
Hari telah berganti, pagi menyapaku. Aku meneguk soda Yang ada di kulkas. Hingga pagi ini aku tidak bisa tidur mengingat ada tanggung jawab yang harus aku lakukan.
Aku tidak ingin jatuh dalam jebakan "Aku cinta padanya." atau "Aku menyukainya." Yang jelas saat ini perasaan ku adalah melindunginya dari bahaya. Jika aku tidak salah tebak, dia merasa kesepian.
Aku hanya tidak siap jika dia mengatakan suatu hal yang bahkan aku sendiri sulit menjawabnya jika itu aku bertanya padanya. Jika urusanku telah usai, mungkin aku akan mengajaknya keluar dari dunia gelap ini.
Menurut resepsionis hotel kami, sarapan pagi mulai dari pukul 07:00 hingga pukul 09:30. Saat ini waktu telah menunjukkan pukul 07:05, aku ingin segera turun dan sarapan. Aku harus membangunkan Putri tidur ini.
"Fumiko bangun sudah pagi, ayo kita sarapan!" ucapku sambil membuka jendela yang menutupi pintu ke balkon.
"..." respon si Rubah.
"Ayo bangun!" ucapku dengan lebih mengencangkan suaraku.
"Udah sana duluan." ucap si Rubah diikuti gerakan mengibaskan tangan.
"Aku gak mau pergi kalo gak sama kamu!" kataku.
Tiba-tiba..
"Aduh aduh, maaf ya buat kamu nunggu. Pasti kamu laper ya. Maaf ya.." ucap si Rubah.
"Manjur juga kata-kata gombal seperti ini." pikirku.
Sebelum aku sarapan aku mandi terlebih dahulu, ya karena sejak kemarin aku belum mandi. Aku mengunci rapat pintu kamar mandi, aku harap wanita itu tidak sampai bertindak berlebihan seperti mendobrak pintu.
*Tok tok tok...
aku mendengar suara ketukan dari luar kamar mandi. Pasti dia cuma ingin iseng saja.
*Tok tok tok...
"Buka dong!! aku kebelet pipis!!" ucap si Rubah.
"Bisa tunggu sebentar lagi, aku juga sudah mau selesai." jawabku.
*Tok... tok... tok...
"Hei jangan iseng!" teriak ku pada si Rubah.
"hihihi..." tawa kecil si Rubah.
*Toktoktoktoktoktok...
"Hahahahaha" tawa si Rubah.
.
.
.
*Tok..
.
.
*Tok...
"Kok kamu diem aja..." ucap si Rubah.
"Aku gak peduli." ucap ku dengan datar.
__ADS_1
"Maafkan aku.. Karena aku merekomendasikan mu, Membuat mu ikut misi berbahaya ini." ucap si Rubah.
"Iya itu sudah tugasku menjadi anak buah mu untuk patuh denganmu." ucapku.
"Kamu mau tau tidak?" tanya si Rubah.
"Mau? Mau tentang apa?" tanyaku kembali pada si Rubah.
"Aku ingin kabur dari Black Cobra... Aku sudah lelah hidup di dunia hitam. Apa kamu mau ikut denganku? emm... ikut kabur bersamaku, apa kamu mau?" ucap si Rubah dengan ragu ragu.
"Sebelum aku menjawab pertanyaan itu, biarkan aku menyelesaikan urusanku disini." ucapku
"Baik." ucap si Rubah.
Tanpa ku duga wanita ini ingin kabur dari Black Cobra. Apakah ini hanya sebuah tes? Atau dia berkata yang sesungguhnya? Aku harus menjawab apa padanya?
**B**eberapa menit kemudian.
Aku keluar dari kamar mandi, wanita itu tengah menonton televisi. Sangat jelas sekali dia tidak sedang menonton tayangan itu, dia tidak paham bahasa Spanyol. Menonton televisi hanya untuk mengalihkan perhatian.
