
Aku dan si Rubah setelah hampir setengah jam perjalanan akhirnya sampai di bandara LAX. Aku sebelum berangkat belum mengecek pasport dan visaku. Ternyata nama yang tertera di dokumen-dokumen ku ini bernama Bobby Robinson.
Lalu, si Rubah memberitahu namanya Fumiko Sora, sandiwaranya kami adalah sepasang kekasih yang hendak berlibur. Kami turun dari mobil dan segera menuju ke tempat check in dan kemudian menuju ke imigrasi. Selama di bandara tidak ada hal mencurigakan disini.
Barang yang berisi paket obat stimulus super seberat 2 lb (0,91 kg) itu sudah ada di pesawat karena telah melewati jalur belakang. Kalau aku tidak salah maskapai penerbangan yang akan kami naik ini, memiliki desas-desus jika ini dimiliki oleh Mafia juga.
Dunia memang sedang tidak baik baik saja setelah perang usai, masyarakat di seluruh dunia telah kehilangan kepercayaan terhadap pemerintah mereka. Bahkan organisasi seperti TaPA bukanlah organisasi negara melainkan milik perorangan. Aku tidak ingin punya pikiran buruk mengenai TaPA.
Setelah kurang lebih tiga jam menunggu akhirnya kami dipersilahkan naik ke pesawat. Tepat pukul 16:45 pesawat lepas landas menuju Meksiko. Perkiraan waktu tempuh 3 jam 44 menit, si Rubah hanya menghabiskan waktunya untuk makan dan tidur.
Ngomong-ngomong, aku duduk di bangku double sit. Aku berada di sisi kaca dan di atas sayap. Langit jingga begitu indah, sayang sekali si Rubah ketiduran.
Selama tiga jam aku habiskan untuk membaca majalah yang ada rak kursi di depanku. Dalam waktu itu juga aku sudah mencicipi aneka hidangan yang disuguhkan oleh pramugari. Rasanya standar saja, namun penyajiannya menarik dan menggugah selera.
*Ding
.
.
Para penumpang semuanya kita telah hampir sampai tujuan, gunakan sabuk pengaman Anda dan terimakasih telah mempercayakan perjalanan Anda pada maskapai kami.
.
.
Dalam setengah sadarku, ternyata sebentar lagi akan mendarat di Meksiko. Aku membangunkan si Rubah, namun si Rubah ini terlalu banyak minum jadi ini akan lebih sulit.
"Fumiko, Fumiko..." ucap ku dengan lirih.
"Hah? Siapa Fumiko?" ucap si Rubah dengan suara agak keras.
"Kamu ngomong apa sih sayang, itu nama kamu. hahaha." ucapku dengan tenang.
"Oh iya.. hahaha. Kenapa sayangku?" tanya si Rubah sambil menatap mataku.
__ADS_1
"Pasti cewek ******* ini lagi seneng banget karena di bilang sayang sama aku." pikirku.
"Loh kok bengong, kamu gak bisa berkata-kata ya karena kecantikan aku." ucap si Rubah sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Iya... iya... kamu cantik banget, nah tadi aku mau bicara soal kita sebentar lagi mau mendarat." jawabku.
"Oh begitu ya.." ucap si Rubah.
Setelah 10 menit pengumuman tadi, pesawat mendarat dengan mulus di landasan. Kami berdua turun dari pesawat lewat garbarata. Di bandara ini, bagian terminal 2 banyak sekali turis mancanegara.
Aku merasakan hal yang tidak enak di area ini, seperti ada yang mengawasi gerak gerik kami. Sebelum pergi kami harus mengambil koper bawaan dan koper berisi barang kiriman. Tempat itu ada di lantai satu, si Rubah memberi kode padaku bahwa dia juga merasakan ada hal yang tidak beres di sini.
Kami lantas bergegas meninggalkan lantai dua, setelah itu kami turun lewat eskalator dan menuju tempat pengambilan koper dan menuju imigrasi. Tanpa diduga kami diikuti dua pria berkulit sawo matang. Ternyata pria ini juga ikut turun dari pesawat yang sama.
Aku tidak menyadari keberadaan mereka, karena mereka tampak tidak mencurigakan selama di pesawat. Aku berpapasan dengan salah satu dari mereka sekali saat hendak ke lavatory. Kedua orang ini tidak memiliki karakteristik fisik besar berotot, tetapi jika ku lihat mereka ahli bela diri, dan juga pembunuh bayaran.
Setelah kami berdua menyelesaikan segala urusan kami di Bandara, kami pun mencari orang yang akan menjemput kami. Orang itu sudah menunggu dan memegang sebuah kertas bertuliskan "Mr. Bobby and Mrs. Fumiko" kami pun tanpa basa basi langsung menuju mobil yang akan kami tumpangi. Ternyata supir kami adalah anggota sindikat mafia El Diablo, dia pun sudah tau kalo kami diikuti.
Ternyata mereka berdua adalah orang dari sindikatnya dia juga. Mereka berdua ditugaskan untuk memastikan apakah kami sampai ke tujuan atau tidak, inipun atas perintah dari si Bos besar. Nama supir kami adalah Antonio.
