Salah Alamat

Salah Alamat
14


__ADS_3

Satu menit ...


Dua menit ...


Akhirnya pelukan itu berakhir di menit yang kelima. Cukup lama dan mereka benar -benar melepas rasa rindu mereka.


Agnes mengendurkan pelukannya dari tubuh Rafli dan menatap wajah lelaki yang selama ini ia rindukan dan ia cintai dengan lekat dan penuh damba.


Tangan Rafli mengulur dan menyentuh pipi Agnes yang kini terlihat lebih tirus dan warna kulitnya terlihat sedikit pucat.


"Kamu lelah? Karena mengejar cita -cita kamu? Kenapa wajahmu kusut begini?" tanya Rafli pada Agnes yang memejamkan kedua matanya sebentar lalu di buka kembali kedua mata indah dengan bulu mata yang begitu tebal dan lentik.


Senyum Agnes terbit dari sudut bibirnya. Itulah Rafli, lelaki yang selalu memperhatikan gadis kesayangannya dari ujung akki hingga ujung kepala hingga tidak ada yang terlewatkan.


"Lelahku seketika hilang lihat kamu, Raf. Masa penantian lima tahun itu yang membuatku lelah, hingga akhirnya semesta benar -benar menepati janjinya untuk mempertemukan kita lagi dengan cara yang tidak snegaja ini," ucap Agnes mencoba tetap tersenyum. Jujur saja, semalam ia memang kurang tidur karena harus melakukan operasi besar mendadak karena kecelakaan.


Rafli menatap dua bola mata yang terlihat tidak jujur.


"Berbohong itu bukan kamu, Nyes," ucap Rafli pelan.

__ADS_1


Agnes mengambil sendok yang terjatuh di bawah tempat tidur dan duduk di tepi ranjang lalu mengambil alih nampan yang berisi makanan itu dan menyuapkan satu sendok demi satu sendok makanan ke dalam mulut Rafli.


"Aku tidak berbohong. Aku seneng banget ketemu kamu, Raf. Rasanya perjuangan aku tidaak pernah sia -sia, dan pengorbanan aku di hargai hingga titik ini," ucap Agnes pelan.


Rafli mengunyah makanan itu sambil menatap wajah cantik kekasihnya yang sudah lama skelai tak di temuinya.


"Kamu cantik, aku takjub lihat. Aku tidak pernah menyangka kamu bisa memakai hijab itu dan hari ini aku benar -benar melihat hijab pemberianku membalut wajah kamu, Nyes. Apa itu tandanya kamu sudahn ...." ucapan Rafli terhenti tatkala Agnes kemblai mneyuapi Rafli dengan uapan yang agak lebih besar. Agnes sengaja, agar Rafli tidak banyak bicara dan cepat menyelesaikan makan siangnya lalu minum obat.


"Jangan banyak bicara ya. Habiskan dulu makan siangnya terus minum obat," titah Agnes dengan telaten menyuapi Rafli.


"Siap Bu Dokter," kekeh Rafli pada Agnes yang terlihat galak dengan wajah seriusnya.


"Sekarang minum obatnya. Kamu sakit apa sih Raf? Ini kayak obat untuk pereda nyeri," ucap Agnes pelan saat melihat beberapa butir kaplet, kapsul dan tablet.


"Kakiku Nyes. Sudah setahun aku kecelakaan, dan belum sembuh. Waktu itu aku tidak mengikuti saran dokter untuk langsung kesini dan operasi besar. Tapi, keterlambatan itu malah membuat aku bahagia, karena kita bertemu," ucap Rafli pelan.


"Intinya, semua perjalanan itu ada amksud dan tujuannya kan? Tidak semuanya buruk termasuk perpisahan kita," ucap Agnes pelan.


"Nyes ..." panggil Rafli pelan.

__ADS_1


"Ya?" jawab Agnes saat mengambil satu gelas air putih untuk Rafli meminum obat.


"Kalau aku sembuh, kita menikah, kamu mau?" tanay Rafli pelan.


Agnes duduk kemabli di tepi ranjang dan menatap lekat ke arah Rafli.


"Kamu melamar aku, Raf?" tanya Agnes to the point.


"Ya. Kamu mau kan?" tanya Rafli pelan dan lembut.


"Aku tidak mau mengulang kesalahan yang sama. Aku tidak mau di anggap tidak peka, karena aku memang ingin membahagiakan kamu, Nyes," ucap Rafli dnegan suara lantang.


"Aku mau Raf. Aku mau sekali," jawab Agnes dengan bahagia.


Rafli meminum obat dan meneguk air putih itu hingga habis. Lalu kedua tangan Rafli memegang tanga Agnes dan di kecup di bagian punggung tangan tersebut.


"Aku mencintai kamu, Nyes. Maafkan kesalahan aku di masa lalu," ucap Rafli pada Agnes.


"Aku sudah memaafkan kamu sejak dulu. Aku hanay ingin hubungan kita tidak pernah sia -sia. Apapun itu tentu akan aku lakukan untuk kamu, dan kebahagiaan kita," ucap AGnes pelan.

__ADS_1


__ADS_2