Salah Alamat

Salah Alamat
7


__ADS_3

Malam itu, Rafli mulai mencari keberadaan Agnes melalui informasi yang ia punya. Rafli hanya tahu, bahwa Agnes jadi berangkat ke Amerika untuk melanjutkan kuliah sambil bekerja di sebuah rumah sakit swasta rekomendasi dari profesor di kampus lamanya.


Amerika serikat itu luas sekali, bukan tempat yang seuprit, yang masih bisa di cari dalam waktu beberapa hari saja. mencari Agnes di Amerika Serikat sama saja mencari jarum dalam jerami, itu sangat sulit sekali. Apalagi informasi yang Rafli miliki sangat minim. Rafli tidak pernah tahu, di rumah sakit mana Agnes bekerja, dan di kampus mana, Agnes melanjutkan kuliah untuk mengambil spesialisnya. Berulang kali, Rafli mendesah ragu dan seperti pasrah pada keadaan.


"Mungkin aku harus cari satu per satu kampus terbaik di sana," ucap Rafli pada dirinya sendiri.


Rafli mulai membuka laptopnya dan mencari universitas terbaik di seluruh Amerika Serikat dan mencari nama -nama Mahasiswi terbaik di sana. Bisa jadi ada informai terbaik yang bisa di dapat oleh Rafli tentang keberadaan Agnes.


Rafli membaca satu per satu artikel tentang satu universitas yang akan mengirimkan tim medis ke Israel untuk membantu korban perang di sana.


"Agnes? Agnes menjadi salah satu relawan yang akan pergi ke Israel?" tanya Rafli pada dirinya sendiri.


Rafli menatap lekat dan membaca ulang semua artikel termasuk apa yang terjadi di Israel sehingga membutuhkan banyak sekali relawan tim medis.


Tok ... Tok ... Tok ...


Ceklek ...


"Rafli ... Ada Aisyah datang. Katanya mau ketemu kamu, minta bantuan soal tugas," ucap Umi rafli lemebut memanggil putra semata wayangnya yang berada di kamar.


Rafli menatap Uminya dan melihat ke arah jam dinding yang ada di kamarnya.


"Aisyah? Ini sudah malam lho. Ada apa? Masa iya cuma mau minta tolong mengerjakan tugas?" tanya Rafli bingung.


Aisyah adalah salah satu mahasiswi yang di ajarnya. Sudah satu tahun ini, mereka sanagt dekat. Rafli pun juga sudah mengenal baik dengan kedua orang tua Aisyah dan begitu juga sebaliknya.

__ADS_1


Tapi, memang Rafli tak memiliki perasaan apapun dengan Aisyah, ia hanay menganggap Aisyah seperti adiknya sendiri. Hubungan mereka juga baik dan sama sekali tak ada yang emnuntut hubungan lebih.


"Coba saja temui dulu. Wajahnya nampak bingung, mungkin Aisyah ada masalah," ucap Umi Rafli lembut.


"Oke. Sebentar lagi, Rafli kesana," ucap Rafli kepada Uminya.


Umi Rafli mengangguk pelan dan menutup pintu kamra Rafli kembali. Abi Rafli kebetulan sedang pergi bertugas ke Mesir. Ada kerja sama juga yang harus di survei tempatnya. Bisnis restaurant itub sungguh menjanjikan dan bisa membuka cabang di seluruh negeri Timur Tengah.


Rafli keluar kamar dan berjalan menuju ruang tamu. Terdengar suara Uminya yang sedang berbicara dengan Aisyah yang suaranya memang lembut.


"Hai Aisyah. Ada apa?" tanya Rafli yang kemudian memilih duduk di dekat Uminya. Rafli berharap Uminya tidak pergi meninggalkan ia sendiri dan hanya berdua saja dengan Aisyah.


"Mas Rafli," ucap Aisyah lirih sekali.


