
"Bangsaaattt!"
Tidak ada lagi kata yang pas untuk mewakili kemarahannya saat ini. Pilar tinggi di luar hotel berulang kali dihantam kepalan tangan Austin. Urat-urat di wajahnya seperti rentangan kabel-kabel PLN di atas atap padatnya rumah-rumah penduduk Kota Jakarta.
Mengakurkan ucapan laki-laki cerminnya di line telepon dengan data dari petugas resepsionis di hotel tersebut, membuat amarah Austin meluap hingga serasa tak ada wadah untuk menampung.
Jelas!
Akar masalah yang terjadi pada Jasmine ... kini terjawab sudah secara vivid.
Andrew Bennedict ... kakak kembarnya sendiri, dialah biang kerok dari semua titik prahara.
Beruntung Jasmine masih bisa terselamatkan dari jurang bunuh dirinya di kamar mandi. Kalau tidak, mungkin Andrew jua harus mendapat ganjaran yang serupa--mati!
Lalu apa balasan yang pantas untuk ketololan Andrew selain mati?
Austin akan pikirkan itu nanti.
****
Satu minggu kemudian ....
Setelah puas menahan amarah di selaksa lemah hatinya, Austin akhirnya menginjakkan kembali sepasang kaki di Indonesia. Sebelum itu, ia sempat menunaikan ucapannya terhadap Jasmine, membawa wanita itu jalan-jalan keliling London di sebisa waktunya. Walaupun dalam keadaan hati berbelit melebihi benang kusut yang jelas terlalu sulit untuk diurai, ia tak menunjukkan di depan wanita itu.
Sebuah taksi baru saja ia masuki saat ini. Kalimat singkatnya menekankan sang supir untuk melaju melebihi kecepatan rata-rata.
Perasaannya terlampau runyam untuk bisa dijabarkan membentuk hamparan ketenangan.
Austin dalam mode kacau.
Satu jam memakan waktu setidaknya. Pemandangan macet Jakarta lagi-lagi menyembah seolah mengolok di tengah pertikaian batinnya yang memanas terhubung Jasmine dan juga Andrew. Dan semakin bergolak ketika wajah kembarannya itu mulai tertangkap sepasang mata Austin di sudut sofa ruang tengah rumahnya.
Ia baru saja sampai.
"Ozt, kamu udah pulang?!" Andrew bertanya girang seraya mengangkat tubuhnya dari kursi bersama Lily dalam gendongan. "Lil, Daddy pulang," katanya pada bocah balita itu. Ia tak bersikap aneh dan membuat semua seperti biasa, walau sebenarnya dari sejak kepergian Austin ke London, tak ada ketenangan yang Andrew dapat.
Kebalikan dari girangnya raut wajah Andrew, Austin memasang tatapan murka yang seolah akan melahap apa pun di sekitarnya.
"Nim!!" teriak pria itu memanggil Nimas.
__ADS_1
“Iya, Boss!" Nimas menyahut di kejauhan.
"Bawa Lily ke kamarnya!"
Kali ini Andrew mulai menyadari, ada yang tak beres dengan adiknya. Sepasang alisnya berkerut saling bertemu menatap Austin. Dia meyakini sesuatu yang besar akan terjadi sebentar lagi.
Dan Nimas ....
Ia tergopoh melanting cepat dari arah dapur. Tanpa memberikan sapaan selamat datang dan sejenisnya, gadis itu mengambil Lily dari tangan Andrew. Ia jelas hafal tipe tatapan itu. Tatapan Bosnya ketika perasaannya tak sedang bersahabat. Tapi bedanya, kali ini lebih terlihat matang dan atmosfer yang terasa lebih dari sekedar mengerikan. Dengan gegas tanpa kata, dibawanya Lily menuju kamar.
"Lu, ikut gua!" pinta Austin dengan nada menekan dan kejam, setelah sempurna pintu kamar Lily ditutup Nimas dari dalam.
"Akan jelas setelah ini," pikir Andrew. Walaupun cukup perasaannya dibuat keruh, tetap ia mengikuti Austin yang sudah mulai menuruni tangga tanpa bertanya apa pun tentang apa yang akan dibicarakan atau mungkin dilakukan adiknya tersebut terhadapnya.
....
"Anjiiiingggg!!"
BUGG!
"OZT!" Andrew berteriak menghardik. Ia mengerang seraya memegangi wajahnya yang lebih dari nyeri akibat pukulan mentah adiknya. Jelas belum paham situasi yang dihadapi.
Pukulan kedua Austin membuat tubuh kembarannya itu secara spontan membentur dinding.
Andrew tak sempat melawan, gerakan Austin seperti sudah terencana dan penuh persiapan. Sedang dirinya ... ini bahkan terlalu mengejutkan, hingga tak ada celah walau untuk sekedar mengepalkan tangan.
Terlihat seperti merahnya pria neraka di film ilmiah yang pernah ditontonnya, kekacauan Austin membuatnya seperti orang gila.
"Mati lu! Mati lu! Matiii, Bangsaaat!!" Austin kesetanan. Kepalan tangannya terus menghantam bagian-bagian tubuh Andrew yang mulai terlihat ringkih.
