Salah Alamat

Salah Alamat
26


__ADS_3

Yumna sudah berada di dalam mobil Duta. Keduanya diam sambil mendengarkan lagu lama favorit mereka (Everything I Do) I Do it For You. Lagu sendu yang enak di dengar dan mengena bagi keduanya. Seolah liriknya menguatkan mereka untuk mejalani hubungan ini dengan baik. Percaya satu sama lain tanpa punya rasa overthinking berlebihan.


"Na ...." panggil Dutaa pelan sambil fokus menyetir.


Yumna menoleh ke arah Duta, "Ya Kak."


"Ke kampus dulu ya bentar, mau tanda tangan proposal," ucap Duta pelan.


"Iya Kak. Terus kita kemana? Siang ini, Kak Jone ada ujian skripsi, Yumna mau lihat, boleh?" tanya Yumna.


"Boleh dong. Mau lihat kak Jone ujian skripsi, masa gak boleh," ucap Duta lalu terkekeh sendiri.


"Makasih ya Kak Duta. Kalau Yumna ikut organisasi, boleh?" tanay yumna kemudian.


Duta melirik sekilas ke arah Yumna, sang kekasih.


"Pertanyaan kamu aneh banget, sih Na," tanya Duta balik.


"Aneh gimana Kak? Wajar dong, kalau Yumna nanya sama Kakak? Yumna minta pendapat Kak Duta memang salah? Nanti kalau Yumna ambil keputusan sendiri malah lebih salah lagi," ucap Yumna pelan.


"Itu terserah kamu, yang terpenting kamu bisa bagi waktu antara organisasi, kuliah dan buat Kakak," jawab Duta tegas.


"Ekhemmm bagi waktu yang tepat, kalau buat organisasi dan kuliah mungkin masih bisa singkron karena berada di dalam satu lingkungan kampus, kalau buat Kak Duta? PAstinya akan berkurang. bukankah kak Duta juga seperti itu pada Yumna," sindir Yumna pada Duta.


Nampak ucapan Yumna kali ini membuat Duta kesal. Tapi Duta berusaha tetap tenang dan tetap mengambil keputusan dengan kepala dingin.


"Kakak itu laki -laki, dan kamu perempuan, Na. Tentu cara pandangnya berbeda, sikap, berbeda, sifatnya juga berbda, yang jelas, lai -laki itu realistis pakai logika, kalau perempuan itu realistis pakai hati," ucap Duta menjelaskan.


"Ciyeee ... Pasti takut, kalau Yumna lupa atau mengabaikan Kak Duta kalau Yumna sibuk sama organisasi," ungkap Yumna senang.


"Jelas dong. Gak perlu kamu jabarkan seperti itu, Kakak pasti takut kehilangan kamu," tegas Duta membuat Yumna mengulum senyum sendiri sambil menoleh ke arah kiri menatap luar kaca jendela. Hatinya makin berdebar kencang.


Duta melirik Yumna, yang menoleh ke arah kiri sambil tersenyum miring dan fokus kemblai ke jalan raya dan bundaran setir yang di pegangnya.


"Ayah dan Bunda mau pindah ke luar kota, Na. Ayah di pindah tugaskan ke kota lain," ucap Duta pelan.

__ADS_1


Yumna langsung menoleh ke arah Duta.


"Terus? Kak Duta sendiri dong di rumah?" tanya Yumna penasaran.


"Iya sendiri. Tapi kaykanya Kak Duta gak bakal tinggal di rumah, Kak Duta mending sewa apartemen yang lebih kecil saja, biar gak repot," ucap Duta kemudian.


"Kapan pindahnya Kak?" tanya Yumna kemudian.


"Harusnya lusa, tapi Bunda nunggu selesai acara LDK, biar Kak Duta ada persiapan untuk pindah juga," ucap Duta pelan.


Yumna terdiam dan menatap ke arah jalan raya yang masih lengang itu. Tatapannya kosong. Rasanya Yumna mulai hampa. Satu per satu, orang -orang yang ia sayangi pergi dan terasa menjauh.


"Kok bengong sih?" tanya Duta kemudian.


"Ahh enggak cuma lagi mikir aja," ucap Yumna kemudian.


"Mikir apa?" tanya Duta kembali.


"Mikir Ayah dan Bunda yang juga mau pindah karena urusan bisnis. Ini saja, Yumna tahu dari Kak Jone," ungkap Yumna yang merasa sedih.


Tangan Duta menyentuh tangan Yumna dan di genggam erat.


