Salah Alamat

Salah Alamat
12


__ADS_3

Malam itu setelah Agnes membantu Joe mengambil peluru di perutnya, tak lama tenda kemah mereka kembali di serang. Kebetulan udara yang dingin membuat Agnes memakai hijab yang di berikan Rafli untuknya. Ia putar di kepala sama seperti orang yang memakai hijab.


Agnes dan Joe sudah berada di salah satu tempat penampungan orang -orang yang ingin dikembalikan ke negaranya. Mereka menunggu kedatangan beberapa pesawat yang akan membawa mereka kembali ke negara asal setelah selesai tugas.


"Nyes ... Kok, perasaan aku gak enak ya," ucap Joe tiba -tiba.


"Gak enak gimana?" tanya Agnes pelan.


"Mereka jangan- jangan bukan orang yang akan membantu kita, mereka adalah musuh kita yang akan menjual kita, atau menjadikan kita tawanan," ucap Joe berbisik kepada Agnes.


Kedua bola mata Agnes mulai mengedar dan meneliti satu per satu cara bicara mereka dan betul kata Joe, kenapa mereka membawa kita di suatu ruangan yang berteralis seperti penjara.


"Apakah ada dokter di sini? Ada yang bisa bantu teman saya yang tertembak? Kami punya obat tapi tak punya tim medis!! Siapa?" teriak salah satu orang dengan tubuh yang besar.


Joe menyikut tubuh Agnes dan berbisik, "Tunjukkan kemampuan kamu, mungkin ada jalan. Kalau kamu bisa cari bantuan, carilah bantuan. Kamu tidak perlu saling tunggu menunggu. siapa yang bisa pulang, dia akan wisuda secepatnya. Kamu tahu kondisi aku belum pulih seratus persen, tubuh ini rasanya masih sangat lelah sekali."


"Heii!! Kamu!! Iya kamu yang perempuan!! Kamu cantik sekali. Sini," ucap lelaki itu dengan suara lantang.


"Dia dokter, tuan," ucap Joe lantang. Joe takut sesuatu terjadi pada Agnes.


"Kamu muslim?" tanya tentara itu pada Agnes.


Agnes menelan air liurnya dengan dalam. Hijab sudah di pakai, tentu banyak orang akan mengira ia seorang muslim.


"Ya. Aku muslim, aku seorang dokter," tegas Agnes dengan suara lantang.


Kedua tentara yang ada di depan ruangan berteralis itu saling berbisik dan menatap tajam ke arah Agnes.

__ADS_1


"Oke. Kamu keluar dan tolong obati teman kami," titah tentara itu dengan suara lantang.


Agnes menatap Joe yang tersenyum kecut. Ia tahu, Agnes sedang mencari cara terbaik agar mereka tidak ikut mati konyol di negara peperangan ini.


***


Enam bulan kemudian ...


Semua telah berubah, Agnes dan Joe berhasil keluar dari negara yang bersengketa itu dan kini keduanya menetap di negara Timur Tengah, tepatnya di daerah Mesir.


Agnes dan Joe hanay berbekal, identitas yang berhasil terselamatkan dan satu tas kecil milik Agnes yang berisi peralatan dokter. Pakaian yang mereka bawa hanya pakaian berlapis jas dokter yang terlihat lusuh dan di penuhi darah kering.


Enam bulan lamanya, Agnes menjadi tim medis dadakan di tempat persembunyian bala tentara. Perlakuan buruk bahkan tindakan asusila pun terkadang sempat Agnes rasakan, walaupun tidak separah orang lain yang memang menjadi tawanan mereka.


Sungguh miris dan sangat mengerikan sekali. Tapi, itulah kenyataan yang harus di hadapi. Biar bagaiman pun juga, Agnes harus bertahan dan berbekal ilmu agama yang ia pelajari dari Umi Rafli, ia belajar melakukan semua ibadah itu dengan baik. Dari pada harus mati terbunuh di depan mata, seperti yang sudah -sudah.


"Kenapa begitu? Masih suka sakit? Kita lebih baik cari rumah sakit," ucap Agnes pada Joe.


"Aku gak apa -apa. Gimana sudah siap dengan kota baru?" tanay Joe pada Agnes.


"Aku ingin ke Turki. Ingin mencari Rafli di sana. Tapi, aku ingin cari pekerjaan dulu, semoga aja ada orang yang percaya sama kita, kalau kita ini dokter," ucap Agnes pelan.


