
Cuaca siang ini agak mendung, dan sepertinya akan hujan. Dari kejauhan suara petir menggelegar, sepertinya disebelah utara sana sudah hujan.
Bagaimanapun juga perjalanan kali ini tidak bisa dibatalkan, jika itu sampai terjadi kita akan kecolongan. Aku harus membantu Ibu Christina, bagaimanapun caranya!
Eh, entah mengapa aku merasa ada yang tidak beres. Tetapi aku tidak tahu itu apa, dari kejauhan aku mencium bau wangi parfum ibu Christina.
Ibu Christina bisa wangi seharian, sepertinya beliau mandi pakai air bunga. Dia melambaikan tangan saat aku melihatnya, dan dia berkata;
"Sudah siap?" tanya Ibu Christina, tampak gaun merah dan penutup kepala yang juga berwarna merah melapisi tubuhnya.
Sementara aku menggunakan pakaian kemarin dan belum mandi. Sepertinya akan bagus duduk dengan Ibu Christina karena beliau wangi dan bisa menutupi bau badanku.
Sebenarnya sih belum, pikirku.
"Iya sudah siap," jawabku sambil merapikan baju dan celanaku.
Dari sebuah ketidaksengajaan ku menemukan kertas cek bank untuk menutupi kecurigaan Laura, kini malah menjadi perang antar sindikat mafia terbesar di benua Amerika.
Terdiri dari 100 personil dari markas pusat Red Saint Marry akan terbang menuju Benerith dan akan menyerang Pasadena. Pada pukul 14:55, aku menuju bandara bersama 100 personil lainnya.
Sementara itu, Laura dan Ibu Christina sudah berjalan duluan bersama 10 perintah Tuhan pada pukul 14:30.
Sepertinya setiap area bandara sudah disterilkan, tidak ada penumpang lain yang datang atau pergi naik pesawat. Banyak tempat kosong, dan hanya ada pegawai bandara di sini.
Aku berjalan ke area landasan, dan melihat sebuah pesawat kargo besar Antonov 999. Tidak hanya persenjataan, ternyata ada kendaraan lapis baja masuk juga kedalam pesawat itu.
Semua orang yang ada di landasan ini, akan naik pesawat Antonov 999. Ternyata didalam sana sudah disetting untuk berbagai macam kepentingan. Beberapa contohnya adalah, tempat duduk penumpang di pesawat kargo.
Namun interior dari pesawat ini tetap sama seperti pesawat kargo lainnya. Sepertinya aku melihat sisi gelap dari Five Color Group yang membantu suatu sindikat untuk perang.
Ketika aku sedang mencari kursi duduk, Ibu Christina melambai-lambai memanggil ku. Aku menghampirinya dan dia berkata;
"Sini nak, kau duduk disebelah ku," pinta Ibu Christina. Saat aku baru duduk, Laura pun menyusul duduk disebelah kananku.
Tangan kiri ku seperti di pegang-pegang oleh Laura. Ketika aku meliriknya, dia sedang memegangi tanganku dan menatapnya. Jujur setelah kejadian di kantor TaPA kota Meksiko dia seperti berubah wataknya.
Dia masih saja melihat tanganku, dan tiba-tiba sambil menggigit bibir bawahnya hingga berdarah. Aku yang panik dengan tingkahnya, tiba-tiba dia mencium bibirku dan setelah itu berkata;
"Aku tidak peduli jika kau memang kakak ku, aku tetap akan memiliki anak denganmu," ucap Laura sambil memegang jari telunjuk ku dan memasukkannya ke mulut.
Ibu Christina menyadari sikap yang tidak biasa dari putrinya, dan dia kesal karena tindakan Laura sudah melewati batas.
"Laura! Apa-apaan ucapan mu itu, dia kakakmu jangan berlaku tidak sopan seperti itu!" teriak Ibu Christina hingga anggota lain penasaran dengan yang terjadi.
Laura pun mulai naik pitam karena ucapan ibunya, dan dia berkata;
__ADS_1
"Tutup mulutmu! Jangan terus memanipulasinya, ayo kita pergi dari sini!" ajak Laura padaku dan menyeret ku keluar dari pesawat.
Aku dan Laura dihadang oleh 10 perintah Tuhan, dan Carlos sang kapten 10 perintah Tuhan berkata;
"Nona Laura dan Tuan Roberto, tolong kembali ke kursi masing-masing, sebentar lagi akan lepas landas." ucap Carlos dengan tenang.
Tiba-tiba tekanan kuat mendorong ke bawah, sepertinya Laura menggunakan kemampuan gravitasi. Saat dia menggandeng tangan ku, tekanannya tidak begitu kuat. Tetapi untuk para anggota 10 perintah Tuhan, mereka sudah terkapar dan Ibu Christina yang berada dibelakang ku juga.
Melihat Ibu Christina yang sedang kesusahan, aku menyuruh Laura menghilangkan pengaruh tekanan Gravitasi pada Ibunya. Tetapi, dia malah berkata;
"Sadarlah Bob! Kau sedang di manipulasi olehnya, dia tau kau yatim piatu dan dia ingin memanfaatkan mu!" kata Laura sambil menahan kekuatannya.
Saat aku sedang berpikir, mesin pesawat sudah makin kencang dan mulai lepas landas. Laura mendesak ku untuk segera keluar dari pesawat ini segera sebelum terbang, namun aku menolak.
Dia hanya melihat ku dengan raut wajah kecewa, dan aku memberikan alasan jika aku ingin membantu Ibunya. Aku pun merasakan jika dia adalah sosok ibu yang baik dan aku yakin jika dia adalah ibuku.
Laura menghilangkan tekanan Gravitasi pada area cakupannya. Laura kembali duduk ke kursinya dan hanya diam.
