
Mobil Aldi memasuki halaman parkir. Untuk sejenak ia duduk termangu, memikirkan sesuatu. Setelah itu ia keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah. Aldi berjalan sambil celingukan mencari sosok kecil yang belum juga terlihat.
Sayup-sayup terdengar suara cekikikan anak kecil yang sedang tertawa. Aldi lantas menuju ke arah sumber suara itu. Di ruang santai, si lucu Chayra sedang bermain boneka bersama dengan Melly. Tanpa basa basi Aldi langsung menghampiri mereka dan menyambar boneka yang sedang dimainkan oleh Chayra.
Chayra kaget karena boneka yang ia mainkan tiba -tiba dirampas, mulutnya melongo dan tangannya melayang di udara.
"Om boleh ikut main, kan?" kata Aldi sambil memeluk boneka milik Chayra, seulas senyum terukir diwajahnya.
"Om Aldi!.......aaaaaaaa.....boleh, tapi jangan direbut begitu dong bonekanya." Bibir Chayra mengerucut.
Melly merasa ada yang aneh, karena tidak biasanya Aldi mendekati Chayra apalagi mengajaknya bermain.Namun ia tepis pikiran negatifnya.
Mereka bertiga,Aldi, Melly dan Chayra bermain bersama. Aldi yang biasanya cuek pada si lucu Chayra kini mendadak merubah sikapnya. Tentu semua itu Dia lakukan untuk mendekati Chayra karena janjinya pada Bella, ibu kandung Chayra, dan semua itu juga karena ada imbalannya. Siapa yang tidak akan tergiur dengan jumlah angka yang cukup fantastis. Bella yang sedari dulu ketika meninggalkan Chayra sama sekali tidak mau peduli padanya kini malah memohon untuk dipertemukan dengannya. Dan karena Dia adalah seorang model ternama di negara tetangga, belum lagi kekasihnya juga merupakan pemuda yang sangat kaya raya maka berapapun yang Aldi minta sudah pasti Bella dapat menyanggupinya.
Di tengah candaan antara Aldi, Melly dan juga si lucu Chayra, tiba-tiba Arya menghambur di tengah-tengah mereka bertiga. Mereka bertiga pun lantas kaget dan berhenti sejenak.
"Papa.......!!" Chayra yang menyadari ayahnya pulang langsung mendekat dan memeluk ayahnya itu.
Arya yang dalam posisi berjongkok hampir saja kehilangan keseimbangan karena gerakan Chayra sangat mendadak.
"Arghh..... putri papa sudah besar dan berat. Lihatlah! bahkan papa sampai tidak mampu menopang mu." Ucap Arya.
"Papa si bikin kaget saja, tiba-tiba sudah ada disini kayak hantu." Kata Chayra dengan bibir yang terus mengerucut. Itu terlihat sangat menggemaskan.
__ADS_1
"Tapi hantunya tampan begini ya tidak ada yang takut," ujar Arya dengan wajah memelas kemudian tersenyum lebar.
Sontak semuanya tertawa ria.
Arya pun tak henti-hentinya menciumi pipi kanan dan kiri Chayra secara bergantian. Hingga Chayra merasa kesal dibuatnya.
"Sudah dong pa.....nanti pipi Ayla habis.....," ucap Chayra dengan bibir manyun yang sangat menggemaskan.
"Tidak akan. Pipi Ayra kan tembem jadi tidak akan habis kalau cuma dicium papa." Ledek Arya.
"Papa......!!!" Chayra semakin kesal.
"Ok ok papa minta maaf!" Arya memegang kedua telinganya dengan kedua tangannya.
Mereka semua tertawa riang, layaknya keluarga yang sangat harmonis. Arya berfikir sejenak kenapa ada yang berbeda dengan Aldi, namun ia tidak mau menghancurkan masa-masa kebersamaan yang sangat ia dambakan seperti ini.
Arya berharap jika Aldi benar-benar telah merubah sikapnya yang semula acuh tak acuh pada Arya dan juga Chayra kini benar-benar bersikap hangat bukan dibuat -buat atau karena ada alasan tersembunyi dibaliknya.
"Maaf tuan Arya , sepertinya non Chayra sudah waktunya untuk tidur, ini bahkan sudah terlalu malam untuknya." Sela Melly.
"Oh iya.... sayangku, cintaku tidur dulu ya,sudah malam, biar besok tidak kesiangan bangunnya." Sahut Arya.
"Iya pa! Ayla tidul (tidur) dulu ya pa, om Aldi," Chayra memeluk Ayahnya kemudian memeluk omnya juga.
__ADS_1
Melly dan Chayra berlalu, tinggallah kedua kakak beradik yang berbeda ibu itu. Mereka berdua saling terdiam sejenak, sama-sama berada dalam pikiran mereka masing-masing.
Setelah beberapa saat akhirnya Arya membuka suara.
"Terimakasih untuk yang tadi, kamu telah bersikap hangat pada putriku." Arya menoleh ke arah Aldi, mereka berdua duduk berjejer.
"Santai saja brow." Ucap Aldi.
"Aku senang dengan sikap kamu yang seperti ini." Tambah Arya.
Aldi hanya tersenyum menanggapinya.
"Aku sudah baca data-data yang kamu kirimkan tadi sore. Aku bangga padamu! omset kita naik 10% bulan ini, lumayan kamu ada kemajuan. Terus tingkatkan kinerja baik kamu dan buktikan pada ayah bahwa kamu mampu." Arya menepuk pelan pundak Aldi.
Aldi sedikit tersentuh.
"Aku ke kamar dulu," ucapnya lalu berdiri dan beranjak dari tempat itu.
Kemudian disusul oleh Arya yang juga masuk ke kamarnya.
Ruang tengah yang tadinya ramai kini menjadi hening.
Para penghuni rumah tersebut tengah beristirahat untuk meluruskan otot-otot yang tegang karena telah bekerja seharian.
__ADS_1