
"Mas kamu tolong ambil Sky di kamar Mama, ASI aku penuh." Yuki merengek karena merasa tidak nyaman. Sayang banget kalau tidak segera diberikan pada malaikat kecilnya padahal dirinya banyak waktu luang.
"Pompa aja sayang, Mama pasti udah kasih susu stok kamu yang di kulkas." Saran Asher tak mau di sanggah, bukan dirinya tak mau mengambil Sky dari kamar Mama, namun nampaknya mereka sedang istirahat dan tidak ada tanda-tanda rewel pada bayi itu.
Asher berjalan keluar kamar ia mengambil alat pompa elektik yang biasa di gunakan istrinya memompa ASI.
"Ini sayang, pompa aja." Asher berbicara sambil menaruh alat tersebut di atas meja kamar.
"Ih... aku maunya Sky kok malah ini yang di bawa."
"Nggak enak mau ketuk kamar Mama, takut ganggu siapa tahu tadi Sky nggak bobo-bobo dan Mama baru terlelap, kan kasihan. Udah, pompa aja apa mau aku yang mompain?" ucapnya sambil mengerling.
"Mesum mulu bawaanya," jawab Yuki mrengut.
"Woh... bukan gitu sayang... aku kan cuma menawarkan jasa."
"Udah minggir sana, nggak usah di lihatin juga?" Kesal Yuki melihat Asher masih menatapnya dengan lekat.
"Beneran lho aku mau bantu?"
"Terimakasih Pak Asher sayang... " Ucap Yuki penuh dengan penekanan.
Seketika Asher langsung mlipir dan lebih memilih duduk di ranjang sambil memainkan ponselnya. Pria itu terlihat sibuk dengan membaca beberapa email yang masuk ke gawainya. Sementara Yuki terlihat lega setelah berhasil memompa ASI untuk Sky yang seharusnya tidak perlu ia lakukan mengingat ini malam hari. Seharusnya bayi gembul itu berada dalam buaiannya.
Yuki segera mengemas dan menyimpan ASI ke dalam tempatnya agar tetap steril ketika di butuhkan.
"Udah," tanya pria itu ketika Yuki hendak melangkah ke luar.
"Duduk aja biar aku yang bawa, jalan kamu lucu. Masih sakit ya?" Yuki terdiam ia lebih mengiyakan dan membiarkan Asher menaruh botol ASI ke dalam freezer.
Asher kembali ke dalam kamar, pria itu langsung menempatkan posisi di sebelah kasur yang Yuki tempati.
"Ayo sayang tidur sudah malam." Asher menepuk lengannya agar Yuki bersandar dan menjadikan bantalan dirinya. Yuki menurut ia mulai merapatkan diri dengan menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya.
Asher merengkuh semakin dalam, pria itu seperti sedang mengekspresikan kangen yang teramat, sesekali terus menciumi puncak kepala Yuki dengan sayang.
"Nggak bisa tidur Mas?" Yuki menengadahkan wajahnya sehingga menghadap ke wajah suaminya dengan jarak dekat.
"Kenapa sayang. Hmm... mau lagi?" Asher terkekeh sendiri melihat ekspresi wajah Yuki yang berubah awas dan sedikit menjauh.
"Nggak aku becanda, sini bobok lagi." Asher memeluk semakin erat.
"Lapar Mas," lirih nya namun masih bisa di dengar Asher.
"Kamu lapar? Sama aku juga."
Yuki mengangguk, Ia mengurai pelukan nya dan bangkit dari pembaringan. Yuki hendak melangkah keluar kamar, membuat Asher yang tengah duduk di atas kasur turun dari ranjang mengikuti langkahnya dengan kening berkerut.
__ADS_1
"Mau kemana? Biar aku yang ambil makanan." Yuki berdiam diri mengamati Asher yang malah membimbing dirinya untuk duduk.
"Lapar Mas, mau buat nasi goreng," jawabnya santai. Yuki merasa perutnya sangat lapar. Olahraga malam bersama Asher yang baru sekitar dua jam yang lalu ia lakoni cukup menguras energinya di tambah memompa ASI membuat dirinya cukup lemas dan terasa haus.
"Owh... mau makan nasi goreng? Aku bisa kok buatnya. Kamu lesu banget kelihatanya. Capek banget ya sayang..." Asher mencium kening Yuki sejenak sebelum akhirnya ke luar dari kamar.
Setelah hampir dua puluh lima menit lamanya, pria itu kembali ke kamar dengan menenteng nampan berisi nasi goreng ala Pak Asher dan air putih dalam gelas.
"Sayang... katanya lapar kok malah tidur?"
