
Bagaimana si Singa tahu aku berasal dari panti asuhan. Apakah panti asuhan dengan sindikat mafia memiliki hubungan?
Saat aku menanyakan pertanyaan ini, Christina hanya menjawab tidak tahu. Jadi, aku akan mencari tahunya sendiri saat kembali ke LA.
Dihadapan ku sekarang ada Christina Alma Salome atau ibu Laura. Dia menemaniku di sebuah ruangan yang disetting seperti ruang rawat di rumah sakit.
"Ini masih ada di hotel," kata Christina, Dia bilang padaku beberapa waktu yang lalu. Dia juga menjelaskan, jika ulang tahun teman Laura adalah gimik.
Acara sebenarnya adalah perkumpulan keluarga sindikat mafia Red Saint Marry. Acara ini adalah rapat tahunan yang diadakan di hotel ini.
Hotel ini ada dibawah wewenang korporasi RSM. Korporasi RSM adalah salah satu gurita bisnis dari Red Saint Marry, yang bergerak di bidang properti.
Jadi, bisa dibilang sindikat mafia Red Saint Marry adalah pemain bisnis seperti halnya Black Cobra. Namun, aku tidak mengetahui sama sekali bisnis apa saja yang dijalankan oleh Black Cobra.
Kembali ke topik saling tanya jawab, aku bertanya pada Christina mengapa Laura tinggal di sebuah Motel? Christina langsung menjawab, kalau Laura ingin tinggal sendiri, dan juga jika bersamanya malah akan mengancam nyawa Laura.
Jam dinding di ruangan ini menunjukkan pukul 01:15. Christina masih menemani ku berbincang hingga selarut ini. Aku jadi merasa tidak enak merepotkannya.
Christina melihat jam dinding itu, lalu dia berkata;
"Ya ampun ternyata sudah selarut ini, besok kita lanjutkan lagi ya. Selamat malam sayang," kata Christina sambil mengelus kepalaku, dan kemudian meninggalkan ruangan ini.
Mengapa hatiku berdegup kencang ya saat Christina bilang sayang? Aku merasa lebih bersemangat karena perkataan dia. Aku jadi terbayang wajahnya, rasanya menyenangkan jika bersanding dengan dia.
Tapi, dia itu bos besar sindikat mafia. Mana mungkin dia memiliki perasaan seperti itu padaku. Apalagi usiaku dengannya terpaut cukup jauh.
Sudahlah daripada memikirkan hal itu, lebih baik aku istirahat sambil memikirkan rencana apa yang akan aku lakukan saat matahari terbit.
Beberapa jam kemudian...
Sepertinya sudah pagi hari atau malah siang, aku meluruskan otot-otot ku setelah bangun tidur. Kemudian aku berkeliling di ruangan kamar ini mencari kamar mandi.
Ruangan ini sangat besar, bahkan lebih besar dari kamar 212 ku. Ada dua ranjang, dan satu televisi layar 40 inci. Sementara kamar mandi ada di ujung ruangan dekat jendela.
Aku cuci muka di wastafel kamar mandi, setelah itu membuka jendela untuk mendapatkan cahaya matahari.
Alih-alih mendapat cahaya matahari, aku malah melihat sebuah tembok.
"Ah sial, untuk apa ada jendela kalau hanya tembok didepannya?" umpat ku yang agak kesal karena hanya melihat tembok.
Aku memutuskan keluar, karena ruangan ini sudah tidak ada apa-apa lagi. Saat ingin membuka pintu, ternyata pintu ini terkunci.
__ADS_1
Menurut ku, ada hal yang tidak beres disini. Aku mengaktifkan Aura, dan menendang pintu ini.
Akhirnya pintu berhasil terbuka, aku melihat sekeliling dan tidak ada siapapun. Aku harus menentukan aku harus jalan ke kanan atau ke kiri ya?
Aku memutuskan untuk jalan ke kiri, aku menyusuri lorong yang aku tidak tahu dimana ujungnya. Saat aku jalan, aku melihat sebuah pintu yang terbuka.
Aku mengintip apa yang ada didalam ruangan itu. Ternyata ruangan itu adalah dapur, tetapi tidak ada satupun orang didalam sana. Saat aku ingin jalan kembali, kepalaku dielus oleh seseorang.
Aku memberanikan diri untuk menengok siapa orang yang ada dibelakang ku. Ternyata orang itu Christina.
"Apa yang kamu lakukan disini nak?" tanya Christina sambil dia membelai rambut ku.
"Aku cuma bosan didalam ruangan jadi aku ingin keluar mencari udara segar," jawabku pada Christina.
Aku mencium bau wangi dari tubuhnya, baunya begitu segar dan menggairahkan. Apa-apaan dengan pikiran ku ini, seharusnya aku tidak berpikiran seperti itu.
"Oh begitu, apa kamu lapar?" tanya Christina, dia berjalan masuk ke dapur dan menggunakan apron.
"Aku tidak lapar kok," jawabku.
"Bohong, kau pasti sudah lapar. Kau ingin makan apa? biar aku yang akan memasakan mu," tawar Christina sambil dia menyiapkan bahan-bahan makanan.
