
Sepeninggalan dua sahabat Yuki, Asher langsung merasa lega. Bukanya apa-apa, tapi kehadiran Amar cukup membuatnya naik darah yang sebisa mungkin harus di tahan supaya tidak kepancing emosi. Mengingat Amar yang semakin bebal dan bahkan berani, Asher jadi berfikir anak itu pasti akan berulah bila tidak segera di tangani. Asher akan menyingkirkan apa saja yang membuat keonaran rumah tangganya.
Cukup kemarin menjadi yang terakhir perpisahan dengan istrinya. Ia tak ingin lagi menjadi bodoh, apalagi sampai menyakiti wanitanya. Ada Sky juga yang semakin mempererat cinta mereka berdua tentunya.
"Mas kamu mukanya kenapa gitu? Udah dong... kan udah pulang orangnya."
"Habisnya kamu manis banget kalau ada dia, pakai senyam-senyum segala, niat banget sambutannya."
"Cie... cemburu ya? Kamu lucu Mas kalau cemberut kaya gini," goda Yuki tersenyum.
Asher menenggelamkan wajahnya di pangkuan istrinya yang sedang duduk, kedua tangannya melingkar memeluk Yuki dan menguncinya.
Asher diam saja, duduk dengan tenang di kursi sebelah ranjang terus menyembunyikan wajahnya di dekapan istrinya. Tangan Yuki sedari tadi terus mengusap rambut Asher yang masih bergelayut manja di pangkuanya.
"Mas jangan gini dong, ada yang lihatin kita serem."
"Kenapa hmm, apa sayang?" Asher mengurai pelukan di perutnya dan beralih duduk di atas brangkar mengendus-endus ceruk leher istrinya.
"Mas... ihh... geli tahu, rese banget ada banyak orang juga." Protes Yuki demi melihat sekitarnya yang masih ada para orang tua yang sedang asyik bercengkrama di meja sofa dengan Zura yang terus memandang ke arah mereka dengan pandangan tak suka.
"Karyawan kamu lihatin aku terus, eh lebih tepatnya lihatin kamu ding."
Zura sedang duduk bergabung di sofa, namun penglihatannya sibuk mengawasi Yuki dan Asher. Lumayan jauh jadi bisa di pastikan wanita itu tidak mendengarkan obrolan mereka berdua.
"Biarin sayang, dia suka sama aku," kata Asher jujur.
"Hah! Zura suka sama kamu? Kok bisa, pantesan dia pingin banget aku pisah sama kamu dan mendukung melanjutkan gugatan perceraian setelah aku lahiran."
Asher tiba-tiba menatap Yuki serius. "Dia ngomong gitu? Kapan? tapi kamu nggak kepancing kan sama omongan dia."
__ADS_1
"Iya, sebelum kita tinggal di rumah Mama Rianti. Sejauh ini nggak, tapi nggak tahu lusa, itu tergantung kamu Mas berulah lagi atau tetap komitmen dengan rumah tangga kita."
"Kok kamu ngomongnya gitu, aku sayang banget lho sama kamu, aku nggak mau terpisah lagi sama kamu sama anak kita. Aku bisa gila beneran kalau kamu ninggalin aku."
Yuki mengulum senyum mendengar penuturan Asher.
"Udah aku duga, Zura pingin misahin kita berdua. Aku rencananya mau pecat dia dari kantor, rusuh di kantor ngaku-ngaku calon istri aku," curhatnya dengan mimik dramatis.
Entahlah harus menyikapi seperti apa tapi yang jelas, ketika ada saudara kita sendiri yang mencintai suami kita tidak bisa di pungkiri ada sedikit rasa sakit hati walaupun mungkin suami kita tidak merespon.
"Kamu jujur banget Mas sama aku, aku senang tapi sekaligus sakit atas pengakuanmu tentang Zura." Yuki mendadak sendu.
Dia pernah di abaikan oleh Asher dan bahkan luka itu masih tersimpan rapih di relung hatinya yang terdalam, jujur masih belum bisa melupakan tapi memang di paksa harus berdamai dengan apa yang sudah menjadi pilihan hidupnya. Agar langkah yang diambil tidak lagi berat, maka satu obat paling mujarab berdamai dengan masa lalu dan ikhlas.
