
Mata monster-monster itu menatapku tajam, Mereka melompat keatas untuk mengejar ku. Saat ini targetku bukan melawan mereka, tetapi mencari siapa yang mengendalikan mereka.
Aku memusatkan auraku pada kakiku, dan satu hentakan aku melesat meninggalkan mereka. Tetapi tidak ku sangka, mereka berhasil menyusul ku.
Aku melompat setiap rumah demi rumah. Tetapi aku sama sekali belum menemukan si pengendali. Auranya tidak terlihat di manapun, dimanakah dia bersembunyi?
Aku mencemaskan keadaan ku yang mungkin akan kesulitan menahan auraku yang besar. Tapi, bagaimana caraku menemukan orang itu?
Ah, aku menemukan ide walau ini hanyalah percobaan saja. Tidak mungkin kekuatan yang orang ini miliki tidak memiliki batas, contohnya batas jarak.
Aku harus pergi sejauh mungkin, dan bingo!! Mereka mulai kehilangan kendali, tampak mereka yang berhenti dan diam. Lalu mengejarku lagi.
Jika tebakanku benar jarak efektif hanya sampai seratus meter. Karena kantor TaPA Mexico city berjarak seratus meter dari jalan biasa bukan nasional.
Monster-monster ini kehilangan kendali lagi, banyak yang berlari acak mengejar ayam atau binatang yang ada di sini. Kenapa mereka seperti ini ya?
Pasti si pengendali monster melepas kontrolnya. Sepertinya dia berpindah tempat, aku harus fokus untuk tidak kehilangan dia.
Disamping itu jika aku terus lari ke arah banyak penduduk ini akan menjadi lebih berbahaya. Orang ini sengaja mengarahkan ku untuk berlari ke arah padat penduduk.
Sial, aku harus tenang dan fokus agar bisa menemukan orang ini. Bagaimana ya cara mendeteksi aura yang tak kasat mata?
Karena sudah mendesak, aku hanya harus melawan 4 monster ini. Aku tidak ingin terbebani terus menggunakan kemampuan Aura.
Aku berbalik arah, dan mengepalkan tangan ku. Kemudian mengalirkan aura ke kepalan tangan.
Monster-monster ini berusaha menyerang serempak. Dengan segenap kekuatan, aku melepas pukulan ku pada kepala salah satu monster.
Monster itu hancur kepalanya dan mati, aku kaget pukulan ku bisa sekuat ini. Lalu, ketiga monster lainnya mundur beberapa langkah.
Dalam keheningan, keringatku bercucuran di pipiku. Di tempat ini seperti tidak ada kehidupan, apakah area ini sudah ditinggalkan?
Aku belum melihat sama sekali orang, selain ibu-ibu dan kakek tua tadi. Tapi itu malah bagus, jadi aku bisa bebas untuk bertarung melawan mereka.
Dari arah berlawanan, aku melihat ada anak perempuan yang sedang naik sepeda di jalan gang ini. Monster-monster itu menyadari keberadaan anak kecil yang sedang naik sepeda.
Salah satu dari mereka menyambar tanpa aba-aba. Spontan aku juga melompat dari atas atap menyelamatkan anak perempuan itu.
Tidak aku sangka, saat aku ingin menyelamatkan anak perempuan itu datang satu monster dari belakang ku.
Dia merangkul pinggangku, dan membanting ke belakang. Kepalaku membentur jalan beton dengan keras.
Anak itu disandera oleh salah satu monster. Dari belakangku, terdengar suara tepuk tangan.
"Mengesankan, kau sangat kuat dan tampan. Sebenarnya aku tidak ingin membanting mu seperti itu." Ucap orang asing, setelah itu dia berkata; "Jika berani melawan, anak itu akan mati." ancam orang asing.
Aku membalikkan badan, dan melihat pria muda berpakaian kaos yang memperlihatkan lekuk tubuhnya. Tubuh orang ini atletis, dan dia menatapku dengan tatapan aneh.
Aku angkat tangan, dan monster itu melepaskan anak perempuan yang dia sandera.
Orang itu berjongkok di sebelahku, dan berbisik;
"Ikuti aku.." bisik pria asing sambil menyentuh kepalaku.
Seperti tersihir, tiba-tiba tubuhku bergerak sendiri. Kemudian mengikuti orang ini berjalan ke arah kantor TaPA yang terlihat terbengkalai itu.
Pria asing ini masuk kedalam kantor, aku mengikuti dia berjalan kedalam. Monster-monsternya pun juga mengikutinya.
