
Sudah pukul delapan malam. Agnes tak kunjung datang ke rumah sakit. Rafli semakin cemas, dan ia menyuruh Uminya untuk menanyakan alamat Agnes kepada perawat atau dokter lain atau siapa pun. Ini rumah sakit tempat Agnes bekerja tentu akan ada data pribadi Agnes di sana.
Umi Rafli mencari tahu, dan setelah mendapatkan data alamat Agnes, dengan cepat Umi Rafli segera ke apartemen sesuai dnegan alamat tersebut.
Ting Tong ...
Suara nyaring bel berbunyi di apartemennya. Agnes yang sedang menggendong bayi Angel pun berjalan menghampiri pintu depan.
"Udah berhenti. Biar aku saja yang buka," titah Joe yang baru saja keluar dari kamar mandi.
Langkah Agnes pun terhenti dan fokus kembali menyusui bayi Angel dengan botol susu yang baru di belinya di superrmarket terdekat.
ceklek ...
Joe tersenyum pada tamu yang datang. Umi Rafli menatap Joe denagn bingung. Joe yang hanya memakai piyama handuk karena memang baru selesai mandi dan tatapannya kini beralih pada Agnes yang sedang berdiri menggendong bayi dan menyusui bayi tersebut.
"Kamu siapa?" tanya Umi Rafli pada Joe.
"Ekhemm ... Saya Joe. Anda mau cari Agnes?" tanya Joe dengan sopan.
Tatapan Joe lekat pada dua bola mata Umi Rafli. Joe menunggu jawaban Umi Rafli yang tak kunjung menjawab malahan menatap Agnes dari kejauhan. Agnes yang terlihat bahagia dan sangat cocok menjadi seorang Ibu.
"Nyonya? Anda mau bertemu dengan Agnes," tanya Joe kembalikepada Umi Rafli yang masih bengong melihat Agnes. Berbagai pertanyaan ada di kepalanya dan sulit arsanya di utarakan lagi. Apa yang Umi Rafli lihat saat ini adalah bukti otentik yang sangat kuat.
Joe ikut menatap apa yang di tatap oleh Umi Rafli.
__ADS_1
"Itu Agnes, dan itu anak saya," ucapan Joe yang ambigu membuat Umi Rafli tersadar dengan apa yang di ucapkan oleh Joe baru saja.
"Anak kamu? Bayi kamu maksudnya?" tanya Umi Rafli pelan.
"Iya benar," jawab Joe jujur.
Umi Rafli menatap Joe dari bawah hingga atas kepalanya.
"Siapa Joe, yang datang?" teriak AGnes yang melepaskan botol susu dari mulut bayi Angel.
Mendengar suara AGnes yang berteriak keras dari dalam, Umi Rafli pun bergegas pergi dari sana. Ia kecewa menatap apa yang baru saja ia lihat. Agnes adalah wanita yang sangat di idamkan oleh Rafli. Sepuluh tahun bukan waktu sebentar untuk menanti, nyatanya apa yang di katakan Agnes adalah kebohongan. Jangan -jangan perihal keyakinannya yang sudah berpindah pun iyu hanya akal -akalan Agnes saja. Bisa jadi Agnes punya modus tersendiri.
Joe pun menoleh ke dalam dan berteriak dnegamn kencang.
"Gak tahu Nyes. Aku kan gak kenal," jawab Joe lantang. Saat Joe berbalik dan menatap ke depan, Umi Rafli sudah tidak ada di sana. Umi Rafli telah pergi meninggalkan kamar apartemennya.
"Mana tamunya?" tanya Agnes pelan pada Joe.
"Tadi ada di sini, pas jawab kamu, perempuan tadi menghilang," jawab Joe jujur.
"Perempuan? Siapa namanya?" tanya Agnes penasaran. Seumur -umur, Agnes tak pernah memiliki tamu. Teman satu rumah sakitnya saja tidak ada yang tahu tempat tinggal Agnes. Agnes memang sengaj tidak welcome untuk urusan pribadi.
Deg ...
Jantung Agnes seketika berdegup keras. Batinnya berkata bahwa perempuan tadi adalah Uminya Rafli. Agnes segera keluar dari kamar apartemennya dan berlari mengejar Umi Rafli yang belum jauh dari tempatnya sambil menggendong Angel.
__ADS_1
"Umi ... Umi ... Tunggu Umi," panggil Agnes yang berlari dengan cepat sambil membawa Angel dalam dekapannya.
