Salah Alamat

Salah Alamat
8


__ADS_3

Pagi ini, Agnes tengah bersiap untuk tugas negara. Ia dan Joe menjadi perwakilan dari kampusnya untuk di kirim ke Israel sebagai tim relawan di sana. Semua perbekalan dan uang saku untuk AGnes juga sudah di persiapkan dengan baik. Ini adalah sebagi tugas akhir dan tugas pengganti untuk kelulusan masa kuliah spesialisnya. Perjanjian dnegan kampus, sepulang dari Tanah Israel, Agnes dan Joe akan langsung di wisuda dan di berikan pekerjaan tetap di salah satu rumah sakit terbaik di Amerika.


Mereka naik pesawat khusus bersama dengan para tentara yang juga akan di kirim kesana. Tim medis ada sekitar lima ratus orang termasuk Agnes dan Joe, yang kebetulan mereka satu tim kelompok.


"Kamu cemas? Sudah telepon kedua orang tuamu di Jakarta?" tanya Joe mengingatkan. Tiga bulan di Tanah Israel yang sedang berperang bukanlah hal mudah bagi keduanya. Tentu, nyawa mereka juga terancam. Pilihan mati atau hidup tentu sudah berada di depan mata.


"Sudah tadi malam. Mama dan Papa tidak setuju dengan keberangkatan ini. Tapi, aku akan tetap melanjutkan tugas ini. Mereka menyuruhku pulang kembali ke Indonesia. Tapi, semua sudah aku putuskan bukan? Dulu ini keinginan mereka, aku menjadi seorang dokter spesialis penyakit dalam yang terkenal dan di kenal. Mungkin dengan cara ini, aku akan di kenal, walaupun mati menjadi taruhannya," ucap Agnes penuh semangat dan tidak ada rasa takut sedikit pun.


Joe tersenyum lebar dan ia tahu, Agnes pasti akan selalu maju dan semangat untuk setiap hal yang sudah menjadi keputusannya. Agnes bukan tipe perempuan manja yang takut dan mundur dengan segala bahaya yang terlihat di depan mata.


"Aku tahu, kamu pasti berani dan bertanggung jawab dengan tugas ini," ucap Joe tersenyum lebar.


Joe sudah meletakkan dua buah tas besar yang berisi pakaian dan peralatan dokter miliknya sendiri. Ia takut, akan kekurangan alat saat berada di sana nanti.


"Kita harus bisa dan kembali lagi dengan selamat, dan kita harus wisuda bersama. Lihat, Laura sudah menunggumu kembali. Kalian kan sudah bertunangan," ucap Agnes mengingatkan.

__ADS_1


Joe menatap Agnes dengan tatapan sendu. Ia lalu melemparkan pandanagnnhya pada Laura yang melambaikan tangannya kepada Joe. Sejujurnya, Joe masih mencintai Agnes dan berharap pertunangannya dengan laura bisa dibatalkan karena Agnes mau menerima cintanya. Joe membalas lambaian tangannya pada Laura dan tangan kirinya menggandeng tangan Agnes. Agnes menatap tangannya yang di genggam erat oleh Joe, sementara wajah Joe menatap Laura yang terus mengejar Joe hingga Joe dan Agnes masuk ke dalam pesawat hercules.


"Joe ... Kamu gak lagi berat meninggalkan Laura kan? Sampai harus tangan aku yang kamu gandeng begini? Aku bukan bayi," ucap Agnes menggelengkan kepalanya.


Joe menoleh ke arah Agnes dan menggelengkan kepalanya pelan.


"Tidak. Aku malah berharap tidak lagi bertemu dengan Laura dan hanya ingin terus menatapmu smabil mengungkapkan perasaanku yang sesungguhnya. Mau sampai kapan kamu bisa menerima aku, Nyes?" tanya Joe pelan.


Agnes menempelkan punggung tangannya di kening Joe dan bergidik ngeri.


Joe hanya melengos kesal. Ia mendengus, semua ucapannya dari dulu hanya di anggap candaan saja dan sebagai bualan. Agnes hany menganggap Joe sebagai sahabat atau Kakak saja, tidak lebih. seluruh hatinya masih terisi penuh cinta dan kasih sayang untuk Rafli, lelaki yang sudah tak berkomunikasi selama dua tahun ini.


