Saga Of The Almighty

Saga Of The Almighty
Sebuah Pesta Bagian 2


__ADS_3

Selesai mandi aku mendengar ketukan pintu dari luar kamar. Aku mengintip orang itu lewat lubang intip pintu. Setelah ku lihat, orang itu adalah Laura.


Aku menyuruhnya untuk tunggu dulu hingga aku selesai memakai baju. Selanjutnya aku membuka pintu kamarku.


"Haii,," sapa Laura, kemudian dia menyeret tanganku dan berkata "Sudah tidak ada waktu lagi, ayo kita bersiap-siap,"


Aku hanya mengikuti kemauan Laura, setelah mengunci pintu kamar. Laura langsung mengajak ku pergi ke suatu tempat.


Dia membawaku ke sebuah ruangan berisi pakaian dan pernak-pernik yang berkilauan. Disana ada orang-orang yang menyambut kedatangan ku dan Laura.


Salah satu orang itu datang menyapa dan memperkenalkan diri. Pria itu bernama Dio, dia mempersilakan aku untuk duduk disebuah kursi rias.


Dio meminta izin padaku untuk menyentuh kepalaku. Tentunya tidak semudah itu, aku menanyakan alasannya. Dia menjawab, ingin meningkatkan aura ketampanan ku.


Aku masih ragu dengan alasannya, aku tidak mengijinkannya. Lalu, Laura bilang "Sudah percaya saja padanya!" bahkan aku tidak percaya dengan orang yang ada di hotel ini.


Aku menimpali perkataan dari Laura; "Hah! Aku tidak percaya dengan omongan mu!" Laura menghela nafas, dan dia memberi kode kibasan tangan pada Dio.


Tiba-tiba dari belakang ku, aku merasakan hawa membunuh dari Dio. Saat dia berusaha menyerang ku, aku berhasil menangkisnya.


Tetapi, karena aku menangkisnya tanpa Aura tanganku memar dan sepertinya patah. Jadi, orang ini niat membunuhku ya? Pastinya orang yang menyerangku di kantor TaPA tadi siang adalah ulah si Laura.


Aku masih belum tau, apa alasannya menyerangku. Kemungkinan besar Laura masih mencurigai ku, dan karena baginya aku mengancam dia berusaha untuk melenyapkan ku.


Dio tidak hanya kuat, tetapi dia juga berpengalaman. Aku harus membunuhnya! arghh.. Bukan, bukan itu yang harus aku lakukan.


Aku hanya harus melumpuhkannya!


[Bunuh Dia!]


Suara siapa itu? suara ini menggema di telingaku.


[Bunuh Dia SEKARANG!]


Tiba-tiba pukulan sangat kuat mengarah wajahku. Aku terkena serangan telak itu, hingga menembus dua tembok ruangan di sebelah.

__ADS_1


Rasanya kepalaku terguncang, Aku kesulitan untuk melihat dan fokus pada Auraku. Dio berjalan ke arahku dan berkata;


"Ya ampun, orang ini begitu kuat. Bolehkah aku membunuhnya sekarang nona Laura?" sesal Dio sambil dia menginjak perutku.


"Hahaha, Rasakan ini! Dasar penipu! pasti kau orang TaPA kan!" gerutu Dio dengan terus menerus injak-injak perutku.


Tiba-tiba, seseorang muncul dan berkata;


"Hei! Berhenti, apa yang kalian lakukan dengannya?!" teriak Christina pada Laura dan Dio.


Laura dan Christina beradu argumentasi, dan kepalaku yang mulai berkunang-kunang membuatku ingin tidur.


Beberapa saat kemudian...


"Dimana aku?" gumam ku.


Aku melihat langit-langit yang asing, dimana aku sekarang. Saat aku memalingkan wajahku ke arah kanan, aku melihat Christina atau ibu Laura sedang mendekap tanganku. Terlihat dia seperti menahan kantuk, setelah kepalanya hampir menyentuh ranjang dia tersadar.


Christina tersenyum padaku dan dia berkata; "Untunglah kamu selamat.," Dia pula meminta maaf padaku karena ulah anak buahnya dan Laura yang berusaha melukai ku.


Kemudian, Dia menawarkan ku berbagai macam makanan. Kata Christina, pesta ulang tahun teman Laura tetap berlangsung dan Laura sudah dihukum karena perbuatannya.


"Laura memberi tahuku, kalau kamu mau menemaninya datang ke pesta ulang tahun temannya sekarang. Sayang sekali, karena ulahnya sendiri malah membuatmu tidak bisa menemaninya." sesal Christina dengan raut wajah kecewa.


Christina juga bilang padaku, jika dia merasa berhutang budi karena sudah menemukan barang bukti yang bisa memperkuat alasan jika Blue Rose terlibat dalam pembantaian saat itu.


