
Semalaman Agnes mencoa mengabari kedua orang tuanya yang ada di Indonesia. Namun, semua nomor ponsel kedua orang tuanya sudah tidak aktif lagi. Agnes mencoba menelepon telepon yang ada di rumahnya. Lagi -lagi sama, nomor teleponnya sudah tidak aktif lagi.
Agnes meletakkan ponselnya kembali ke atas meja riasnya. Hanya nomor kedua orang tuanya dan nomor rumah yang dia ingat, lainnya tidak sama sekali. Nomor Mbok Surti atau asisten lain yang bekerja di rumahnya atau satpam dan tukang kebon, semuanya hilang dengan ponselnya yang entah kemana perginya saat ia melaksanakn tugas di Tanah Israel.
Beberapa kali, Agnes berdecak gemas. Agnes bingung bagaimana lagi, ia harus mengabari kedua orang tuanya, bahwa ia masih hidup dan akan menikah bersama Rafli.
"Aku harus bagiamna ini? Tidak ada jalan lain, kecuali aku harus kembali ke Indonesia. Tapi mana mungkin? Pekerjaanku begitu menyita waktu, dan aku belum bisa mendapatkan waktu libur panjang untuk bisa pulang ke Indonesia. Kalaupun mungkin lebih baik aku ke Amerika dan emngambil ijazahku di Kampus," batin Agnes berulang kali berpikir keras di dalam kamar apartemnenya yang mungil.
Agnes berjalan menuju kaca jendela kamarnya. Ia berjanji menemani Rafli malam ini dan berganti pakaian besok saat acara ijab kabul di mulai. Esok adalah hari pernikahannya dengan Rafli. Pernikahan yang sudah ia impikan sejak lima tahun lalu saat ia lulus sarjana akedokteran.
Tapi, ternyata jika tak ada restu dari orang tua terasa hampa. Dulu rasanya Agnes bisa bersikap cuek dan berani melakukan apapun untuk kebahagiaanya. tapi kini, sejak Umi RAfli menasehati, bahwa selama belum surga tentu ada di telapak kaki ibu kita. Agnes merasa ia perlu ijin dan meminta restu. Adapun restu itu Agnes dapat atau tidak, setidaknya Agnes sudah berusaha dan berupaya sebaik mungkin.
Agnes kembali duduk lagi di tempat tidurnya. Perasaannya sungguh tidak enak kepikiran tentang kedua orang tuanya.
***
Rafli bolak - balik menatap ke arah kaca jendela. Ia menunggu kedatangan Agnes yang sudah terlambat satu jam dari janjinya untuk datang sebelum maghrib. Rencananya mereka berdua akan melaksanakan sholat maghrib berjamaah.
"Umi ... Agnes belum datang? Tadi Umi lihat di ruang dokter atau tidak. Siapa tahu, ia jaga malam ini dan lupa memberi tahu aku," tanya Rafli pelan pada Uminya yang baru saja selesai melaksanakn sholat maghrib.
"Tidak ada kayaknya. Lagi pula, biasanya Agnes akan datang ke sini dulu baru ia kerja. Nanti juga datang, kamu tunggu saja. Sabar Raf," ucap Umi Rafli pada Rafli yang terlihat cemas.
"Tapi Umi. Agnes itu orangnya di siplin, Umi. Jadi ia tak pernah terlambat atau sengaja menelantarkan apa ynag sudah ia janjikan pada Rafli atau hal lain. Rafli jadi cemas sendiri," ucap Rafli yang terus menggerutu kesal.
"Kamu bisa telepon dong. Kan ada nomor handphonenya? Coba? Siapa tahu Agnes ketiduran karena kelelahan. Kamu tahu sendiri, waktunya habis untuk menjaga kamu dan bekerja. Kamu yang paham sama dia. Dia kan perempuan Raf, ada saatnya lelah atau mau istirahat nyenyak di kamarnya," ucap Umi Rafli menasehati.
Rafli pun mengangguk pelan. Ia mengambil ponselnya dan mencoba menelepon Agnes. Deringan telepon itu terulang terus dan sama sekali tak ada pergerakan yang mengangkat.
Umi Rafli menatap Rafli dengan tatapan lembut.
"Gak di angkat?" tanya Umi Rafli pelan.
"'Gak Mi," jawab Rafli bingung.
__ADS_1
"Coba lagi. Ulangi sekali lagi. Apartemen Agnes dimana sih?" tanya Umi rafli pada anak semata wayangnya.
"Duh ... Dimana ya, Mi. Dulu pernah bilang, tapi Rafli lupa alamatnya," ucap Rafli pelan.
"Ya sudahlah, tunggu saja," ucap Umi Rafli lirih.
Rafli mengangguk pasrah. Lebih baik menungggu kekasihnya datang.
***
Agnes sudah bersiap untuk berangkat ke rumah sakit dengan membawa perlengkapan yang di butuhkan dalam tas tenteng kecil. Mulai besok, ia akan menyandang status sebagai istri Rafli, bukan lagi wanita single yang selalu sendiri dan mandiri.