Umi Rafli memberhentikan langkahnya dan membalikkan tubuhnya lalu menatap Agnes yang etrlihat lelah mengejarnya. Langkah Agnes memelan dari berlari kini berjalan cepat dan berhenti tepat di depan Umi Rafli.
Belum sempat bicara, Umi Rafli sudah melotot dan bersiap marah pada Agnes.
"Kamu mau nyakitin anak saya? Sepuluh tahun dia menunggu dan berharap. Kini, harapan itu tinggal selangkah lagi terwujud, tapi Allah membuukakan semuanya dengan jelas dan gamblang. Rafli gak butuh rasa kasihan dari kamu, Nyes. Kalau memang kamu sudah berkeluarga, bilang!! Jnagan main kucing -kucingan seperti ini!! Kamu tahu!! Sejak tadi Rafli menunggu kamu!! Dia hanya ingin makan bila di suapi olehkamu, dan dia hanya mau minum obat, bila kamu yang menyiapkannya. Tapi? Kamu malah asyik dengan keluarga kamu!! Tega kamu!! Lalu? Besok kamu akan beralasan kalau kamu sibuk? Atau memang membiarkan smeuanya berjalan tanpa pengantin wanita!! Gitu!! Tega ya, Kamu!! Umi gak habis pikir!!" ucap Umi Rafli dengan suara keras dan lantang.
Agnes hanya bisa melongo dengan ucapan Umi Rafli yang tak berhentidan terus memberondong semua apa yang ia lihat dengan membuat keputusan sendiri .
Agnes menggelengkan kepalanya dengan cepat. Apa yang di lihat Umi Rafli tak seperti apa yang ada di dalam pikirannya.
"Tidak begitu Umi. Ini memang anak Joe, tapi bukan dari rahim Agnes. Dia anak sahabat AGnes, Laura, dan Joe adalah suami Laura. Laura meninggal saat melahirkan dan bayinya di lahirkan dengan sempurna dan sehat," jelas Agnes dnegan terbata. Ia bingung bagaimana harus menyampaiaknnya. Namanyaorang tua seperti Umi Rafli tentu tidak mau tahu soal itu.
"Kamu pikir, Umi mudah percaya begitu saja pada kamu, Nyes!! Gak!! Umi skearang tidak akan mudah percaya dengan ucapan kamu. Umi sudah lihat semuanya dengan amta kepala Umi sendiri!!" teriak Umi Rafli dengan keras.
"Umi ... Jangan pergi. Agnes sudah berkata sesjujurnya. Umi bisa tanay langsung dnegan Joe. Agnes dan Joe hanya sebatas sahabat saja. Tidak lebih!!" ucap Agnes membela diri.
"Apa? Hubungan kalian hanya sahabat? Tapikalian tinggala bersama, bahkan Joe memakai pakaian yang tidak pantas di tunjukkan pada wanita yang bukan mukhrimnya. Atau jangan -jangan hijab kamu itu tidak tulus?" tanya Umi Rafli yang kesal dengan Agnes.
"Umi ... Tolong dengarkan Agnes. Ini semua tidak speertyi yang Umi kira. Tolong paham dan percaya sama Agnes. Joe hanya sahabat Agnes gak lebih. Bayiini gak punya Ibu, apa salah kalau Agnes menolongnya, menggendongnya dan iku menyayanginya?" tanya Agnes dnegan suara lirih. Air matanya turun dan nampak sekali wajah Agnes bersedih atas tuduhan Umi Rafli yang sama seklai tidak benar itu. Ini sama saja, mencemarkan nama baik Agnes.
"Sudahlah Nyes!! Gak ada yang perlu di jelaskan lagi. Semuanya sudah jelas sekali. Umi lihat sendiri dan kamu sama seklai gak bisa mengelak. Umi harus beritahu ini kepada Rafli. Bagus kalian tak perlu melanjutkan pernikahan ini, biarlah Rafli menikah dengan Aisyah," tegas Umi Rafli yang sudah terlanjur kecewa dengan apa yang di lihat baru saja.
"Demi allah, Umi. Ini tidak seperti yang Umi lihat. Agnes berani bersumpah, Umi," ucap Agnes dengan lembi. Tetap ada raut kecemasan di wajah Agnes, namun Agnes hanya panik jika berita ini sampai di telingan Rafli.
__ADS_1
"Jangan bawa -bawa nama Allah, Nyes. Kmau bisa berdosa," tegas Umi Rafli lantang.
Umi Rafli pergi begitu saja meninggalkan Agnes dan bayi Angel yang kini ada di dekapannya.