Aku membantu ibu Christina berdiri dan mengantarnya ke kursi beliau. Aku pun segera kembali ke kursi ku dan mengenakan sabuk pengaman.
30 menit kemudian...
Sudah 30 menit berlalu, Laura tidak merubah posisinya dan masih memalingkan wajahnya ke dinding sambil meringkuk. Aku hanya melihat tangannya yang terus bergerak naik turun, mungkin dia gatal.
Sesaat kemudian aku mendengar suara desis dari Laura, dan kursinya entah mengapa menjadi basah. Sehingga membuat ku penasaran apa yang dia lakukan;
Laura melirikku dan hanya cengengesan tanpa berkata apa-apa. Cuma kursi dan celananya yang basah menggangu pandanganku.
Setelah beberapa menit kemudian, Laura mengambil sesuatu dari tas ransel yang dia bawa. Dia mengambil celana dan sebuah microphone? Kemudian dia pergi ke arah toilet portabel dekat kotak berisi amunisi.
Untuk apa dia membawa microphone ke toilet ya? pikirku. Mungkin saja di dalam sana ada karaokenya juga.
Setelah beberapa menit kemudian, Laura kembali dengan wajah yang lega. Aku hanya melihat apa yang dia lakukan tanpa berkata apa-apa, dia menjadi aneh sekarang.
Aku melirik kearah Ibu Christina, dia tengah memejamkan matanya. Walau sudah ibu-ibu, entah mengapa beliau masih tampak menawan.
Disisi lain, aku juga teringat ucapan Laura tadi tentang pikiran ku yang sedang dimanipulasi oleh Ibu Christina. Tetapi, aku tidak terlalu peduli soal itu, aku pun juga ingin menghilangkan sindikat mafia dari seluruh dunia.
Tunggu dulu, jika seluruh dunia berarti Red Saint Marry juga. Itu tidak mungkin karena sindikat ini milik Ibuku, Ibu Christina. Aku akan mengecualikan RSM, dan menghancurkan sindikat mafia lainnya.
[Ingatlah tujuanmu...]
Aku seperti mendengar seseorang pria berbicara di kepala ku. Namun aku belum begitu jelas apa yang tadi dia katakan.
[Ingatlah tujuanmu 777!]
__ADS_1
Ingatlah tujuanku? Oh iya tujuanku adalah mencari tahu siapa dalang dibalik persebaran obat Stimulus dan bagaimana cara mereka membuat obat ini. Saat aku menyadari tujuanku kembali, aku mulai sadar jika aku harus memanfaatkan juga adanya hubungan antara Ibu dan anak dengan Ibu Christina.
Aku harus menggunakan wewenangnya sebagai bos besar untuk menyukseskan rencanaku.
2 jam kemudian...
Saat aku baru bangun tidur, semua orang sudah bersiap-siap menggunakan parasut dan juga ada yang sudah melompat. Apa yang akan mereka lakukan ya?
"Akhirnya Anda sudah bangun," ucap Carlos.
"Dimana Ibu Christina dan Laura?" tanyaku pada Carlos.
"Mereka sudah turun duluan 5 menit yang lalu, ayo Anda juga harus segera turun," jawab Carlos dan dia juga mengajak ku untuk segera turun.
Kenapa kita harus turun menggunakan parasut? katanya pesawat ini akan mendarat di Benerith, pikirku.
"Ini tuan parasut Anda," kata Carlos sambil memberikan ku sebuah parasut. Lalu, dia menambahkan;
"Tolong saat Anda melompat selubungi tubuh Anda dengan Aura yang diperkuat," pinta Carlos.
"Memangnya kenapa? Kita turun dimana?" tanyaku pada Carlos.
"Musuh bisa saja sudah menembakkan peluru ke udara saat kita turun," jawab Carlos.
Dia tidak menjawab pertanyaan ku yang kedua. Lalu, aku menanyakan lagi pertanyaan itu;
"Carlos kita turun dimana?" tanyaku pada Carlos sambil memanggul tas parasut.
"Nanti Anda akan tahu sendiri," jawab Carlos sambil menyeringai.
Setelah antrian depanku sudah terjun, ini adalah saatnya aku turun. Aku mengaktifkan Aura, sesaat setelah itu beberapa orang-orang disini melihat Auraku dan merespon;
"Astaga, apa-apaan itu?" ucap salah satu 10 perintah Tuhan anggota wanita bernama Sasha.
"Ayo berikutnya boleh lompat," ucap kru pesawat padaku.
Ini adalah pertama kalinya bagiku untuk terjun payung, dan si kru pesawat menjelaskan secara singkat cara penggunaan parasut. Saat sudah paham, aku melompat.
Angin berhembus sangat kencang, dan tubuhku melayang di udara. Saat mulai terlihat daratan yang tampak kecil, aku menarik tali parasut.
Beberapa saat kemudian, parasut mengembang dan membawaku turun melayang perlahan. Saat sudah mulai semakin jelas aku menyadari tempat ini.
Ini di Pasadena, kota ini sudah menjadi medan tempur. Salah satu pemegang senjata, mengarahkan senjata portabelnya padaku.
Pelurunya terpantul karena Auraku, tetapi parasut ini berlubang dan membuat ku jatuh lebih cepat. Aku menggunakan penguatan fisik untuk mengurangi cedera pada tubuhku saat mendarat.
__ADS_1
Aku mendarat di sebuah jalan layang bebas hambatan. Dari atas gedung mereka menembaki ku dengan peluru ukuran 12 milimeter, untuk menyudutkan ku.
Sesaat itu juga muncul 5 orang entah dari mana, dan menantang ku bertarung.