
Rafli memegang kotak hadiah yang sudah tiga tahun lalu di berikan oleh Agnes kepada dirinya lewat Uminya.
"Mau sampai kapan di pegang terus? Gak mau di buka gitu?" tanya Umi Rafli pada anaknya.
Rafli menatap Uminya dan menggenggam kotak itu tanpa bergerak berkeinginan untuk membukanya.
"Rafli mau ke Amerika mencari Agnes," tegas Rafli tiba -tiba.
Umi Rafli melotot dan menatap tajam ke arah Rafli.
"Aisyah? Bagaimana dengan Aisyah? Kamu akan menikah dengannya, Raf. Tolong jangan buat orang tua kamu ini menganggung rasa malu," ucap Umi Rafli pelan.
"Umi ... Umi kok malah membela Aisyah," ucap rafli pelan.
"Umi hanya kasihan Raf. Umi sebgaia perempuan itu merasakan kesedihan yang di rasakan oleh Aisyah. Di perkosa hingga hamil, dan kini ia bingung mencari solusinya," ucap Umi Rafli pelan.
"Tapi tidak melempar kesalahan pada Rafli juga kan? Jangan bilang Rafli yang menghamilinya, itu sama saja, merusak nama baik Rafli di depan kedua orang tua Aisyah. Dikira memang benar begitu adanya, dan pasti kedua orang tua Aisyah menganggap Rafli bukan orang alim dan baik," tegas Rafli pada Uminya.
"Berarti jika Aisyah bicara yang sesuangguhnya, kamu mau menerimanya? Kamu mau menikahinya?" tanya Umi Rafli menyelidik.
"Kenapa sih? Pertanyaan dan permintaan Umi itu selalu menjebak Rafli? Umi sepertinya sengaja, biar Rafli tidak bersama Agnes, tidak mencari keberadaan Agnes dan tidak mnepati janji Rafli sendiri pada Agnes," ucap Rafli pelan.
"Kamu tahu, masih dua tahun lagi, janji itu kamu harus tepati. Umi rasa kamu menikah lagi pun, Aisyah tidak akan keberatan, jika kamu sudah mau menolongnya? Umi sudah bicara dengan Aisyah soal Agnes. Aisyah cukup mengerti dan paham. IA rela melepaskan kamu untuk Agnes, ekhemmm maksudnya, Aisyah rela untuk di madu," ucap Umi Rafli pelan.
"Hah? Aisyah rela di madu? Tapi Agnes? Gak Umi. Agnes tidak akan mungkin mau paham dengan apa yang terjadi antara Rafli dan Aisyah. Tidak mungkin." Rafli menjawab tegas dan suaranya begitu sanagt lantang.
"Lalu kamu mau bagaimana, Raf? Kamu mau mempermalukan dirimu sendiri? Mempermalukan Umi dan Abi? Dikira Umi dan Abi memiliki anak yang tidak tahu sopan santun?" tanya Umi Rafli pada putranya.
"Umi tenang saja. Rafli punya cara lain," jawab Rafli lirih. Ia membuka kado dari Agnes dan ternyata isinya sebuah jam tangan yang selalu ia inginkan sejak dulu. Jam tangan yang pernah Rafli dan Agnes lihat saat pergi ke sebuah pameran, harganya cukup fantastis. Saat itu, Rafli berjanji akan membeli jika sudah bekerja, tapi kenyataannya, uang hasil jerih payahnya ia simpan untuk membahgiakan Agnes, dan Agnes tak pernah melupakan apa yang menjadi keinginan dan harapan Rafli.
"Rafli ... Kamu jangan gila," ucap Uminya menasehati.
__ADS_1
"Umi cukup tenang. Lihat ini, Agnes memang wanita luar biasa," puji Rafli pada Agnes.
***
Tanggal pernikahan sudah di tetapkan. Rafli tak bisa berontak jika Abinya yang sudah turun tangan.
Malam ini, Rafli mengajak Aisyah pergi untuk makna malam. Ada banyak hal yang ingin Rafli ucapkan dan harus di utarakan dari sejak awal.
"Ada apa Mas Raf, ngajak Aisyah pergi? Tumben banget? Padahal bulan depan kita akan menikah," ucap Aisyah dengan bahagia.
Rafli hanya melirik ke arah Aisyah dan tersenyum kecut.
"Kamu gak sedang menjebak aku dengan cara kamu kan? Aku mau mengajak kamu tes kehamilan," ucap Rafli pelan dan membawa Aisyah ke sebuah klinik untuk memeriksakan kandungan Aisyah yang di akuinya sudah berjalan hampir dua bulan.
Aisyah menoleh ke arah Rafli dengan gugup. Rafli sedang fokus menyetir mobil dan hanya mengekor pandangannya ke arah Aisyah secara sekilas.
"Ke Klinik? Mau tes kehamilan?" tanya Aisyah mengulang dan terlihat sekali cemas.