"Jadi, aku mau menjawab pertanyaan mu soal yang tadi..." secara cepat mulutku dibungkam oleh wanita ini menggunakan tangannya.
"Sudah lupakan saja yang tadi, ayo kita makan..." ucap si Rubah dengan semangat.
"Kalau kau ingin menceritakan sesuatu padaku, aku akan mendengarkannya. Aku juga akan menjaga kerahasiaannya pula." ucapku sambil memberikan tanda peace.
Dia hanya mengangguk dan tersenyum saja. Dia membuka pintu dan menunggu ku diluar. Aku memiliki asumsi kalau apa yang dia katakan adalah benar adanya.
Sedang berjalan menuju restoran di lantai 1
"Tumben kamu gak kaya biasanya." ucap ku
"Eh, masa sih.. mungkin aku cuma lagi salting aja karena liat cowok ganteng ku udah mandi.." ucap si Rubah sambil merangkul tanganku.
"Jangan deket-deket! Cewek cantik ku malah belum mandi, aku ga mau badanku jadi bau lagi..." ucapku untuk menggoda si Rubah.
"Ah.. Kau biasanya kalau aku bicara begitu malah lebih nempel lagi. Kamu kenapa sih kok begini?" Tanyaku.
"Aku cuma takut kehilanganmu, beneran aku gak bohong. Tadi kamu udah denger sendiri kan?" jawab si Rubah.
"Iya, aku dengar tadi." ucapku.
Tiba-tiba aku juga jadi merasa agak canggung dengannya, aku kembali menggenggam tangannya. Aku tahu dia sedang merasa ketakutan, aku juga takut apakah jawabanku akan berakibat baik atau buruk nantinya.
Setelah berjalan tadi akhirnya kami sudah sampai di lift. Lift telah sampai di lantai 3, pintu pun terbuka. Lalu kami berdua berpapasan dengan Carlos, salah satu dari anggota sindikat mafia El Diablo dan orang yang mengikuti kami dari LA.
"¡Buenos días amigos! (selamat pagi kawan!)" ucapan sapa dari Carlos.
"si, buenos dias tambien carlos amigo. (Iya, selamat pagi juga Carlos kawanku.)" jawaban sapaanku pada Carlos.
"¿Adónde florero? (Kamu mau pergi kemana?)" tanya si Carlos.
"los dos queremos desayunar. (Kami berdua ingin sarapan.)" jawabku.
"Oh.. oke semoga hari kalian menyenangkan, aku ingin ke kamarku mengambil sesuatu. Nanti kita bertemu lagi dibawah." ucap si Carlos.
Masuk kedalam lift
Carlos terlihat berjalan pergi ke arah lorong, lalu si Rubah berbisik.
"Sayang, kau sudah mengunci pintu kamar kita tadi?" bisik si Rubah.
"Sudah.." jawab ku dengan berbisik.
__ADS_1
"Kau bawa barangnya tidak?" tanya si Rubah di dalam lift dengan suara lirih.
"Aku membawanya ada di tas selempang ku ini." jawab ku.
"Bagus." ucap si Rubah.
Lift bergerak menuju ke lantai satu, pintu lift terbuka. Setelah itu kami pergi menuju ke restoran hotel di dekat taman yang ada di tengah-tengah bangunan hotel.
Disini kami bebas memilih ingin memakan apa, aku hanya mengambil sereal dan jus jeruk. Sedangkan si Rubah dia mengambil sandwich dan air mineral. Dari belakang Antonio datang membawa makanan dan meminta izin untuk ikut bergabung.
"Bolehkah saya ikut duduk bersama kalian?" ucap si Antonio.
"Silahkan pak Antonio." ucap si Rubah.
Pria paruh baya ini tampak tidak ada yang mencurigakan, dia hanya makan dan sesekali mengobrol tentang apa yang sedang jadi topik hangat di Meksiko. Lalu tiba-tiba dia bilang;
"Dimana kalian menaruh paket itu?" tanya si Antonio.
