
Aku dan Laura dalam perjalanan menuju hotel. Laura memberi tahu jika jarak tempuhnya sekitar tiga puluh kilometer. Lumayan jauh dan karena ada di area kota, juga saat weekend jadi jalanan macet.
Cahaya begitu terik dan panas karena sudah mulai memasuki musim panas di Meksiko. Suara klakson kendaraan saling sahut menyahut, aku sih terbiasa dengan hal seperti ini.
Soalnya di LA pun sama, bahkan bisa lebih panas cuacanya. Jika berbicara kemacetan, agak berbeda sih dan disini masih jauh lebih macet menurutku.
Bahkan karena kemacetan ini, sampai ada penjual keliling dan pengemis yang berkeliling di jalanan. Beberapa kali aku ditawari makanan atau minuman, dan dimintai uang.
Laura agak gelisah dan terus menerus melihat keadaan jalan didepan. Aku mencoba bertanya apa yang membuat dia tidak nyaman;
"Laura, Kenapa kau seperti gelisah?" tanya ku.
"Iya aku hanya heran saja, memang ini weekend tapi biasanya tidak se-macet ini." jawab Laura.
"Apa ada pembangunan jalan ya? Mungkin jadi macet." ucapku
"Bisa jadi, tapi jika terlalu lama nanti kita bisa terlambat." balas Laura.
"Kan masih lama, sekarang juga masih jam 15:59 dan masih ada empat jam waktu kita untuk siapa-siapa." ucapku.
"Tapi, aku harus berdandan dulu dan itu lama. Sejujurnya aku malas untuk berdandan." balas Laura.
Sudah kuduga, dia mana mungkin suka berdandan. Tapi, mau sampai kapan kita hanya diam disini? anak buah Laura ada di dua mobil. Satu didepan berisi tiga orang dan satunya lagi dibelakang berisi 2 orang.
Masing-masing mobil memiliki ciri-ciri yang berbeda, mobil didepan berwarna putih model mini bus dan yang dibelakang berwarna biru model sedan.
Laura mulai bosan dan dia ingin segera jalan. Dia turun dari motor dan berjalan kaki, Lalu dia mengajakku untuk turun dan tinggalkan motor.
Aku mengangguk, lalu turun dari motor. Padahal jarak tempuhnya masih lima belas kilometer lagi. Masih jauh jika ingin jalan kaki, terutama untuk Laura.
Aku sedikit berdebat dengannya, dan dia bilang jika dia bisa berlari kencang. Mendengar perkataannya, aku jadi tertantang untuk mencoba lagi.
Laura memberi kode pada anak buahnya untuk mengambil alih motor. Tanpa berkata apapun, anak buah Laura keluar dari mobil dan langsung naik motor.
Mereka tidak bertanya mengapa bosnya pergi berjalan kaki. Seakan-akan mereka sudah tau apa yang akan Laura lakukan sekarang. Apakah mereka pakai telepati? pikirku.
__ADS_1
Laura mengaktifkan Aura miliknya, aku tidak tahu apa yang ingin dia lakukan. Dia menyuruhku melakukan hal yang sama. Padahal aku belum sama sekali menunjukkan kemampuan Aura padanya.
Pasti dia tau setelah melihat jasad monster yang ada di atas atap, dan atap rumah yang rusak. Aku mengaktifkan Aura ku, Laura melihat Auraku yang menjalar dari bawah ke atas.
Pupil matanya tampak membesar dan tersenyum saat melihat Auraku. Kemudian dia berkata;
"Rasanya aku merinding melihatmu, apa-apaan Aura yang sebesar itu." ucap Laura sambil dia membuka lengan bajunya dan dia menambahkan;
"Lihat tanganku, aku sangat merinding.. Antara takut dan senang atau mungkin terpukau!" ucap Laura.
"Oh begitu kah." balasku dingin dan datar.
Aku harus menjadi lebih waspada, gadis ini sangat sulit ditebak. Aku harus berhati-hati berbicara atau melakukan sesuatu.
Laura tampak menekan Auranya yang keluar, dan memindahkan sebagian Aura pada kedua kakinya. Lalu, dia melesat dan berlari meninggalkan ku. lalu, dia berkata;
"Kalau tidak ingin tertinggal ayo susul aku!" ucap Laura.