"Agnes ...." panggil seseorang dari belakang tubuh Agnes.
Agnes yang sedang mengunci pintu apartemennya pun menoleh ke asal suara yang begitu familiar di telinganya. Saat ia membalikkan tubuhnya dan menatap wajah sosok yang memanggilnya, Agnes tercengan dan kaget.
"Joe? Kamu Joe kan?" tanya Agnes pada Joe yang terdiam dengan raut wajah terlihat lelah dengan menggendong seoarng bayi di tangannya.
"Agnes. Tolong aku, Nyes," pinta Joe pada Agnes.
"Ayo masuk Joe," titah Agnes pada Joe.
Joe pun masuk ke dalam kamar apartemen itu dengan cepat dan terburu -buru.
Agnes pun ikut masuk ke dalam kamar apartemen itu dan menutup kembali.
Joe sudah duduk di sofa sambil memggendong bayinya yang di letakka di sofa rata itu.
Agnes mengambil minuman untuk Joe.
"Di minum, Joe. Kamu trelihat panik. Ada apa sebenarnya?" tanya Agnes menatap lekat ke arah Joe.
Joe langsung meminum suguhan Agnes. Rasanya ia sudah berhari -hari tidak minum dan tenggorokannya terasa sangat kering sekali.
__ADS_1
Joe mmejamkan kedua matanya dan menarik napas dalam lalu di hembuskan perlahan dari lubang hidungnya.
"Loe baik -baik aja kan, Nyes," ucap Joe yang tiba -tiba berbicara begitu mengherankan Agnes.
Sudah hampir satu tahun tidakbertemu dan kini ia bertemu tepat di depan kamar Agnes dan membawa bayi kecil.
"Aku baik -baik saja, Joe. Aku bahagia sekali. Kamu tahu,. di sini aku bertemu dengan Rafli dan aku akan menikah besok," ucap AGnes dengan perasaan bahagia dan kedua mata yang berbiunar indah.
"Oh Ya? Selamat ya Nyes. Aku terlambat datang berarti," ucap Joe pelan.
"Terlambat datang? Maksudnya apa?" tanay Agnes pelan.
"Sudah seminggu ini aku berada di Mesir, dan sengaja untuk mencari kamu, Nyes. Laura meninggal saat melahirkan. Dia bukan anakku, saat kami menikah, Laura mengakui telah hamil dengan orang lain. Laura pikir akau tidak bakal datang kembali karena sudah melewati waktu yang di tentukan. Laura berpikir aku mati di Tanah Israel. AKu tak bisa menyalahkan apa yang di lakukan Laura. Aku tak menceraikanntya juga. Aku berusaha untuk tetap menjadi suami dan ayah yang baik untuk Laura dan bayi ini. Tapi takdir berkata lain. Laura meninggal saat melahirkan, ia tak kuat mengejan dan akhirnya sesak napas," ucap Joe lirih. Rasanya menceritakan cerita ini sama saja membuka aib dan lukanya kembali terasa sakit karena menganga.
"Maaf Joe. Aku ikut prihatin mendengar ceritamu. Ini namanya siapa?" tanya Agnes pelan. Agnes pun menghampiri bayi mungil yang berjenis kelamin perempuan. Bayi yang cantik sekali, mirip seperti Laura.
"Makasih Nyes. Aku memang sengaja kembali kesini dan emncarikamu. Kalau saja, masih ada waktu untuk bisa mendapatkan kamu. Kisahku dengan Laura sudah berakhir dan aku ingin bersama kamu," ucap Joe berharap.
Agnes sudah menggendong bayi mungil itu dan menatap tajam ke arah Joe, sahabatnya.
"Aku gak bisa Joe. Aku harus menikah besok. AKu ingin bahagia, Joe, bukan ingin tersakiti karena tak ada kepastian," ucap Agnes pelan.
"Tidakkah kamu ingin berubah pikiran demi Angel? Angel nama bayi ini," jelas Joe pada Agnes.
Agnes menatap bayi mungilnya yang juga menatap Agnes.
"Angel? Nama yang sangat bagus sekali. Kenapa tak di namakan Maryam," ucap Agnes tertawa.
Joe hanya menatap Agnes. Agnes tak banyak berubah, hanya saja tubuhnya sedikit lebih kurus dan wajahnya kuyu.
"Kamu lelah bekerja? Wajahmu kusam," ucap Joe pelan.
"Ya, aku berhari -hari tidur di rumah sakit. Rafli kecelakaan dan harus operasi lutut,. Kemarin baru selesai oprasinya dan sesuai janjiku untuk menerima lamarannya seusai operasinya," ucap Agnes pelan.
__ADS_1
"Kamu yakin, Rafli bisa membahagiakan kamu, Nyes?" tanya Joe pelan.
"Untuk apa aku tidak yakin. Aku sudah mengenal Rafli sepuluh tahun dan ia tak banyak berubah. Sifat sederhana dan bijak, itu yang aku tahu," jawab Agnes pelan.