
Kedua keluarga sedang berkumpul untuk menentukan tanggal pernikahan Rafli dan Aisyah. Sudah berkali -kali Rafli menolak hingga ia mennagis dan bersujud di kaki Uminya untuk membantunya, tapi Uminya tidak bisa berbuat apa -apa. Pernikahan ini harus segera di laksanakan. Mengingat Aisyah yang sudah mengandung, dan tidak akan mungkin lagi menutupi kehamilannya. Bisa malu keluarga Aisyah.
Abi dan Umi Rafli hanya bisa pasrah dan memberikan kewenangan sepenuhnya kepada keluarga Aisyah untuk mempersiapkan pernikahan ini secara sederhana saja. Acara ijab kabul ini yang terpenting khidmat bukan mewah atau besarnya. Kedua pengantin harus SAH di mata hukum dan agama.
Rafili hanya menunduk dan pasrah dengan keadaannya sekarang. Padahal ia sudah bersiap emnyambut waktu yang telah ia tunggu. rafli yakin pasti akan bertemu dengan Agnes, di mana pun itu. Walaupun mereka tidak pernah berkomunikasi selama ini. Keyakinan keduanya benar -benar merasakan kontak batin yang cukup kuat.
Rafli mengepalkan tangannya di paha. Ia kesal, dan kecewa pada Aisyah yang telah tega menjebaknya. Ia sama sekali tidak pernah menyentuh Aisyah dan kini ia di tuduh menghamili Aisyah. Perbuatan bodoh macam apa itu. Sampai -samapai Abi Rafli begitu murka kepada putra semata wayangnya saat keluarga Aisyah datang untuk meminta pertanggung jawaban.
Semua kunci jawaban ini ada pada Umi Rafli. Umi Rafli mengetahui semuanya, namun ia bersikeras menikahkan Aisyah dan putranya demi menyelamatkan nama baik.
"Arghhh ... Rafli harus kembali ke kamar. Maaf sekali jika tidak sopan," ucap Rafli yang sudah muak melihat Aisyah dan keluarga besar Aisyah. Rafli seolah benar -benar di tuduh sebagai pelaku pemerkosaan.
Rafli bangkit berdiri dan berjalan masuk ke dalam kamar yang pintunya sengaja di banting dengan keras.
Semua menatap ke arah Rafli yang denagn langkah tegas kembali ke kamarnya tanpa peduli dengan persiapan pernikahannya bersama Aisyah.
"Maaf, biar Umi bicara dnegan Rafli. Mungkin dia syok, karena S2 nya juga belum selesai. Dia belum siap untuk menikah. tapi, pelan -pelan Umi akan bicara dan kasih pengertian pada Rafli. kalian persiapkan saja semuanya dan Abi yang akan mempersiapkan," ucap Umi rafli dengan suara pelan dan lembut.
Langkah Umi Rafli begitu pelan menuju kamar Rafli dan mengetuk pintu kamar itu dnegan lembut.
__ADS_1
Rafli diam saja tidak menjawab, ia tahu pasti itu Uminya. Kamarnya pun tidak di kunci. Rafli setengah berbaring di tempat tidur dan menatap beberapa foto Agnes saat masih kuliah dan masih sering pergi bersamanya. Semua foto itu ia ambil secara diam -diam. Wajah cantik Agnes tak hanya ia nikmati dalam gambar yang tercetak berwarna tapi juga sudah jelas tercetak di dalam otaknya dan tidak pernah akan hilang dalam ingatan Rafli. Senyum Agnes, wajah cantik dan putih AGnes serta gerak gerik Agnes yang sellau tertata rapi beretika.
"Raf ... Umi masuk ya," pinta Umi pelan yang sama sekali tak di jawab oleh Rafli.
Ceklek ...
Pintu kamar itu terbuka dan Umi mausk ke dalam kamar lalu menutup rapat pintu kamar itu. Rafli hanya melirik sekilas dan menatap kembali pada foto -foto Agnes yang begitu ia rindukan.
Sudah dua tahun lebih, ia menahan untuk tidak mencari Agnes di Amerika, padahal ia tahu kalau Agnes melanjutkan kuliahnya di salah satu universitas ternama di Amerika.
Umi Rafli berjalan dan menarik kursi kerja Rafli lalu duduk di sana. Pandangannya lekat pada beberapa figura kecil yang berisi foto Rafli dnegan Agnes. Umi Rafli tahu betapa cintanya Rafli kepada Agnes. Tapi, nyatanya samapi sekarang Agnes dan Rafli tak berkomunikasi. Terakhir, Agnes datang ke rumah Rafli dan berpamitan pada Umi dan Abi karena ia harsu bekerja dan melanjutkan studinya di Amerika.