"Sayang... aku minta maaf, aku... nggak ada maksud buat nyinggung perasaan kamu, aku cuma takut nanti kamu salah paham."
"Aku juga minta maaf ya Mas, aku bahkan pernah menghabiskan mendaki bersama dengan teman-teman. Ya walaupun tetep seru sih perjalanan yang tak bisa di lupakan."
"Dia terlalu baik untuk di sakiti, semoga Allah mempertemukan dia dengan jodoh yang baik."
"Jahat, muji laki-laki lain di depan suami sendiri."
"Bukan jahat Mas, aku hanya mencoba jujur seperti kamu yang jujur padaku. Sejak kita menikah, aku ingin belajar mencintaimu tapi karena pengabaianmu itu perlahan rasa itu terkikis dan ketika ada seseorang yang begitu baiknya datang dengan tulus, apa aku salah bersikap baik juga padanya. Tapi mungkin memang Allah sengaja menitipkan Sky untuk kita agar bisa saling memperbaiki diri." Mata Yuki sudah mulai berkaca-kaca.
"Kita harus banyak berterima kasih sama Sky, dia penyelamat rumah tangga kita," ucap Asher sendu sembari menggenggam tangan Yuki.
"Jangan melow gitu dong sayang, aku nggak mungkin khianatin kamu, aku sayang sama kalian berdua. I love Bunda nya Sky."
Hening
__ADS_1
Yuki hanya memandang Asher dalam, tangannya terulur mengusap rahang kokoh milik Asher. Laki-laki itupun mendekat dan.... hampir saja mereka lepas kontrol melakukan adegan 21+ untung Sky menangis, jadi dengan sigap mereka saling memisahkan diri. Terlalu terlena suasana sampai lupa diri kalau di sana di ruangan yang sama dengan keluarga, tepatnya banyak orang lain selain mereka berdua.
Sebagai gantinya Asher cukup mengacak rambut Yuki dengan gemas lalu mencium keningnya.
"Sky haus ya? Sini sayang sama Bunda." Mama Rianti menaruh Sky di pangkuan Yuki lalu beralih menatap tajam Asher yang ada di sebelah ranjang.
"Aww... Mah, kok aku di jewer sih. Sakit Mah..."
"Syukurin! Mesum banget jadi orang, Yuki itu baru saja melahirkan awas aja macam-macam." Ancam Mama Rianti demi melihat Asher yang hampir saja mencium bibir Yuki kalau tidak kepergok Mamanya.
"Iya tahu Ma... cuma minta cium doang, itupun sama istri sendiri, kok jadi Mama yang pelit," protesnya tanpa merasa berdosa.
"Ketok aja kepalanya Ki kalau belum selesai nifas udah berani yang aneh-aneh."
Yuki hanya tersenyum melihat Asher kena marah nyokapnya. Umur boleh dewasa tapi lihatlah dia sangat lucu bila sedang di marahami ibunya. Seperti halnya anak kecil yang nakal dan kena omel nyokap.
"Siap Mamah ku yang cantik," ucap Yuki tersenyum. Mama kembali berjalan ke sofa lagi untuk menuntaskan obrolan mereka.
"Ah nggak seru, kalau dua wanita super ini bersatu, aku bisa apa? Aku sama kamu aja ya dek." Asher menoel-noel pipi Sky yang tengah minum ASI.
"Jangan habisin sayang, sisain buat Ayah," bisik Asher pelan tapi masih bisa di dengar Yuki.
"Kamu emang mesum Mas, beneran nanti aku getok kalau berani nempel-nempel."
"Nggak sayang, nggak. Becanda sayang... ya Allah lihatinya segitu banget."
"Sayang... Mama galak." Adunya pada Ski yang kini sudah hampir terlelap dalam buaian Yuki.
Ayah baru itu dengan gemas terus menciumi kepala Sky. Sesekali senyam-senyum sendiri. Ternyata jadi seorang Ayah itu super sekali, bahagia banget lihat anaknya lahir sehat, berasa kaya mimpi udah jadi seorang Ayah.
__ADS_1
"Ayo sayang kita ambil foto kita bertiga."