
Grung-grung suara Ninja Austin langsung senyap ketika gadis berseragam SMA yang mengaku bernama Cindy itu, menyetopnya di depan gerbang menjulang sebuah rumah.
"Ini rumah lu?" tanya Austin dengan suara seperti orang dibekap, karena terhalang helm yang ia kenakan.
"Iya," jawab Cindy. Menurunkan lambat satu demi satu kaki ke paving block yang menjadi alas pijaknya, gadis itu nampak ragu juga takut.
Austin membuka helm yang lalu ia letakkan di badan atas dekat kepala motor. Rambut pirang sedikit gondrong itu nampak semrawut tak dirapikannya.
Jarum jam di pergelangan tangan Cindy menanjak angka 01.23. Sudah sangat larut, bahkan menjelang pagi. Dan jalanan juga telah sepenuhnya sepi, selain satpam yang tadi berjaga di pos paling depan perumahan elite itu.
Melihat gemingnya Cindy, Austin mengambil kebijakannya sendiri. Tanpa menunggu pendapat gadis itu, ditekannya bell yang menonjol di kiri atas tembok yang mengapit gerbang.
"Eh! Ngapa lu teken bell-nya, Kak?!" seru Cindy. Tak berhasil meraih tubuh Austin yang lebih cepat dengan pergerakannya.
"Emang lu mau molor di bak sampah?" sarkas Austin. "Atau mau gantung diri di puncak gerbang rumah lu?!"
Cindy mendengus. Memajukan bibir bawahnya yang lalu digunakan untuk meniup poni lurus yang berjajar di seluruh kening. Mata bulatnya mencuat ke atas.
"Cindy! Itu kamu?!"
Panggilan terdengar cukup keras dari dalam rumah. Pintu terbuka dan menampilkan siluet seorang pria dengan kimono hitam yang kini mulai berjalan ke arah Austin dan juga Cindy.
"Mampus gue! Itu abang gue, Kak!" Seolah ia jadikan tameng, Cindy menyusupkan diri di balik punggung Austin--bersembunyi.
"Ngapain ngumpet lu?!" Austin menggoyang-goyangkan badannya bergeliat-geliut dengan kepala menyamping--mengusik Cindy.
Cindy sendiri kukuh berdiam di punggung kekar Austin dengan mencengkram jaket yang dikenakan pria itu, dari belakang tentu saja. Dan di sanalah ketakutannya berganti rona konyol yang memblo'onkan. Ia mendapat sesuatu yang manis di posisinya. "Gila! Wangi banget," gumam Cindy pelan sekali. Disesapnya dalam-dalam aroma parfum Austin melalui punggung tegap yang disenderinya itu.
Malah mesem-mesem gak jelas anak itu.
__ADS_1
"Eh, ngapain lu?!" hardik Austin ketika telapak tangan Cindy semakin rekat mencengkram sweater-nya.
"Cindy!" Di saat bersamaan, sosok itu telah berdiri tepat di balik gerbang setelah mengumpat kesal pada seorang satpam yang terlelap di dalam pos.
Dilihat dari gesturnya kini, ia masih nampak menelisik--tak terlihat akan membuka gerbangnya sama sekali.
"Iya, ini adek lu, nih! Ngumpet di belakang punggung gua!" Austin menyergah jawaban untuk Cindy, meskipun jarak pandangnya belum begitu jelas menangkap orang itu.
Cindy kelabakan, setelah Austin menggamit bagian belakang kerah bajunya, persis menangkap seekor kucing dan menggeser gadis itu ke posisi di sampingnya.
"Adadadada, buset! Baju gue!" Cindy meronta kesal.
"Kamu!" Pria di balik gerbang menggeram menatap Cindy. Cahaya kekuningan dari lampu bulat yang berdiri di pinggir jalan di belakang Austin, tak cukup jelas untuk saling menangkap wajah masing-masing, selain Cindy dan abangnya yang memang jelas saling memahami postur tubuh juga suara satu sama lain.
"Abang ...." Cindy mulai ketar-ketir.
"Wahono! Buka kunci gerbangnya!" Pria itu berteriak pada satpamnya yang gemar tidur di jam-jam krusial.
Pria berkimono itu mulai melangkah keluar menghampiri adiknya. Terdengar napas memburu karena jengkel.
"Dari mana ka--" Belum sempat kalimatnya ia tuntaskan, pandangannya telah membeku menatap Austin yang kini duduk di atas motor. "Be-Bennedict," gumamnya terperanjat.
