
Seolah belum puas berbulan madu di Jepang, Austin bertolak ke tempat kedua, yakni tempat ia dilahirkan dan dibesarkan--Amerika.
Sebenarnya bukan hanya sekedar untuk melanjutkan bulan madu, melainkan sebuah kunjungan sakral ke pemakaman mommy dan daddy-nya. Austin juga ingin memperkenalkan Cindy sebagai istri, walaupun itu jelas hanya fiksi belaka. Tapi setidaknya anggap saja iya.
Kebetulan musim gugur baru saja dimulai. Pemakaman nampak ramai diseraki dedaunan yang berguguran.
Cindy yang cantik dengan midi dress putihnya, tak lepas tangannya menggandeng lengan Austin. Keduanya berjalan menginjak daun-daun kering itu hingga berkeresak bunyinya seperti kresek.
Sampai di dua pusara yang berdampingan, atas nama Thomas Bennedict dan Maria Seva--mereka adalah mommy dan daddy Austin.
“Hi, Mom, Dad. How are you?” sapa Austin seraya menurunkan tubuh, berjongkok di tengah dua makam itu. Sedang Cindy masih berdiri anggun di hadapannya. “Look, who i brought. She's my wife. Beautiful, right?”
Senyuman Austin menular juga pada Cindy. Dia cukup terharu menyikapi celoteh suaminya bersama dua batu nisan yang tak akan pernah Cindy temui sebagai menantu dan mertua sampai kapan pun. Batu nisan saja, sudah jelas tak akan menimpal apa yang mereka ucap. Meskipun merasa konyol, tangan Cindy tetap dibuatnya melambai tipis. “Hi Mom, Dad. My name is Cindy. Nice to meet you.” Disusul senyum secerah mentari pagi di musim panas.
Tak cukup lama keduanya berada di sana. Berbicara dengan batu nisan lama-lama mungkin mendekati gila.
Mereka akhirnya memutuskan melanjutkan perjalanan untuk mencari tempat makan yang ideal dinikmati pasangan.
Sebuah restoran bernuansa aestetik dipilih juga.
Letaknya strategis dan lumayan nyaman.
“Wah, keren banget tempatnya, Sayang!” komentar senang Cindy sesaat setelah Austin menarik kursi untuk kemudian diambil duduk oleh istrinya itu.
“Iya. Dulu restoran ini tempat pavorite Mommy. Jadi kalo kita ada waktu, kumpul di sini berempatan bareng Daddy sama Drew juga.” Austin bercerita dengan tangan sembari menarik kursi lain di seberang sang istri.
Saat yang sama, seorang pelayan datang menghampiri dan bertanya apa yang ingin dipesan kedua orang itu. Austin dan Cindy sepakat menikmati pie apel. Minumnya mereka mengambil rasa berbeda, Austin memesan segelas rompope, minuman berbahan dasar susu yang dipadu kuning telur dan lain-lain. Sedang Cindy memilih yang lebih ringan, yakni coca tea.
Selagi menunggu pesanannya datang, Cindy mengajak Austin berfoto di satu bagian yang memang disediakan resto untuk tema itu. Akuarium seukuran hampir setara kamar tidur menjadi background. Beragam ikan hias cantik ada di sana, ditemani aneka tumbuhan air yang segar-segar memenuhi sekeliling lengkap dengan bebatuan dan lain-lain.
Austin suka pemandangan, pun dengan Cindy. Mereka seperti ditakdirkan untuk menjadi satu server dalam segala tema. Berdiri di satu kalang dengan kesenangan yang tak ada beda. Itulah kemasan takdir yang paling indah dan patut disyukuri.
Beberapa jepretan gambar mereka ambil. Mula dari saling berpegang, berpelukan, hingga lain-lainnya.
Dari sana bahkan sudah jadi pusat perhatian, karena wajah-wajah beranugerah indah yang keduanya terima. Bersinar walau keadaan tak seterang di terik siang.
Sampai seseorang kemudian datang menginterupsi.
“Austin!”
Kegiatan pria itu dan istrinya sontak terhenti. Pandangan mereka teralih pada sosok yang memanggil yang berdiri di depan sana.
Austin mengerut kening coba mengingat wajah yang tersenyum senang ke arahnya itu. Seorang wanita cantik dengan tampilan anggun yang memesona. Make up yang dipoles lumayan tebal sedikit mencolok, berbeda dengan Cindy yang alakadar dengan hanya sentuhan liptin merah jambu di bibirnya yang sudah manis.
__ADS_1
“Claire,” desis Austin.
“Yeah! You still know me." Wanita bernama Claire itu nampak senang karena Austin berhasil mengingatnya hanya dalam hitungan detik.
“Yes, who does'nt know. You're the queen of the school,” ujar Austin dengan raut biasa saja.
Begitulah yang Austin ingat.
Claire adalah penyandang ratu sekolah saat mereka SMA.
Banyak pria yang memuja, bahkan hingga guru matematika yang jelas sudah beristri dengan tiga orang anak hasil pernikahannya, pun anak menteri yang tak pernah absen mengirim coklat setiap hari. Tapi anehnya, Claire yang populer, justru jatuh cinta dan tak bosan mengejar Austin yang saat itu dipandang introvert level puncak oleh semua tanpa terkecuali.
Aneh memang. Yang semua tahu, Austin adalah pakar tak tahu malu. Jadi dari mana datangnya istilah 'introvert' itu?
Jawabannya: Tara adalah guru besar Austin.
Skip-----
Kini mereka kembali dipertemukan. Claire merasa dunia runtuhnya setelah ditolak seratus kali oleh Austin dulu, bangkit kembali di saat ini. Takdir mempertemukannya lagi dengan sang pujaan hati, walaupun dia tahu, semua tak sama lagi.
