Salah Alamat

Salah Alamat
19


__ADS_3

Agnes terdiam terpaku di koridor apartemenya. Agnes hanya menatapa punggung Umi Rafli yang berjalan tegak mantab untuk kembali lagi ke rumah sakit.


Agnes berbalik dan berjalan menuju kamar apartemennya lalu masuk ke dalam. WAjahnya murung dan terasa hampa.


"Nyes ... Kamu kenapa? Nyes ..." tanya Joe yang menutup kembali kamar apartemen itu lalu berjalan menghampiri Agnes yang terduduk sambil mendekap ANgel.


Joe langsung mengambil Angel dalam gendongan Agnes dan emletakkan bayi itu di kamar di kasur milik AGnes yang hanya di batasi oleh beberapa guling dan bantal.


"Siapa dia, Nyes? Siapa wanita itu?" tanya Joe dengan penasaran.


Joe tahu, kalau Agnes begini tentu ada sebab akibatnya. Tanpa bisa menjawab pertanyaan Joe, Agnes malah menangis. Air matanya sudah menetes di pipi mulus Clara.


"Nyes ... Tolong jelaskan sama aku, ada apa ini, sebenarnya?" tanya Joe bingung. Joe makin gusar dnegan perubahan sikap Agnes tiba -tiba.


"Di -dia, Uminya Rafli. Aku janji datang dua jam lalu, untuk sholat berjamaah. Rafli menyuruh Uminya mendatangi apartemenku, tapi beliau salah paham. Aku batal nikah besok, Joe. MAsa penantian aku, harapan aku, cita -citaku untuk hidup bersama Rafli, terkubur dalam begitu saja, karena salah paham," ucap Agnes terbata dan suaranya pelan.


Joe langsung memeluk Agnes dnegan erat.


"Ini semua salah aku. Ini semua karena aku ada disini dan kamu menggendong anakku. Aku akan bicara pada Rafli," ucap Joe tegas.

__ADS_1


"Sudahlah percuma Joe. Uminya sudah salah paham sama aku. Gak ada yang perlu dibenahi lagi, Joe," ucap Agnes pelan.


"Memang kamu gak menjelaskan apa -apa?" tanya Joe pelan. Kini Joe duduk di depan Agnes. Ia menarik sofa kecil yang bulat sebagai tempat kaki.


"Sudah Joe. Aku jelasin kalau kamu sahabat aku, yang baru di tinggal meninggal istrinya. Gitu," ucap Agnes yang terus menangis tersedu.


Rasanya hidupnya ingin berhenti sampai detik ini saja. Tak sanggup impian lima tahun itu tergilas pada ssuatu kesalah pahaman.


"Rafli dimana? Dia di rumah sakit mana? Aku ingin bertemu Rafli sekarang juga!!" teriak Joe dengan suara keras.


Walaupun Joe mencintai Agnes, Joe tidak pernah memaksa Agnes untuk meneruima cintanya berdasarkan rasa kasihan atau hanay untuk menyenangkan Joe. Joe ingin Agnes menerimanya dari hati, karena Agnes memang mencintai Joe dan Agnes tulus meliohat pengorbanan Joe. TApi sayang, cinta dan hati Agnes sudah seutuhnya untuk Rafli dan tak ada yang lainnya lagi.


"Aku akan datangi Rafli dan bilang bahwa apa yang di lihat Uminya semua salah dan hanay salah paham saja," tegas Joe yang mearsa bersalah.


Joe tahu betapa cinta matinya Agnes pada Rafli, hingga ia menjadi wanita kuat yang terus berjuang untuk tetap hidup demi penantiannya lima tahun itu.


Joe mengganti pakaiannya dan bergegas ke rumah sakit sesuai arahan Agnes. Joe mencari kamar VIP dan ketemu.


Tok ...Tok ... Tok ...

__ADS_1


ceklek ...


"Kamu Rafli? Kekasihnay Agnes, bukan?" tanya Joe sedikit denagn uara meninggi.


"Dia bukan kekasaihku lagi. Dia sudah berkhianat. Dia wanita yang tidak tahu diri dan tak punya harga diri," teriak Rafli kesal.


Entah apa yang di bicarkan Uminya tadi pada Rfali hingga ARfli di penuhi rasa amarah dan kebencian yang begitu sangat kentara.


"Jaga bicaramu, Raf!! Aku Joe, sahabat Agnes selama kami di Amerika. Aku tahu banyak tentang kamu, Raf. Agnes selalu bercerita tentang kamu, kebaikan kamu dan kesederhanaan kamu, sampai dia gak waktu untuk memikirkan dirinya sendir. Kedua orang tuanya pernah datang ke Amerika dan Agnes tidak mau menemuinya karean kebencian Agnes pada Mama dan Papanya ynag telah mengusir kamu dan keluarga kamu. Kamarnya di penuhi dengan foto kamu entah sendiri atau berdua dengan Agnes. Sampai suatu hari, kita bertugas bersama di Tanah Israel, dia yang menyelamatkan kami, dari hijab yang kamu berikan yang selalu ia pakai saat ini. Agnes banyak berkorban. Agnes pulan yang menyuruhku untuk menikah dnegan LAura, teman kami juga yang begitu mencintai aku. Agnes selalu bilang, lebih baik mencari sosok yang mencintai kita, bukan yang kita cintai. mencintai itu siap merasakan sakit, mencintai itu harsu siap di kecewakan, dan mencintai itu harsu sabar. Berbeda bila kita di cintai, di cintai itu mungkin awalnya risih karena terlalu over protektif, tapi, di cintai itu, menyenangkan, kita bisa bermanja dan saling perhatian. Kamu lihat dia terpuruk sekarang hanya dalam hitungan detik. Maaf kalau kedatangan aku ke rumah Agnes sidah menjadi salah paham, karena aku datang ingin menitipkan Angel, bayiku sesuai keinginan Laura. Bukan untuk hal lain. Aku harap, kamu bisa coba berpikir ulang, untuk hal ini," ucap Joe menjelasakan semuanya dengan detail.


"Apa ini suruhan Agnes?" tanya RAfli kepada Joe.


"sama seklai tidak. Aku yang mencari tahu soal ini. Aku hanya tidak tega melihat Agnes yang terpuruk dan sedih. Aku terlalu kenyang melihat Agnes yang terus mengurai air matanya. KAsihan. Aku pamit, aku rasa aku sudah emnjelaskan semuanya. Perihal kamu percaya atau tidak, itu bukan urusan aku, aku hanya berusaha sebaik mungki, agar kalian tidak salah paham lagi." ucap Joe lantang.


Joe pun pergi dari kamar VIP itu dan berjalan ke luar rumah sakit dnegan langkah gontai dan ...


Cit ... cit ....


"Argh!! Laura!!" teriakan keras itu begitu meyayat hati.

__ADS_1


__ADS_2