"Sepertinya aku tidak bisa menolak, tolong masakan makanan yang enak ya nyonya." balasku pada Christina.
"Baik bu," gumam ku, Christina pura-pura tidak dengar apa yang aku katakan. Aku mengulangi lagi dengan suara lebih keras; "baik bu!" kataku dengan semangat.
Dia hanya tersenyum sambil memotong-motong sayuran dan daging. Karena aku tidak mau diam saja, aku menawarkan diri membantu dan aku ditolak olehnya.
Aku hanya duduk menunggu hingga Christina selesai memasak. Saat aku menyalakan ponsel ku, tidak ada sinyal disini. Aku penasaran sebenarnya ini dimana? Jadi aku bertanya padanya;
"Ibu, sebenarnya kita ada dimana?" tanyaku pada Christina.
Christina hanya diam saja, dia tidak menjawab pertanyaan ku. Aku memanggilnya, dan dia merespon panggilan ku. Aku mengulangi pertanyaan yang tadi;
"Ibu, sebenarnya kita ada dimana sekarang?" tanyaku pada Christina sambil berjalan mendekatinya.
"Kita sekarang ada di basement nak," jawab Christina sambil terus fokus memasak.
Sepertinya aku tidak bisa terus menerus memojokkannya dengan pertanyaan seperti ini. Aku harus bermain aman.
Aku melihat apa yang dia buat, sepertinya dia membuat sebuah stew. Saat aku melihat-lihat masakannya, dia bilang;
__ADS_1
"Aku sedang membuat stew, maaf ya mungkin agak lama jadinya," ucap Christina sambil mencicipi rasa stew buatannya.
Aku membuka kulkas, dan melihat ada buah-buahan, susu dan lainnya. Aku terpikir membuat smoothies untuk aku dan Christina.
Aku mengambil blender dan dua gelas jus. Setelah itu, aku letakkan di meja. Aku memotong-motong buah agar mudah diblender, kemudian aku memasukkan buah-buahan seperti stroberi, mangga, dan lainnya ke dalam blender.
Tidak lupa aku menuang susu ke blender, dan menambahkan yoghurt sedikit. Lalu, aku menutup blender dan menyalakannya.
Setelah selesai aku blender, aku menuang smoothies itu ke gelas yang aku ambil tadi. Entah bagaimana rasa smoothies ini, semoga saja enak.
Aku menaruh gelas itu disebuah meja makan. Disaat yang sama Christina berkata;
"Stewnya sudah siap!" ucap Christina sambil dia membawa stew itu ke meja makan.
Aku mengambil mangkuk dan sendok untuk aku dan Christina makan. Aku mengambilkan stew itu dan memberikannya pada Christina.
Christina hanya tersenyum, dan bilang; "terima kasih nak," Aku hanya membalas perkataannya dengan senyuman saja.
Aku mengambil bagian ku, dan saat aku ingin menyuap stew itu. Laura menyentuh tanganku dan berkata;
"Mari kita berdoa dulu nak," ucap Christina, dan dia langsung memulai berdoa.
"Terima kasih atas makanan yang engkau berikan pada kami sekarang, aku sangat senang akhirnya bisa makan bersama anak ku yang sudah lama aku cari, amin," ucap syukur dari Christina, namun saat dia berdoa dia malah menangis.
Dia mendekati ku, lalu memeluk ku dengan erat. Dia berbisik "maafkan aku," pada telingaku.
Aku tidak tahu mengapa dia bisa menangis dan minta maaf padaku. Lalu, dia berkata;
"Aku adalah ibumu nak, aku yang meninggalkan mu di panti asuhan," ucap Christina sambil dia memegangi tanganku.
"Mengapa kau bisa menganggap ku adalah anakmu yang kau tinggalkan itu?" tanyaku untuk memastikan apa yang sebenarnya dia ingin katakan.
"Aku sudah bilang kan, pada malam kemarin. Ciri-ciri itu, semuanya ada di dirimu nak," jawab Christina sambil dia terus menangis.
Aku mengusap air matanya dan berkata; "Jika memang ibu mau menganggap aku adalah anakmu, aku bersedia menjadi anakmu,"
Dia memelukku lagi, dan dia berkata; "Kau itu memang anak ku tau," setelah itu dia tersenyum dan mengambil mangkuk dan sendoknya untuk menyuapiku.
Aku menutup mulutku, karena aku bukan anak kecil. Tetapi, dia masih menyodorkan sendoknya ke mulutku. Jadi, aku menurut saja apa kemauannya sekarang.
Saat aku disuapi ibuku, Ibu Christina. Laura datang menemui ibu dan aku. Laura hanya tersenyum dan berkata;
__ADS_1
"Jadi, aku punya kakak ya," ucap Laura dan dia ikut duduk disebelah sambil membuka mulutnya untuk ikut disuapi.
Ibu Christina tertawa melihat kelakuan anaknya yang seperti anak kecil. Saat ini aku merasa satu impian masa kecil ku terwujud. Yaitu, bisa makan bersama orang tua ku.