
"Eh, A-amar? di sini juga?" Ia sedikit mundur karena tangan Amar main mengacak rambutnya, pelan sih tapi pasti buat salah paham orang yang lihat.
"Wah.. jalan sama Gea nggak bilang-bilang?" selorohnya lalu mengambil duduk di samping Yuki tanpa ngerasa bersalah.
"Lo sendirian?" tanya Gea kepo.
"Nggak sih janjian sama Raven dan Gerald tauk tuh anak mana. Eh itu dia woi... sini!!" Amar sedikit berteriak memanggil dua sahabatnya.
"Widih... CEO kita akhirnya ada waktu juga." Seloroh Raven lalu ber fish fight (adu kepalan tangan).
"Butuh refresing lah masa kerja terus." jawabnya sambil mengamati Yuki yang sedari tadi diam nampak gusar.
"Hai Ki... tambah seksi aja bumil." Goda Raven
"Nggak usah muji, mata kondisikan nggak usah jelalatan." Sarkas Amar tak suka.
"Uluh ada pawangnya... Ki, emang udah selesai proses lo sama mantan?"
"Eh, hai Ven... hehe... nggak lah biasa aja nambah lebar iya." Jawab Yuki datar, Yuki sebenarnya sudah tidak nyaman sebab acaranya makan berdua dengan Gea gagal total di tambah bertemu Amar dan teman-temannya.
Tanpa disadari dari kejauhan sepasang mata elang mengawasi dengan menahan emosi. Tak ingin menunjukan kerasnya di depan Yuki tapi juga tidak terima melihat pemandangan di depan mata.
Asher melangkah lebar dengan sibuk menata hatinya, "Sayang kita pulang sekarang?" suara beratnya mampu mengalihkan segerombolan manusia yang tengah asyik bercengkrama.
"Eh, mas?" Yuki langsung berdiri kikuk saat Asher datang menghampiri.
"Eits... ada Pak Asher, ayo Pak mari gabung sekalian kita kebetulan ketemu di sini." Ujar Amar santai.
"Terimakasih Pak Amar tapi saya kesini jemput istri udah harus pulang." Jawabnya santai tapi penuh dengan penekanan.
Yuki merasa aneh dengan tingkah mereka berdua yang berbahasa formal, namun ia segera sadar bahwa mereka punya kerja sama yang saling membutuhkan. Baik Asher dan juga Amar keduanya hanya mencari perhatian Yuki saja untuk bersikap biasa tapi sesungguhnya dalam hatinya saling mengumpat kesal.
Yuki yang sadar tatapan mereka tidak normal segera mengerti dan langsung mengiyakan ajakan kepulangan Asher.
__ADS_1
"Emm, aku pulang dulu Gea, semuanya." Ucapnya sambil berdiri.
"Lho kan belum makan Ki, baru di pesen juga? nanti bayinya nyidam pingin makan bareng aku gimana hayo." Canda Amar yang sama sekali acuh dengan kondisi saat ini. Atau mungkin malah ia sengaja Yuki tidak tahu, yang jelas ia takut sekali Asher terpancing emosi dan terjadi perang Dunia ke tiga.
"Bisa aja Pak Amar, mari kami duluan." Asher langsung menggandeng tangan Yuki ke luar dan menuju mobilnya
Asher langsung membukakan pintu mobil untuk Yuki tanpa suara. Sisi rahangnya yang mengeras serta mata yang menyorot tajam menunjukan seberapa kerasnya ia menahan marah.
Yuki terdiam hanya untuk mencari aman, berdasarkan riset yang sudah-sudah banyak bicara akan merugikan buat dirinya. Asher mendekat sejurus kemudian memasangkan seat belt dan mengacak rambut Yuki, lebih tepatnya menyingkirkan jejak tangan Amar sialan itu. Asher mengintari mobilnya dan segera duduk di kursi kemudi dengan tenang.
Saat ini dia butuh pelepasan dan juga mencurahkan perasaannya yang dongkol setengah mati, namun ia segera sadar kalau dirinya harus bisa menguasai emosinya, tidak ingin membuat Yuki merasa takut lagi padanya karena sifatnya yang keras, menguatkan sabar atau berakhir ambyar sia-sia sudah perjuangan ia selama ini.
Emang dasar Amarnya aja yang brengsek, mepet-mepet mulu sama istri orang. Sepertinya memang rencana Asher yang dulu dengan terpaksa harus di jalankan supaya anak itu bisa minggir dengan suka rela.
