Salah Meminang

Salah Meminang
Part 74


__ADS_3

Yuki mengendurkan jari-jemarinya yang di genggam Asher. Ia melepaskan secara perlahan sebab si penggenggam sedang tertidur pulas. Tak masalah sebenarnya di genggam sepanjang malam sekali pun, namun karena ia hendak ke kamar mandi, tentu harus memisahkan diri. Pria itu cukup pulas, sehingga tidak menyadari kalau Yuki turun dari ranjang. Sebenarnya ada rasa di hati ingin meminta tolong, namun ia tidak tega untuk membangunkan suaminya yang sedang terlihat sangat nyenyak.


Yuki terduduk, mengambil selang infus dengan hati-hati. Turun perlahan agar tidak menimbulkan gerakan yang bisa mengganggu tidur pria di sampingnya.


Yuki meringis, tatkala ada sedikit nyeri pada kakinya kala ia pijakkan di lantai keramik rumah sakit. Kaki kanan Yuki bagian lutut lumayan parah lukanya, sehingga ia harus berjalan tertatih dan pelan untuk bisa ke tempat tujuan.


"Mau kemana sayang?" suara Asher menyeru, membuat langkah Yuki yang baru saja di mulai terhenti. Asher langsung mendekati istrinya.


"Aku mau ke kamar mandi Mas?"


"Kenapa nggak bangunin aku? Terus apa gunanya aku menunggu di samping ranjang mu?"


"Kamu tidur Mas, aku nggak tega buat bangunin kamu."


"Mas kan udah bilang, jangan sungkan. Kalau mau ngapain aja ngomong," tukas Asher yang masih setia dengan wajah khawatir.


"Iya Mas." Yuki mengangguk paham.


Tanpa menunggu lama, pria itu langsung menggendong istrinya menuju kamar mandi. Yuki menurut saja, itu cukup menghemat waktunya sampai, dari pada harus tertatih walaupun jaraknya dekat, hanya sekitar tiga meter namun rasanya cukup merepotkan bila sedang kondisi sakit.


"Kamu keluar dulu Mas?" Yuki merasa bingung karena suaminya bersih keras ingin menunggu di dalam.


"Aku tunggu di sini saja, aku bawain selang infusnya."


"Nggak mau malu, cepat keluar nanti selang infusnya aku cantolin di situ," Yuki menunjuk gantungan di tembok kamar mandi.


Pria itu nampak membuang napas berat sebelum akhirnya keluar dari kamar mandi dan menunggu nya tepat di depan pintu kamar mandi.


"Jangan di kunci," seru Asher dari luar.


Setelah kegiatan Yuki selesai, ia segera keluar dari kamar mandi dan membuka pintunya, Asher sudah bersiap membantu istrinya kembali ke ranjangnya.


"Maaf Mas, aku jadi merepotkan kamu?" ujar perempuan itu merasa sungkan.

__ADS_1


"Udah kewajiban aku, sama sekali tidak masalah dan tidak merepotkan. Udah sejauh ini melangkah masih saja sungkan dalam hal pribadi."


"Maaf ya, karena aku orangnya memang tidak asyik, sehingga membuatmu menjadi tidak nyaman untuk mengutaran apapun hal."


"Bukan gitu Mas, kok malah jadi salah tanggap. Aw... aduh ini perbannya kebuka," keluh Yuki merasa tidak nyaman dengan perban kecil yang ada di kakinya.


"Masih sakit?" terdengar suara Asher yang panik, ia memeriksa tangan siku Yuki.


"Udah bisa di lepas ini kayaknya hampir kering lukanya, harusnya jangan sampai kena air dulu, kamu nya ngeyel tadi di bantu nggak mau," nasihat pria itu menyorot cemas.


Yuki mrengut, gadis itu senang di perhatikan, tapi merasa sebaliknya juga di protes untuk kebaikan nya.


"Aku mau pulang Mas, udah nggak betah di rumah sakit terus," ujar Yuki jengah.


"Nanti coba Mas konsultasi ke dokter yang menangani kamu."


Secara fisik Yuki memang banyak luka lebam dan gores akibat silaturahmi dengan aspal, namun alhamdulillah tidak terjadi luka dalam yang serius. Jadi, kemungkinan besar untuk bisa pulang cepat dari rumah sakit seharusnya sudah boleh.


Siang ini teman-teman Yuki dari kampus menjenguknya. Kecelakaan itu sampai masuk berita sehingga hampir sepenjuru kampus mengetahui hal naas tersebut.