"Kenapa? Kamu kayak cemas? Kan aku sudah tahu, kamu memang hamil, jadi apa yang perlu kamu takutkan? Lagi pula aku cuma mau memastikan berapa sebenarnya usia kandungan kamu, biar aku enak bicara sama Ayah dan Bunda kamu kan? Selain itu, persiapan juga untuk kelahiran. Tapi pastinya sih, aku ingin menikahi kamu setelah anak itu lahir. Bukankah diharamkan menikahi wanita hamil," ucap Rafli tegas membuat Aisyah semakin terdiam dan bungkam tak bisa bicara lagi. Perdebatan yang sama sekali tak terbantahkan.
"Heii ... Wajahmu kenapa? Jadi pucat gitu? Gak usah takut juga. Santai aja," imbuh Rafli yang melihat ada kekhawatiran tersendiri di wajah Aisyah.
"Ekhemmm ... Sama sekali gak. Aisyah gak takut, cuma kenapa harus di undur dari kesepakatan," tanya Aisyah pelan.
Mobil Rafli masih melaju dan kini sudah memasuki halaman Klinik yang menjadi tujuan Rafli. Mobil itu berhenti dan parkir di tempat yang sudah di sediakan. Mesin mobil di matikan dan Rafli mengambil kunci mobilnya dan membuka pintu mobil.
"Ayo kita turun," tegas Rafli pada Aisyah yang masih duduk terdiam mematung dan tak mau keluar dari mobilnya. Sabuk pengamannya pun masih terpasang di tubuh Aisyah.
Aisyah menggelengkan kepalanya pelan. Kepalanya tertunduk dan sama sekali tak berani menatap wajah Rafli yang ada di sampingnya.
"Ayo ... Kok malah diam. Aku lagi belajar untuk menjadi calon suami yang baik. Belajar untuk peduli dengan kamu dan kandungan kamu," tegas Rafli pada Aisyah yang malah menangis sesegukan.
__ADS_1
Terlihat sesekali Aisyah menyeka air matanya yang masih terus turun di pipinya.
"Kamu kenapa? Aku tidak membentakmu kan? Tidak melakukan hal kasar juga? Lalu kenapa kamu menangis?" tanya Rafli pada Aisyah.
"Ekhemmm ... Aisyah mau minta maaf pada Mas Rafli," ucap Aisyah dengan suara lirih dan kepalanya makin tertunduk dalam.
Rafli memandang wajah Aisyah yang terbalut hijab panjang. Raut wajahnya memang tidak terlihat karena menunduk.
"Minta maaf? Untuk apa? Kamu gak ada salah sama aku? Kecuali memang kamu ingin menjebak aku?" tegas Rafli sengaja menyudutkan Aisyah.
Ucapan Rafli seolah membuat Aisyah merasa bersalah. Aisyah mengangguk kecil.
"Aisyah tidak hamil. Aisyah hanya ingin mendapatkan Mas Rafli seutuhnya," ucap Aisyah lirih.
Tatapan Rafali makin geram dengan wanita alim di sebelahnya. Caranya sangat tidak profesional sekali menjebak dengan bicara kehamilan palsu, membuat cerita dusta yang di percayai banyak orang. Kalau sudah begini? Siapa yang namanya jelek? Dasar wanita gila!! Umpat Rafli di dalam hatinya.
Awalnya Rafli mulai kasihan pada Aisyah, bila apa yang di ceritakan pada Uminya adalah suata fakta dan kebenarana. Tapi nyatanya semua terbuka, Aisyah hanya membohongi dirinya dan semua keluarganya untuk mendapatkan cinta Rafli.
"Apa? Apa kamu bilang? Semua ini tidak benar? Kamu tida khamil? Kamu tidak di perkosa? Kamu tidak menjadi korban pelecehan seksual? Lalu, motif kamu memang hanya ingin menjebak aku? Membuat aku menikahi kamu dengan cara licik kamu? Kamu sudah gila Aisyah!! Kamu tidak punya perasaan!! Kamu tahu? Kedua orang tua kamu begitu benci aku, dikira semeua ucapanmu tentang kandungan kamu itu nyata!! Mereka kira aku yang menghamili kamu!! Cerita itu berbanding terbalik pada Umi, kamu bilang kamu hamil karena di perkosa!! Jadi kesimpulan aku, kamu itu pendusta!!" ucap Rafli kesal.
Rafli bergegas menutup mobilnya kembali dan menyalakan mesin mobilnya lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan yang begitu kencang. Emosi Rafli sudah memuncak.
Aisyah pun begitu tegang melihat jalan raya yangterhempas dengan cepat bagai angin topan. Ia tak bisa melihat jalanan yang ada di depannya.
"Mas Raf ... Pelan -pelan. Jangan cepat -cepat!! Kita bisa nabrak kalau begini," teriak Aisyah yang ketakutan.
Rafli hanya diam dan tak menjawab apa yang di takutkan Aisyah. Ia fokus pada jalan raya dan bundaran setir mobil yang ia pegang. Pikirannya tertuju pada Agnes yang saat ini ia rindukan. RAfli ingin menyusul Agnes dan segera membawanya ke Turki. Ia tak mau terbelenggu dengan cinta yang selama ini membalut rindu. Hubungannay yang sudah tak harmonis dan tanpa status jelas.
Cittt ... Brakk ....
"AGNES!!!!" teriak Rafli dengan suara keras saat mobilnya membentur keras mobil besar di depannya.
__ADS_1