"Mas... kamu marah sama aku? aku nggak sengaja lho ketemu mereka." Ujar Yuki berusaha menjelaskan melihat suaminya yang diam saja sepanjang jalan. Tangannya terulur mengusap lengannya yang tengah menyetir.
Sentuhan sekilas, namun sangat berefek untuk tubuh Asher, bermakna menghangatkan dalam seperkian detik pria itu bisa merubah suasana hatinya menjadi lebih baik hanya karena sentuhan Yuki yang terlihat biasa saja.
"Enggak dong sayang, kamu kan udah janji menerima aku kembali itu artinya kamu tidak mungkin sengaja bertemu dengan mereka." Asher memang kesal tapi ia sebisa mungkin menyembunyikannya dari Yuki selain karena dia sedang melatih kesabaran dia juga akan membalasnya dengan sangat elegan tanpa susah-susah berdebat atau adu kekuatan.
"Belanjanya besok aja ya? mas temenin?" ujar Asher mengalah.
"Iya Mas," Yuki mengangguk patuh. Menghadapi Yuki memang harus selembut ini kalau tidak gadis itu pasti akan semakin membencinya. Dan juga wejangan Mama Rianti yang selalu terngiang di otaknya.
Wanita hamil nggak boleh di bentak. Perasaanya sangat sensitif.
Tentu ia harus menjaga amanah tersebut selagi Yuki juga tidak meladeninya atau berulah seperti yang sudah-sudah. Dan begitu sampai rumah ia tidak tahan untuk tidak mengutarakan isi hatinya.
"Mas kamu kenapa diem aja, masih marah?" Kini mereka sedang berada di kamarnya. Duduk berdua saling berhadapan.
"Tidak ada alasan untuk aku marah selagi kamu tidak menanggapi pria itu sayang, aku percaya sama kamu dan kamu juga harus berjanji untuk tidak meninggalkan aku." Ucap Asher seraya meraih tangan Yuki.
"Jika kamu berjanji untuk tetap tinggal, aku pun berjanji tidak akan pernah pergi." Yuki berusaha melihat manik matanya, tidak menemukan kebohongan di sana.
__ADS_1
"Aku berjanji Mas, asalkan kamu juga mau berjanji untukku." Sambung Yuki dan Asher menatap istrinya dalam.
"Tidak ada wanita lain selain diriku di kehidupanmu Mas." Ucap Yuki tegas.
"Tentu sayang, kamu memberiku arti hidup yang baru. Aku ingin menjadi tua bersamamu. Aku berjanji akan mencintaimu selama sisa hidupku.
Asher langsung merengkuh istrinya membawanya ke dalam pelukannya. Semuanya akan menjadi terang saat di bicarakan dengan hati lapang dan pikiran tenang.
"Udah jangan nangis lagi, takut banget aku pergi." Seloroh Asher mencandainya sambil mengusap air mata yang menggenang di pelupuk matanya.
Ujung-ujungnya Yuki pasti melow dan sedih, dan ini menjadi tugas baru untuk Asher Daharyadika membujuk istrinya untuk tersenyum lagi.
"Ck, kamu sekarang ngeselin ya Mas?" Cebik Yuki sebal. Namun malah membuat pria itu terkekeh.
"Kamu menggemaskan sayang," Asher terus menggodanya. Sedangkan Yuki pasang mode mrengut.
"Udah dong jangan cemberut aja," Asher kembali membawa Yuki ke dalam pelukannya sambil menciumi rambut istrinya.
"Terlalu banyak air mata untuk mu di rumah tangga kita, aku harap setelahnya hanya bahagia dan senyum dari mu sayang. Maafkan aku, maaf untuk yang kesekian kali selalu membuatmu menangis."
"Kecuali hari ini Mas, karena aku hari ini menangis karena bahagia. Terharu kamu benar-benar membuktikan nya secara nyata."
***
"Sayang makan yang banyak, biar sehat." Ujar Asher perhatian.
Keluarga Yuki tengah melakukan makan malam bersama di ruang makan. setelah makan usai Yuki berusaha membahas tempat tinggal dirinya yang berencana berpindah. Ia akan membicarakan dengan Ayahnya dan juga Bunda mumpung momentnya pas. Berkumpul di ruang yang sama.
TBC
Ayo dukung Author dengan Vote karya ini
Vote
__ADS_1
Like
Comment