Salah Meminang

Salah Meminang
Bab 75


__ADS_3

Setelah di rawat selama delapan hari di rumah sakit, akhirnya hari ini Yuki di perbolehkan pulang, senyum terkembang langsung menghiasi wajah ayu nya. Asher sedang mengemas barang-barang yang hendak di bawa pulang ketika Mama Rianti datang menjemput.


"Nggak ada yang ketinggalan kan?" tanya Mama memastikan sebelum beranjak dari kamar rawat.


"Nggak Mah, udah semua sih."


"Ayo sayang pelan-pelan, duduk sebentar, aku harus tebus obat di apotik." Asher berjalan sebentar meninggalkan Yuki dan Mama Rianti.


"Aku udah kangen banget sama Sky Mah...."


"Iya sayang sebentar lagi sampai, Sky di rumah aman kok sehat, pinter juga."


"Udah?" tanya Mama Rianti begitu melihat Asher mendekat.


Asher hanya menganggukan kepalanya dengan senyuman, lalu segera mendorong kursi roda yang di pakai Yuki. Sesampainya di rumah Yuki langsung tersenyum begitu melihat pengasuh Sky sudah menunggu di depan teras rumahnya, dengan Sky berada dalam gendongannya.


"Sayang jalannya pelan-pelan?" tegur Asher khawatir.


"Iya, Mas."


"Ya Allah... Bunda kangen banget sama kamu sayang." Yuki menengadah dan berhambur kearah Sky.


"Eits... jangan langsung gendong dulu, cuci tangan dulu ganti baju baru boleh gendong Sky." Asher menginterupsi.


"Hehe.... iya Mas, sampai lupa efek kangen."


Setelah membersihkan diri Yuki segera meraih Sky dari gendongan Mama Rianti.


"Sayang ikut Bunda, kamu tambah chubby aja pipinya." Yuki menciumi pipi gembul Sky. Ibu dan anak itu melepas rindu, Yuki tak hentinya menciumi bayi montok nan menggemaskan itu. Sementara Asher menatap ke duanya dengan rasa syukur dan haru.


"Aku mau juga dong diciumi kaya Sky, Bapaknya kan juga kangen nih," seloroh Asher menggoda, dirinya langsung mengikuti jejak Yuki menciumi pipi gembul anaknya dan tertawa bersama. Setelahnya beralih menatap Yuki dan menciumi pipi istrinya dengan gemas.


"Kangen Ki..." ucap Asher sambil mengerling.


"Kamu baik kok Mas, nggak setega itu jadi nggak akan minta dulu kan sebelum aku benar-benar pulih, aku takut tidak bisa mengimbangi permainan dirimu."


"Hmm, bisa untuk istriku yang cantik ini. Cepet sehat sayang... love you." Asher mencium kening istrinya lembut.


"Istirahat saja sayang, Sky juga sepertinya sudah ngantuk," ujar Asher demi melihat bayi gembul Sky sudah terkantuk-kantuk tidak merespon dan lamban laun mulai tertidur.

__ADS_1


"Ih lucu banget sih, saking ngantuknya diciumi tetep bobok." Yuki gemas sendiri melihat anaknya. Ke dua ibu dan anak itu beristirahat di ranjang yang sama.


"Sayang... aku tinggal ke kantor sebentar ya, ada sesuatu yang musti aku urus," pamit Asher, sebelum beranjak pria itu tak lupa meninggalkan jejak sayang di kening istrinya.


"Iya Mas hati-hati di jalan."


Sesampainya di kantor, Asher langsung di suguhkan dengan banyaknya setumpuk pekerjaan yang harus di cek. Pria itu sangat jeli walaupun punya kepercayaan penuh terhadap asistennya. Ia selalu meneliti, mengkaji ulang semua laporan data yang masuk ke perusahaan.


"Alwi, aku mau minta tolong panggilkan Zura kesini," titah Asher tiba-tiba. Alwi sedikit kaget dengan tingkah Tuan nya yang tak biasanya, menginginkan bertemu dengan wanita yang setahu Alwi paling di hindari.


"Siap Tuan."


Alwi berjalan ke arah belakang bagian gudang. Seseorang yang iya cari sedang mencatat barang-barang yang masuk ke dalam pabrik.


"Saudara Zura, dipanggil Tuan ke ruangannya."


"Saya?" Zura menghentikan kegiatannya sebentar, lalu fokus pada pria yang memanggilnya.


Zura berjalan gontai dengan perasaan senang, akhirnya Asher mau berbicara dengannya. Zura sudah tidak sabar sampai di ruangan Bosnya itu. Setelah mengantar Zura keruangan Asher, pria itu berujar pamit undur diri, namun di cegah Asher.


"Alwi, kamu sini saja temani saya," seru Asher. Dahi Alwi berkerut-kerut, namun ia segera mengangguk patuh, iya berdiri di sebelah Asher dengan memberi jarak dan mengamati interaksi ke duanya.


