
"Hai Ki... apa kabar? Lama ya nggak ketemu?" Amar mengulurkan tangannya tapi langsung di tepis Asher.
"Nggak usah basa-basi langsung ke intinya aja."
"Julid, orang baru ketemu ya pasti nyapa dulu. Emang elo yang langsung ketus gitu."
"Aku baik Amar," jawab Yuki datar.
"Syukurlah, aku ikut senang dengarnya. Kamu nggak nanya kabar aku ya... tapi kalau kamu mau tahu kabarku sih sebenernya kurang baik."
"Ken--?"
"Nggak usah nanya, jawab yang penting saja," sambung Asher sebal. Yuki mengelus lengan pria itu, berusaha meyakinkan dan jangan terlalu berlebihan.
"Duduk dulu dong Ki... sebenarnya aku tuh pinginnya ngobrol berdua aja." Amar melirik Asher yang dilirik melotot garang. "Ya sudah lah pawang kamu galak jadi aku ngomong di sini aja," pasrah Amar pada akhirnya.
"Tiga menit lagi." Asher mengingatkan.
"Haish.... menyebalkan?"
"Yuki... aku pamit, pastikan kamu selalu hidup bahagia di sini. Maaf untuk hari-hari yang telah lalu yang mungkin secara sengaja sempat menyakitimu. Maaf untuk hati yang tak pernah bisa berhenti mencintaimu."
Asher muntah udara mendengar kata-kata Amar yang sok puitis dan romantis itu. Telinganya mulai terasa panas, matanya tajam, sorot mata membunuh, seketika hawa dingin begitu mencekam di sekitaran.
"Maaf untuk hari-hari yang telah kita lewati, mungkin membuatmu sakit bahkan menyebabkan kesalahpahaman terhadap suamimu. Cintaku tak pernah salah karena wanita sesempurna dirimu memang layak di jadikan ratu di hatiku namun mungkin waktu yang tidak tepat mempertemukan kita berdua. Anggap saja begitu karena skenario Tuhan memang tidak ada yang tahu. Semoga kamu bahagia selalu.
Terimakasih sudah hadir mewarnai hidupku walaupun tidak sempat aku miliki. Aku senang, aku bahagia kalau kamu juga bahagia. Titip cinta dan rinduku yang tak perlu kau balas, cukup kamu doakan saja semoga aku bisa segera bertemu dengan orang yang tepat, seseorang yang dikirim Tuhan untukku di waktu yang tepat pula. Aku pamit ya... jangan lupa bahagia selalu, sehat, sampai jumpa di kemudian waktu di tempat dan tahun yang berbeda.
"Maaf untuk---"
"Waktu sudah habis?" Asher menyeru.
"Ish... merusak suasana saja calon besan. Lagi puitis nih gue, jadi ambyar kan kata-kata yang semalam sudah gue siapkan."
__ADS_1
"Kamu tuh terlalu banyak ngomong, mau pergi aja lebay, pamit Ki... apalah Ki... bikin aku eneg." Asher berbicara sambil memainkan mulutnya.
"Mas..." Yuki menggeleng, bukan maksud Yuki membela Amar tapi Yuki hanya merasa Amar adalah orang yang tulus.
"Kalian udah mau pisah aja masih kaya Tom and Jerry apa nggak bisa ya kalau akur saja."
"Nggak!"
"Nggak!"
"Semerdeka kalian ajalah..." acuh Yuki masa bodoh.
"Kalau boleh tahu kamu mau pergi kemana Amar?"
"Kamu mau aku hukum ya sayang di bilangin jangan nanya eh malah nanya?" bisik Asher pelan.
"Mas... ish... kamu ini?"
"Ke belahan bumi yang berbeda, tempat yang jauh. Tapi tenang walaupun kamu di sini dan aku di sana kita masih tetap bisa memandang bulan dan bintang yang sama." Amar tersenyum menatap Yuki kemudian melirik Asher sengit.
"Cie... calon besan perhatian," seloroh Amar yang di ikuti kekehan.
"Selamat berjuang menjadi manusia yang lebih kuat, semoga di segerakan bertemu dengan seseorang yang di kirim Tuhan sebagai pelengkap tulang rusukmu. Terima kasih sudah hadir menjadi teman dan sekaligus sahabat terbaikku, seseorang yang selalu ada di saat suka maupun duka you are my best friend forever semoga sukses selalu," ucap Yuki memberi semangat. Amar mengangguk mantap.
