Salah Meminang

Salah Meminang
Part 51


__ADS_3

Warning 21++


"Sayang... a_aku.... malam ini... boleh sentuh kamu?" ucap Asher dengan wajah memohon.


"Please Ki... aku udah puasa lama ini...."


Yuki terdiam, sejurus kemudian mengangguk pelan dengan pipi memanas.


Asher mengulum senyum penuh dengan kelegaan, tangannya terulur mengusap pipi Yuki dengan lembut.


"Terimakasih sayang sudah menerima aku lagi," bisiknya tanpa melepas tangan yang terus membelai lembut hingga menimbulkan tegangan arus ribuan volt di sekujur tubuh Yuki. Menimbulkan gelenyar aneh bagai di serang kupu-kupu di tubuhnya.


Asher semakin mendekat, hembusan nafas hangat di sepanjang ceruk lehernya membuat Yuki meremang seketika.


Yuki sempat memejamkan mata sambil menetralisir rasa gugup sebelum akhirnya memberanikan menatap manik suaminya yang sudah berkabut. Dalam seperkian detik meraka saling berpandangan dalam diam dengan wajah Yuki yang merah padam tak karuan, di bawah pandangan Asher yang terus menerus secara intens.


Asher mengelus pipinya kembali, berusaha membuat Yuki lebih tenang dan yakin.


"Terimakasih sudah memberikan kesempatan yang ke dua untuk menerima aku menjadi suamimu."


Yuki mengangguk dengan memejamkan mata, ia menikmati sentuhan halus Asher di seluruh wajahnya.


"Tadi waktu aku pulang ke rumah Mama," ucapnya hingga membuat Yuki membuka mata lalu menatap wajah suaminya dengan hati berdebar.


"Mama titip pesen," Yuki masih menatap Asher lebih dalam.


"Jangan buat istrimu sedih," Yuki menatap dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


"Bahagiakan Yuki, cintai dia, dan sayangi dia."


Air mata Yuki hampir luruh demi mengingat Mama martuanya itu begitu sangat menyayanginya. Mama Rianti memang sebaik itu. Ia bahkan orang pertama yang mengucap syukur ketika Yuki memutuskan menunda perpisahan waktu itu.


Ah jadi kangen sama Mama besok aku mau kesana.


"Mama juga bilang, jatuh cinta lah pada istrimu setiap hari dan hanya dengan istrimu saja Yuki Tanzeela."

__ADS_1


Yuki berusaha tersenyum menyusut air mata yang menggenang. Ia bahagia dan bersyukur mempunyai Mama Rianti yang sangat menyayanginya.


Dengan gerakan cepat Asher langsung membawa Yuki ke dalam rengkuhannya dan menciumnya lama. Terus turun ke pipi dan seluruh wajahnya. Asher tak ingin membuang waktu, detik berikutnya ia langsung merapatkan diri memadukan bibir mereka berdua dengan begitu tenang, perlahan, lembut semakin dalam dan menyesatkan.


Dan kemudian memagut dengan penuh gairah semakin cepat, menggebu, menyeruak penuh hasrat dan menuntut semakin dalam.


"Yuki...." Nafasnya mulai terengah dengan bisikan parau, Asher kembali memberikan serangan ke dua dengan mengeksplor ke seluruh sisi, sudut, kedalaman bibir semanis madu yang selalu membuatnya menjadi candu. Dengan gerakan apik membuat Yuki terlena dan tanpa sadar telah meloloskan semua yang menempel pada mereka berdua.


Tangannya mulai nakal sibuk mencari sensasi yang berbeda, menyentuh semua sisi yang di inginkan. Dengan terus menelusuri dimensi lain yang memabukkan. Ia memberikan gigitan-gigitan kecil, mengukir semakin dalam, meninggalkan jejak kepemilikannya di seluruh tubuh Yuki yang diinginkan dengan perasaan yang membuncah.


Nafasnya mulai pendek-pendek selaras dengan jiwa yang menggebu. Asher tidak ingin membuat Yuki nya merasa tidak nyaman, ia tentu akan bermain dengan sangat elegan, nikmat dan liar dengan tetap memberikan kenyamanan istrinya yang tengah berbadan dua.


"Yuki..." Dalam samar Asher terus menggumamkan namanya, seirama penuh dengan gairah. Ia semakin merapatkan diri menyatukan dua sisi yang saling mendamba, menghentak dengan irama yang senada memberikan kenikmatan sensasi bagai terbang di awang-awang langit ke tujuh.


