
Mulutnya Zumi emang selalu ngeselin, itu seingat Yuki, nggak dari dulu nggak sekarang bawaanya selalu sensi dengan Yuki. Biasanya gadis itu tidak ambil pusing tapi kali ini membuat moodnya agak berantakan.
Yuki ingat hari ini sudah waktunya cek kandungannya, namun karena masih capek ia akan menunda sampai besok saja.
Thing
Satu pesan masuk dari Asher, awalnya ia hanya melihat malas seperti yang sudah-sudah. Tapi kali ini Yuki rasanya jarinya gatel ingin mengetik balasan.
Asher : Sayang Nanti cek kandungan jam berapa, tunggu ya... nanti aku antar.
Yuki : Capek mau besok aja
Yuki mengetikkan balasan untuk yang pertama kalinya setelah enam bulan lamanya. Yuki juga merasa heran, kenapa di dekatnya ia merasa nyaman terlebih sejauh ini Asher sudah banyak berubah. Tapi Yuki masih diambang kebimbangan.
Tidak ada salahnya memberikan kesempatan ke dua untuk Asher. Dia kelihatannya lebih tulus. Mungkin memang takdir kalian berjodoh disatukan oleh anak.
Ucapan Ayah beberapa hari lalu terus berputar di otaknya. Sejauh ini Asher selalu mengunjungi rumahnya walau terkadang hanya menunggu di mobil saja dan membawa mama untuk mewakilkan dirinya. Pria itu masih sangat bertanggung jawab masalah materi, itu terbukti ia masih menafkahi Yuki secara lahir dengan mentransfer uang bulanan ke rekening Yuki.
Iya Asher memang sudah banyak berubah, namun nggak tahu kenapa rasanya sulit sekali untuk memulai dari awal lagi. Alasan Yuki tidak tahan dulu dan pergi karena salah satunya Asher berpoligami dan Yuki tidak munafik dia tidak mau hidup berumah tangga berpoligami sekalipun pria itu mencoba untuk adil. Yuki menentang keras berpoligami jadi lebih baik dia mundur dan pergi.
Tapi, bukankah Asher bahkan telah menalak kak Zumi sebelum malam itu. Jadi... itu artinya dia memilih... Ah, Yuki menghalau tangannya di depan wajah. Laki-laki yang berstatus suaminya itu memang misterius sekali, sangat wajar sih jika Yuki tidak mengetahui sedikitpun tentang dirinya. Selain karena mereka sebelumnya tidak saling mengenal, pria itu selalu bersikap dingin dan tak berperasaan itu sejauh yang Yuki rasakan dulu.
Asher : Oke selamat istirahat sayang, besok aku antar. Nanti sore mau di bawain makanan apa?
Hampir sepuluh menit sejak pesan terkirim belum ada balasan dari Yuki, pria itu tidak menyerah begitu saja. Jangankan sepuluh menit enam bulan tidak pernah ada jawaban dan balasan saja ia akan sabar menunggu.
Asher : Sayang, aku beliin martabak manis coklat kacang ya?
kesukaan kamu kan? di tunggu ya... selamat beristirahat.
Emoticon love
Yuki yang membuka pesan dari Asher pun merasa tercengang. Kok bisa pas banget Yuki lagi pingin martabak manis coklat kacang, pria itu tahu dari mana coba?
Yuki : Terserah
Asher senang bukan main, walaupun masih terkesan ogah-ogahan, Yuki nya sudah mau membalas pesan dari nya. Pria itu bisa memulai meeting siang ini dengan begitu lega dan bahagia sampai Alwi yang di dekatnya merasa aneh bosnya senyum-senyum sendirian menatap ponsel nya. Pria itu sedang melihat room chatnya dengan Yuki.
__ADS_1
Pemandangan yang langka selama beberapa bulan ini. Karena hampir setiap hari bossnya itu jutek, dingin dan hanya akan berbicara jika perlu saja.
Sepulang dari kantor Asher pulang ke rumah mama Rianti terlebih dahulu. Anak itu akan memberi tahu pada mama nya tentang aksi nekatnya malam ini yang akan mulai tinggal di rumah Yuki, sebelumnya ia sudah menghubungi Ayah martuanya untuk meminta izin dan mendapatkan lampu hijau darinya.
"Asher mau kemana? baru pulang udah mau pergi lagi. Mama nggak suka kamu nglakuin hal yang unfaedah di luar sana ya?"
"Apa sih Ma, suudzon aja. Bantu doa ya Ma semoga Asher bisa membawa pulang Yuki ke rumah ini secepatnya."
