Sang Pendekar Wanita

Sang Pendekar Wanita
part 5


__ADS_3

Part 5


Pov irah,,


Kini mobil pun segera sampai di pesantren yg abi umi pilihkan untukku saat ini, pandanganku slalu tertuju pada jendela mobil menembus pemandangan asri pohon pohon di pinggir jalan, tanpa terasa bulir bulir air mataku menetes dengan teraturnya.


Tanpa tersadar ternyata abi melihatku dari kaca spionnya, abi terus menerus menenangkanku tapi kenapa air mataku slalu ingin keluar dan susah untuk ku tahan, kali ini aku sedih karna harus berpisah dengan abi umi, dan harus tinggal di pesantren jauh dari mereka. Karna aku sudah banyak bersalah pada mereka, kali ini aku ga mau mengecewakan mereka lagi, aku harus bisa mereka bangga, akan kupendam rasa sedih yang amat sangat ini sendiri. Hiks hiks hiks..


Mobil semakin dekat dengan pesantren tapi aku enggan menatap abi umi, takut.. Takut air mata ini menetes semakin deras. Aku berusaha menahannya kupejamkan mataku dan berusaha untuk tersenyum, tanpa terasa air mata sudah bisa tertahan dan aku berusaha memandang abi umi dengan terus tersenyum, senyum yang terasa sesak di dalam dada.


Kini mobil sudah memasuki area pesantren, aku abi dan umi sudah turun dari mobil berjalan menuju ndalem pemangku pondok tersebut untuk sowan.


Ndalem adalah sebutan rumah bagi seorang kiai, setiap santri yang hendak masuk ataupun pulang pesantren slalu ada budaya sowan ndalem, sowan adalah bertamu ke ndalem untuk sekedar bersilaturrohmi ataupun memintah nasehat dan pendapat dengan kiai maupun dhuriyyah" beliau.


Kata santri kalau belum sowan dan bertemu langsung dengan kiai, santri itu belum afdhol hehehe saking pentingnya, kalau kita sudah mendapat izin dan ridhonya pak yai Insyaallah perjalan kedepannya kita lebih mudah menyerap ilmu ilmu beliau.


-


Saat ini irah umi dan abi sudah berada di depan pintu ndalem.


"Assalamualaikum " tangan abi sambil mengetuk pintu ndalem.


Terdengar ada jawaban salam dari dalam, tapi belum ada yang membuka pintu, mungkin mbak ndalem pada lagi ngaji karna tadi terdengar di mushollah utama ada suara pengajian kitab entah kitab apa itu, sambil menunggu pintu terbuka, diam diam irah pura pura melihat melihat berbagai macam bungah dengan membelakangi abi umi nya, dengan kesempatan itu irah mencoba menghapus buliran air mata yg tak tertahan lagi, takut terlihat abi dan umi.


Saat irah mencoba menenangkan pikiran, pintu ndalem terbuka


Terlihat seorang perempuan paruh baya yang masih sangat cantik dan anggun dari balik pintu.

__ADS_1


"MasyaAllah mbak khaula" Suara lantang bunyai.


Bunyai adalah sebutan dari istri seorang kiai, beliau adalah bunyai fatimah istri dari kiai hannan pemangku pesantren ini.


Sambil tersenyum umi menjawab nya


"inggeh ning fatimah hehe"


Mereka berdua langsung berpelukan melepaskan rasa rindunya, umi dan bunyai adalah sahabat sepondok sejak masih di bangku SMA sampai lulus kuliah. Karna setelah sama sama menikah mereka sudah tidak pernah bertemu lagi.


"Monggo, mari masuk mbak la"


"inggeh ning" jawab umi sambil tersenyum


Kini kami duduk di ruang tamu ndalem, ruangan yang sangat menyejukkan mata dengan tatanan yang dominan berbagai ukiran kayu jati, terlihat sangat megah bak istana. Terpasang berbagai foto dan lukisan kemungkinan adalah foto keluarga besar kiai jaman dan berbagai kaligrafi, banyak juga bungah plastik dan dedaunan yang bergantungan semakin mempercantik pemandangan.


"Ya Allah mbk, tak nyongko aku kedatangan tamu agung"titah bunyai


"ono opo to mbak kok tumben"


"inilo ning, kulo badhe nitipke putriku nak pondok ampean, "


"masyaAllah yo malah seneng aku, silaturrahmi e aku karo smpean yo makin lancar yo mbak"


"wah wayu tenan to anak smpyn mbak, sopo asmane" lanjut bunyai lagi.


Irah hanya tersenyum malu

__ADS_1


"Walah ning iso wae sampean iki,, Asmane irah ning. Samira Musa"


" yo pancen Nyatane wayu koyok bibite"


Semua hanya tergelak tawa mendengar jawaban bunyai.


"Yai hannan ten pundi ning, kok mboten ketingal" tanya umi.


Ketingal adalah terlihat.


"Oh iyo sek ngajar, mariki yo wis mari kok ngajie"


Terlihat mbak mbak datang,


"mbak e buatno minum Nggeh damel tamuku"


"inggeh mi" ucap mbak ndalem.


Tanpa lama kiai hannan pun datang


"assalamualaikum "


"Waalaikum salam" jawab semua sontak menoleh kearah yai hannan.


Yai hannan yang terhenyak tak percaya ternyata yang datang adalah hasyim teman lamanya sewaktu kuliah di alam ahmaf mesir.


"loh.. Masyaallah kang Hasyim,"

__ADS_1


Dan tak kalah terkejutnya abi irah. Ia tak menyangka ternyata pemangku pondok ini adalah sahabat karibnya.


"loh gus hannan, bener ini ampean? Gak nyongko aku gus, ternyata smpean putra kiai besar, dulu sampean slalu menutupi identitas, mangkane aku orah ngerti, masyaallah " jawab hasyim terkagum kagum


__ADS_2