"Ada apa, Syah? Wajah kamu terlihat sedikit pucat dan ketakutan," tanya Rafli pelan.


"Ekhemm ... Aisyah boleh menginap malam ini di sini? Kebetulan di rumah tidak ada orang. Kedua orang tua Aisyah sedang pergi ke luar kota. Aisyah takut sendirian di rumah," ucap Aisyah sedikit terbata dan gugup sekali.


"Menginap? Di sini tidak ada kamar lagi, Syah. Kalau harus tidur di sofa, maka akan sanagt dingin sekali di sini," ucap Rafli menjelaskan.


Aisyah menunduk tak mencoba merayu Rafli. Ia tahu, Umi Rafli pasti akan memberikan solusi terbaik.


"Raf ... Aisyah kan bisa tidur di kamar kamu. Kamu bisa tidur bersama Umi. Lagi pula Abi masih pulang lusa nanti," ucap Umi Rafli dengan suara lembut memegang paha Rafli untuk memberi kode.


"Tapi Umi ... Kita tidak bisa menerima orang asing menginap di rumah ini," tegas Rafli pada Uminya. Secara tidak langsung, Rafli menolak halus keinginan Aisyah.

__ADS_1


"Aisyah bukan orang asing Raf. Kita dan keluarga Aisyah sudah seperti keluarga sendiri. Betul kan, Aisyah," tanya Umi Rafli pada Aisyah.


Aisyah mengangguk pasrah dan memberikan senyum manisnya secara paksa.


"Betul sekali, Umi," jawab Aisyah pelan.


"Tapi, masalahanya kita gak ada kamar lebih. Lagi pula, kamu masih ada teman kampus kamu yang wanita, yang tinggal dekat sini juga. Ada Sarah, Juleha, dan Siti, mereka tinggal di dekat sini kan? Aku dan Umi bisa antarkan kalau kamu takut," ucap Rafli pada Aisyah.


"Rafli ... Sudah, Umi yang tanggung jawab. Umi tahu, kamu pasti takut akan cemooh orang kan?" tanya Umi pada Rafli.


"Hufttt ... Terserah Umi lah. Rafli tetap di kamar Rafli, karena Rafli banyak tugas," ucap Rafli dengan suara tegas.


Rafli bangkit berdiri dan berjalan menuju kamar tidurnya. ia pikir ada sesautu yang penting, ternyata sama sekali tidak ada. Malah ingin menginap. Peasaan rafli sudah tidak enak sejak pagi.


Rafli masuk ke dalam kamarnya. Ia kembali mencari keberadaan Agnes yang sempat tertunda tadi. Rafli membuka laci meja belajarnya lalu mengeluarkan sebuah kotak kayu yang berisi banyak foto Agnes. Rafli rindu dan sangat rindu pada kekasihnya. Ia jelas menulis di surat terakhir yang ia titipkan pada Mbok Surti malam sebelum keberangkatannya ke Turki. Rafli meminta waktu lima tahun agar keduanya sama -sama siap dan sudah sukses serta mencapai semua cita -cita mereka masing -masing. Rafli tetap menjaga hatinya untuk Agnes.


Umi Rafli mendekati Aisyah dan mengusap pelan punggung gadis itu. Terlihat jelas di mata Umi, kalau Aisyah sedang tertekan. Aisyah sedang mengalami sedikit depresi namun entah apa itu.


"Kamu ada masalah?" tanya Umi Rafli pada Aisyah.


Aisyah menunduk dalam dan kedua matanya sudah berkaca -kaca menahan air matanya yang akan turun ke pipinya.


Usapan lembut tangan Umi Rafli semakin membuat Aisyah bergetar hebat. Ia tak lagi mampu membendung isak tangisnya dan emmeluk tubuh Umi Rafli dengan erat.


"Umi ... Tolong Aisyah ...." ucap Aisyah dnegan suara lirih sekali.

__ADS_1


__ADS_2