
Menyerahkan semua masalah sama yang maha pencipta adalah jalan yang terbaik. Didampingi usaha dan berdoa, jika dirimu berpikir sesuatu itu adalah sebuah ketidakmungkinan, percayalah tidak ada yang tahu takdir atas dirimu kecuali Tuhanmu sendiri.
Sama halnya seperti Yuki, sekeras apapun ia memilih pergi, tapi karena takdir itu menyatukan mereka kembali. Tidak ada yang menyangka dalam kebimbangannya, ia menemukan sebuah jawaban lewat kehidupan makhluk kecil di rahimnya. Tuhan telah memberikan jawaban atas doanya dengan cara yang begitu elegan dan itu nyata.
Jangan pernah berpikir negatif atas apa yang telah terjadi pada diri kita. Karena kita saja bahkan tidak tahu ke mana takdir akan membawa bahagia atau sebaliknya.
Semua yang diambil dari dirimu pasti akan digantikan dengan yang lebih istimewa.
Yuki menatap lurus pemandangan langit malam. Mendongak ke atas untuk melihat bintang dan bulan yang memancarkan sinarnya memberikan setitik kehangatan bagi siapa pun yang melihatnya.
Sepasang lengan kokoh itu melingkar sempurna mengunci tubuh Yuki. Hembusan napasnya terasa hangat menyapu pipi, pria itu menopang dagunya di pundak istrinya.
"Sudah malam kenapa ada di sini? dingin sayang nanti kamu masuk angin," ujar Asher sambil mengelus perut Yuki dengan sayang.
"Gerah mas, pingin ngadem. Tumben pulang selarut ini, lembur?" tangannya terulur menyugar rambut sang suami.
"Ada masalah di kantor, tapi udah aku handle," terang Asher tanpa mengalihkan posisinya.
Yuki mendongak ke samping, sapuan hangat bibir Asher terasa hangat menyambar pipi sekilas memberi getaran yang mampu memberikan sensani yang berbeda.
"Ki ... a_aku ...." Pandangan mereka saling bersirobok namun fokus Asher pada bibir Yuki, dan Yuki tahu itu.
Yuki segera merubah posisinya agar menghadap ke depan, namun Asher telah menahannya. Dengan satu gerakan apik ia telah berhasil menyambar bibir istrinya, mengeksplor rasa semanis madu yang sangat ia dambakan dan ia rindukan. Bahkan telah menjadi candunya sejak pertama ia merasakannya.
Cup
Mmmphhh ....
Yuki tahu ini pasti akan terjadi, dalam seperkian detik ia sempat terkesiap namun selanjutnya, Yuki juga sangat menikmatinya. Dadanya bergemuruh hebat detak jantungnya seakan berdetak lebih cepat.
Asher baru melepas pagutannya setelah napas Yuki tersengal, pria itu masih setia di tempat dengan memeluknya sementara Yuki sudah meronta ingin melepaskan dengan pipi bersemu merah.
__ADS_1
"Maaf aku tidak bisa menahannya, apa itu membuatmu tidak nyaman? kamu boleh menolak ku jika itu membuatmu lebih baik." Asher takut perbuatannya membuat Yuki merasa disakiti.
Yuki terdiam, ia terlalu malu untuk menanggapi perkataan pria itu. Perempuan itu melepaskan diri dari himpitan dada suaminya lalu masuk ke dalam kamar dengan wajah memanas.
"Sayang .... aku minta maaf." Asher mengikuti ke dalam kamar, ia takut Yuki akan marah.
"Mandi, bersih-bersih dulu," ujar Yuki mengalihkan pembicaraan.
"Aku butuh moodbooster sayang ... dan itu kamu." Yuki mengeryit ia masih terlalu canggung untuk hal ke arah lebih intim setelah semua apa yang telah terjadi.
"Kamu pasti capek biar ku siapkan air hangat untukmu, mandi dulu."
"T_tapi nanti setelah mandi aku dapat apa?" tanya Asher mencoba bernego
"Dapat bersih dan nyaman, udah jangan yang aneh-aneh. Aku buatkan kopi untukmu." Yuki keluar dari kamar menuju dapur, ia akan membuatkan kopi untuk suaminya. Namun sebelumnya ia telah menyiapkan pakaian ganti untuk Asher.
Secangkir kopi telah siap tersaji di atas meja. Kegiatan Yuki selanjutnya memanasi masakan untuk makan malam Asher. Yuki tidak tanya apa pria itu sudah makan atau belum sebab ini sudah lebih dari jam delapan.
