
Satu minggu kemudian ...
Hari ini adalah paling bersejarah bagi Rafli. Hari yang paling di tunggu Rafli setelah penantian panjang untuk operasi besar pada lututnya. Kebahagiaannya semakin bertambah saat ia bertemu kembali dengan Agnes yang sudah berubah sesuai keinginannya lima tahun lalu.
Pemberian hijab yang salah alamat ternyata tidak sepenuhnya salah. Salah alamat hanya karena belum terbiasa saja.
Agnes memegang tangan Rafli yang sudah terbujur lemasi di brankar dorong menuju ruang operasi. Selama ini, Agnes yang selalu menemani Rafli untuk menguatkan lelaki itu agar keinginan sembuhnya selalu kuat.
"Nyes ... Setelah ini kita menikah ya?" racau rafli yang sudah gugup akan masuk ke ruangan operasi.
Agnes menatap Rafli dan tersenyum bahagia. Sudah satu minggu ini sejak pertemuannya kembali, kalimat ingin menikahi Agnes selalu ada dan tak pernah tertinggal.
"Raf ... Menanti kamu lima tahun aja aku sanggup. Apalagi ini hanya menanti beberapa jam saja? Aku akan ada disini menunggu kamu sampai kamu siuman," ucap Agnes berusaha membuat Rafli tenang.
"Kamu janji Nyes? Aku sayang sama kamu, Nyes," ucap Rafli tersu mengungkapkan rasa cinta dan sayangnya pada Agnes. Jelas Rafli sedang menutupi rasa gugupnya. Ia hanay ingin menatap Agnes, senyum Agnes dan bercanda sebelum masuk ke dalam ruang operasi.
"Janji?" tanya Rafli yang terus meneror keseriusan Agnes. Rafli takut, kejadian lima tahun lalu terulang lagi dan ia di lupakan begitu saja oleh Agnes karena sesuatu masalah yang fatal. Untung saja. Agnes masih mau memaafkan Rafli, kalau tidak, apa jadinya?
"Janji Raf. Aku janji, setelah kamu operasi, kita menikah," tegas Agnes dengan wajah serius.
"Jangan membuatku senang ya? Tapi itu tipuan. Jangan buat aku menunggu harapan itu lagi," ucap Rafli kembali.
"Sama sekali gak, Raf. Aku janji, aku akan meninggalkan semuanya demi kamu. Ajarkan aku menjadi wanita yang baik dan lebih baik lagi, agar aku bisa menjadi istri yang baik dan terus berusaha memperbaiki diri," pinta Agnes kepada Rafli.
Rafli terus menggenggam tangan Agnes dan mengusap lembut punggung tangan Anes.
"Jangan pernah tinggalin aku, Nyes. Kamu sudah sempurna. Kamu sudah baik, dan tidak perlu lebih baik lagi. Aku mneyukai kamu yang seperti ini, Nyes. Aku emncintaimu karena sikapmu yang tulus dan ikhlas serta tak pernah membedakan. Lima tahun aku hampa tanpa kamu, Nyes. Separuh jiwaku sudah tertambat dan kamu bawa pergi jauh, dan aku tidak tahu kemana itu semua kamu bawa. Cintaku bukan isapan jempol, Nyes," ucap Rafli terus meracau.
__ADS_1
"Raf ... Aku tahu. Aku merasakan hal yang sama. Karena itu aku berani meninggalkan semuanya, hidupku, keluargaku, karena kau memang memilih kamu, Raf. Aku mau hidup dengan kamu," ucap Agnes mantap.
"Terima kasih. Sekali lagi aku ucapkan terima kasih," ucap Rafli yang lebih yakin dan termotivasi semuanya kan baik -baik saja.
Keduanya saling menatap dan melempar senyum.
"Tuan Rafli?" panggil perawat.
"Ya Sus? Ini pasien Rafli. Dokternya sudah siap?" tanya Agnes pelan.