“I'm so embarrassed!” ujar Claire sedikit salah tingkah, kemudian kembali menatap Austin. “Long time no see, Aust.” Dia baru ingat belum mengatakan demikian saking excited.
Ada pancaran mata yang tak biasa dalam sorot wanita itu, Cindy menilai dengan jelas. Seperti sebuah kerinduan besar yang lama tidak tertuang pada tempatnya. Dan itu benar.
Cindy menoleh Austin dan menatapnya sesaat, tapi tak mengatakan apa-apa. Merasa mungkin tak tepat keberadaannya di antara mereka. “Aku duluan ke sana," katanya pada Austin seraya menunjuk kursi mereka.
Pria itu menyadari perangai istrinya yang mulai kelam. Demi menghindari kecemburuan, ditariknya pinggang Cindy hingga merapat ke pinggangnya dengan possesif. “Bareng aku lah, Honey." Nada yang dikeluarkan terdengar renyah dan menggoda.
Melihat pemandangan itu, Claire tercengang, lalu menelan ludah sudah dan payah karena tercekat. Dia lupa Austin bersama dengan seseorang sedari awal dia melihatnya. “Umm, Austin ... apa dia pacar kamu?” tanyanya ingin tahu. Tapi jujur itu hanya basa basi saja. Claire sudah tahu bahkan sudah melihat video pernikahan Austin yang berlangsung meriah di Indonesia.
Anggap mereka bercakap dengan bahasa Inggris ya, karena gak semua pembaca gak bisa bahasa anu, termasuk penulis yang kadang keder.
Austin dan Cindy saling beradu pandang sejenak mendengar itu, lalu ....
“Kita sudah menikah, Nona.” Cindy yang beri jawaban. Bernada santai, tapi jelas menegaskan bahwa Austin adalah miliknya. Claire atau siapa pun, tak ada dalam kamusnya.
“Apa?” Claire pura-pura tak tahu. Yang padahal setiap sisi kehidupan Austin selalu di-stalking-nya.
“Ya, Claire. Dan keberadaan kita di sini, kebetulan sedang berbulan madu.” Austin menimpali tanpa ragu, lalu menatap Cindy dengan senyuman.
Claire melengak sesaat, kemudian mulai berusaha mengatur diri. “Oumm ... begitu rupanya.” Seraya menyelipkan helai rambut pirangnya ke balik telinga mengusir kegugupan. “Oke. Kalau begitu, aku permisi. Maaf menganggu waktu berdua kalian. Selamat bersenang-senang, Aust.”
Austin tersenyum. “Terima kasih.”
__ADS_1
Sejenak menatap ke dalam mata Austin, Claire kemudian berlalu pergi dari hadapan mereka dengan perasaan penuh gejolak. Masih saja dia tak bisa menerima, walau mencoba sekian kali.
“Kayaknya dia suka kamu!” celetuk Cindy sembari menatap punggung Claire sampai menghilang di balik pintu restoran.
“Memang!” jawab Austin percaya diri.
Cindy melengak wajah lalu memukulnya. “Mau nakal ya, kamu?!”
Austin tertawa ringan. “Sedikit gak apa-apa dong. Claire 'kan cantik. Lumayan kalo dianggurin.”
“Austin!" Cindy menyembur, tangannya melayang hendak memukul lagi, tapi Austin telah melanting lebih dulu dengan tawa senang karena berhasil menggoda istrinya.
Makanan baru saja datang. Keduanya sudah duduk mengisi kursi-kursi semula.
Cindy masih cemberut dalam modenya.
Menyikapi itu, Austin kembali tersenyum. Bibir istrinya yang sudah seperti keong sawah yang kecil-kecil atau biasa disebut tutut, Austin tak tahan untuk tak mengecupnya. “Kalo lagi monyong gini, keliatan makin manis.”
Ke sekian kali, Cindy dibuat terkejut. Dia memukul Austin karena sudah mencium bibirnya di tempat umum. Dia malu, semua mata tertuju pada mereka.
Lain dengan Austin yang dasarnya selalu cuek. Dia malah terkekeh-kekeh kegirangan pertanda keberhasilan yang hakiki baru saja diraihnya seperti piala oscar.
“Ya udah, makan dulu deh. Kalo kamu mau pukul sama cakar-cakar aku, nanti aja di rumah.”
Cindy melengak lagi. “Iihhhh, dasar!"
“Adudududuh!" Austin pura-pura kesakitan. Cindy baru saja mendaratkan cubitan lumayan keras di bagian lengan atasnya. “Sakit, Babe.”
“Rasain tuh!”
Tapi kembali ditanggapi Austin dengan kekehan. “Seneng aja godain kamu.”
Setelah puas mengisi perut, tak lagi ada sesi berjalan-jalan. Cindy mengatakan lelah dan ingin kembali saja ke rumah.
Austin menyanggupi dengan terpaksa.
Selain cemburuan, Cindy juga keras kepala. Austin harus punya sabar lebih menghadapi itu.
Sampai di rumah dan kamar mereka, Cindy masih saja cemberut.
Pertemuan Austin dan Claire membuatnya benar-benar cemburu. Itu dirasanya setelah melihat betapa wanita bernama Claire tadi menyorot suaminya dengan tatapan memuja.
Dan Austin, sekarang dia kena batunya. Hanya mendesah dan garuk-garuk kepala saat Cindy memilih tidur lebih dulu.
__ADS_1
“Ya ... kilangan jatah gua malem ini,” gerutunya.