Yumna menatap ke samping. Wajah Duta terlihat serius. Duta pun melirik sekilas ke arah Yumna yang menatapnya dan tersenyum hingga kedua lesung pipinya terlihat membuat wajah Duta manis.


"Kak Duta kan juga sibuk. Sibuk organisasi yang memnag harus di kendalikan oleh Kakak, belum lagi kuliah Kak Duta yang memang padat banget, iya kan? Mana ada Kak Duta punya waktu senggan untuk Yumna. Kalau pun ada, kita harus berdebat dulu," ungkap Yumna lirih.


"Na ... Apa yang Kakak lakukan itu untuk kita. Kakak fokus kuliah, biar nilai Kakak baik, dan cepat lulus, cepat kerja, dan bisa menikahi kamu. Bukankah ini sudah kita bahas kemarin," ucap Duta pelan.


Nampak Yumna menarik napas dalam. Hal ini memang sudah di bahas keduanya, waktu lima tahun adalah waktu yang cukup lama. Tidak sebentar. Apalagi bagi mereka yang terbiasa dengan aktivitas masing -masing, bukankah itu akan membuat celah masing -masing.


Yumna menarik tangannya dari genggaman Duta membuat Duta melirik ke arah Yumna. Wajah Yumna begitu kecut dan masam.


"Apa kita nikah saja? Biar gak ada salah paham?" usul Duta dengan cepat.


"Apa? Nikah? Gak Kak. Ada juga malah runyam, cita -cita kita gak bakal terwujud dengan baik, malah yang ada kita bikin boneka hidup dan ambyar dnegan semua harapan kita. Yumna gak setuju," ucap Yumna tegas.

__ADS_1


Duta manggut -manggut sepaham.


"Ya sudah. Memang jalannya seperti ini. Kita lalui saja. Lagi pula kita masih di kota yang sama, jadi gak ada masalah juga," ucap Duta pelan.


Yumna mendesah bimbang. Ada secercah keraguan di hatinya dengan hubungan ini.


Mobil Duta sudah masuk ke dalam parkiran kampus dan keduanya sudah turun dari mobil. Yumna berjalan di sisi Duta yang kemudian menggandeng tangan Yumna.


Yumna menatap tangannya yang tiba -tiba di gandeng oleh Duta dan sesekali melirik ke arah Duta.


"Gak usah lirik -lirik. Ini kan yang kamu pengen, kamu, Kakak akui di depan teman -teman Kakak, kalau kamu, tunangan Kakak," ucap Duta tersenyum lalu menoleh ke arah Yumna.


"Memang Kak Duta gak keberatan?" tanay Yumna kemudian. Yumna tahu persis bagaimna sikap Duta yang cuek tapi sebetulnya perhatian.


"Kalau semua ini membuat kamu senang, dan tidak salah paham lagi, itu pasti akan membuat hubungan kita baik -baik saja, dengan begitu, Kakak gak perlu takut kehilangan kamu, Na," ucap Duta dengan jelas.


Wanita mana yang tidak luluh dengan kata -kata manis tunangannya yang takut kehilangan dirinya. Padahal, menurut Yumna, ia adalah gadis biasa saja yang tak memiliki kelebihan apapun. umna hanya gadis beruntung yang memiliki otak pas -pasan dan memiliki tunangan sebaik Duta.


"Kak ...."


"Hemmm ..." Duta hanay berdehem.


"Jantung Yumna berdetak keras," ucap Yumna kemudian.


"Kamu kenapa? Tadi habis joging?" tanya Duta serius.


"Gak ..." jawab Yumna singkat.


"Terus? Kenapa? Mau ke dokter?" tanya Duta makin serius.


"Ini lagi di dokter, tapi kok malah menjadi -jadi," ucapa Yumna terkekeh.


"Hemmm ... Kirain beneran, malah bercanda," jawab Duta datar.


Itulah Duta, bukan tak punya jiwa receh bercanda. Kadang keadaan memaksa Duta untuk terlihat serius sebagai pemimpin. Ayahnya selalu berpesan untuk tetap bijak dan terlihat tegas, agar anggota lainnya menghargainya sebagai pemimpin.

__ADS_1


Beberapa pasang mata menatap kemesraan Duta dan Yuman yang saling bergandengan tangan sambil bercanda. Ada yang senang dan tentu ada yang tidak suka.


"Dutaaa ...." panggil seseorang dari arah belakang yang berlari kecil menghampiri Duta.


__ADS_2