Dengan perasaan meluap-luap, melambungkan mencapai pusara arus puncak surga kenikmatan dalam hentakan irama yang selaras melebur jadi satu, dan desahan mulut mungil istrinya yang tersambung dengan erangan dirinya sebagai tanda bahwa mereka telah memungkasi misi yang sama. Sebelum akhirnya mereka berdua terkapar dalam perasaan bahagia, tenang dan lagi damai.


"Terimakasih sayang... I love you more." Asher terus menciuminya dengan penuh rasa syukur dan haru di sepanjang malamnya.


"Tidur yang nyenyak sayang.... "


***


Tengah malam sudah menjadi kebiasaan Yuki terjaga, sebab ia merasa haus atau lapar. Apalagi semalam ia habis olahraga malam yang cukup menguras energi rasa haus begitu terasa. Yuki turun dari ranjang dengan perlahan, kemudian memungut bajunya yang berserakan. Ia melirik Asher masih terlelap dengan tenang lalu melangkah keluar kamar.


Asher merasa sisi kasurnya kosong, ia meraba-raba dengan mata terpejam sebelum akhirnya terjaga kaget tidak menemukan Yuki di sana. Asher terkesiap dan langsung bangkit dari ranjang, ia langsung memakai bajunya asal dan mencari keberadaan Yuki, ia sangat takut Yuki meninggalkan nya seperti malam itu karena marah.


Asher melangkah lebar menuju pintu namun sebelum sempat keluar Yuki lebih dulu masuk ke kamar dengan membawa air mineral dan segepok roti tawar yang telah di beri selai.


"Mas, mau kemana?" Yuki merasa bingung Asher bengong di depan pintu dan langsung menubruknya.


"Aku kira kamu pergi ninggalin aku Ki... aku takut sekali." Asher memeluk Yuki dengan perasaan khawatir.


"Apaan sih mas, aku lapar dan baru ambil minum." Tukas Yuki memberi tahu


"Ih, kok nangis sih...." Yuki terkekeh. "Sejak kapan si kulkas Asher Daharyadika jadi cengeng." Seloroh Yuki sambil mengulum senyum dan menaruh minum dan roti di atas meja.

__ADS_1


"Sejak seorang Yuki Tanzeela memporak-porandakan hatinya dan menjatuhkan ke dalam lubang perpisahan." Jawab Asher sambil menatap Yuki dalam.


Yuki mengusap pipinya dengan telapak tangannya, "Serius amat sih Pak." Seloroh nya sambil terus tersenyum, namun sesaat berubah menjadi baper sebab Asher menggenggam tangan yang masih menempel di pipi lalu menciuminya.


"Jangan pernah tinggalin aku lagi, jangan bikin aku khawatir dan harus janji membangunkan aku lebih dulu." Lagi lagi Yuki tersenyum mendengarkan penuturan Asher. Pria itu benar-benar sudah berubah, bahkan menjadi sangat manis.


"Mau ini nggak?" Yuki menawarkan roti yang tadi sempat di buatnya.


"Suapin sayang mau..."


"Hm.... bayi gede, aku yang lapar kamu yang makan."


"Apapun yang di buat dengan tanganmu pasti aku mau."


"Ish...udah pinter ngegombal." cibir Yuki


"Tapi yang di gombalin seneng kan? iya kan?"


"Biasa aja," jawab Yuki cuek.


"Ak... lagi sayang aku lapar juga."


"Mau lagi aku buatkan lagi, aku udah kenyang."


"Aku mau kamu?" Asher tersenyum iblis


"Hah!" Yuki menggeleng pelan sebagai jawaban. "Masih capek mas baru juga usai."


"Mau lagi..." Rengeknya. "Kamu cukup diam, rebahan dan nikmati setiap sentuhan yang di berikan, biarkan aku yang bermain, menghandle semuanya."


Yuki tidak percaya Asher benar-benar melancarkan aksinya yang ke dua. Ia melakukan dengan penuh kelembutan, memberikan kenyamanan pada tubuh istrinya sejurus kemudian kembali menyatukan diri dengan penuh bahagia.


Cup cup cup


"Terimakasih sayang kamu luar biasa," Asher mengelap keringat di dahi Yuki yang nampak berkeringat karena ulahnya.

__ADS_1


__ADS_2