Dia juga naik tangga menuju lantai dua, dan masuk kesebuah ruangan. Didalam ruangan ini, ada kulkas, komputer, dan lainnya.
__ADS_1
Dia memberi perintah pada para monster untuk berjaga di luar ruangan ini. Sementara itu, aku diperintahkan untuk duduk di kursi.
Dia mengambil sapu tangan yang ada disaku celananya. Lalu, dia menyeka wajahku yang berkeringat.
Setelah itu, dia menciumi sapu tangannya dengan wajah yang turn on. Dia menghirup sapu tangannya dan berkata;
"Oh.... Aromamu... Sangat membuatku bergairah... Ah..." ucap pria aneh dengan matanya yang seperti orang sedang nge-fly.
Dia terus-menerus menghirup sapu tangannya hingga waktu yang cukup lama. Setelah dia puas, Dia menghampiriku dan berkata;
"Aku ingin ke toilet dulu, jangan kemana-mana ya." ucap pria aneh.
Dia pergi meninggalkan ku, tubuhku masih sama sekali tidak bisa bergerak. Tubuhku hanya merespon apa yang orang itu katakan.
Orang itu kembali lagi setelah dari toilet, namun dia hanya memakai celana pendek. Aku merasa ada yang tidak beres. Aku sangat ketakutan saat ini.
Aku sangat tidak berdaya sekarang, bagaimana ini?
Dorrr dorrr dorrr...
Suara rentetan peluru terdengar dari luar, pintu ruangan ini didobrak keras oleh seseorang berpakaian kaus polo putih. Lalu, orang-orang terus bertambah masuk dan menodongkan senjata.
Orang terakhir masuk, orang itu adalah Laura. Dia memberi perintah sambil menunjuk pria aneh, kata-katanya adalah;
"Tembak si mesum itu!" perintah Laura.
Suara rentetan peluru menghujam tubuh si pria aneh. Dalam pandangan ku, peluru-peluru ini seperti diselubungi Aura. Si pria aneh pun mati mengenaskan.
Pada akhirnya, tubuhku dapat di kendalikan lagi. Si Laura mendatangiku dan berkata;
"Apa yang ingin kau lakukan di kantor TaPA?" tanya Laura.
Lalu, aku menjawab dengan jawaban bohong;
"Oh, apa yang sedang kau selidiki? apakah itu keterlibatan TaPA pada pembunuhan berantai di kota ini?" tanya Laura.
"Iya kau benar. Aku diberi misi untuk mencari tau keterlibatan TaPA Mexico city dengan sindikat mafia saingan Black Cobra."jawabku.
"Jadi, sindikat mafia itu memiliki keterlibatan dengan TaPA Mexico city? begitu kah??" tanya Laura dengan wajah yang agak syok.
"Iya, aku sudah menyelediki sindikat itu. Sindikat mafia itu memberi aliran dana pada TaPA Mexico city." jawab ku.
Laura meradang dan memukul komputer dengan stik golf. Lalu, dia menyuruhku untuk menunjukkan bukti aliran dana itu.
Aku pun mendadak pusing tujuh keliling, karena cerita itu hanya karangan belaka. Lalu, aku pergi ke ruangan arsip kantor ini.
Aku mencari setiap laci yang ada di ruangan arsip. Dewi Fortuna sedang memberkatiku, betapa senangnya hatiku menemukan sebuah kertas bukti transfer uang sebesar lima ratus ribu dollar.
Pengirim uang itu dari keluarga Diego salah satu cabang sindikat mafia Blue Rose. Aku menyerahkan bukti yang kutemukan itu pada Laura. Laura terkejut dan memperlihatkan kertas itu pada anak buahnya.
5 anak buahnya seperti tidak menyangka, Lalu, Laura berkata;
"Blue Rose itu sindikat mafia saingan kami juga. Ternyata dugaan ku benar, dan pengirim itu mengirimkan uang pasti lewat keluarga Diego yang di LA." ucap Laura.
Laura juga menambahkan;
"Sungguh luar biasa sindikat mafia Black Cobra, bisa memiliki orang hebat seperti mu." puji Laura dengan mata yang berbinar-binar.
Orang-orang disini sangat senang, bagai mendapatkan undian lotre senilai dua juta dollar. Laura menanyakan padaku jika aku ikut di keluarga siapa di Black Cobra?
__ADS_1
Aku menjawab, Aku tidak tahu. Laura heran dengan jawaban ku yang tidak tahu. Aku menjelaskan jika sistem organisasi Black Cobra berbeda dengan sindikat mafia lain.
