilgamesh sambil menggaruk kepalanya.

__ADS_1


"Tuan Escanor," kata Teresa dan Andi secara bersama-sama.


Setelah mereka mengobrol cukup lama di dalam gua itu, kami akhirnya berpisah. Teresa dan Gilgamesh pergi menuju arah yang berbeda denganku. Aku, Elric dan Escanor pergi menuju arah Elric datang. Sementara Andi hanya diam di dalam ruangan itu.


__ADS_2