Salah Meminang

Salah Meminang
Part 42


__ADS_3

Ketika hati ini memilih menepi, mengabaikan perasaan yang pernah ada karena tentang rasa yang kecewa. Bertahan dengan luka atau tetap pergi dengan dilema. Pergi sulit bertahan sakit. Sesakit inikah perpisahan, bukan tentang siapa yang salah tapi terkadang kita memang harus membiarkan hati untuk berbenah diri merenungi kisah yang pernah terjadi.


Yuki merasa paginya terasa panjang. Dia ingin langit yang cerah segera berganti dengan kelam malam agar rembulan bisa memberikan senyum yang mampu membuatnya tenang.


Keputusan untuk tetap berpisah sangat di sayangkan oleh kedua keluarga. Apalagi mama Rianti, ia merasa sangat sayang dengan Yuki, tidak rela rasanya jika putranya harus berpisah terlebih sedang mengandung cucunya. Namun apalah daya semua tergantung mereka yang menjalani, terlalu egois rasanya menahan untuk tetap bersama.


Setelah di adakan musyawarah keluarga bersama menimbang semua dari sisi kebaikan keduanya. Akhirnya di putuskan berpisah setelah melahirkan. Dengan mereka tetap tinggal terpisah sesuai keinginan Yuki. Mengingat dirinya yang sedang mengandung anaknya Asher jadi mau tidak mau ia akan meneruskan prosesnya setelah bayinya lahir.


Semenjak pulang dari rumah sakit, Yuki lebih banyak diam dan menyendiri di kamar. Tidak lagi bekerja di kantor Amar karena ia memilih resign dengan mengirimkan surat pengunduran dirinya. Sejauh ini pria itu sangat baik, tapi dengan berada di kantornya dan bertemu dengannya setiap hari bukanlah pilihan yang tepat terlebih statusnya masih belum jelas.


Baik Yuki maupun Asher dia butuh waktu untuk sendiri. Merenungi apa yang telah terjadi agar keduanya saling instropeksi diri. Keduanya lebih kepada berserah diri memasrahkan semuanya kepada Sang Pemilik Kehidupan.


Asher juga hanya mengunjungi Yuki sekali waktu, dia benar-benar akan membuat Yuki merasa nyaman dengan tidak memaksakan kehendaknya. Walaupun sejatinya hatinya sangat ingin memiliki kembali biarlah takdir yang menyatukan keduanya.


Diamnya Asher tetap mencari tahu tentang keseharian Yuki, bahkan ia sengaja menyewa seseorang untuk memantau pergerakannya. Bukan apa-apa dia hanya ingin Yuki nya selalu dalam pengawasannya, terlebih dia sedang mengandung buah hatinya.


Sejauh ini yang Asher rasakan dia semakin bertambah cinta walau hanya diam dan melalui doa. Yuki juga terlihat menjaga dirinya dengan baik, ia sudah tidak pernah menemui laki-laki itu lagi. Walaupun sekali waktu Amar datang berkunjung ke rumahnya Yuki tetap enggan menemuinya. Dan ini sangat melegakan untuk Asher karena merasa doanya di dengar oleh sang Maha Kuasa.


Ngomong-ngomong soal Amar dia laki-laki yang pantang menyerah. Rival yang tangguh dan tak gentar, sejauh ini dia selalu berusaha menemui Yuki di sela-sela waktunya. Namun Asher kini merasa lega karena sejauh pengawasan nya Yuki tak ada tanda-tanda pergi berdua.


Hari ini mama Rianti akan berkunjung ke rumah Yuki, seperti biasa sudah enam bulan ini Asher selalu menemani, tapi pria itu cuma menunggu di mobil saja, takut Yuki akan marah dan membuat moodnya berubah berdampak pada baby nya. Asher memang harus sesabar ini, karena ia sudah berjanji tidak akan membuatnya merasa terbebani. Kenyamanan Yuki yang harus diprioritaskan.


"Yuki... ada ibu martuamu nak? ayo temui dia di bawah." Yuki yang masih setia dengan setumpukan buku untuk tugas kuliahnya, menjeda sebentar dan menemui martuanya.

__ADS_1


"Iya bun sebentar." Setelah memanggil Yuki di kamar, Bunda menuju dapur untuk membuat kan minuman untuk besannya.


