
"RAFLI!!!" teriak Agnes di dalam tenda yang sunyi dan sepi.
Beberapa teman medisnya terbangun karena teriakan Agnes yang begitu kencang menggaggu acara tidur nyenyak teman sejawatnya.
Agnes terduduk dengan keringat mengucur deras, napasnya memburu dengan mulut sedikit menganga membuka. Suara dari mulutnya begitu terengah -engah seperti habis berlarian dengan kencang.
"Kamu kenapa, Nyes?" tanya Joe sambil membawakan air minum untuk Agnes yang masih takjub dengan mimpi buruknya yang nampak sekali nyata. Tubuhnya terasa lemas sekali. Pikirannya mulai tertuju pada Rafli. Darah mengucur pada kepalanya membuat Agnes ingin segera menolong kekasihnya itu.
Joe menepuk pelan pundak Agnes.
"Nyes ... Minum dulu, biar kamu tenang," titah Joe yang langsung menyodorkan botol air mineral yang sudah di buka tutupnya olenya.
Agnes menerima botol air mineral itu lalu menguknya dengan nikmat. Rasanya segar sekali, air mineral yang dingin karena hawa malam menyentuh kerongkongannya yang mulai tearsa panas dan kering.
Kedua matanya di pejamkan dan Agnes menarik napas dalam di di hembuskan dengan pelan sekali.
"Kamu kenapa, Nyes? Mimpi buruk," tanya Joe pelan.
Agnes tersenyum kecut dan mengangguk kecil.
"Iya Joe. Tapi kayak nyata gitu," ucap Agnes pelan sekali. Agnes meletakkan botol mineralnya dan mengusap wajahnya dengan sangat kasar.
Joe menatap Agne dengan tatapan bingung.
"Memang mimpi apa? Rafli? Itu sih efek kengen aja," ucap Joe memutar kedua bola matanya malas. Kalau Agnes membicarakan tentang Rafli, sifat cemburu Joe mulai muncul Joe mulai tak suka, jika pikiran Agnes selalu meikirkan Rafli yang terlihat tidak gentle. Bagaimana tidak? Sampai saat ini, Rafli tidak berusaha mencari Agnes, atau menghubungi Agnes, padahal Rafli tahu dimana Agnes berada.
Agnes emnggelengkan kepalanya pelan.
"Gak Joe. Gak biasanya begini, Joe. Aku memang sayang sama Rafli, rindu pun pasti selalu setiap waktu. Tapi ini beda, Rafli kecelakaan Joe,dan itu nyata. darah itu mengalir deras dari kepalanya. Aku merasa ini benar -benar terjadi di depan mataku Joe. Aku takut," ucap Agnes yang merasa merinding dnegan mimpi buruknya barusan.
__ADS_1
Jelas sekali, di samping Rafli ada seorang perempuan alim yang terlihat memegang tangan Rafli karena ketakutan. Dia siapa? Istrinya? Pacara barunya? Oh ... Tidak mungkin Rafli mengkhianati cinta kita.
"Sudahlah. Tidur lagi. Gak jelas banget sih. Cuma mimpi, kamu itu terlalu lelah dan cape sama kerjaan kamu. Tinggal sebulan lagi kita di sini. Setelah ini kita wisuda, dan kamu sukses menjadi dokter spesialis. Kamu hebat Nyes," ucap Joe selalu memberikan pujian dan selalu menyemangati Agnes.
"Iya Joe. Makasih ya," jawab Agnes pelan.
Agnes kembali tidur dan menutup tubuhnya dnegan selimut tebal. Satu bulan lagi ia kembali ke Amerika untuk wisuda setelah tugas negara ini. Setelah itu ia benar -benar menajdi dokter spesialis seeprti cita -citanya. Agnes berencana untuk pergi ke Turki menemui Rafli, kekasihnya. Ia apsti bisa mencari Rafli, di setiap kampus yang ada di sana. Itu soal mudah sekali.
Baru juga terlelap, belum genap beberapa menit. Terdengar suara tembakan yang memberondong di sekitar tenda perkemahan untuk para tim medis.
Huru -hara dan balasaa suara dentuman beberapa granat membuat semua orang lari tunggang langgang. Agnes yang masih mengantuk begitu sulit membuka kedua matanya. Terasa panas di sekitar tubuhnya. Banyak api dan beberapa orang terlihat bergeletakkan dengan darah. Agnes melihat dari celah selimutnya. bau amis darah dan sesuatu yang basah juga mengenai selimutnya.
Teriakan orang -orang yang tak Agnes kenal. Sungguh mencekam sekali suasana malam ini. Semua berkahir dengan teriakan. Bagaimana nasibku nanti?
Agnes tetap tertidur dan tak berani terbangun. Posisinya masih tetap berada di bawah selimut dan menahan napas. Suara deru helikopter yang mendekat dan memberondong tenda perkemahan pun mulai menjauh dan pergi entah kemana.
