
Ayunda berjalan keluar dari tempat kosnya, tempat kos yang Ia tempati berada di tepi jalan, bukan jalan raya melainkan jalan yang ada didalam komplek perumahan dan jalan itu juga bisa dilalui oleh kendaraan beroda empat. Karena tidak ada Siska maka dia berjalan sendirian. Ayunda berjalan lesu tak ada semangat sama sekali, padahal Ia adalah gadis periang dan sangat ramah.
Ketika Ayunda berjalan menuju halte bus keadaan di jalan yang Ia lalui tidak begitu ramai. Ayunda duduk di bangku halte menunggu bus langganannya datang, kerena Ayunda berangkat lebih awal akhirnya Ia menunggu kedatangan bus cukup lama. Ayunda duduk sambil memainkan hpnya, ada dua orang pemuda di samping kanannya, gerak gerik keduanya cukup mencurigakan bagi Ayunda namun Ia coba menepis perasaan itu. Berkali-kali Ayunda melirik ke arah pemuda tadi yang selalu memperhatikannya namun ketika Ayunda menoleh kedua pemuda tersebut lantas memalingkan wajah.
Ayunda menggeser posisi duduknya ke sebelah kiri dan dikala Ayunda sedikit lengah mereka melakukan aksi mereka.
Pemuda pertama merebut handphone milik Ayunda secara paksa dan pemuda kedua hendak mengambil tasnya namun Ayunda menarik tali tasnya dengan sangat kuat, Ayunda sangat menyukai tas selempang dan itu selalu mendukungnya dalam setiap hal.
Ayunda berteriak minta tolong lalu berdiri dan menginjak kaki pemuda kedua yang sedang berusaha merampas tas miliknya itu, sementara pemuda pertama memperhatikan keadaan sekitar.
"Aaaaaarrrggghhh......sial !!" pekik pemuda tersebut sambil menampar pipi kiri Ayunda.
"Aw....." teriak Ayunda kesakitan lalu secara spontan Ia menendang milik pemuda itu dengan lututnya. Karena kesakitan dan juga panik akhirnya kedua pemuda itu pergi meninggalkan Ayunda, sementara beberapa orang mulai berdatangan hendak menolong Ayunda.
Ayunda memegang pipinya yang terasa perih, beberapa bulir bening jatuh dari kelopak matanya. Ayunda itu memang mudah sekali menangis.
Ayunda kini sudah dikerumuni banyak orang," anda tidak apa-apa nona ?" ucap salah satu dari mereka.
__ADS_1
"Aku tidak apa-apa bu, hanya saja handphone ku berhasil mereka bawa". Ucap Ayunda sambil menggelengkan kepalanya.
"Untung kamu tidak apa-apa nak, kamu sangat hebat dan juga kuat ! kamu bisa menjaga diri kamu dengan baik". Ucap ibu tadi lagi, tangan kanannya mengelus lengan Ayunda dengan lembut.
"Terimakasih bu! aku hanya berusaha semampuku, karena banyak sekali kejahatan dan kejahatan itu tidak selalu terjadi karena ada niat, melainkan karena adanya sebuah kesempatan". Ucap Ayunda.
"Eh, itu busnya sudah datang! ayo semuanya kita naik!" ucap salah satu dari mereka.
Semua orang yang ada di halte tersebut lantas masuk ke dalam bus yang baru saja tiba. Ayunda duduk disamping ibu yang tadi berbicara padanya. Ayunda menampilkan senyum diwajahnya, terlihat sangat manis.
Ibu yang tadi pun balas tersenyum. Ayunda terus saja memegangi pipinya,' apes sekali aku beberapa hari ini', batin Ayunda.
"Aku mau pergi bekerja bu," jawab Ayunda sambil menoleh kearah ibu tadi, senyum manisnya tidak lepas dari wajahnya. Hal itu membuat ibu yang duduk disampingnya merasa sangat nyaman.
"Kamu bekerja dimana?" tanya ibu itu lagi.
"Aku kerja di kafe Sany bu," jawab Ayunda.
