Salah Meminang

Salah Meminang
Part 48


__ADS_3

"Aku kangen Ki.... aku rindu...."


Masihkah ada sedikit ruang di hatimu di atas penantianku yang kini mulai terbata. Setidaknya biar ada tanda yang bisa ku baca, karena langkah ini selalu berjalan menujumu.


Yuki masih terjaga, ia berusaha untuk memejamkan matanya namun nihil sama sekali tidak bisa terpejam. Terlebih ketika pintu kamar terbuka dengan suara Asher memanggil namanya. Rasanya... aneh, pria itu bahkan nekat menyusul ke kamarnya.


Perkataan kemarin tentang dirinya yang ingin ikut tinggal di rumah Ayah jika aku tidak mau pulang itu ternyata benar adanya. Yuki mengira itu hanya omongan belaka supaya ia mengikutinya ternyata pria itu benar-benar nekat.


Jujur Yuki bingung cara menghadapi nya saat ini. Asher tidak kenal lelah bahkan malah Yuki yang merasa putus asa dengan menyikapi tingkahnya dan keadaan. Sejauh ini Asher sudah banyak berubah harus kan Yuki membuka hatinya untuk nya dan memulai lagi dari awal?


Dengan hati yang masih samar, namun tubuh tak bisa berkhianat bahkan lihatlah sekarang tangan Asher melingkar sempurna di perutnya. Namun lagi-lagi kelu lidahnya untuk menolak, karena jujur ia juga merasa mulai nyaman di dekatnya. Logika mengatakan tinggalkan tapi hati masih ingin bertahan.


Seolah tidak terjadi suatu masalah apapun dan semuanya baik-baik saja. Iya Yuki baik-baik saja namun mungkin karena sudah lama tidak mendapatkan perhatian kasih sayang darinya membuat hatinya berdesir seketika.


Dan dada Yuki semakin sesak dan terenyuh saat saat bibir pria itu mengucap lirih rasa kangen dan rindu. Bukan, bukan itu lebih tepatnya tapi ketika Yuki merasa punggung nya telah basah dengan Asher menangis dan mendekap nya erat. Ia bahkan berkali-kali menggumamkan kata-kata maaf.


Padahal hujan belum sempat menyambangi bumi, namun rintiknya telah membasahi pipi, hingga menusuk ke relung hati. Yuki tercekat mulut yang terkunci rapat perlahan juga mulai ikut terisak. Nggak tahu kenapa hatinya itu mudah sekali melow. Bawaannya baperan dan kadang nggak ada angin nggak ada hujan tiba-tiba moodnya berantakan.


Mereka berdua terisak dalam diam. Perlahan Asher menyadari kalau Yuki juga menangis bahkan lebih kencang dari dirinya. Ia lalu berusaha meraih genggaman tangannya yang bergetar hebat. Yuki memberanikan diri menghadap pria yang sedang menangis atas takdir dirinya.


Mata mereka bertemu saling bersitatap lama seakan akan mewakili perasaanya. Menyampaikan semua rasa gelisah yang tak sempat terucap oleh bibir keduanya.


Hening


Dalam seperkian detik mereka masih tenggelam ke dalam tatapan yang sulit di artikan dengan keduanya saling mengeluarkan air mata.


"Aku bodoh... selama ini aku bodoh, mengabaikan seseorang yang begitu sempurna. Maafkan aku yang terlambat mencintaimu." Ucap Asher lirih dengan hati yang bergejolak hebat.


"Jangan menangis untukku, air mata mu terlalu berharga untuk orang seperti ku." Asher mengusap air mata Yuki dengan ibu jarinya.


"Kenapa kamu kesini? kenapa kamu tidak menyerah saja dan pergi meninggalkan aku sendiri dengan kenangan yang pernah ada." Ucap Yuki tertahan dengan isakan, Asher menggeleng kuat sebagai jawaban.


"Kamu masa depan ku, dan aku akan mengikuti dirimu di belahan bumi mana pun kamu berpijak. Aku akan selalu menjadi bayangan yang akan terus mengikutimu."


"Kenapa? apa karena aku mengandung anakmu?" Asher menggeleng lagi. Sejauh sebelum Asher tahu jika Yuki mengandung pun Asher tidak menginginkan perpisahan itu karena dia menyadari hatinya sepenuhnya telah terisi namanya.


"Yuki Tanzeela ayunindya, aku ingin kita kembali bersama membina rumah tangga, mulai dari awal dan sampai akhir dari kita menutup mata."


Yuki diam namun lagi-lagi semakin terisak, tangan lincahnya memukul-mukul dada Asher secara bertubi. Namun apa responya, pria itu tetap diam mengamati wajahnya secara seksama, menggenggamnya dengan erat tangannya dan menciuminya secara berkala. Dengan mata sesekali terpejam seakan menikmati setiap sentuhan tangannya yang beradu dengan bibirnya.