"Saya sudah berulang kali memperingatkan kamu untuk tidak berulah, tapi kenapa kamu seperti mengabaikan semua peringatan saya," tegur Asher marah.


"Maksud kamu apa sih Mas, Zura nggak ngerti."


"Nggak usah ngeles lagi. Kamu kira aku bodoh? Gara-gara tindakan kebodohan mu saya hampir saja kehilangan nyawa orang yang paling aku sayang di dunia ini," jelas pria itu menyorot tajam dan dingin.


Hening


Zura sebenarnya ingin memaki pria di depannya, tapi ia tidak mempunyai keberanian itu.


Pluk


Asher melempar amplop coklat ke muka Zura, perempuan itu gelagapan menangkap nya.


"Apa ini?" suara Zura tercekat kala memandang surat amplop tersebut, dan ternyata isinya surat pemecatan untuk dirinya.


"Apa- apaan ini, kamu pecat saya? Saya nggak terima ya Mas, di perlakukan kaya gini." Marah Zura menahan kesal.

__ADS_1


"Terserah, tapi saya sudah muak dengan semua tindakan mu selama ini. Saya sudah cukup bersabar dengan menampung dirimu yang pengangguran agar tetap bekerja di sini, tapi kamu selalu bikin ulah. Ke luar dari ruangan saya!!"


"Mas, tolong dong Mas jangan pecat saya, saya mohon beri saya kesempatan sekali lagi. Saya kemarin nggak ada niatan menghancurkan rumah tangga kamu, saya hanya terlalu cemburu."


"Mas... tidakkah kamu mau melihatku sedikit saja, aku sangat mirip Mas dengan kak Zumi, aku tahu kamu masih cinta kan dengan kak Zumi, seandainya kakak masih hidup kamu pasti milih kak Zumi kan bukan Yuki," mohon Zura mengiba.


Asher menatap tajam dengan kilatan marah kepada wanita di depannya. Bisa-bisanya perempuan itu mengungkit masa lalunya.


"Dulu, sekarang dan selamanya hatiku tidak akan pernah berubah, hanya untuk Yuki Tanzeela istriku, mengerti!!" jelasnya geram.


"Cih! kamu munafik Mas, bahkan kamu mengejar Yuki kembali karena Yuki mengandung anak kamu kan? Yuki tidak sebaik yang kamu kira Mas, dia itu bermain dengan laki-laki lain di belakang kamu, kamu jangan menjadi bodoh dengan menjadi budak cintanya. Ayolah... aku bisa juga kok menjadi ibu sambung yang baik untuk Sky. Biarkan Yuki meraih kebahagiaan bersama pria yang dia cintai." Perempuan itu bagai kompor bledug.


Zura mulai mendekati pria tampan berstatus bosnya itu. Sementara, Asher langsung menepis tangan Zura dan tanpa sengaja mendorongnya hingga wanita itu terjerembab ke dasar lantai.


"Jahat kamu Mas, aku bakalan bales semua perlakuan kamu ke aku hari ini."


"Keluar dari ruangan saya!!" bentak Asher.


Perempuan itu menangis sesenggukan dengan kilatan marah dan dendam di matanya. Keluar dari ruangan, membanting pintu dengan keras.


"Tuan baik-baik saja?" tanya Alwi khawatir melihat Tuannya yang begitu emosi beberapa menit yang lalu.


"Nggak pa-pa, Alwi tolong antar saya pulang."


"Iya Tuan, siap." Alwi mengantar Asher sampai ke rumahnya.


"Makasih Wi, kamu bisa langsung pulang. Hubungi saya jika ada urgent di kantor."


"Siap Tuan." Alwi pamit kembali pulang sedangkan Asher langsung masuk ke rumah.


Sesampainya di kamar, Asher melihat Yuki yang baru saja merapihkan rambutnya di depan cermin. Pria itu menghampiri istrinya dan langsung memeluknya dari belakang. Seketika emosi yang tadi sempat menguasai dirinya hilang setelah menghirup wangi tubuh istrinya. Asher menenggelamkan wajahnya di ceruk leher istrinya dengan mata terpejam, begitu menikmati dan terasa sangat menenangkan.


"Kamu kenapa Mas, kamu baik-baik aja kan?" tangan perempuan itu terulur mengusap rambut suaminya.


Asher terdiam, pria itu mengurai pelukannya dan menggendong tubuh istrinya menuju ranjang.


"Kamu kenapa Mas? Ada masalah di kantor?" cemas Yuki demi melihat suaminya murung.


"Yuki mengambil duduk dengan menyenderkan punggungnya di kepala ranjang, sementara Asher tidur di pangkuannya, tangannya memeluk Yuki, sedang Yuki mengelus rambut suaminya dengan sayang.

__ADS_1


__ADS_2