"Kenapa Anda menanyakan paket itu? Kami tidak bisa memberi tahu dimana." jawab ku.
"Kenapa kalian begitu kaku? Aku adalah salah satu anggota El Diablo jadi wajar saja aku bertanya." ucap si Antonio sambil mengaduk kopinya.
Antonio menyeruput kopi yang telah dia aduk. Lalu melanjutkan kembali berbicara.
"Kalian tidak perlu takut, Aku adalah si penerima itu. Aku yang memesannya." ucap Antonio.
"Apa!? Sungguh itu kau yang memesan?" tanyaku dengan rasa terkejut.
Si Rubah pun terkejut mendengarnya. Lalu, dia berkata;
"Kalau jika kau benar yang memesan, bisakah kau menunjukkan buktinya?" tanya si Rubah dengan tenang.
"Oke oke, Sebentar aku panggil anak buah ku dulu." jawab Antonia sambil dia menekan-nekan tombol smartphone nya.
"Halo, kalian berdua dimana? Kemari bawakan kertas cek-nya" tanya Antonio pada seseorang di telepon.
"Kami berdua sedang di atas, Kami akan segera turun." jawab seseorang pada telepon.
Antonio mematikan teleponnya, tidak lama kemudian dua orang itu muncul. Ternyata dua orang itu adalah Carlos dan rekannya Fuego. Mereka berdua ternyata adalah anak buah dari Antonio.
"Siapa sebenarnya orang ini? Apa benar dia orang yang memesan paket ini? Kata si Singa orang yang menerima adalah bos besar El Diablo." pikirku dengan menatap mata Antonio.
"Senor Robinson, Anda memiliki mata yang bagus." ucap Antonio.
"Maafkan saya karena telah menatap Anda, hehehe." kataku.
Fuego mengeluarkan secarik kertas cek yang bernilai satu juta dollar, dan kemudian menyerahkannya pada Antonio. Antonio membaca cek itu terlebih dahulu, lalu menyerahkannya pada kami. Dia berkata;
"Ambil cek itu, Itu adalah buktinya. Itu asli, jikalau itu palsu maka jaminannya adalah aku." ucap Antonio sambil menunjuk dirinya.
Si Rubah bertanya siapa dia sebenarnya, dan menjelaskan jika pengirim ingin paket itu sampai ke tangan bos besar El Diablo. Si Antonio menjawab;
"Kalian sedang berbicara pada bos besar El Diablo, aku Antonio si tangan besi." jawab Antonio.
"Baiklah kalau begitu, jika memang anda adalah bos besar El Diablo. Maka kami akan menyerahkan paket ini pada Anda." ucap si Rubah dan juga memberi kode untuk aku mengeluarkan paket itu.
Aku meletakkan paket itu dimeja, kami saling bertukar barang. Si Rubah menjabat tangan Antonio. Akhirnya misi kami selesai, dan kami bisa kembali ke ruangan kamar aku dan si Rubah.
Sebelum meninggalkan tempat, Antonio memberi pesan pada kami berdua, pesan itu adalah;
"Jangan pernah takut untuk mengambil konsekuensi." pesan Antonio si tangan besi pada kami.
Dia tersenyum dan memberikan jempol pada kami berdua, setelah itu kami berpamitan untuk kembali ke ruangan kamar aku dan si Rubah. Si Rubah menghela nafas panjang, karena suasana mendebarkan tadi. Aku pun tadi khawatir jika pembicaraan tadi berakhir menjadi keributan.
__ADS_1
Setelah urusan tadi usai, kami beristirahat di kamar hotel. Aku memutuskan untuk tidur sejenak, dan si Rubah ingin mandi. Namun sulit sekali ingin tidur, aku masih kepikiran tentang kata-kata si Rubah tadi pagi.
Setelah selesai dia mandi akan ku pastikan lagi apa yang dia inginkan.