"Leeee!!" Di pukulan ke sekian, Tara datang dengan--antara cemas dan terkejut. Berusaha menahan Austin setelah mendengar teriakan tak lazim dari arah belakang bangunan yang kini dijejakinya. Ditarik dan diseretnya lengan Austin sekuat tenaga, agar menjauh dari jangkau pukulnya atas Andrew.
"Gak usah ikut campur lu, Tar!" Austin balas menghardik keras. Terus menggeliut melepaskan diri dari cekal dan tarikan Tara. "Gua mau bunuh manusia jahannam itu!"
"Eling lu! Dateng-dateng maen bogeman aja!" Dihempaskan Tara kasar tubuh Austin ke tanah yang dihampari suburnya rumput-rumput Jepang. "Kesurupan apa lu di jalan?!" lanjutnya seraya terengah-engah, lalu berkacak pinggang. Diliriknya Andrew yang nampak naas di posisi meringkuk di bawah pohon jambu merah yang berdiri di ujung pagar pembatas.
"Apa ini karena Jasmine?" Andrew menerka tiba-tiba tanpa menoleh dengan suara parau. Tubuh kebasnya akibat pukulan Austin di angkatnya untuk berdiri.
Austin melengak dan memelototkan matanya menatap Andrew. "Lu udah tau, hh?!"
__ADS_1
Ringisan kental diperlihatkan Andrew seraya memegangi perutnya dengan satu tangan, dan tangan lainnya menyentuh wajah. Tubuhnya sedikit membungkuk menahan sakit.
Sejenak diraupnya udara, untuk setidaknya menetralkan rasa yang mungkin telah dipersiapkannya sebelum ini.
Ya, Andrew sudah memperkirakan, masa ini pasti akan terjadi. Mengingat pertanyaan Austin melalui sambungan teleponnya perihal di hotel mana ia menginap selama berada di London, juga berita bunuh diri Jasmine yang terjadi tepat sore hari selepas aksi melarikan dirinya ke Indonesia untuk memastikan kejanggalan atas wanita itu. Semuanya sudah jelas terhubung.
"Iya! Aku orangnya, Ost!"
DEG!
Walaupun kenyataan itu sudah diketahuinya, tapi mendengar pengakuan langsung dari mulut Andrew, seperti tombak dengan ujung runcingnya yang baru saja diasah menembus telak di titik pusat jantung hatinya, sakit!
"Bangsaaaattt!!"
"Leee!" Tara lagi-lagi menahan keras. Ditariknya sekuat tenaga tubuh Austin yang hendak maju kembali menghajar kembarannya. "Biarpun gua kagak ngarti apa yang kalian repotin, tapi seenggaknya bisa 'kan kalian bicara adem-adem?! Malu kalo sampe didenger orang! Apalagi di depan, bengkel sama kafe lagi rame! Kalian tega rusak moment mereka!"
Dengan kasar Austin menarik diri dari cekalan Tara, lalu beralih memukuli dinding pagar di belakang posisinya tadi. “Bangsat!”
"Tiga hari lagi ...." Andrew berceletuk tiba-tiba. Menggantung kalimatnya sejenak. Terlihat jakun di lehernya naik dan turun, susah payah menelan saliva yang tiba-tiba terasa kesat di tenggorokan. "Hasil tes DNA aku ... sama Lily, bakal keluar."
Kali ini bukan hanya Austin, Tara juga dibuat melengak, keduanya menghela pandang ke arah Andrew bersamaan dengan wajah terkejut level sempurna.
"Apa maksud lu tes DNA? .... Lu ... sama Lily?" Austin memajukan diri mensejajari Tara.
Seperti terhimpit di antara dua batu besar yang membuatnya tiba-tiba terasa sesak, Andrew menundukkan wajahnya dengan mata terpejam. Menatap Austin ... rasanya sama saja seperti menghujam jantungnya sendiri dengan bilah pedang. Ia tak tega, melihat bagaimana adiknya itu mencintai Jasmine.
"Ost ...." Namun mau tidak mau, ia tetap jua harus mengungkap, walau kebenarannya berada di antara lima puluh dan lima puluh, masih cukup samar.
Austin masih menunggu dengan raut gusar, sedang Tara dalam mode penasaran.
"Lu bisa bacot cepet gak, Drew!" Tara menyembur tak sabar.
Baiklah!
Sedikit Andrew mengangkat wajahnya, memaksakan diri menatap Austin juga Tara bergantian, lalu mulai menjabarkan perlahan dan hati-hati, "Jasmine ... dia ... dia itu ...."
"Bacot, Bangsat!" Austin menggeram hilang kesabaran. Semakin menanjak level murkanya. "Jelasin apa maksud lu!"
Sesaat memejamkan mata, mulut Andrew perlahan mulai bergerak dan lalu mengungkapkan semua dosanya dalam satu tarikan napas, "Jasmine itu perempuan yang udah aku culik dan aku perkosa di Bogor dua tahun lalu!"
__ADS_1