"Sayang apa kabar...?" Mama Rianti langsung berhambur memeluknya.


"Baik ma, sehat alhamdulillah. Mama sendiri apa kabar?"


"Mama baik sayang, Asher... kamu tidak tanya? tapi mama mau kasih tahu, dia sangat merindukanmu. Dia titip salam buat kamu." Yuki tersenyum menanggapi selorohan martuanya itu.


"Ini aku membawakan susu hamil untuk kamu sayang, di minum ya? kamu suka yang rasa coklat kan?"


"Iya ma, terimakasih. Sudah repot-repot bawain semua ini untuk Yuki."


"Mama kesini cuma sebentar, jaga kesehatan ya sayang kalau ada apa-apa, butuh apa-apa jangan sungkan hubungi mama."


"Iya ma," Yuki mengangguk


"Ah mama, kaya anak abegeh aja Ma." Keluh Yuki tak ingin menanggapi.


"Kenapa buru-buru jeng, minum dulu, ngobrol."


"Lain waktu kesini lagi. Besok mama ada acara sosial rencananya mau ajak Yuki mau ya?"


Yuki menatap bundanya meminta persetujuan dan wanita itu mengangguk. "Nanti Yuki izin Ayah dulu ma,"

__ADS_1


"Boleh, sayang. Nanti kabari saja kalau Ayah mengizinkan besok mama jemput."


"Siap Ma," Yuki mengangguk senang


Sepeninggalan mama Rianti dari rumah, Yuki kembali menyibukkan diri di depan laptopnya. Dia mempunyai banyak waktu luang karena kini siangnya hanya di habiskan di rumah saja.


***


"Gimana ma Yuki mau besok pergi?" Begitu masuk mobil Asher langsung memberondong pertanyaan agenda pertemuannya. Pria itu nampak antusias menanti jawaban mamanya.


"Belum tahu sih tapi nanti dia akan ngabarin kalau mau. Emang kenapa?"


"Aku juga mau ikut ma, kalau Yuki ikut. Ini kesempatan buat kita untuk dekat kembali."


"Mau nya... tapi salam rindu kamu aja nggak di balas. Ka si han..." Ledek mama Rianti


"Mama mah suka gitu, katanya dukung Asher balikan ma Yuki tapi suka ngeselin. Seneng apa ya mah lihat anaknya jomblo seumur hidup."


"Hus...! pelan-pelan saja sayang... kamu tu harus banyak stok sabar kalau Yuki ingin kembali. Yang pertama kalian masih terikat pernikahan, yang kedua Yuki sedang mengandung anakmu jadi... kamu tu hanya perlu menunggu sabar mengikuti kemauannya. Mama yakin seiring berjalannya waktu asal kamu benar-benar menunjukan keseriusanya Yuki akan luluh juga. Wanita itu akan berfikir dua kali berpisah setelah menimbang masalah anak."


"Kalau boleh aku protes, sebenarnya aku udah nggak sabar Ma, tapi nggak ada pilihan lain bukan? semakin kesini aku semakin senang karena sebentar lagi akan punya anak tapi aku juga takut Yuki benar-benar melanjutkan perceraiannya. Apalagi mengingat bukan hanya aku yang sedang menunggu Yuki ada Amar juga, aku benar-benar was-was ma."


Mama Rianti tahu kegelisahan putranya. Apalagi perusahaan mereka punya kerja sama, walaupun sejauh ini keduanya sangat profesional tapi tidak menutup kemungkinan semua akan berimbas.

__ADS_1


Sudah enam bulan berjalan Asher hanya mampu memandang wajah Yuki melalui gambar. Foto pernikahan nya masih terpanjang rapih di dinding, ia membawanya ke rumah mama karena semenjak pulang ke rumah mama Asher sudah menjual rumah yang lalu, rumah dengan kenangan sejuta luka. Ia rencananya akan membeli rumah yang baru jika Yuki sudah mau rujuk dengannya.


Hampir setiap malam matanya selalu berkaca-kaca, menahan rindu yang kian menyiksa. Serapuh ini kah Asher, iya berpisah dengan Yuki bagai raga tak bernyawa. Hampa, kosong nyaris tak ada kehidupan yang menarik baginya.


__ADS_2