Salah Alamat

Salah Alamat
13


__ADS_3

Rafli memandangi kaca jendela rumah sakit. Setelah berkali -kali mencari kesembuhan, akhirnya ia menuruti kata -kata dokter terdahulunya untuk pergi ke Mesir. Di sana ada satu dokter yang sanggup menyembuhkan kaki Rafli.


Kini, sudah satu minggu Rafli berada di rumah sakit ini dan menunggu giliran untuk di lakukan operasi besar. Rencananya minggu depan sesuai jadwal antriannya. Jadi selama satu minggu terakhir dan seminggu yang akan datanga, lebih mendapakan perawatan intens sebelum di lakukannya operasi besar.


Siang ini, Umi dan Abinya sedang sibuk mengurus resturant yang mereka dirikan di Mesir. Lalu, urusan Aisyah, entah bagaimana ceritanya, Rafli pun tidak ingin tahu soal itu. Cuma, Rafli sempat mendengar saat Uminya bercerita pada Abi saat masih mendapatkan perawatan di Turki.


Kedua orang tua Aisyah akhirnya tahu, bahwa Aisyah tidak hamil. Semua itu hanya akal -akalan Aisyah yang tidak ingin di nikahkan dnegan seorang Kiyai kenalan Ayah Aisyah. Semua rencana Aisyah gagal total, setelah kecelakaan itu terjadi. Untung saja, Aisyah tidak mengalami cedera yang sangat berat. Hanya luka ringan yang terbentur dashboard saja.


Kecelakaan itu memang dahsyat tapi keduanya masih di berikan hidup yang panjang oleh Sang Pencipta.


Sejak saat itu, Rafli dan Aisyah tidak pernah bertemu lagi. Kmeungkinan besar, Aisyah memang akan tetap di nikahkan oleh lelaki pilihan Ayahnya bukan pada Rafli yang hanya dosen honorer dengan penghasilan pas -pasan.


Seorang perawat masuk ke dalam untuk memberikan obat yang harus di minum oleh Rafli setelah makan siang nanti. Perlu di ingatkan agar tidak lupa.


"Tuan Rafli, jangan lupa obatnya untuk di minum ya. Makan siang akan segera di antar," ucap eprawat itu sambil mendorong tempat obat yang harus di bagikan kepada seluruh pasien yang ada di rumah sakit itu.


"Ya suster. Letakkan saja di sana, jangan terlalu jauh, takut sulit menggapainya, karena orang tuaku sedang sibuk denagn urusan bisnisnya," ucap RAfli dengan pelan memberikan alasan tepat.


Perawat itu menurut dan meletakkan satu kota berisi beberapa butir kapsul dan tablet di atas nakas ekat tempat tidurnya. Satu kaki Rfali tidak bisa di gerakkan dengan sempurna, kalaupu di gerakkan secara paksa, rasanya begitu sangat sakit sekali. Jadi Rafli hanya bisa meletakkan satu kakinya di kasur tanpa bisa menekuk. Sedangkan satu kaki lainnya memang normal dan bisa di gunakan dengan baik.


"Ini ya, tuan. Saya letakkan di sini, semoga tidak sulit untuk di gapai," ucap perawat itu dnegan suara lembut.


"Terima kasih ya, Suster," ucap Rafli dengan suara pelan.

__ADS_1


Rafli kembali termenung menatap kaca jendela yang menghubungkan ke luar menuju taman rumah sakit. Ia melihat beberapa orang lalu lalang termasuk beberapa perawat yang sedang membawa pasien dan beberapa dokter yang berjalan menuju ruangan pasien.


Deg ...


Kedua mata Rafli di belalakkan dan menatap jelas wanita berhijab dengan baju panjang berwarna hitam yang di tutup dengan jas dokternya. Kedua tangannya di kucek kembali dengan cepat dan membuka menatap kembali ke arah luar. Ia seperti bermimpi melihat sosok yang tatap saat ini.


Rafli memijat kepalanya yang tiba -tiba terasa pening. Ini memang hampir lima tahun perpisahannya dengan Agnes, dan tiba -tiba ia melihat sosok yang sangat mirip denagn Agnes. Ini benar atau tidak? Ini mimpi atau sekedar angan -angan saja?


