
Aku masih belum paham bagaimana dia bisa berpindah tempat dengan cepat tanpa bersuara? Dalam waktu singkat dia melesat dengan cepat ke belakang tubuhku. Aku ingin tahu bagaimana dia melakukan itu.
"Bagaimana caramu melakukan itu?" tanyaku.
"Mau tau? mau tau aja atau mau tau banget??" jawab si Rubah.
"Mau tau banget!" ucapku dengan mantap.
"Cium dulu dong..." ucap si Rubah dengan menyentuh bibirnya.
"Jangan bercanda, kalau tidak mau memberi tahu biarkan aku keluar!" kataku memaksanya.
"Gak boleh! Aku udah bilang gak boleh ya gak boleh! Nanti kamu cuma kecewa kalo datang.." ucap si Rubah dengan mata yang berkaca-kaca.
Lalu, aku membuat sebuah kesimpulan;
"Oke, tapi kamu harus beri tahu aku bagaimana kamu bisa bergerak cepat tanpa suara?" tanyaku.
Setelah mendengar pertanyaan ku dia menyuruh ku untuk duduk di kursi dekat balkon. Aku menutup kembali pintu, tapi tiba-tiba pintu rasanya ada yang menahannya. Ketika aku menoleh, ternyata di belakang ada si Antonio.
"Sepertinya tadi aku mendengar suatu hal yang menarik ketika kalian berbicara." ucap Antonio.
"Oh maaf, tadi kami hanya sedang berselisih pendapat saja kok, maaf kami berdua tidak bisa menemani Anda bicara untuk saat ini pak.." tolak ku dengan ramah.
"Hahaha, oke tidak masalah. Kita bisa membahasnya nanti saat makan malam." ucap Antonio dan pergi begitu saja.
Lalu, dia berhenti dan menengok kembali, dan berkata;
"Sampai jumpa.." ucap Antonio sambil mengangkat tangan kanannya.
Aku menutup kembali pintu kamar, aku melihat si Rubah tampak panik. Aku bertanya mengapa wajahnya tampak pucat dan keringatnya bercucuran. Dia menjawab, kalau Antonio sepertinya sudah tahu siapa aku sebenarnya.
Dia mengajak ku untuk melarikan diri dari hotel ini, dan meninggalkan kota Meksiko City sesegera mungkin. Dia merasakan aura yang mengerikan pada Antonio, sejak awal kedatangan dia pula merasakan aura mengerikan namun belum semengerikan sekarang.
Pertanyaan ku untuk si Rubah masih belum terjawab, namun menyelamatkan diri jauh lebih penting untuk saat ini. Aku dan si Rubah memutuskan untuk check out sekarang juga dengan membawa semua barang yang kami bawa.
Kami keluar satu jam kemudian, aku dan si Rubah akan beralasan kalau atasannya mendadak meminta untuk hadir ke kantor pada hari besok karena terdapat meeting sebuah proyek besar. Si Rubah menasihati ku untuk jangan sampai terjadi konfrontasi dengan orang-orang yang ada di hotel ini. Aku mengiyakan dan kami pergi keluar.
Setelah sampai lobby, kami berdua berjalan ke arah meja resepsionis. Di meja resepsionis ada satu orang wanita yang menjaga, si Rubah menyampaikan kalau kami akan pulang ke USA karena masa liburan sudah selesai. Lalu, resepsionis itu berkata;
"Bisa tunggu sampai nanti malam? Setelah makan malam diperbolehkan untuk check out." ucap si resepsionis.
"Apa tidak bisa sekarang? Saya bisa dipecat jika terlambat datang!" ucap si Rubah berusaha meyakinkan.
"Tolonglah kami, kami sedang buru-buru." bujuk ku.
__ADS_1
"Maaf, saya tidak mengijinkannya. Ini perintah bos, saya hanya mematuhi perintah beliau saja." ucap si resepsionis sambil tersenyum.
Situasi makin sulit, aku dan si Rubah tidak bisa pergi dari sini. Aku harus mencari cara kabur dari sini. Kemudian si Rubah memutuskan untuk terpaksa menerima kemauan mereka.
Kami berdua kembali ke kamar hotel 212, setelah berpikir sejenak kami berdua menemukan ide untuk berpura-pura jalan-jalan pergi ke Mall Reforma 223. Aku dan si Rubah hanya membawa barang yang penting saja dan meninggalkan barang bawaan lainnya.
Setelah persiapan siap, si Rubah tiba-tiba memberiku sebuah jarum suntik berisi cairan berwarna bening. Aku penasaran cairan apa ini? Dia menjawab itu adalah obat stimulus super yang sama seperti milik si Antonio. Aku bertanya apa efek dari obat stimulus super ini? dia pun menjawab;
"Obat itu akan memberimu kekuatan, kekuatan itu tergantung keinginan terbesar mu dan dia akan mengubah itu menjadi sebuah kekuatan." jawab si Rubah.
aku kembali bertanya mengenai efek samping dari obat ini, kemudian dia menjawab;
"Obat ini minim efek samping, karena obat ini kualitas bagus. Kekuatan yang didapat juga permanen. Ngomong-ngomong, batas kita menggunakan obat stimulus super hanya sampai sepuluh kali." jawab si rubah, lalu dia menarik nafas dan membuang nafas.
Dia melanjutkan lagi berbicara;
"Kalo sampai lebih dari sepuluh kali, kamu akan berubah menjadi monster besar yang mengerikan, dan akan menjadi kanibal memakan manusia." ucap si Rubah.
"Aku tidak mau memakai obat itu, aku tidak mau menjadi pecandu!" kata ku.