Suasana kembali sunyi dan sepi. Terdengar beberapa isak tangis oarang yang ada di sekitar Agnes. Agnes membuka kedua matanya di bawah selimut tebal, dan semuanya gelap tidak ada satu pun pencahayaan di sana.
Agnes terduduk dan melihat banyak darah di sana. Semua teman -temannya yang tertidur banyak yang mati tertembak.
Pandangan Agnes mengedar di seluruh tempat itu. Ia mencari Joe. Agnes membawa tas kecilnya yang berisi beberapa keperluan pribadinya dan ia berlari ke tempat tenda Joe.
"Joe!! Joe!! Kamu dimana?" teriak Agnes memanggil Joe. Beberapa teman medisnya yang masih hidup juga mencari teman -teman mereka.
"Nyeessss ...." suaranya begitu lirih sekali hingga nyaris tak terdengar. Agnes mencari -cari asal suara. Ia tahu, ini suara Joe.
Tatapannya terpaku pada sosok Joe yang sudah memegang perut yang sudah penuh dengan darah. Wajahnya pucat sekali sambil menatap Agens yang jelas sedang berjalan ke arahnya.
"Joe!! Joe!! Kamu kenapa Joe? Ya ampun Joe, luka ini parah Joe, aku harsu bagaiaman?" tanya Agnes yang cemas dan bingung.
__ADS_1
Agnes memang membawa tas yang berisi alat kedokterannya dan beberapa obat penting yang selalu di pakai untuk memberikan pertolongan pertama.
"Nyess ... Tolong aku, Nyes. Aku yakin kamu bisa, setelah itu kit apergi dar sini Nyes. Tempat ini sudah tidak aman lagi," ucap Joe lirih.
"Aku bantu sebisa aku ya, Joe. Tapi, kamu harsu tahan rasanay tentu akan sakit sekali, kita tidak punya obat yang ampuh, aku hanay punya obat sederhana. Kamu yakin kuat menahan rasa sakitnya tidak?" tanya Agnes yang tidak mau membuat Joe merasakan sakit saat Agnes akan mencabut peluru yang menancap pada perut Joe.
Joe menganggu pelan dan pasrah. dari pada ia hanya mati konyol di tempat ini dan tak bisa melihat dirinya dan Agnes di wisuda. Itu adalah cita -citanya.
"Aku pasti kuat. Jika aku melihat wajahmu, aku pasti kuat, Nyes. Kalau pun aku mati, aku mati di depanmu, Nyes. Aku mati saat kamu mengobati aku. Kalau aku mati, katakan pada Laura, berikan cincin tunangan ini. Katakan padanya, aku minta maaf karena aku tidak bisa menikahinya, aku harsu pergi. Bilang juga maaf pada Laura, kalau selama ini, aku tidak pernah mencintainya, aku hanya mencintai kamu, Nyes," ucap Joe yang meracau tak jelas.
Agnes hanya menggelengkan kepalanya pelan. Ia mempersiapkan suntikan untuk kebal rasa di sekitar perut yang akan di operasi.
"Cukup Joe!! Jangan banyak bicara!! Kamu harus banyak berdoa," tegas Agnes pada Joe.
Joe terdiam dan berteriak sangat keras saat peluru yang tertancap di perutnya di ambil oleh Agnes dengan alat seadanya.
"Arghhhhhhh ...." teriak Joe dnegan keras hingga suara itu memelan dan hilang.
Tubuh Agnes terduduk lemas. Lega rasanay bisa menyelesaikan operasi ini dengan alat dan obat seadanya yang di miliki. Setidaknya, Agnes memiliki dasar bisa melakukan operasi.
***
Umi dan Abi Rafli sudah pasrah dengan keadaan Rafli yang tak kunjung siuman setelah operasi besar pada luka berat setelah kecelakaan itu terjadi.
"jadi giman dok? Keadaan anak saya?" tanya Abi Rafli pelan.
"Operasinya berhasil. Kepalanya terbentur, tapi kami tidak bisa memastikan, bagaimana dengan memorinya. Tapi yang jelas, satu kakinya harus di operasi besar di negara lain. Itu ada dokter khsusu untuk menyembuhkan bagian lututnya, agar bisa berjalan lagi dengan normal," ucap Dokter itu menjelaskan dengan sangat jelas sekali.
"Lalu berapa lama, Rafli akan siuman?" tanya Umi Rafli yang semakin cemas melihat kondisi anaknya.
__ADS_1
"Secepatnya. Karena pengarush obat biusnya akan hilang setengah jam lagi. Mungkin akan siuman bebarengan dengan pudarnya obat bius itu di tubuhnya," ucap Dokter itu dengan suara teegas.
Abi dan Umi Rafli mengangguk pasrah dan menatap lagi tubuh lemas Rafli di atas brankar.