Dia pun memberiku kesempatan bertanya apapun padanya, dan dia akan menjawab pertanyaan yang aku lontarkan apapun itu.


Lalu aku memulainya dengan pertanyaan; "Apa alasan pembantaian yang dilakukan oleh TaPA kota Meksiko?"


Christina tampak lesu mendengar pertanyaan ku, setelah itu dia menjawab; "Alasannya adalah mereka ingin membunuh Laura. menurut mereka, Laura adalah monster berbahaya yang akan mengancam umat manusia,"


Aku berusaha mencerna apa yang dia katakan padaku, selanjutnya aku menanyakan pertanyaan berikutnya;


"Mengapa mereka bisa menuduh Laura adalah monster berbahaya bagi umat manusia?" tanyaku sambil memakan apel yang dikupas oleh Christina.

__ADS_1


"Mau lagi? Jika iya, akan aku kupas lagi," tawar Christina.


Entah mengapa, aku merasakan kehangatan seorang ibu darinya. Padahal dalam hidupku, aku tidak pernah bertemu ibuku.


Kepeduliannya pada ku begitu nyata, rasanya aku ingin terus bersamanya. Wanita ini memiliki senyum yang hangat dan tulus. Rambut hitam panjang bergelombangnya begitu indah, paras wajahnya menenangkan hati.


Aku ingin bertemu ibuku, dimana ibu ku sekarang ya.. Semoga dia baik-baik saja disana, dan Semoga aku bisa bertemu dengannya.


"Aku mau lagi Bu," jawabku pada Christina, tanpa sadar aku menyebutnya ibu. Lalu, aku meminta maaf karena ucapan ku.


Terdengar suara tawa pelan dari Christina, dan dia berkata; "Tidak apa-apa, Kamu boleh menyebut ku ibu," balas Christina sambil dia membelai rambut ku.


Oh iya, aku harus menanyakan ini, pikirku.


"Nyo-" saat aku ingin bilang nyonya, dia menutup bibirku dengan jarinya. Lalu, dia berkata, "Nak, panggil saja aku ibu," kata Christina.


"Baiklah," balasku dan kemudian aku mengulang kembali pertanyaan ku tadi.


"Ibu, kenapa Anda berbisik jika aku telah mengubah takdirmu?" tanyaku pada Christina.


Christina mengangguk dan berkata, "Aku jawab dulu pertanyaan sebelumnya ya, jadi Laura dituduh oleh mereka karena Laura adalah keberadaan yang seharusnya tidak ada,"


"Apa maksud dari keberadaan yang seharusnya ti," saat aku berbicara dia memotong perkataan ku dengan jawaban pertanyaan.


"Saat ajal ku telah datang 4 tahun lalu, dan pada saat entah siapa pria yang mengkhianati ku saat itu hampir memenggal kepala ku. Aku merasa seperti diselamatkan dan dibawa ke langit," jawab Christina sambil mengupas kulit apel.


"Nah, ini makan lagi," tawar Christina setelah dia selesai mengupas kulit apel. Kemudian, dia melanjutkan lagi berbicara;


"Aku melihat sebuah tempat serba putih, dan tempat itu dikelilingi oleh malaikat. Aku berpikir, apakah aku ada di akhirat? Saat aku tengah kebingungan, muncul sosok besar dan dia bilang Beruntunglah kau diselamatkan oleh anakmu yang kau telantarkan, gunakan kesempatan terakhir hidupmu untuk bertemu dengannya," kata Christina sambil dia mengelap air mata dengan tangannya.


Christina juga berkata, jika anak itu adalah anggota sindikat mafia. Juga masih menurut Christina, sosok besar itu menunjukkan ciri-ciri tubuh anak dari Christina.


Ciri-ciri tubuhnya adalah, laki-laki, memiliki badan yang tegap, dan jika Christina berdiri disampingnya sekarang, maka Christina tingginya adalah sebahu anak itu.


Tetapi, ciri-ciri itu sangat mudah dicari dan orang-orang seperti itu ada dimana-mana. Anggota sindikat mafia bisa saja adalah anak buahnya, tetapi apa yang kupikirkan sekarang sepertinya terlalu jauh.

__ADS_1


Saat Christina bilang "Aku memang memiliki anak laki-laki yang sama-sama lahir tanpa ayah, dan dia aku titipkan di sebuah panti asuhan di LA," Dia juga menambahkan, "Kamu berasal dari LA, dan kata Albert kau berasal dari panti asuhan." ujar Christina.


Aku belum pernah bilang apa-apa, tentang asal ku darimana dengan si Singa. Apa yang terjadi sebenarnya? Apakah Christina adalah ibuku?


__ADS_2