Tok ... Tok ... Tok ...


Rafli yang sedang khusyuk menatap sosok wanita yang mirip seperti Agnes pun menoleh ke asal suara pintu yang di ketuk. Seorang asisten rumah sakit yang bertugas untuk mengantarkan makanan dan minuman serta buah untuk semua pasien di kamarnya masing -masing.


"Permisi, saya hanya ingin mengantarkan makanan tuan. Maaf kalau kedatangan saya mengganggu waktu istirahat tuan," ucap asisten itu memberikan satu nampan berisi makan siang yang sengaja di letakkan dia tas pangkuan Rafli seperti biasanya.


"Terima kasih ya," ucap Rafli pelan pada assten itu.


"Iya tuan. Sama -sama. Ada yang perlu saya bantu lagi?" tanya asisten itu sebelum pergi meninggalkan kamar Rafli untuk melanjutkan perkerjaannya.


Rafli menggelengkan kepalanya pelan dan tersenyum sedikit.


"Tidak ada. Sudah cukup. saya bisa makan sendiri, adn nanti seperti biasa saya letakkan di sini," ucap Rafli pelan menjelaskan.


"Iya tuan. Tidak masalah," jawab asisiten itu pelan.

__ADS_1


Asisten itu sudah keluar dari kamar Rafli dan melanjutkan mengantarkan makanan ke setiap kamar pasien.


Rafli mmebuka plastik yang menutupi makanan yang ada di nampan, dan tanpa sengaja, sendoknya terlempar jauh ke bawah tempat tidur. Tentu saja, Rfali merasa kesulitan untuk mengambilnya sendiir. Lalu bagaimna cara ia makan setelah ini kalau tidak ada sendok. Jalan satu -satunya ya, menunggu sampai ada yang datang ke kamar ini dan bisa di mintai tolong untuk mengambilkan sendoknya yang terjatuh.


Klunting ...


"Arghh pake jatuh lagi," desah Rafli dengan kesal. Ia melongo ke bawah dan pandangannya tidakdapat menjangkau sendok yang masuk ke kolong temapt tidurnya.


Suara ******* seseorang dari kamar pasien yang tidak etrtutup pintunya membuat seoarng dokter cantik dengan pentup kepala yang semakin membuatnya terlihat mempesona pun mendatangi kamar tersebut.


Agnes hanya takut ada sesuatu terjadi pada pasien -pasiennya. Sebagai dokter yang peka, Agnes tidak bisa tinggal diam bial mendengar suara aneh atau teriakan walau pelan. Itu menandakan sesuatu terjadi pada seseorang yang merasa ketakutan, kesakitan dan terintimidasi.


"Ada apa berteriak? Ada yang bisa saya bantu?" tanya Agnes dengan suara lembut dan tangan yang di masukkan ke dalam kantung jas dokternya. Mnedengar suara yang lembut dan tidak pernah asing di telinganya, Rafli pun mengangkat wajahnya dan menatap ke arah Agne syang juga takjub emnatap sosok lelaki yang kini ada di hadapannya.


Keduanya merasa tidak percaya, anatar mimpi atau keyantaan. Waktu limat tahun kurang satu bulan lagi dan mereka di pertemukan secara tidak sengaja dengan semua keadaan yang sudah berbeda jauh sekali saat mereka dulu saling meninggalkan satu sama lain demi cita -cita mereka.


"Rafli?" AGnes memanggil nama Rafli lembut dan lirih sekali.


"Inyes ... Kamu kah itu? AKu tidak bermimpi?" tanya Rafli lirih.


Ternyata apa yang ia lihat tadi adalah benar. Gadis itu benar -benar Agnes, kekasihnya.


"Rafli ... Ya Allah, kita beneran ketemu setelah lima tahu," ucap Agnes yang langsung berjalan cepat masuk ke dalam kamar dan menghampiri Rafli lalu memeluk lelaki yang ia rindukan itu.

__ADS_1


Keduanya saling berpelukan erat dan tak ingin saling melepaskan. Rindu sekali. Perpisahan yang sama sekali tidak mereka inginkan dan kini mereka bertemu lagi dengan campur tangan Allah.


__ADS_2