
Satu tahun kemudian ...
Agnes yang semakin tertutup dan selalu menjalani kehidupannya dengan sendiri. Ia hanya ingin cepat menyelesaikan kuliahnya mengambil spesialis penyakit dalam seperti keinginan kedua orang tuanya.
Di dalam kamar apartemennya, Agnes hanya bisa menatap bintang di atas langit yang bertabur dengan indah.
Agnes membawa satu gelas susu hangat dan kembali ke meja kerjanya dan mulai mencari data Rafli. Agnes benar -benar kehilangan kontak dengan Rafli.
'Apa aku, tanya pada Uminya Rafli, untuk mengetahui alamat dan nomor telepon Rafli? Atau bagaimana?' tanya Agnes yang semakin bingung. Jujur saja, pikiran ini yang tak pernah bisa hilang dari otaknya. Agnes selalu memikirkan keadaan Rafli.
Agnes menatap layar komputernya dan menatap salah satu media sosialnya yang selalu di beri lik eleh seseorang yang tak di kenalnya. Seseorang dnegan akun baru yang menguikutinya sejak Agnes berada di Amerika.
***
__ADS_1
Satu tahun lebih, Rafli hanya fokus pada kuliah magisternya dan mengajar di salah satu Universitas Turki sebagai pengabdian dan syarat menerima beasiswa.
Kedua orang tua Rafli juga pindah ke Turki untuk membuka usaha restaurant masakan negerinya sendiri. Semua harat benda yang ada di negaranya sudah di jual, hanya tersisa rumah yang akhirnya di hibahkan untuk di pakai sebagai Panti Asuhan
Rafli menatap langit indah malam yang terlihat cerah. Taburan bintang yang terus berkelap kelip semakin membuat suasana malam itu semakin terasa indah namun sunyi dan hampa.
"Rafli ... Ini susu jahenya, minum dulu. Kamu akhir -akhir begadang saja, memang gak lelah? Mikirin Agnes ya?" tanya Uminya kepada anak semata wayangnya.
"Rafli rindu sama Agnes. Dia baik, Umi. Umi juga suka kan sama Agnes?" tanya Rafli meyakinkan dirinya bahwa pilihannya tak pernah salah.
Umi mengangguk senang.
"Umi suka sama Agnes. Dia anak yang baik, periang, dan mau belajar. Ada sesuatu hal yang kamu tidak tahu, Raf. Dia itu sudah belajar agama dengan Umi," ucap Umi Rafli lembut.
__ADS_1
Rafli terkejut dan berjalan menghampiri Uminya yang duduk di salah satu sofa dan Rafli terduduk di lantai.
"Umi gak bohong kan sama Rafli?" tanya Rafli pelan.
"Gak. Makanya saat kamu bilang mau melamar Agnes, Umi setuju, karena Agnes memang sudah siap semuanya, dia hanya menunggu kamu, tapi kamunya ragu, kan? Umi gak bisa berbuat apa -apa. Itu kan berurusan dengan hati dan perasaan, Umi gak pernah mau memaksakan," ucap Umi kepada putra kesayangannya itu.
"Hehh ...." Rafli mendesah pelan. Kenapa ia harus tahu setelah sekian lama berpisah jarak dan waktu dengan Agnes. Entah apa hubungannya sekarang dengan Agnes. Apakah benar Agnes setia menunggunya atau Agnes sudah bersama dnegan yang lainnya.
"Kenapa? Menyesal?" tanya Umi kepada Rafli.
"Jelas. Menyesal sekali. Tahu begitu, Rafli memberikan alamat Rafli atau nomor baru Rafli agar kita tetap bisa berhubungan," sesal Rafli yang terus merutuki kebodohannya. ia tidak peka dnegan semua perjuangan dan pengorbanan Agnes selama mberhubungan denagnnya.
"Anggap saja ini semua takdir yang harsu kamu lalui. Kalau benar Agnes jodoh kamu atau tulang rusuk kamu, tentu ia kana kembali pada hati dan raga kamu, Raf. Percaya sama Umi," ucap Umi pelan berusaha menenangkan Rafli yang selalu bingung.
__ADS_1