"Ngantuk Mas, capek," keluh nya sambil memposisikan tubuhnya bersandar di kepala ranjang.
"Nih aku udah buatin ini," Asher menunjuk nasi goreng di nampan.
"Beneran ini kamu yang buat? Pantes lama," cibirnya seraya mengambil air putih dulu lalu meneguknya.
"Kok cuma satu porsi?"
"Buat berdua, ayo buka mulutnya." Yuki malah tersenyum melihat Asher berinisiatif menyuapi nya.
"Kamu so sweet banget Mas, aku jadi takut?"
"Takut apa?" tanya Asher dengan kening berkerut.
"Takut jatuh cinta sama kamu." Yuki tersenyum tipis.
"Kok cemberut, ya udah izin mencintai suamiku Asher Daharyadika." Seketika senyum pria itu terbit.
"Diizinkan asal jangan di kecewakan," jawab Asher sambil sesekali mengunyah makanannya.
"Kayaknya yang seharusnya ngomong gitu aku deh, sangsi aku Mas?"
"Kok gitu? kurang yakin lagi yang gimana?"
"Nggak tahu, maaf Mas aku udah kenyang mau tidur."
"Sayang kamu marah? kok nggak dihabisin nasi gorengnya."
"Kenyang," jawab Yuki dan langsung merebahkan dirinya di kasur. Menarik selimut sampai batas dagu.
Asher kebagian menghabiskan nasi goreng buatannya. Setelah licin tandas, Ia mengemas dan membawa ke dapur lalu kembali lagi ke kamar untuk istirahat.
***
Pagi hari akan menjadi sangat sibuk untuk ibu muda satu ini. Selain karena punya bayi yang harus diurus, Yuki juga harus menyiapkan segala keperluan suami. Yuki tengah menyiapkan pakaian ke kantor Asher sementara pria itu mandi. Selesai menyiapkan pakaian, Yuki beranjak dari kamar dan menuju ruang makan.
Setiap pagi Yuki punya jadwal wajib yang harus di jalankan, yaitu membuat kopi untuk suaminya. Pria itu tidak mau minum kopi selain bukan buatan istrinya.
__ADS_1
"Pagi Mah..." sapa Yuki ketika sampai di dapur hendak menyeduh kopi untuk Asher.
"Pagi sayang... buat kopi ya?"
"Iya Ma, mama mau?" tawar Yuki sungguh-sungguh.
"Nggak sayang makasih, Mama tadi udah buat teh. Mama seneng banget lihat kalian berdua akur kaya gini."
"Iya dong Mah, kalau berantem kan kasihan Sky. Ya udah Mah bawa ini dulu ke meja."
Setelah menyeduh kopi dan menyiapkan di meja makan, Yuki kembali ke kamar.
"Sayang tolong dong..." Yuki mendekat, sudah menu wajib untuk membantu memasangkan dasi pada pria itu. Sementara Yuki memasang dasi, Asher akan sangat puas memandang istrinya dari jarak yang sangat dekat.
"Kenapa senyam-senyum nggak jelas gitu Mas?"
"Lagi seneng aja lihat kamu cantik banget."
"Ish... pagi-pagi gombal."
"Eits... mau kemana?" Asher menahan Yuki yang hendak berbalik badan. Ia meraih pinggang istrinya yang masih berada dalam jangkauan nya.
"M--mau... kamu mau apa? Sarapannya udah siap." Mendadak Yuki yang bingung dan salah tingkah karena Asher terus mengamatinya dalam dekapan.
Asher mengulum senyum, pria itu malah mendekatkan wajahnya. "Aku mau sarapan kamu," bisik Asher yang langsung membuat Yuki meremang seketika.
"Pingin mengulang yang semalam," imbuhnya dengan senyum yang tak pernah luntur sedari tadi.
"Jangan nakal, ini pagi waktunya Mas ke kantor."
"Pingin ngurung kamu seharian di kamar terus..."
"Akunya yang nggak mau." Yuki mengurai pelukanya ia merasakan pipinya memanas seketika. "Udah ayo sarapan."
"Bentar sayang... sini beri dulu." Asher menunjuk bibirnya.
Dalam sepertikian detik, Yuki hanya diam saja.
"Ah lama kamu mah, aku aja deh." Yuki mengulum senyum lalu menahan bibir Asher yang hendak melahap bibirnya.
"Aku aja Mas," ujar Yuki berani.
Cup
Satu kecupan singkat mendarat sempurna di bibir suaminya. Yuki langsung kabur ke luar dari kamar.
"Sayang... curang, kurang lama."
__ADS_1