"Sudah Dokter Agnes. Tapi dokter Agnes di minta untuk menjadi asisten dokter Rois selama operasi. Gimana dokter?" tanya perawat itu pelan.
Rafli menganggk pelan dan tersenyum. Tangannya masih menggenggam tangan Agnes.
"Demi aku, Nyes. Mau ya, aku ingin merasakan tangan kamu bekerja di tubuhku," ucap Rafli memohon.
"Kamu pasti bisa. Aku yakin kamu pasti bisa. Aku pasti bahagia kalau kamu mau membantu mengobati aku," ucap Rafli memohon.
"Oke aku coba. Sus, bilang dokter Rois, aku ke ruangan sebentar," titah Agnes pada Suster yang akan membawa Rafli ke dalam ruangan operasi.
"Siap dokter Agnes. Nanti saya sampaikan pada dokter Rois," jawab Suster itu pada Agnes.
Agnes hanya mengangguk kecul dan kini tatapannya menatap Rafli.
"Aku ganti baju dulu. Nanti kau temani di dalam. Ingat, kamu harus kuat, setelah ini kita menikah," ucap Agnes lembut dan mengecup kedua pipi Rafli di bagian kiri dan kanan. Sontak perlakuan manis itu membuat Rafli tersenyum lebar dan makin manis terlihat.
"Nyess ... Kamu lakukan itu," ucap Rafli terkejut.
__ADS_1
"Semangat Raf. Kamu pasti kuat dan kamu pasti sembuh," ucap Agnes pelan.
Rafli mengangguk pelan dan nampak seklai bersemangat.
Suster sudah membawanya ke dalam ruang operasi dan AGnes kembali ke ruangannya untuk mengganti pakaian operasi sambil mencari dokter Rois untuk brifing sebentar tentang penyakit Rafli.
Tok ... Tok ... Tok ...
"Masuk!!" jawab dokter Rois dengan suara keras.
"Dokter Rois benar meminta Agnes untuk membantu menjadi asisten?" tanay Agnes pelan pada dokter Rois.
"Betul sekali. Kamu siap," tanya dokter Rois pada Agnes.
"Insha Allah, siap dokter. Agnes, akan berusaha maksimal. Memang ini operasi apa dok? Boleh lihat hasil rontgennya, dok?" tanya Agnes pelan.
"Bisa. Ini pelajari saja. Tanya kalau ada yang tidak paham. Kamu kan dokter penyakit dalam, seharusnya ini juga bagian dari pekerjaan kamu. Atau saya lepas, kamu kerjakan sendiri," goda dokter Rois pada Agnes. Dokter Rois sangat paham, Agnes memiliki kemmapuan yang luar biasa di atas rata -rata. Hanya saja, Agnes masih ragu jika harus melakukan sendiri, mungkin memang belum terbiasa. Tapi jika terpaksa, semua berjalan lancar dan baik juga maksimal. Tidak ada komplain dan semuanya rapi.
"Saya gak bisa dok. Rafli calon suami saya. Saya pasti takut dan canggung. Saya menemani dokter saja, sambil belajar," pinta Agnes pada dokter Rois yang tertawa.
"Sudah ku duga, kamu jatuh cinta pada dosen itu," ucap dokter Rois pelan.
"Kami sudah sepuluh tahun bersama, lima tahun kami terpisah untuk mengejar cita -cita kami masing -masing. Tapi, kami di pertemukan kembali dan kami akan menikah setelah operasi ini berhasil," ucap Agnes dengan wajah yang sellau ceria dan bahagia.
"Baiklah, kita mulai sekarang. Baca dulu, saya tunggu di ruang operasi," titah dokter Rois pada Agnes.
Agnes mengangguk kecil dan membaca hasil rontgen itu. Setidaknya ia tahu, mana yang akan di operasi dan seperti apa. Ini buka soal mudah, tapi kudu teliti dan fokus agar tidak terjadi kesalahan.
__ADS_1