Aku hanya menduga kalau dia memang bertugas di bagian menjemput tamu. Aku menengok kebelakang ada mobil sedan hitam mengekor dibelakang kami. Sedan hitam itu dikendarai dan ditumpangi oleh orang yang mengikuti ku dan si Rubah sejak kami masih di LA.
Antonio pun bercerita mengenai sindikat mereka yang telah berhasil memiliki hotel dan resort di beberapa wilayah di negara Meksiko. Dia pun menyarankan untuk pergi ke Pantai Cancun, dia berpendapat itu adalah pantai yang terbaik dan terindah di Meksiko. Dia mengira kami memang pasangan kekasih yang diberi trip gratis oleh sindikat mafia Los Angeles.
Ngomong-ngomong Antonio berbicara menggunakan bahasa Spanyol, untungnya aku mempelajari bahasa Spanyol mengingat wilayah California dulu adalah wilayah Meksiko atau bisa disebut sebagai jajahan Spanyol. Aku menjelaskan kalau kami tidak bisa lama-lama di Meksiko, karena waktu liburan yang terbatas.
Si Rubah hanya diam saja, karena dia tidak bisa bahasa Spanyol. Lalu, Antonio mengganti bahasa Inggris (jadi bahasa Indonesia) untuk bicara pada si Rubah.
"Senorita, Kenapa anda diam saja? Apa anda mabuk perjalanan?" tanya Antonio.
"Hahaha, aku gak mabuk perjalanan kok, aku diam karena gak bisa bahasa Spanyol." jawab si Rubah.
Si Rubah pun melirik aku, dan berkata;
"Sayang, perut aku laper mau makan.." Ucap si Rubah dengan manja.
__ADS_1
"Tunggu sampai di Hotel baru makan." ucap ku ke si Rubah.
"Kita bisa mampir dulu ke restoran di dekat sini kalau senorita Fumiko ingin makan. Aku banyak tahu tempat makan enak di daerah ini. Soal biaya makan, semua sudah di tanggung Black Cobra." ucap si Antonio.
"Kamu mau gak sayang?" tanya si Rubah.
"Oke deh, kita bisa mampir dulu untuk makan." jawab ku.
Jam sudah menunjukkan pukul 20:15, sudah agak terlambat untuk makan malam. Akhirnya kami berhenti di sebuah restoran makanan Meksiko. Banyak aneka jenis makan, jenis makanan disini prasmanan.
Aku mengambil Burrito isi daging ayam cincang dan sayuran juga minuman Horchata, sementara itu si Rubah mengambil Taco dan minuman tequila. Antonio dan 2 rekannya di depan restoran menunggu dan asik mengobrol.
Setelah selesai makan, pada pukul 20:45 kami melanjutkan lagi perjalanan menuju ke hotel di area kota Mexico city, ibukota negara Meksiko. Ternyata tidak disangka dari restoran hingga hotel hanya memerlukan waktu 20 menit. Akhirnya kami sampai di hotel tempat aku dan si Rubah menginap.
Arsitektur hotel ini sangatlah bagus dan mengusung desain jaman kolonialisme Spanyol. Kalau menurut Antonio, hotel ini adalah bekas bangunan bank era Meksiko awal merdeka yang dialih fungsikan menjadi sebuah hotel bintang lima. Aku tidak menyangka akan mendapatkan hotel senyaman ini, ketika kami datang kami disuguhkan minuman selamat datang berupa Mojito.
Mojito adalah minuman khas negara Kuba, minuman ini mirip seperti koktail dan mengandung alkohol. Aku dan si Rubah mendapatkan kamar nomor 212 di lantai 3. Kamar ini pun memiliki sebuah balkon, sebelum aku tidur aku menikmati suasana malam kota Meksiko City dari sini.
Aku terlena dengan segala kenikmatan ini, sampai aku kurang waspada. Semoga tidak ada hal buruk yang terjadi esok hari. Saat aku menikmati suasana menenangkan ini, tiba-tiba dari belakang ada yang memeluk tanpa sehelai benang di tubuhnya.
Aku menengok kebelakang dan benar saja, si Rubah...
Aku sudah tidak begitu merasakan malu atau apa, karena sudah tidak sekali dua kali melihat hal yang sama.
"Kamu gak mau mandi?" tanya si Rubah sambil memeluk erat tubuhku.
"Iya aku mau mandi, cepat kamu menyingkir dariku." jawab ku.
"Ayo mandi bareng berdua biar hemat air." ucap si Rubah dengan wajah menyeringai.
"Maaf tapi aku..."
tanpa aba-aba dia menarik ku dan mendorong ku ke ranjang, dan berkata;
"Ya udah deh, besok aja. Mending sekarang kita tidur.." ucap si Rubah sambil menahan tubuhku di ranjang.
__ADS_1
Tenaganya tidak main-main dalam menahan tubuhku, sepertinya malam ini akan menjadi adegan ulang dari malam kemarin.