
Setelah acara makan malam selesai kami berlanjut ngobrol di ruang keluarga. Ayah dan Bunda Dyah memandang kami secara bergantian seperti ada suatu hal yang mereka ingin sampaikan, benar saja ternyata kedatangan mereka kesini selain menanyakan kabar kesehatan kami juga tentang.... Zura.
"Mohon maaf Ayah Bunda, tidak mengurangi rasa hormat saya. Akan tetapi akhir-akhir ini Zura sudah sangat keterlaluan tidak bisa di tolerir lagi. Saya sebagai seorang lelaki dan juga suami dari Yuki merasa keberadaan Zura di sekitar kami cukup meresahkan."
"Nak Asher, Zura itu sebenarnya salah apa kenapa dia sangat sedih ketika pulang dari kantor, dia bilang dipecat. Benar begitu?"
"Maaf Bun, benar adanya." Asher diam sejenak nampak bingung merangkai kata yang pas agar tidak menyakiti martuanya, biar bagaimana pun mereka adalah orang yang paling berharga untuk istrinya.
"Zura selalu berusaha menggoda anak saya Nal." Itu suara Papa Dika. "Mohon pengertiannya tidak menjadikannya ini sebuah masalah tapi memang harus segera di tuntaskan. Jangan sampai kejadian masalalu mereka terulang kembali, kasihan Yuki sudah cukup banyak menderita dan berkorban dalam rumah tangganya. Mohon maaf sebelumnya bukan Papa sok ikut campur tapi memang ini menjadi masalah keluarga yang cukup serius."
"Zura godain kamu di kantor Ash?" tanya Ayah yang mulai terlihat tidak tenang sementara Bunda hanya diam, datang untuk klarifikasi malah berujung panjang dan memalukan.
Tak ingin hubungan anak dan orang tua menjadi senggang Yuki cukup paham dengan situasi ini, ia langsung berhambur ke dalam pelukan Bunda Dyah untuk menenangkan.
"Maafin Yuki Bun, Bunda jangan benci Yuki, aku nggak mau Bunda salah mengartikan ini, Yuki hanya ingin rumah tangga Yuki bisa di perbaiki setidaknya semua yang ada di sini tahu kalau kami sedang sama-sama belajar menempatkan diri memperbaiki diri. Baik aku dan juga Mas Asher banyak sekali salah dan tentunya kami saling belajar dan memahami." Yuki memeluk Bunda Dyah, Bunda membalasnya dengan mata berkaca-kaca.
"Kamu tidak salah Nak, Bunda yang tidak bisa mendidik anak Bunda dengan baik. Nanti pasti Zura Bunda hukum sudah berani bohongin kita."
"Jangan Bun, nanti Zura bertambah marah kalau Bunda hukum. Mungkin dia butuh waktu untuk hal ini jadi saran Yuki di nasihati saja nantinya tapi jangan sampai menghukumnya." Ayah mengelus puncak kepala Yuki yang berada dalam pelukan Bunda Dyah, putrinya ini menang sangat pengertian, dia pemaaf dan juga baik.
"Sebenarnya kami selaku orang tua sangat menyayangkan hal ini, terlebih ini terjadi pada lingkungan keluarga orang sekitar kita, yang bisa saja membuat kesalahpahaman dengan asumsi yang berbeda. Asher Bapak minta maaf, semoga kali ini kata-kata mu benar dan bisa di percaya. Ayah sudah pernah keteteran pada hal yang sama, Ayah rasa kamu cukup paham."
"Iya Ayah, saya paham. Tolong percaya sama kami, aku dan Yuki benar-benar sangat terusik dengan masalah ini beberapa kali kami menjadi salah paham, terakhir kemarin Yuki berakhir di rumah sakit itu sudah cukup membuat saya bodoh dengan berasumsi hal lain tentang istri sendiri."
__ADS_1
"Mulai sekarang coba kalian itu kalau ada apa-apa di bicarakan di musyawarahkan kaya gini, kan enak. Tidak ada kesalahpahaman dan juga keluarga aman." Bunda Rianti ikut memberikan suaranya.
"Jadi masalahnya Zura clear ya... di sini tidak mencari siapa yang salah dan siapa yang benar, namun harus pandai menjaga diri. Percaya dan saling terbuka tentunya. Bukan hanya untuk Yuki dan Asher juga sih sebenarnya tapi berlaku juga untuk kamu Pah," sambung Bunda Rianti menerangkan.
