
Rafli sudah di suntik bius lokal atas permintaanya. Ia ingin melihat wajah cantik Agnes yang sedang bekerja untuk menyembuhkan kakinya.
Tubuh Rafli sudah terlentang dengan pakaian hijau. Kedua matanya menatap ke arah lampu operasi yang sudah menyala. Sekilas ia melihat Agnes yang masuk bersama dua perawat dan dokter Rois yang menangani Rafli selama dua minggu ini berada di rumah sakit Mesir.
Agnes menatap Rafli dan menghampiri lelaki itu sebelum tangannya di bungkus oleh sarung tangan agar steril.
"Ini untukmu," ucap Agnes sambil memberikan tasbih kecil untuk Rafli.
"Makasih Nyes, istriki, bidadariku," puji Rafli tiada henti.
Agnes hanya mengangguk dan mencuci tanganya lalu memasukkan tangannya dengan ke dalam sarung tangan.
Dokter Rois memulai operasi ini dengan berdoa bersama beberapa rekan sejawat yang menjadi timnya kali ini.
Beberapa jam kemudian ...
Suasana hening, sunyi dan sepi begitu terasa di ruang operasi yang sangat dingin. Memang betul, ruang operas akan selalu dingin suhunya, agar terbebas dari bakteri yang mudah berkembang biak. Dengan suhu dingin maka bakteri tidak akan mudah berkembang biak.
Butiran tasbih masih terus di gulir pasrah oleh Rafli. Sesekali ia menatap Agnes yang begitu serius bercakap dnegan dokter Rois yang meminta untuk ini dan itu. Sebagai asiseten sekaligus dokter penyakit dalam yang masih junior, ini adalah hal paling berharga untuk di jadikan pelajaran.
__ADS_1
Sesekali, Rafli meringis sambil memejamkan kedua matanya. Bukan sakit atau nyeri tapi tubuhnya yang kebal dan bebal itu tetap merasakan sekitar lututnya di iris dan di sayat oleh pisau. Belum lagi rasa di tusuk jarum saat lututnya di jahit lagi.
Agnes nampak serius dan begitu fokus. Slogannya dalam bekerja adalah melakukan secara maksimal dan setulus hati.
***
Operasi besar di nyatakan berhasil dan kini, tubuh Rafli yang merasakan lelah dan mengantuk saat setelah selesai di operasi. Brankar beroda itu sudah di pindahkan ke ruang rawat inapnya.
Sudah satu jam lebih, Rafli tertidur dengan nyenyak. Agnes juga sudah mengganti bajunya dan kembali menemani Rafli di ruangan inap tersebut. Umi dan Abinya baru saja datang dari urusan bisnis dan langsung menghampiri Agnes.
"Nyes ... Gimana keadaan Rafli?" tanay Umi yang tiba -tiba masuk ke dalam ruangan rawat inap VIP itu.
"Baik Umi. Baru saja selesai operasinya satu jam yang lalu. Tapi Rafli masih saja tertidur, ini efek dari obat biusnya," ucap Agnes pelan.
"Ini oleh -oleh untuk kamu. rafli titip ini untuk kamu. Ini untuk mahar, kamu akan segera menikah. Lalu orang tua kamu?" tanya Umi pelan.
"Bisa kah menikah tanpa ada restu orang tua Agnes, Umi? Agnes tidak yakin, Mama dan Papa mau menerima pernikahan ini dan tidak bisa menerima perbuhan Agnes, padahal ini bukan karena Rafli," ucap Agnes bingung.
Umi Rafli memeluk Agnes dengan sangat erat dan memegang tangan Agnes.
__ADS_1
"Bisa, tapi hanya pernikahan siri. Kalau kamu mau, itu bisa di lakukan, Nyes. Lalu kamu pulang dulu ke Indonesia dan minta restu. Minimal mereka tahu, atau cukup via telepon saja, kalau kamu ragu. Atau memang lebih baik menunggu lagi sampai restu itu kamu dapat, sambil menunggu Rafli sembuh dan pulih lagi kesehatannya. Gimana?" tanya Umi Rafli pelan memebrikan solusi.
"Gak bisa Umi. Agnes sudah berjanji akan menikah dengan Rafli setelah operasinya berhasil. Agnes gak mau, Rafli stres dan semangat hidupnya kendor. Posisi Agnes ingin membuat Rafli semangat dan smebuh. Mungkin pernikahan siri lebih baik, untuk status kami. Nanti, Agnes hubungi keluarga Agnes dan meminta restu dari Mama dan Papa," ucap Agnes pelan.
"Umi setuju sekali dengan solusi kamu itu," ucap Umi Rafli dengan semangat.
Agnes menatap Rafli yang merasa bersalah dengan keadaan ini. Sudah lama, Agnes tidak menghubungi kedua orang tuanya yang ada di Indonesia. Bisa saja, mereka menganggap Agnes sudah mati. Tidak ada yang pernah tahu soal Agnes kecuali Joe. Tapi sudah hampir satu tahun ini pun, Joe tidak mengabarinya. Sampai di Amerika pun, ia sama sekali tidak memberi kabar. Mungkin saja sudah lupa atau memang ingin melupakan Agnes yang kini sudah berubah keyakinan.
Agnes tahu, Joe pasti merasa sayang dengan perubahan Agnes ini. Bermula dari penangkapan yang menjadi tawanan, dan akhirnya Agnes benar -benar berhijrah.
"Apa yang kamu pikirkan, Nyess ..." tanya Rafli tiba -tiba saat Agnes terlihat melamun dnegan beban pikirang yang begitu berat sekali.
Agnes menoleh ke arah Rafli dan tersenyum.
"Mmeikirkan kamu, Raf. Kapan aku di halalkan," ucap Agnes pelan.
"Besok. Bisa kan?" tanay Rafli dengan wajah serius.
Agnes melebarkan senyumannya. Ini adalah kebahagiaan yang paling hakiki. Di halalkan oleh orang yang di cintai.
__ADS_1