Kerahasian antar anggota kelompok keluarga sangat dijaga, dan tidak sembarang orang tahu siapa pemimpin keluarganya sekalipun itu anggota Black Cobra.
Respon dari Laura tampak terpukau dengan Black Cobra. Setelah itu Laura mengajak kami semua keluar dari kantor ini.
Saat baru keluar dari ruangan ini, aku melihat tiga monster mati dekat pintu dan tangga. Lalu aku bertanya pada Laura, apakah dia tahu siapa orang yang menyerangku?
"Oh orang mesum itu, entah lah aku tidak tahu." jawab Laura.
Aku masih tidak percaya dengan jawabannya, tidak mungkin orang itu hanyalah orang biasa atau gelandangan yang memiliki kemampuan Aura. Pasti orang itu, memang suruhan dari RSM untuk menyerang siapa saja yang datang kemari.
Dibelakang kaus para anak buah Red Saint Marry, terdapat gambar bordiran bunda Maria yang menggendong bayi dengan pacaran cahaya kuning dibelakang tubuhnya. Orang-orang yang tidak mengetahui siapa mereka pasti akan menganggap mereka adalah organisasi keagamaan.
Laura melihatku yang sedang memandangi motif baju anak buahnya. Lalu, dia berkata;
"Motifnya bagus kan? Ngomong-ngomong mereka semua adalah unit khusus yang berada dibawah komando ku dan ibuku." ucap Laura sambil melambaikan tangan pada anak buahnya.
Salah satu anak buah Laura datang karena panggilannya, Laura pun bercerita soal anak buahnya yang dia panggil. Aku seperti familiar dengan wajah orang ini.
Ternyata orang itu adalah Carlos, jika sebelumnya dia adalah anak buah Antonio saat Antonio masih ada di dunia ini. Pada saat ini setelah takdir berubah dia menjadi unit khusus dari sindikat mafia Red Saint Marry.
Setelah Laura selesai mengenalkan Carlos yang menjadi komandan dari unit khusus yang bernama 10 commandments of god atau 10 perintah Tuhan. Jadi, 5 orang ini ikut dalam penggerebekan dan 5 sisanya menjaga ibunya.
Laura melihat atap rumah yang rusak, dan seakan menghitung jumlah yang hancur. Lalu, dia memicingkan matanya dan melihat satu monster tergeletak di atas atap.
Laura pun berkata;
"Apakah ini semua ulah mu?" tanya Laura sambil memastikan lagi berapa atap rumah yang rusak.
"Iya itu aku yang berbuat." jawabku.
"Ohh... Ya sudah kalau begitu.. Ayo kita ke pesta!" balas Laura sambil merangkul pundak ku dan berjalan ke arah motor.
Sebelum aku pergi, aku memiliki satu pertanyaan yang masih mengganjal pikiran ku. Pertanyaan itu adalah;
"Laura, bagaimana kau tahu aku berada disini?" tanyaku.
Laura tersenyum dan menjawab pertanyaan ku;
"Motorku ada sistem pelacak, dan saat aku melihatmu kemari dan belum kunjung kembali juga itu membuat ku khawatir." jawab Laura dengan mengedipkan mata dengan genit.
Entah mengapa gadis ini jadi berbeda saat aku bertemu pertama kali. Sekarang dia menjadi sedikit lebih ceria dan ramah.
Aku melihat jam tanganku, dan waktu sudah menunjukkan pukul 14:30. Sepertinya aku akan diajak ke hotel sekarang untuk siap-siap.
Laura memakai helm, dan kemudian dia menerima helm satu lagi dari anak buahnya. Dia melempar helm pemberian anak buahnya padaku.
Aku menangkap helm itu, dan Laura berkata;
"Ayo buruan! kau yang naik didepan. Kita akan pergi ke hotel tempatmu menginap." ucap Laura.
"Kau saja yang didepan, kau yang tau jalannya." balasku.
"Sudah cepat! Kau yang didepan nanti aku yang akan menjadi navigator mu.." ucap Laura dengan percaya diri.
Aku hanya bisa menurut saja, dan kami semua yang disini bergerak menuju hotel. Satu hal lagi yang hampir terlupakan olehku, yaitu;
"Aku belum bayar penginapan itu." gumam ku.
__ADS_1
"Apa kamu bilang? sudah tenang saja, aku sudah bayar kamarmu." ucap Laura.
Ah.. Aku jadi makin tidak enak merepotkan dia, tapi ya sudahlah kan dia anak orang kaya.