
Langkah Agnes begitu besar dan cepat sekali berlari sambil membawa Angel yang baru berusia dua bulan itu. Bayi mungil itu anteng dalam gendongan Agnes.
Agnes di beri tahu oleh temannya tentang kecelakaan yang terjadi di depan rumah sakit. Joe nampak frustasi saat akan menyeberangi jalan raya dan ia tertabrak truk yang melintas di depan jalan raya itu dengan sangat cepat dan kencang.
Kondisi Joe yang langsung hancur dan darah mengucur di semua bagian tubuh karena sudah tertatbrak dan terseret masih terlindas juga. Sunggu tragedi yang miris dan membuat mual.
Tubuh Joe sudah tertutup kain putih. Tubuhnya penuh darah dan sudah bersih. Agnes berjalan mendekati ruang mayat sambil membawa Angel, bayi Joe. AGnes tak pernah menyangka jika kejadian ini menimpa Joe dan secepat itu Allah merenggut nyawa sahabatnya dengan caranya. Agnes masih syok aja mendengar berita duka ini.
Air matanya begitu deras mengalir di pipinya. Sahabat baiknya yang selalu mensupportnya telah tiada. Joe adalah sahabat yang baik. Dia begitu tulus dan penyabar.
Agnes harus mengantarkan Joe hingga ke peristirahatan terakhirnya. Bayi mungil ini sudah tak lagi memiliki Ibu dan Ayah. Mau tiodak mau, Agnes harus mencari asisten atau perawat untuk emngurus bayi ini slemaa ia bekerja di rumah sakit. Hatinya mulai sedikit bis amelupakan rasa sakit dan kecewanya. Mungkin memang ini jalan terbaik.
***
__ADS_1
Hari ini Rafli sudah boleh pulang dan sementara harus banyak istirahat di rumah. Biara tidak jenuh, sudah boleh berjalan -jalan menggunakan kursi roda dan kakinya mulai boelh di gerakan untuk latihan bberjalan setelah satu bulan pasca operasi. Saat ini cukup di gerakkan perlahan saja, agar otot barunya tidak kaku.
Selang infusan sudah di lepas dan surat pulang juga sudah di berikan untuk Rafli. Sesekali Rafli menatap ke arah jendela dan berharap Agnes datang ke kamar VIPnya untuk menemuinya.
"Suster, Dokter Agnes kemana ya? Beberapa hari ini tidak melihat," tanya Rafli pelan.
"Ohh Dokter Agnes sudah cuti dua hari ini, ia sedang mengurus pemakaman sahabatnya yang meninggal kecelakaan di depan rumah sakit. Ada yang bilang habis jenguk orang dan tertabrak truk. Kasihan meninggalnya mengenaskan," ucap Suster itu pada RAfli.
"sahabat? Siapa namanya?" tanya Rafli penasaran.
"Ohhh ... Oke. Titip salam buat Agnes, dari Rafli. Bilang Arfli akan kembali setelah sembuh," ucap rafli pelan berpesan pada Suster tersebut.
"Sekalian Tolong berikan cincin ini untuk Agnes, tolong kasihkan ya?" ucap Rafli pelan.
__ADS_1
Mendengar semua penjelasan Suster itu, RAfli menjadi yakin dan percaya bahwa semua yang di katakan oleh Agnes adalah fakta. Semuanya benar dan tidak ada kebohongan. Ini semua hanya salah paham, sama seperti dulu. Kejadian ini terulang lagi dan lagi.
"Baik Tuan RAfli. Akan saya sampaikan pesan anda untuk Dokter Agnes," ucap Suster itu dnegan suara pelan.
Rafli hanay menatap dengan tatapan sendu. Ia harus meninggalakn rumah sakit ini. Rumah sakit yang memberikan kebahagiaan dan di hempaskan kembali karena salah paham.
'Seharusnya aku lebih percaya pada Agnes, bukan pada Umi yang eklas -jelas hanya ingin menikahkan aku dnegan Aisyah,' batin Rafli pada dirinya sendiri.
"Rafli!!" panggil Uminya di lobby saat kursi roda itu sampai di dekat Umi dan Aisyah.
Ya, Aisyah ikut menjemput Rafli dan ingin merawat Rafli sebelum akhirnya mereka akan SAH menjadi suami istri.
"Mas Rafli," sapa Aisyah dnegan senyum yang manis sekali.
__ADS_1
"Bukannya kamu sudah menikah dengan Lelaki kaya?" tanya Rafli pada Aisyah.
"Betul sekali Mas. Suamiku meninggal seminggu yang lalu. Aku sendiri Mas, aku kan membantu kamu dan kita akan mebuka bisnis baru Mas," ucap Aisyah yang kini menjadi waniata kaya yang emmiliki banyak bisnis besar.