Sang Pendekar Wanita

Sang Pendekar Wanita
Part 26


__ADS_3

Part 26


🍀🍀🍀🍀🍀🍀


tok tok tok


"Assalamualaikum."


Khaulah dan ibrahim telah sampai di depan pintu ndalem milik temannya yaitu bunyai fatimah dan yai hannan. Khaulah berdiri dengan menenteng tas yang berisikan oleh oleh makanan khas malang.


Ceklekk


Terbukalah pintu ndalem dan muncul seorang mbak ndalem yang biasanya bantu bantu di ndalem.


"Waalaikum salam" jawab mbak ndalem dengan menyalimi tangan khaulah dan menunduk dengan menyatukan tangan ke arah ibrahim bermaksud khurmat ta'dzimnya. "Ngapunten ibu kale bapak sinten nggeh niki, nopo badhe sowan ten ndalem buya? " (Maaf ibu dan bapak ini siapa ya,apa mau bertamu di rumah buya? ) tanya mbak ndalem memastikan.


"Enggeh mbak, ning fatimah e di ndalem kan? kami ini orang tua nya irah, namirah khilwah. " jawab khaulah.


"Oh enggeh enggeh monggo mlebet ing ndalem riyen, ummah wongten ing wingking nyemak mbak mbak hafidhoh, njenengan istirahat ten mriki kulo aturke ten ummah. " ucap mbak ndalem dengan ramah mempersilahkan beristirahat di ruang tamu dan masuk memanggilkan ning fatimah.


(Oh iya iya silahkan masuk di dalam dulu, ummah sedang berada di belakang sedang menyemak mbak mbak hafidzoh yang sedang menyetorkan hafalannnya. ibu dan bapak istrihat dulu di sini mau saya bilangkan ke ummah.)


Mbak ndalem mendekati ummah fatimah yang sedang menyemak hafalan mbak mbak hafidzoh dengan berjalan memakai lutut, itu semua sebagai bentuk rasa ta'dzim seorang santri terhadap bunyai nya. "Ngapunten ummah ten inggil wonten tamu, Sanjange orang tua dari irah. " ucap mbak ndalem dengan sopan (maaf ummah di depan sedang ada tamu, katanya sih orang tuanya irah)


"Oh nggeh mbak, bilangin sama umi e irah suruh nunggu sebentar, iki mbak e yang mau setor kebetulan tinggak iki tok." ucap ummah


"Alhamdulillah akhire mbak khaulah sama kang ibrohim wis teko(sudah datang) aku ndak tega lihat irah saat iki" gumam ummah saat melihat mbak ndalem yang sudah pergi meninggalkannya.


"Anu sanjange ummah fatimah, ibu dan bapak di suruh nunggu sekedap (sebentar) soale masih kirang satu mbak lagi yang harus di semak. Niki monggo di unjuk (di minum). " ucap mbak ndalem dengan menyuguhkan minuman pada khaulah dan ibrahim.

__ADS_1


"Enggeh mbak matur suwun mboten usah repot repot. " ucap khaulah.


"Kulo tinggal sekedap kesah wingking nggeh buk pak." ucap mbak ndalem berpamitan mau ke belakang meneruskan pekerjaannya.


"Oh enggeh enggeh disekecaaken (Silahkan). " ucap mereka berdua.


Kini Fatimah dan ibrahim memilih meleyehkan badannya karna perjalan yang cukup jauh membuat punggung mereka merasa sangat pegel.


Dengan rasa cemas khaulah menunggu ning fatimah yang sedang menyemak, dia sangat menghawatirkan keadaan putri yang sangat ia sayangi itu.


"Ya Allah mbak khaulah kang ibrahim, maaf yo harus nunggu lama. Tadi sekalian neruske mbak e kurang satu." ucap ning fatimah yang tiba tiba datang dari dalam dan memeluk khaulah.


"Pripun (gimana) ning kabar e irah, kuatir aku ning sehabis dapet telpon dari njenengan semalam, ndak bisa tidur aku kepikiran irah. "


Tanya khaulah to the point.


"Assalamualaikum.... " tiba tiba datang gus salman dan buya hannan dari luar.


Buya Hannan kaget ternyata ada tamu yaitu teman lamanya sendiri. Buya menyalami kang Ibrahim dan ikut nimbrung duduk disampingnya kang ibrahim, sedang Gus Salman setelah menyalami kang Ibrahim memilih untuk izin pergi kekamar untuk membersihkan dirinya karna terasa sangat lengket habis perjalan jauh dan beraktifitas sejak pagi.


"Piye kang, saaken (kasihan) anakku sing wadon iki lagi ndak enak badan! " ucap buya hannan pada kang ibrahim.


"Enggeh gus, nanti kalau kelihatane memang ndak memungkinkan nggeh minta izin tak bawah e pulang dulu, biar umi e yang merawat dirumah, lagian nggeh kasihan kalau harus terus menerus merepotkan temannya dan juga gus Hannan sama ning Fatimah hehehe. " jawab kang Ibrahim dengan candaan dan juga khawatir.