"Kenapa ragu? Kita kan punya tanda pengenal ini. Ini adalah bukti kalau kita memang tim medis relawan. Sudahlah Nyes. Kita harus berusaha, sama seperti yang kamu ajarkan padaku. Intinya berusaha, walaupun kadang hasilnya tidak sesuai dengan harapan kita," ucap Joe pada Agnes tertawa.


"Dasar kamu ya, Joe," ucap Agnes kesal.


***

__ADS_1


Satu bulan kemudian, Agnes sudah bekerja di salah satu rumah sakit mesir. Joe pamit untuk kembali ke Amerika untuk menikah dengan Laura. Ia tak mungkin meninggalkan Laura terlalu lama tanpa kabar.


"Kamu yakin gak ikut pulang?" tanya Joe pada Agnes.


"Aku yakin Joe. Aku mau ke Turki setelah ini. Aku cari tahu dulu. Salam untuk Laura dan aklian harus berbahagia setelah menikah. Ingat, Laura itu sangat baik. Dia wanita yang bis angerti kamu, Joe. Jangan sia -siakan dia," titah Agnes pada Joee dan etrsenyum ramah.


"Tapi hati kecilku masih mencintaimu Nyes. Maafkan aku, jika masih belum bisa melupakan kamu dari pikiran dan hatiku," ucap Joe pada Agnes.


"Oke, gak masalah. Tapi ingat sekarang ada LAura, jaga hatinya, Joe. Jangan kamu sakiti wanita sebaik dia," titah Agnes pada Joe.


"Kamu juga Nyes. Jaga diri kamu baik -baik dan semoga cepat bertemu dengn Rafli, cinta sejati kamu," ucap Joe pelan.


Hati Joe rasanya tercabik -cabik dan itu sangat menyakitkan sekali. Mencintai seorang wanita, namun sama sekali tak bisa memilikinya. Joe dekat dengan Agnes, namun hati Agnes sama sekali tak tersentuh setelah sekian tahun mereka bersama pun, hati dan cinta Agnes sama sekali tak goyah.


Perpisahan keuda sahaabt itu benar -benar membuat keduanya saling kehilangan. Betap tidak, keduanya selalu bersama beberapa tahun terakhir ini. Apalagi saat tugas di Tanah Israel. Semuanay terasa cepat, dan banyak moment yang tidak bisa di lupakan oleh Joe.


"Joe, Kamu aakan tetap menjadi sahabat terbaik aku. Kamu tahu, selama ini Laura itu mendekati aku, dan minta tolong untuk bisa mendekati kamu. Laura tahu, aku sudah memilikikekasih dan aku menunggu kekasihku. Lama memang lima tahun, bahkan aku juga tidak tahu kabarnya seperti apa, aku hanya yakin aku dan dia bisa bersama," ucap Agnes menjelaskan. Ia mengungkapkan semua rasa di dalam hatinya.


"Boleh aku memelukmu, Nyes. Untuk terakhir kalinya?" pinta Joe pada Agnes. Rasanya sulit sekali berpisah dengan Agnes dalam situasi seperti ini.


Agnes menganggukkan kepalanya pelan dan merentangkan kedua tangannya lalu memeluk Joe dengan erat. Pelukan seorang sahabat yang selalu ada dalam suka dan duka, pelukan tulus dan selalu memberikan kenyamanan satu sama lain bukan nafsu.


"Aku sayang sama kamu, Nyes. Tolong, jangan skip aku dalam persahabatan kita," pinta JOe pada Agnes.


"Gak akan Joe. Sudahlah,sana berangkat, pesawat kamu sudah mau terbang. Jangan sampai ketinggalan. Jangan seperti ini terus malah membuatku sedih dan menangis," ucap Agnes lalu tertawa. Kedua mata Agnes sudah basah dan sesekali air mata yang terbendung di kelopak matanya tak mampu lagi bertahan dan menetes di pipi Agnes. Agnes menyeka air matanya.


Joe masih berdiri di depan dan mengusap sisa air mata di pipi Agnes dengan ibu jarinya.

__ADS_1


"Aku tidak ingin melihat kamu menangis, Nyes. Tersenyumlah untukku," ucap Joe pada Agnes.


Agnes mengangkat wajahnya menatap Joe dan tersenyum.


__ADS_2