__ADS_1
"Wah, kalau begitu kita searah....aku bekerja di sebuah warung makan kecil tidak jauh dari kafe Sany, kalau ada waktu bolehlah mampir ke warung tempatku bekerja, nanti aku traktir makan", ucap ibu itu penuh semangat.
"Anda baik sekali bu, terimakasih, nanti kalau ada waktu akan aku coba", Ayunda pun tak kalah semangat.
Wanita disamping Ayunda menatap lekat wajah Ayunda, sedangkan Ayunda merasa canggung ditatap olehnya. Netra ibu itu berkaca-kaca, Ayunda bingung karenanya lantas bertanya," ibu...anda baik-baik saja bu?" tanya Ayunda sambil menggenggam tangan wanita disampingnya itu.
Wanita tersebut menutup matanya sambil mengambil nafas panjang kemudian menghembuskannya pelan. Wanita tersebut kemudian menceritakan kejadian yang menimpa putrinya dua tahun yang lalu, air mata ibu itu terus mengalir deras. Ayunda mengambil selembar tissue dari dalam tasnya dan memberikannya pada wanita tersebut. Wanita tersebut kehilangan nyawa putrinya pada saat putrinya hendak pergi bekerja karena sebuah kecelakaan, dan orang yang menabrak putrinya itu kabur dan tidak dapat ditemukan, sampai saat ini pun wanita tersebut belum mengetahui siapa pelaku tabrak lari yang telah merenggut nyawa putrinya itu, wanita tersebut pun pasrah dan berusaha untuk selalu bersabar.
"Putriku seperti dirimu, dia sangat pemberani, berhati-hatilah dalam bertindak nak, jangan sampai membahayakan dirimu sendiri!" ucap wanita tersebut sambil mengelus pipi kanan Ayunda. Ayunda lantas memeluk wanita tersebut dan mengelus punggungnya. Ayunda merasa sangat iba pada wanita tersebut, seorang ibu yang kehilangan putri satu-satunya karena sebuah tragedi tabrak lari,' sungguh kejam dan tak berperi kemanusiaan orang yang sangat tega meninggalkan korban yang Ia tabrak dalam keadaan tidak berdaya', batin Ayunda berucap.
"Eh, sudah sampai, aku turun dulu ya bu," Ayunda berdiri dan turun dari bus, sebelum turun Ayunda menoleh ke arah wanita tadi dan melempar senyuman sambil melambaikan tangannya pada wanita tersebut, wanita itupun melambaikan tangannya pula dan membalas senyum yang diberikan Ayunda.
Ayunda yang baru saja turun dari bus tidak langsung pergi tetapi dia memandangi bus yang mulai berjalan itu hingga berlalu. Setelah beberapa saat barulah Ayunda beranjak dari tempat itu.
Ayunda sudah terlambat 20 menit, karena bus langganannya ternyata tidak datang akhirnya Ia menunggu bus kedua dan parahnya lagi jalanan hari ini begitu ramai, akhirnya bus berjalan lambat karena ada kemacetan. Ayunda pun akhirnya pasrah dengan keadaan.
Ayunda berdiri didepan kafe, dia ragu apakah dia masih bisa masuk hari ini atau tidak. Karena menurut peraturan di kafe tempatnya bekerja jika terlambat lebih dari 15 menit maka karyawan tidak boleh masuk untuk bekerja.
__ADS_1
Ayunda berjalan menemui Leader dan menjelaskan kejadian yang menimpanya pagi tadi, alasannya bisa diterima karena ada bukti pipinya yang memerah, ujung bibir yang terluka, bibirnya sedikit pecah dan handphonenya juga tidak ada padanya dan saat nomornya berusaha dihubungi tetap saja tidak bisa. Ayunda sangat lega karena Ia masih bisa bekerja. Ayunda berterimakasih pada Leader kemudian pergi untuk segera melakukan tugasnya.
Ayunda dibanjiri pertanyaan oleh teman-temannya dan Ia menceritakan semuanya pada mereka. Kebersamaan Ayunda bersama teman kerjanya cukup membuat Ayunda melupakan rasa sepi karena kepergian Siska dan juga Arya. Ayunda bisa menjalani hari ini dengan sangat baik.