"Kamu rindu sama Agnes?" tanya Umi pada Rafli yang kemudian mengambil figura berisi foto kedua sejoli yang saling mencintai.
"Kamu sayang Umi gak?" tanya Umi kemudian.
"Sayang dong Umi. Umi dan Abi adalah orang tua Rafli. Tentu akan selalu Rafli sayangi dan Rafli taati," ucap Rafli pelan.
Tentu ucapan Uminya tidak ada yang tanpa maksud. Rafli tahu, maksud tujuan Uminya bicara seperti ini. Ia sedang merayu Rafli untuk menerima pernikahan ini dengan lapang dada.
__ADS_1
"Menikahlah dengan Aisyah, demi Umi," ucap Umi Rafli dengan suara tegas. tatapan Umi Rafli begitu lekat pada dua bola mata yang bulat dan hitam milik Rafli.
Rafli mengankat wajahnya dan meletakkan foto -foto Agnes lalu duduk tegak membalas tatapan Umi padanya.
"Apa maksud Umi? Umi adalah orang yang paling setuju dengan pernikahan gila ini. APa Umi, lebih percaya pada Aisyah di bandingkan pada Rafli?" tanya Rafli semakin kesal.
Kenapa tidak ada yang mempercayai ucapannya sedikit pun. Kenapa harus lebih percaya pada Aisyah? Apa karena ia perempuan, dan terbukti mengandung. Lalu ia mengandung dengan siapa? Rafli harus mengakui anak yang bukan dari benihnya sendiri? Ini sesuatu yang tidak adil untuk dirinya sendiri.
Umi membawa figura itu dan berdiri lalu duduk di samping Rafli. Memneluk RAfli dengan erat dan mengusap pelan punggung putra semata wayangnya agar ia tetap tenang dan tidak di kuasai oleh amarah yang besar.
Umi menunjukkan figura yang terlihat foto Agnes dan Rafli sedang duduk berdua lalu tersenyum menghadap kamera. Senyuman penuh kebahgiaan di hati keduanya, karena keduanya saling mencintai dan saling menyayangi. Semua itu berarti bagi keduanya. Hubungan yang tak pernah ada restu dari keluarga Agnes karena perbedaan prinsip, membuat Rafli dan Agnes juga tak pernah mundur untuk mengakhiri hubungannya. Kekuatan cinta dan keyakiann keduanya untuk bisa bersama sanagt kuat sekali.
"Umi selalu berharap kamu bisa bersanding dengan Agnes. Umi tidak pernah melarang kamu untuk memilih siapapun termasuk Agnes. Dan Agnes emmang wanita luar biasa, cintanya kepada kamu begitu tulus dan ikhlas. Ia tidak pernah menuntut, meminta pamrih dan semua ia lakukan dengan hati. Itu yang Umi suka dari Agnes. Keingin Agnes yang kuat untuk ikut dnegan kamu, ia belajar dengan Umi secara diam -diam." ucap Umi Rafli menyeka air matanya yang jatuh di pipinya. Ia sendiri tidak mau ini terjadi. Tapi malam itu, Aisyah ingin bunuh diri jika tak menikah dengan Rafli, lelaki yang sanagt ia cintai.
Umi Rafli merogoh isi kantongnya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil, lalu di berikan kepada Rafli.
"Maafkan Umi. Ini dari Agnes sebelum ia berangkat ke Amerika, ia menitipkan ini, bila kamu pulang ke Indonesia atau pas Umi datang ke Turki untuk mengunjungi kamu. Umi pikir, hubungan aklian akan selesai karena kalian sudah tak berkomunikasi lagi, tapi naytanya kamu malah semakin kuat dalam sendirimu dan menunggu Agnes kembali. Kmau yakin? Kalau Agnes juga menunggu kamu?" tanya Umi Rafli pelan. Umi memberikan kado kecil itu di tangan Rafli.
rafli menatap kado yang terbungkus dengan bungkus berwarna hijau, warna kesukaannya dengan pita berwarna senada. memang tidak besar, tapi cukup membuat penasaran Rafli.
__ADS_1
"Umi ... Kenapa baru di berikan sekarang?" tanya Rafli penasaran.
"Maafin Umi ya. Buka kadonya, Umi mau lihat," titah Umi pada Rafli.