"Lakukan sesukamu Ki, aku ikhlas. Tampar aku! pukul bila perlu, aku rela asal itu bisa membuatmu lega dan memaafkan semuanya."


Yuki terdiam, ia hanyut dalam lembutnya sorot mata hitam Asher yang memandangnya penuh dengan tatapan... cinta.


"Yuki... I love you," Asher menatap lekat manik mata Yuki. Dia menarik Yuki kedalam pelukan lalu berbisik pelan

__ADS_1


"You are mine and only you, who I always love forever." I promise


"Promise?"


"Promise."


Lalu Asher mencium kening Yuki lama.... ia semakin mempererat pelukannya.


Mereka berdua tidur dengan hati kelegaan dan kedamaian.


***


Pagi harinya pukul satu dini hari Yuki terjaga dari tidurnya. Gadis itu perlahan mengendurkan pelukannya dan mengangkat tangan suaminya yang melingkar sempurna di perutnya.


"Mau kemana malam-malam begini sayang?" Asher ikut terbangun, ia heran melihat Yuki yang akan berjalan ke luar.


"Aku lapar mas, aku mau makan."


Asher terdiam sejenak, namun ia bangkit dari kamar dan mengikuti langkah Yuki.


"Mau makan apa? mau cari di luar?" tawarnya ragu.


"Yang ada saja di dapur, biasanya aku begitu." Jawab Yuki acuh dengan membuka kulkas dan meneliti isi yang ada di sana.


"Apa setiap malam anak kita rewel begini?" Yuki mengangguk yakin sebagai jawaban.


Yuki terdiam tangannya sibuk memecah telur ke dalam wadah, ia akan membuat nasi goreng saja dengan campuran sosis. Rupanya bunda cukup pengertian, ia yang sering memergoki Yuki kelaparan tengah malam menyiapkan berbagai stok di kulkasnya cukup lengkap.


Mulai dari berbagai macam buah, sayuran hijau dan ikan juga daging. Namun Yuki memilih yang praktis dengan memasak nasi goreng sosis dadar.


Asher masih tlaten mengamati istrinya yang tengah memainkan alat dapur di atas kompor. Sebenarnya ia juga lapar, karena semalam tidak sempat makan malam dan langsung menyusul Yuki ke kamarnya. Ia bahkan lupa makan karena saking bahagia nya.


"Kalau kamu ngantuk kembali ke kamar saja istirahat. Aku biasa menyiapkan sendiri." Ujar Yuki demi melihat Asher yang termangu diam.


"Aku mau disini, nemenin kamu."


Hanya cukup waktu tiga belas menit, Yuki sudah siap dengan sepiring nasi goreng yang tersimpan di atas meja. Aromanya cukup menggugah selera Asher yang sedang kelaparan.


"Kamu mau?" tawar Yuki, pasalnya pria itu terus... mengamatinya.


"Emang boleh?"


"Enggak! semalam nggak makan malam?" Asher menggeleng sebagai jawaban.


"Kenapa?"

__ADS_1


"Kamu ninggalin aku semalam di meja makan." Adu Asher.


"Ck," Yuki menatap horor pria tampan di depannya.


"Aku buatin lagi ini pedes."


"Itu saja, aku bisa makan apapun yang kamu buat."


"Bukannya kamu tidak suka pedes?" Seingat Yuki pria itu tidak begitu suka pedes.


"Dulu iya sekarang nggak, aku akan makan apa saja yang kamu masak untukku."


Yuki bangkit dari duduk, langkah nya gontai menuju rak piring.


"Mau kemana Ki?"


"Ambil piring, mau aku bagi dua."


"Satu piring aja Ki buat berdua," ujar Asher berharap.


Yuki mengangkat sebelas alisnya, ah! terlalu kebayang bahkan kita bukan pasangan romantis?


Grep


Asher menarik tangannya lalu menyuruh Yuki duduk.


"Sayang.... kita harus mulai terbiasa dengan hal dan perhatian sekecil ini." Yuki menurut ia diam saja ketika Asher mengintruksi untuk duduk dan mulai menyuapi makanan ke mulutnya.


"Kamu nggak makan, katanya lapar?"


"Nanti aja nungguin, kamu dulu biar kenyang."


"Ah nggak seru," Yuki merengut.


"Ih ngegemesin banget sih, bumil nya aku." Seloroh Asher menggoda.


TBC


Ayo beri semangat Author dengan Vote cerita in


Vote


Like


Comment

__ADS_1


Love you sejagat....


__ADS_2