"Pasti dong sayang kalau itu sih nggak usah di tanya, tapi masalah nya mama itu nggak suka kalau kamu pulang kerja kluyuran nggak jelas. Mama takut kamu khilaf dan melampiaskan kerinduan kamu dengan wanita lain di luaran sana."
"Astaghfirullah.... Asher nggak separah itu kali Ma. Malam ini Asher mau tidur di rumah Ayah Yuki." Ucap Asher dengan senangnya
"Kamu udah baikan?" tanya mama berbinar
"Belum jelas banget sih Mah, lagi menunggu jawaban pastinya."
"Semangat sayang, tunjukan ketulusanmu kamu pasti bisa." Mama Rianti menepuk-nepuk bahu Asher penuh semangat
Sementara di rumah Yuki, semua orang sedang berkumpul di meja makan untuk makan malam. Mereka tengah sibuk menekuri makanan di depan piringnya masing ketika bel rumahnya berbunyi.
Bunda sudah berdiri hendak ambil ancang-ancang untuk membukakan pintu namun sejurus kemudian Zura langsung menyela ketika mendengar salam dari seseorang yang ia kenal.
"Waalaikum salam...." jawab kami hampir bersamaan di ruang makan.
Zura berjalan gontai menuju pintu utama.
"Kak, kesini lagi? ayo masuk." Zura membuka pintu dengan penuh semangat.
"Siapa Zura?" Itu suara Ayah.
"Iya," Asher merasa aneh gadis sebelas dua belas dengan Zumi itu menyambutnya dengan sangat antusias.
"Malam Ayah, Bunda, sayang... ini pesanan kamu?" Asher menaruh martabak manis itu ke atas meja tepat di samping Yuki duduk.
Yuki memandang Asher dengan dahi berkerut, namun sejurus kemudian dilihat dari bungkusnya ia sudah tahu kalau isinya martabak yang sempat tadi di tawari.
Aku nggak pesen? cuma ditawari, fitnah ini ma namanya.
__ADS_1
"Malam nak Asher, ayo sekalian makan." Bunda menawari lalu Asher duduk di sebelah Yuki.
Yuki hanya diam saja, gadis itu merasa bingung menyikapi Asher harus seperti apa. Tubuhnya seakan menolak untuk menjauh tapi hatinya jujur merasa senang ketika pria itu datang kembali. Sungguh tidak sinkron batin Yuki kesal.
"Wah... kak Asher bawa apa?" Zura berbinar memandang kantong kresek yang tersimpan diatas meja dekat Yuki.
"Oh... ini martabak Zura, Yuki suka makan ini makan nya tadi aku sengaja beli untuknya."
"Buat Yuki ya?" Zura mencebik dengan nada kecewa.
"Banyak kok ini, kalau kamu mau?"
"Beneran boleh?"
"Boleh, habisin juga boleh." Kesal Yuki menyaut.
"Aku ke kamar dulu Ayah, bunda. Udah kenyang soalnya." Yuki meninggalkan meja makan begitu saja tanpa mempedulikan Asher. Ia pergi ke lantai atas dengan langkah lebar.
"Asher kamu susul Yuki sana, istirahat lah. Pasti capek kan baru pulang kerja, atau mau makan malam dulu silahkan."
"Terimakasih Ayah, Asher ke atas dulu, Asher juga belum terlalu lapar." Asher lalu bangkit dari duduknya dan melangkah pergi.
"Asher...kamar Yuki yang paling dekat dengan tangga." Teriak Ayah memberi tahu sebelum dirinya melangkah jauh.
"Iya," Asher mengangguk mengerti.
Kini pria itu sudah sampai di lantai atas, Asher bingung antara ingin masuk tapi takut Yuki mengusirnya. Akhirnya setelah menenangkan rasa gugup pada hatinya, Asher membuka pintu dengan perlahan.
Ceklek
Pintu kamar di buka Asher dengan hati-hati. Ternyata si pemilik kamar sudah berbaring dengan memunggungi pintu. Asher mendekat merangkak menuju ranjang.
Sumpah deg degan banget takut Yuki marah dan mengusirnya. Modal bismillah dan nekat aja batin Asher memohon.
"Sayang... udah tidur?"
Asher sedikit mengintip istrinya. Tak ada respon akhirnya pria itu berbaring di belakangnya. Tangannya memberanikan diri untuk memeluk istrinya yang sangat di rindukan.
__ADS_1
"Aku kangen Ki... aku rindu..."