"Wis ayo mbak kita ke kamar Irah sekarang! "


Ning Fatimah mengajak Khaulah pergi ke kamar pondok melihat keadaan Irah yang sebenarnya. "Nggeh ning ayo. " Dengan cepat Khaulah mengikuti langkah kaki ning Fatimah.


Kini Khaulah dan ning Fatimah telah sampai pintu kamar tempat irah berada, dengan cepat Khaulah memasuki kamar tanpa mengucapkan salam hingga membuat Nela yang berada di dalam terkaget dengan kehadiran Umi Irah. Dengan kaget Nela langsung menggapai tangan Khaulah untuk menyaliminya.

__ADS_1


"Gimana nduk keadaan Irah? apa masih panas? apa dia sudah minum obanya? " rentetan pertanyaan Khaulah yang ia lontarkan kepada Nela karna sangat cemas melihat Irah yang tertidur lemas tanpa beralaskan kasur tetapi hanyalah gelaran karpet tipis, hingga membuat khaulah semakin prihatin walaupun sebenarnya dia juga sdah faham akan kehidupan di pesantren itu seperti apa. Tapi untuk seorang putrinya ini adalah kehidupan yang baru, kehidupan yang sangat berbeda dengan saat Irah masih dirumah.


Baru saja Nela mau menjawab dari rentetan pertanyaan yang di lontarkan oleh Umi Irah, eh tanpa menunggu jawabannya, Khaulah dengan cepat sudah memeluk Irah hingga membuanya terbangun dari tidurnya.


"Ummiii!! " Ucap Irah dengan suara yang sangat lemas


"Nduk badan kamu kok masih panas banget loh iki," ucap Khaulah dengan menyentuh kening dan sekujur tubuh Irah, lalu dengan cepat Khaulah menoleh kepada ning Fatimah yang saat ini duduk di sebelahnya. "Ning kulo izin mbeto (mau bawah) Irah pulang dulu nggeh, ini kok panase ndak turun turun padahal kan sudah berobat, takute nanti makin parah kalau harus tetap tinggal disini. "


Khaulah menjelaskan dengan wajah memohon pada ning Fatimah, berharap beliau mau memberikan perizinannya untuk putrinya di bawah pulang.


"Iyo mbak, niatku juga gitu. Sebenere dari semalem sudah mau tak anterke pulang tapi anak nya tetap kekeh minta tinggal di pondok. " jelas ning Fatimah.


"Mbak tolong panggilkan abi e Irah nggeh ten ndalem suruh kesini sekarang, soale Irah mau tak bawahe pulang dulu. " ucap Khaulah meminta tolong pada Nela untuk di panggilkan kang Ibrohim guna mengangkat tubuh Irah yang lemah ini.


"Iyo mbak suruh kesini sekarang tadi sama Buya. " Tambah ning Fatimah meyakinkan.


Dengan segera Nela berlari menuju ndalem melewati dapur. Ia menelusuri semua sudut ndalem untuk mencari keberadaan abi Irah dan juga Buya hingga kini Nela telah sampai di ruang tamu, Nela melihat keberadaan beliau berdua dengan segera Nela mendekat dengan berjalan berlutut sebagai tanda khurmat ta'dhimnya.


"Ngapunten buya kale abi di panggil umi dan ummah di kengken mriko (disuruh kesana) , soale Irah mau di bawah pulang dulu. " Ucap Nela dengan cemas dan tetap menunduk.


"Ya Allah nduk,, yowis yowis ayo gus kita segera kesana sekarang. " Ucap kang Ibrahim dengan khawatir mengajak gus hannan dengan cepat bergegas menuju keberadaan Irah putrinya.


Dari kejauhan terlihat seseorang yang menguping ucapan Nela, iya itu adalah gus Salman,, "Ya Allah kok dia makin memprihtinkan gini keadaanya, Irah sesakit itukah kamu saat ini" gumam Gus Salman dalam hati, Dengan diam gus Salman ikut mendekati Irah dari kejauhan. ia melihat keadaan irah yang memang sangat memprihatinkan. "Irah... Aku mohon kamu harus cepet sembuh, Ya Allah tolong angkat penyakit Irah. " gumam Gus Salman saat melihat Irah yang tengah di bopong oleh Abinya untuk di bawah ke mobil. Terlihat badan Irah sangat lemas dan pucat.


Gimana keadaan Irah selanjutnya dan Gimana sikap bersalahnya gus Salman setelahnya terhadap irah??


Terus kasih kami semangat ya dengan kasih like komen vote dan rate limaa nya ya,, juga jangan lupa kasih kritik pedanya untuk lebih memperbaiki tulisan ini


terimah kasih

__ADS_1


__ADS_2