"Kalo yang super tidak akan membuat kecanduan. Kalo kamu pake yang murahan pasti kamu kecanduan dan efek kekuatannya cuma sementara." kata si Rubah.
"Jadi yang kamu lakukan untuk menahan ku pergi di sebabkan oleh obat ini ya." ucapku pada si Rubah, kemudian aku bertanya;
Si Rubah berbisik memberi tahu cara mendapatkan obat stimulus super dengan cara memanaskan obat stimulus biasa dengan daun pohon darah naga kering. Dia mengetahui cara itu karena tidak sengaja mengintip pembuatan obat stimulus super di lab Black Cobra. Lalu, aku penasaran dan bertanya;
"Apakah setiap sindikat mafia tau resep membuat obat stimulus super?" tanyaku.
Lalu dia menjawab;
"Tidak ada yang tau selain sindikat mafia Black Cobra. Ini hanya sepengetahuan ku aja." jawab si Rubah.
Yang aku tahu pohon darah naga berasal dari pulau Socotra. Pulau unik yang memiliki flora dan fauna yang berbeda dari belahan bumi lainnya. Aku pun jadi penasaran bagaimana cara membuat obat stimulus biasa.
"Bagaimana cara membuat obat stimulus biasa?" tanyaku.
"Aku gak tahu caranya membuat obat stimulus biasa." jawab si Rubah.
Banyak yang masih aku ingin tanyakan, tapi sepertinya aku cukupkan sampai sini dulu. Setelah semua siap aku dan si Rubah berjalan menuju ke pintu kamar 212. Tiba-tiba dari belakang aku seperti ditikam, jarum suntik berisi obat stimulus super masuk lewat injektor yang berada di tengkuk leher ku.
Tubuhku mengalami kontraksi, dalam beberapa saat rasanya leherku panas. Aku kesulitan bernafas, namun itu semua tidaklah lama. Aku belum merasakan perubahan yang terjadi.
Si Rubah hanya tersenyum dan bertanya;
"Gimana?" tanya si Rubah.
__ADS_1
"Aku belum merasakan ada yang berubah." jawab ku.
Dia hanya diam saja, dan menyuruh ku keluar dari kamar lebih dulu. Kami berdua berjalan menuju lift, sesampai di lift aku merasakan pandangan mataku agak berbeda dari biasanya.
Beberapa saat kemudian aku dan si Rubah sudah berada di lobby terus jalan menuju ke pintu keluar. Resepsionis hotel melihat kami berdua tanpa berkata apa-apa. Kami keluar dengan mulus tanpa ada halangan, di depan hotel aku dan si Rubah menunggu taksi.
Aku melambaikan tangan, Taksi pun berhenti di depan kami tepat tiga menit kemudian. Kami berdua duduk di kursi belakang supir, Lalu supir bertanya tujuan kami. Kami berdua sepakat untuk pergi ke bandar udara internasional kota Meksiko.
Selama perjalanan menuju bandara aku berbicara dengan si Rubah menggunakan ponsel. Kami bertukar pesan lewat SMS, aku bertanya kemana tujuan kita pergi ketika sampai di bandara? Dia menjawab;
Isi pesan di SMS.
[ "Kita sebaiknya jangan kembali ke Amerika, lebih baik kita pergi ke negara Indonesia."] kata si Rubah.
[ "Kenapa kamu memilih Indonesia?" ] tanyaku.
[ "Kita bisa dengan mudah masuk ke Indonesia, Indonesia bisa menggunakan visa on arrival." ] jawab si Rubah.
[ "Oh.. OK" ] kataku.
Aku mengecek tiket pesawat untuk ke Indonesia hari ini, untungnya aku menemukannya dan akan terbang jam 21:00. Aku memesan 4 tiket, karena akan berpindah pesawat saat transit. Aku merasa lega ternyata masih mendapatkan tiket.
Untuk sekali lagi mataku terasa agak aneh. Aku membuka menutup mata berulang kali, tapi masih sama saja. Ketika aku melihat ke arah si Rubah, ditubuhnya mengeluarkan cahaya warna merah.
Si Rubah menyadari jika dia dilihat terus oleh ku. Lalu, dia berkata;
"Bayangkan saja kamu sedang menonaktifkan sebuah mesin." ucap si Rubah.
"Pasti itu adalah cara untuk mengendalikan kekuatan ini. Entah bagaimana dia bisa mengetahui keresahan ku sekarang." pikirku.
Setelah paham apa yang dia katakan, aku mencoba untuk membayangkan menonaktifkan kekuatan untuk sementara. Pada akhirnya aku berhasil, mataku kembali normal seperti sedia kala.
Aku memandang ke belakang, tidak ada kendaraan atau orang yang mengikuti kami. Namun secara tiba-tiba,
Darrr**
Dari atas jatuh suatu hal yang berat dan besar, hingga membuat atap mobil taksi penyok dan kaca mobil pecah. Mobil pun oleng dan berbelok ke kanan dan kiri. Supir taksi meminggirkan mobilnya untuk memastikan apa yang menimpa.
Tidak disangka, ketika ditengok oleh supir taksi dia berkata;
"Ya Tuhan.." ucap si Supir taksi dengan wajah terkejut.
Aku dan si Rubah pun penasaran dan keluar dari mobil. Aku dan si Rubah syok dan tidak bisa berkata-kata. Di atas atap itu berdiri seseorang yang kami takutkan sejak awal ingin kabur, orang itu sudah tiba menjemput kami.
"Kalian mau kemana? Mau coba kabur ya.." tanya Antonio si tangan besi.
__ADS_1