"Satu lagi aku tunggu undangannya," seloroh Yuki kemudian mereka ber-fish fight yang saat itu juga membuat Asher melongo tapi juga lega karena melihat mereka memang seperti sahabat yang tulus.
"Belajar yang rajin, belajar yang bener biar kalau ngomong sama yang lebih tua itu pakai filter," seloroh Asher yang langsung mendapat respon senyum dan anggukan dari Amar.
"Aku percaya kamu adalah orang yang dikirim Tuhan untuk menjaganya, pastikan kamu menjaga Yuki dengan baik dan selalu membuatnya bahagia. Kamu beruntung bisa memilikinya. Selamat tinggal calon besan walaupun kamu menyuruhku tidak pulang tapi suatu hari nanti aku akan mengetuk pintu rumahmu dan menagih janjimu untuk menjadikan Sky sebagai menantuku." Amar terkekeh sendiri.
"Calon besan sebenarnya apa sih bagusnya kamu, muka jelas gantengan aku, kaya sudah jelas aku juga kaya, pintar tentu saja IPK ku bahkan yang paling tinggi di antara teman seangkatanku, baik jangan diragukan lagi aku paling baik sedunia, tapi... satu yang masih membuat aku sampai sekarang tidak habis pikir sama Yuki kenapa bisa dia menjatuhkan pilihan terhadapmu bukan milih aku saja."
"Tuh kan mulai lagi nih mancing emosi orang, udah sana... berangkat berangkat aja nggak usah gaje, waalaikum salam..." ucapnya lalu sedikit mendekat mengulurkan tangannya. Amar tersenyum kemudian membalas uluran tangan Asher, detik berikutnya mereka saling berpelukan bukan layaknya rival.
__ADS_1
"Selamat jalan, semoga sukses S2 nya di tunggu kolaborasi bangun pusat pendidikannya." Asher dan Amar saling menepuk punggung mereka lalu mengurai pelukannya.
cekrek cekrec
Tanpa di duga ada yang mengabadikan moment langka tersebut di saat Tom and Jerry sedang berpelukan.
"Sebenarnya aku pingin peluk kamu Ki..." Amar melirik Asher yang di balas tatapan tajam. "Hehehe... tapi pawang kamu nanti ngamuk, jadi cukup dadah aja ya..." Amar melambaikan tangannya.
"Sky Mana aku mau cium dulu sama calon mantu." Yuki mengambil Sky dari gendongan pengasuhnya dan membawa ke depan untuk di pertemukan dengan Amar.
"Assalamu'alaikum sayang... Sky yang pinter, Om martua pamit ya... jadi anak pinter yang sayang sama Bunda dan Ayah." Amar mencium pipi gembul Sky dengan gemas lalu melambaikan tangannya.
"Assalamu'alaikum...." Amar melangkah keluar dengan senyum lega.
"Waalaikum salam...." jawab seisi rumah yang mendengar. Mereka mengantar sampai depan teras.
"Ayo sayang kita masuk," ajak Asher setelah mobil Amar pergi dan menghilang dari jangkauan matanya.
"Iya Mas." Yuki mengangguk dengan senyuman. Asher merangkul bahunya dan berjalan beriringan masuk ke rumah.
"Lanjutkan lagi sayang packingnya?"
"Udah selesai kok, tadi udah aku masukin semuanya terus aku rapihin juga yang mau aku tinggal."
"Terus kita ngapain?" tanya Asher.
"Terserah kamu mau ngapain aja Mas."
"We... terserah aku ya...?" Otak Asher langsung di penuhi lampu pijar buatan Thomas Alva Edison.
Yuki hendak berlalu namun langkahnya terhenti sebab Asher meraih tangannya.
"Apa Mas?" tanyanya dengan memiringkan kepalanya.
__ADS_1
"Dari pada nggak ada kegiatan... gimana kalau kita..." Asher menaik turunkan alisnya dengan senyum devil. Kode baru kalau pria itu lagi... *On.
Oh ya ampun... suamiku itu aktif sekali. Hiper, doyan, hobby... apalah kata yang tepat untuknya*.