"Lekas sehat kawan..."


"Segera pulih, biar bisa shering bareng..." Kali ini Yuki terkekeh mendengar celoteh Mia.


"GWS... Ki..."


"Makasih ya, sudah pada nyempetin datang kesini?" Yuki tersenyum menyambut ramah teman-temannya, ia tidak menyangka teman satu kelasnya sangat peduli padanya.


Di kelas Yuki cukup pendiam dan tidak pandai berbaur dengan banyak orang, bukan berarti ia pemilih namun memang karena Yuki menjadi lebih sedikit tertutup setelah ia menikah.


"Gagal proyeknya kalau lo sakit gini," Gea masih mode lesu. Selain teman sekelas ia juga teman satu kelompok membuat tugas acara fashion show.


"InsyaAllah nggak lah, deadline sampai akhir bulan kan semoga aku udah bisa masuk," ucapnya yakin, penuh semangat.

__ADS_1


"Oke, semangat sembuh!!" Mia menyeru senang.


Tiba-tiba sapaan salam menginterupsi ruangan. Gea, Raven, Gerald dan Amar datang juga untuk menjenguk Yuki. Karena suasana kamar cukup ramai sebagian temannya mulai pamit undur diri.


Wajah Asher cukup awas memandangi gerak-gerik teman-teman istrinya, terutama yang menjenguk rombongan terakhir yang baru datang, siapa lagi kalau bukan ada Amar nya. Pria itu lebih memilih menepi, duduk di sofa pura-pura sibuk dengan macbook nya. Eh ralat Asher memang sedang mempelajari laporan yang di kirim Alwi.


Pria itu sibuk di depan layar monitor, namun pendengaran nya menjadi menajam dengan mencuri dengar obrolan para remaja yang sebentar lagi menginjak dewasa.


"Sorry baru sempat jenguk, nungguin dua manusia ini ngajakin bareng." Gea menunjuk ke arah Raven dan Gerald.


"Santai lah, udah mau sembuh kok nanti sih rencananya mau pulang kalau udah di bolehin."


"Jangan, jangan pulang dulu nunggu benar-benar sehat." Suara Amar terdengar khawatir.


"Cie... perhatian," celetuk Raven usil. Asher yang mendengar mulai agak terganggu dengan tingkah mereka terutama Amar yang menatap Yuki secara intens.


Ah iya tentu saja Amar memanfaatkan momen langka ini, mengingat ia tidak di perbolehkan menjenguk Yuki kalau sendiri. Asher terlalu pencemburu, jadi walaupun anak itu mengaku sudah ikhlas dengan takdir, ia masih saja was-was pria itu akan bertindak di luar jangkauan.


Posisi Amar yang duduk di bibir ranjang, tak berhenti melempar senyum pada Yuki yang terbaring dengan menyenderkan kepalanya di kepala ranjang, cukup membuat Asher merasa jengah.


"Ini masih sakit ya Ki?"


"Jangan di pegang!" Asher menyeru begitu melihat Amar meneliti luka di bagian lengannya. Pria itu masih setia di depan macbook, namun telinganya awas mendengar gerak-gerik mereka.


"Adoh... si pengganggu ngagetin aja. Cuma mau lihat doang, iya kan Ki?" Amar menatap kesal Asher, namun langsung senyum begitu pandangannya beralih menatap di depannya, bertemu dengan netra Yuki.


Kalau sudah begini Gea yang biasa mengerti situasi dan kondisi, ia akan segera mengajak teman-temannya pulang sebelum tambah memanas.


"Pulang yuk... biar Yuki nya istirahat, dari tadi di ajak ngobrol terus kasihan." Gea mulai melancarkan aksinya.


"Ya elah bentar napa Ge, baru juga sampai. Kasihan Yuki butuh support." Raven tumben-tumbenan menyumbangkan suaranya, biasanya anak itu yang paling males diajak sosial.


"Eh cerita dong Ki? Kronologi kejadian sampai lo berakhir naas di sini?" tanya Gerald yang cukup mewakili teman-teman yang lainya juga ingin tahu.

__ADS_1


"Kejadian nya kan malam ya, lewat jam sepuluh itu, waktu gue lihat berita. Emang lo mau kemana malam-malam gitu pakai motor sendirian?"


Yuki tersenyum tenang, walau sebenarnya dia tidak tahu harus menjawab apa?


__ADS_2