Dan Austin .... "Ternyata elu abangnya ni anak terong.” Dia cukup terkejut sebenarnya, tapi berhasil mengatur sikap. Cepat kembali memasang ekspresi ringan sesaat kemudian. Ia sudah bangkit dari posisi, bersidekap tangan seraya melangkah mendekat ke arah kakak beradik yang berdiri beberapa jarak di depan sana. "Akhirnya kita ketemu lagi ... Bastian Sigi.” Austin memasang senyuman manis yang berisi makna kecut--aslinya.
Urat-urat di wajah Bastian Sigi--atau lebih singkat panggil saja dia Sigi, tiba-tiba saja menegang. Pria ini adalah rival paling setan Austin ketika masih sama-sama bergelut di lintasan balap beberapa bulan silam.
"Ngapain lu sama adek gua?!" tanya Sigi mencoba fokus saja pada teori malam ini. Menggeser seteru dinginnya dengan pria itu di waktu yang lalu.
"Gua ...?" Austin terkekeh seraya membuang wajah. "Sayangnya banyak hal yang udah gua laluin sama adek lu malem ini!" kelakarnya kembali menatap Sigi. Wajah santai terpampang tanpa dosa.
__ADS_1
"Apa maksud lu?!" Sigi mulai terpancing. Nadanya cukup tinggi untuk ukuran melawan kekonyolan Austin. Lalu mengalihkan pandangnya pada Cindy yang menggeleng-geleng menatapnya dengan wajah seperti orang susah B.A.B.
"Nggak, Bang! Aku nggak ....”
"Nggak salah lagi 'kan, Cindy?" Austin menyerobot. Lalu dengan santainya merangkulkan lengan di pundak gadis itu beriring senyuman sinting. "Kita abis seneng-seneng tadi. Mobil lu aja ada di tempat gua 'kan sekarang?!"
Lalu Sigi ....
"Jangan sentuh-sentuh adek gua!" Sekali tarikan, tubuh Austin langsung terhuyung ke samping. "Kalo lu macem-macem sama adek gua ... mati lu!" Sigi jelas sedang mengancam.
Deru napasnya terdengar kasar, juga kilat tajam mata yang memancarkan kebencian yang tak sembarang.
Dengan gerak slow motion, Austin kembali menegakkan tubuh. Seringai setan masih nampak membasuh wajahnya yang tegas. Dua langkah Austin maju mendekat ke arah Sigi, mengambil posisi berdiri tepat di hadapan pria itu.
"Lu pikir gua gak tahu? Kalo lu yang udah oprek motor balap gua, ampe gua oleng di lintasan, trus kecelakaan, dan berakhir gua amnesia gegara pala gua niban aspal sekeras-kerasnya?"
Selain Sigi, Cindy juga turut membelalakan mata mendengar ungkapan yang baru saja dilontarkan Austin.
"Jadi ... dia ini ... Austin Bennedict, si pembalap keren itu?" tanya hatinya tak percaya, "Pantesan aja gantengnya sama, padahal mereka emang orang yang sama." Mulutnya sudah pasti menganga lebar, mungkin mampu menampung ratusan lalat di dalamnya--mungkin ya.
"Apa maksud lu?" tanya Sigi, entah itu raut ingin tahu, atau merasa terancam.
Austin tersenyum kecut. "Kadang gua ngerasa gua ini terlalu baek biarin lu keliaran bebas," katanya. "Gara-gara lu, gua harus nunggu setaun, buat bisa balapan lagi! Harusnya gua bikin lu ngerasain apa yang gua rasain!" Nada bicara Austin sangat pelan, namun cukup menekan. "Atau lebih ringannya ...." Kepalanya ia majukan ke dekat telinga Sigi, lalu berbisik, "Gua obrak-abrik adek manis lu ini, ampe mencar kek telor orak-arik."
Sepasang mata Sigi membulat seketika. Deru jantungnya memacu cepat. Ia bahkan masih tak bergerak ketika Austin berbalik badan, memakai helm-nya, lalu pergi menunggangi ninja-nya dengan pautan gas memekakkan telinga.
Saat itulah Sigi mengerjap.
Kalimat terakhir yang dipaparkan Austin, seperti suntikan sebesar linggis yang dalam sekejap membuat tubuhnya mati terpental.
__ADS_1
Kini tatapannya ia alihkan pada Cindy yang masih menunduk, tak ingin mengangkat wajah. Lantas dicengkramnya kedua bahu gadis tomboy adiknya itu penuh emosi. "Kamu ngapain aja sama Bennedict, huh?! Kenapa kamu bisa sama dia?!" Ia meradang ketakutan. "Jawab Abang, Cindy!"