"Dih ... Mukanya biasa aja. Jangan kayak gitu, jelek tahu. Joe, kita berteman sudah lama, kita bersahabat juga sudah lama, bahkan aku sudah menganggap kamu sebagai saudara atau kakak aku sendiri. Hubungan begini lebih enak Joe, lebih abadi, gak ada salah paham, gak ada sakit hati. Ini yang aku jaga, biar kita tetap bisa makan bareng, bercanda bareng, main bareng. Kamu bedain, kalau hubungan pertemanan kita ini berubah menjadi seorang kekasih? Kamu tahu apa yang akan terjadi nanti? Hubungan kita dan Laura juga tidak akan baik, belum lagi hubungan kita berdua yang mungkin tak kunjung ada titik terangnya, karena kita berdua gila kerja. Belum lagi masalah -masala kecil yang bisa menyandung hubungan kita dan pekerjaan kita. Kamu paham kan dengan maksud aku. Kamu tahu tentang Rafli?" tanya Agnes pelan.


"Iya aku tahu, aku paham. Jujur aku selalu cemburu kalau kamu membicarakan dia. Aku ingin menjadi seperti dia, yang selalu kamu kenang, kamu cintai, kamu sayangi dan kamu rindukan sampai detik ini, padahal kamu tidak pernah tahu kabarnya, bahkan rupanya dia saat ini seperti apa. Belum lagi, kamu juga tidak tahu, Rafli masih benar menunggu kamu atau jangan -jangan dia sudah punya pacar?" ucap Joe ketus berceloteh dengan sebal.

__ADS_1


Agnes hanya tertawa dan mengulum senyum. Agnes tahu, Joe sedang merajuk kesal pada dirinya. Setiap detik, Agnes selalu bercerita tentang Rafli dan tak pernah melupakn Rafli.


"Nah, Itu kamu tahu. Janagn iri, mungkin kalau kamu adalah dia, aku pun akan emlakukan hal yang sama. Dia adalah lelaki yang pantas mendapatkan seluruh cinta dan kasih sayang aku seutuhnya," ucap AGnes yang terus berharap lima tahun setelah perpisahannya ini, keadaan mereka masih sama. Mungkin saja, lamaran akan emnghampirinya dan Rafli sudah siap menikahinya.


Beberapa waktu lalu, Agnes pernah mencari media sosial Rafli, namun, di sana tidak ada petunjuk apapun.


Joe memutar kedua bola matanya dengan malas.


"Secinta itu kamu dnegan dia, Nyes. Kamu gak takut sakit hati speerti dulu lagi? Bukankah, hubunagnmu yang sudah berjalan lima tahun itu juga harus kandas, karena tidak ada keseriusan. Aku bahkan bisa menikahimu besok. Aku sudah memiliki segalanya, kedua orang tuaku pun menyukai kamu. Kurang apalagi? Apalgi yang kamu inginkan? Aku pasti mengabulkannya dalam sekejap," tegas Joe pada Agnes yang langsung terdiam. Ini bukan soal harta, materi, permintaan, dan kebahagiaan semu.


Memang semua yang di minta Agnes selalu di penuhi oleh Joe. Tapi apa yang di minta Agnes bukan permintaan aji mumpung. Malahan Agnes tidak mau membuat Joe menunggu dan bertahan pada suatu ketidakpastian. Agnes tidak bisa menerima cinta Joe, dan menyuruh Joe untuk menerima Laura yang terlihat tulus pada Joe.


"Ini bukan soal itu Joe. Ini soal hati, perasaan. Aku memang tidak mencintaimu. Apa aku harsu memaksakkan diri untuk mencintai kamu dan menerima cinta kamu. KAlau begitu, kamu egois dong, Joe. Kamu gak bisa membuat aku bahagai, malahan kamu menyiksa aku dengan cinta kamu," ucap Agnes pada Joe.


Kini giliran Joe yang terdiam dan tak bicara. Ucapan Agnes selalu benar dan berdasarkan fakta. Kalau cinta memang tidak dipaksa. Selama dua tahun pun, nyatanya, Agne masih tidak bisa menerima cinta tulus Joe.

__ADS_1


Keduany langsung terdiam dan emnikmati perjalanan yang cukup lama. setelah ini, mereka tidak akan mungkin bvisa saling tegur sapa, apalagi salingcerita dan curhat. Bisa menelepon orang rumah di negerinya saja sudah bagus. Pekerjaan mereka begitu mulia. Semoga saja semua kan baik -baik saja.


__ADS_2