Aku menggunakan kemampuan penguatan fisik dan mengalirkan Aura ke kedua kakiku. Trotoar yang ku injak remuk, dan saat ku berlari terjadilah Sonic Boom suara seperti guntur menggelar.
Kaca-kaca jendela toko dan mobil pecah, Aku terkejut karena aku berlari melebihi kecepatan suara. Laura yang ada didepan dalam waktu beberapa detik sudah ku lewati jauh.
"Hei! berhenti!" teriak Laura dari kejauhan.
Dengan nafas yang tersengal-sengal, Laura berkata;
"Hah... Hei... Berhenti dulu... Aku ingin... bilang sesuatu.." ucap Laura sambil dia memegang pundak ku.
"Sudah tenangkan dirimu dulu." balasku.
"Apa kau bilang? Seharusnya yang tenangkan diri itu kau! Tidak perlu secepat itu, lihat itu!" kesal Laura dengan jari telunjuk mengarah ke benda-benda yang rusak.
Laura menceramahi ku sambil berjalan. Kata-kata yang keluar dari mulut Laura, ada yang membuatku terngiang-ngiang. Kata-kata itu adalah;
"Kau harus bisa mengontrol kekuatanmu, kau menggunakan hampir semua Aura di tubuhmu." ucap Laura.
__ADS_1
Lalu, dia juga mengatakan suatu hal yang agak membuatku kaget sekaligus heran;
"Tetapi, kau sangatlah keren bisa menahan kekuatan sebesar itu ditubuh mu. Jika orang lain mungkin orang itu sudah hancur." ucap Laura sambil mengikat rambutnya.
Aku pun jadi penasaran bagaimana cara mengendalikan Aura? Kemudian dia menjawab;
"Caranya adalah kau harus menyerap Auramu sekitar 20% eh tidak, 10% saja. Kemudian pusatkan pada kakimu." jawab Laura.
Aku mencoba yang Laura katakan, aku menyerap 10% Aura tubuhku. Kemudian aku pusatkan pada kaki ku. Saat Laura juga mulai Lari, aku kembali lagi mendahuluinya.
Laura kembali berteriak dan menyuruh aku berhenti. Setelah berhasil menyusul dia bertanya Apa kemampuan Aura yang aku miliki?
Aku menjawab penguatan fisik. Dia bertanya lagi, Apakah aku menggunakan kemampuan Auraku pada saat berlari?
Tentu saja, jawabanku dan Laura menepuk jidatnya setelah mendengar ucapan ku. Dia berpesan untuk tidak menggunakan kemampuan Aura saat berlari.
Aku disuruh Laura mencoba lagi, dan dia memperingatkan untuk tidak menggunakan kemampuan Aura. Setelah mengalirkan 10% Aura dan memusatkannya pada kakiku, aku mencoba berlari.
Saat aku berlari, aku hanya berlari dengan kecepatan kira-kira 50 kilometer per jam. Laura menyamai kecepatanku, dan dia tersenyum sambil melihatku.
Aku bertanya mengapa dia senyam-senyum? Dia hanya menjawab kau keren. Saat mendengarnya aku senang, dan lebih senang lagi aku diajarkan cara mengendalikan kekuatan Aura.
Aku mengucapkan terima kasih karena telah diajari cara mengendalikan kekuatan Aura. Aku juga menambahkan jika ada hal yang bisa diajarkan, aku ingin dia ajarkan itu padaku.
Dia tiba-tiba merangkul pundakku saat berlari, aku agak kaget karena tiba-tiba. Laura hanya tertawa kecil dan tanpa berkata apa-apa.
Setelah berlari tanpa berhenti kurang lebih 20 menit kemudian. Mulai terlihat gedung hotel yang pernah aku inap. Pukul 16:50, aku dan Laura sudah sampai di lobby hotel.
Resepsionis hotel melihat dan menghampiri ku. Dia berkata;
"Oh syukur lah Anda kembali dengan selamat mister Robin, kerabat Anda mister Albert menunggu di kamar 212." ucap si resepsionis hotel.
"Maafkan saya yang telah membuat Anda khawatir." balasku.
"Dari mana saja kau!" ucap seseorang yang berjalan turun melewati tangga.
__ADS_1
Aku mencari sumber suara itu, suara itu dari seseorang yang menuruni tangga. Terlihat orang tinggi besar, berkulit hitam berjalan ke arahku.
Aku tanpa sadar, mulutku menganga karena yang berbicara adalah...