"Kopi buat siapa Ki? Asher pulang ke sini lagi? Mana orangnya?" Zura clingukan ke sana ke mari
"Aku bawain ke kamarnya ya, dia pasti sudah menunggu." Zura bertingkah namun sebelum itu terjadi, suara bass Asher lebih dulu menyeru.
"Biar istriku yang melakukan Ra, itu pahala baginya, dan kamu tidak usah repot-repot ikut mengurusiku. Cukup Yuki saja dan hanya Yuki."
"Eh, mas. Maaf, aku hanya ingin membantu Yuki dari pada ia harus naik turun tangga jadi aku berinisiatif membantunya membawakan untukmu," kilah Zura
Asher merasa wanita mirip Zumi itu terus mencari perhatiannya, bahkan ia menangkap gelagat yang tak biasa, mulai dari sering mengirimkan pesan lewat ponsel hanya untuk mengingatkan makan, menanyakan aktifitas keseharian, sampai perhatian tak lazim yang seharusnya hanya pasangan yang melakukannya.
Sejauh ini Asher tidak pernah menanggapinya, namun jujur ia terusik dan merasa risih dengan sikap Zura yang terlalu terang-terangan, dan itu jelas memperburuk keadaan rumah tangganya yang baru saja berjalan normal. Ia takut Yuki akan salah mengira dan berakhir salah paham.
Yuki masih mencerna kata-kata Zura, ia tahu kakak tirinya itu diam-diam sering mencuri perhatian Asher. Sejauh Yuki mengamati, Asher tidak pernah menanggapi dan itu cukup membuat Yuki yakin bahwa pria itu sudah berubah. Walaupun ia tidak tahu ke depannya akan seperti apa.
__ADS_1
Ini adalah kesempatan kedua untuk Asher, Yuki akan bersikap santai. Mempertahankan bila layak diperjuangkan atau melepaskan dan menghempaskan tak tersisa bila kejadian masa lampau terulang kembali. Sudah cukup dan terlalu lelah selama ini bermain dengan perasaan.
"Sayang, terima kasih sudah menyiapkan untukku." Asher duduk di samping Yuki mengabaikan Zura yang sedari tadi terus mengamati interaksi keduanya.
"Mau makan pakai apa mas?"
"Aku sudah makan tadi di kantor, kita ke kamar saja aku ingin istirahat," titah Asher sambil membimbing Yuki untuk meninggalkan meja makan.
Yuki mengangguk, ia tahu di sana Asher merasa tidak nyaman.
"Kita ke atas dulu kak," pamit Yuki yang masih setia duduk di meja makan
Zura tidak menanggapi namun sudut mata Yuki menangkap bayangan Zura yang terlihat kesal. Terlebih Asher selalu memperlakukan dirinya sangat manis di depannya.
"Sayang ... kapan kita pulang ke rumah mama? Atau pulang ke rumah kita?"
Setelah menghabiskan setengah cangkir kopi buatan istrinya, Asher segera merangkak ke atas kasur mengikuti Yuki yang sedang duduk santai sambil membaca buku seputar kehamilan.
"Maaf mas, aku tidak mau pulang ke rumah itu lagi. Aku .... "
"Sayang ...." Saat ini mereka sedang duduk di atas ranjang dengan posisi Yuki bersandar di headboard dan Asher tiduran di atas pahanya sambil mencium-cium perut Yuki yang sudah membuncit, sedang Yuki beralih memainkan rambut Asher.
"Rumah itu sudah aku jual, kamu jangan khawatir kita tidak akan pernah kembali ke sana." Asher tahu kembali ke sana akan membuat Yuki mengenang masa lalu yang menyakitkan jadi ia benar-benar mempersiapkan semuanya yang baru mulai dari tempat tinggal dan semuanya yang sekiranya dibutuhkan Yuki.
Asher benar-benar akan memulai hidup yang baru, dengan suasana yang baru dengan Yuki dan anak-anaknya agar selalu nyaman dan damai. Seperti impiannya keluarga yang bahagia.
"Akan aku pikirkan nanti mas," ujar Yuki pada akhirnya. Asher mengangguk pria itu terus mengusap dan menciumi perut Yuki secara bertubi.
"Sayang ... aku merasakan pergerakan bayi kita." Asher berkata takjub
"Iya mas, dia merespon sentuhan hangat tanganmu."
__ADS_1
"MasyaAllah ... assalamu'alaikum ... anak Ayah." Asher mengelus-elus lagi, ia merasa hadir seperti sedang berinteraksi langsung dengan anaknya. Bahkan Asher terkekeh-kekeh girang saat pergerakan di perut Yuki terasa berubah-ubah.
Mata Asher sampai berkaca-kaca saking senangnya. Ia menciumi memeluk dan terus bermain-main di sana.