"Kok jadi ujung-ujungnya saya, kan ini masalah mereka, Mamah ma suka gitu menghubungkan sesuatu yang bahkan tidak mungkin terjadi," jawab Pak Dika sebal.
Sementara perdebatan dua sejoli yang tak lagi muda itu semakin sengit, kami berempat Bunda dan Ayah, Aku dan Mas Asher hanya bisa memandang dengan tatapan geli dan heran. Pasalnya semenjak Yuki tinggal bersama mereka, ke dua orang tuanya tidak pernah terlibat cekcok dan pemandangan di depan mata cukup menghebohkan dimana Papa Dika mendapat ceramah panjang kali lebar oleh istrinya.
Praktis semenjak kejadian malam klarifikasi keluarga kami semakin harmonis. Asher juga lebih banyak waktunya menghabiskan di rumah menikmati waktu kebersamaan bersama kami.
"Mas... bangun! Kamu nggak ngantor?" Yuki menggoncang tubuh suaminya, waktu sudah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi namun pria itu masih bergelung di bawah selimut hangatnya."
"Hmm... lima menit lagi," jawab Asher serak khas bangun tidur, ia menjawab dengan mata masih tertutup.
Yuki bangkit dari duduknya namun langkahnya terhenti karena Asher mencekal tangannya. Pria itu langsung bangkit dan menarik tangan Yuki sehingga istrinya tersebut jatuh terduduk ke dalam pangkuannya.
"Ambil cuti bisa nggak sih sehari dua hari atau seminggu, aku mau ajak kamu liburan," bisik Asher sambil mengendus pipi Yuki, dagu suaminya menopang di pundak Yuki.
"Hah! sekarang? ya nggak bisa lah, aku hari ini ada pembagian pengumuman Dosen pembimbing, lagian ya Mas kalau kita liburan gimana sama Sky."
"Kan ada yang jaga sayang, lagian anak kita juga udah gede, biasa di tinggal nggak pa-pa. Kita butuh waktu berdua semenjak nikah kita belum pernah liburan."
"Kamu nya nggak pernah ngajak, sibuk terus."
__ADS_1
"Beneran sekarang nggak sibuk, dan aku sudah mengatur jadwal ini lama. Please... mau ya? sekalian kita program hamil yang ke dua."
"Ih itu sih maunya kamu... nggak mau, Sky masih terlalu kecil punya adik."
"Emang kepinginnya gitu sayang, punya anak yang banyak dari kamu adalah salah satu impian aku."
"Banyak?" Yuki membeo.
"Iya dong biar rumah kita rame..." Asher menyeringai, sementara Yuki begidik ngeri mendengar kata banyak. Melahirkan kemarin saja masih belum move on entah mengapa hamil lagi belum siap untuk dirinya.
"Sayang..." Asher menciumi rambut Yuki yang tergerai, pria itu masih betah duduk di atas kasur dan tidak membiarkan Yuki beranjak. "Mau... boleh?" bisik pria itu sambil menyesap kulit leher istrinya.
"Mas... lepasin dong... jangan nakal ih, nggak lucu ah pagi-pagi olahraga ranjang."
"Ayo dong... semalam kan nggak jadi kamu habis tenangin Sky malah tidur lagi," keluh Asher yang mengingat kejadian semalam misinya gagal total.
"Nggak mau, udah ditunggu Mama sarapan di bawah." Asher mrengut, pria itu mode ngambek langsung beringsut dan berbaring kembali menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
"Mas, jangan marah dong... ih nggak lucu deh, dimana Asher yang baik dan pengertian." Asher bergeming membuat Yuki merasa sedikit bersalah. Perkara satu ini memang kudu wajib disalurkan salah satu kunci keharmonisan rumah tangga mampu melayani suaminya dengan baik, baik urusan ranjang maupun urusan yang lainnya.
"Mas... buka dong selimutnya, masa cewek cantik dan seksi gini dianggurin," goda Yuki pada akhirnya. Asher mengintip dibalik selimut, laki-laki mana tahan melihat istrinya yang sudah setengah polos.
Mata Asher membulat sempurna melihat pemandangan pagi hari di depan matanya. Ia langsung menarik Yuki masuk ke dalam selimut.
__ADS_1