Scandal Cinta Majemuk

Scandal Cinta Majemuk
Episode 68


__ADS_3

Niat hati memberi adiknya surprise karena kepulangannya, apa daya, kenyataan memberi lakon bertentangan yang sama sekali tak pernah Sigi bayangkan.


Pria itu malah tersangkut di tempat milik orang yang sama sekali tak ingin lagi dikenalnya sejak mereka resmi menjadi rival.


Nasi sudah dimakan bebek, mana bisa disendok lagi. Pada akhirnya Bastian Sigi harus mengalah juga. Austin bukan tandingannya dari sisi mana pun, bahkan secara harta--saat ini.


Takdir memang paling bisa memberi kejutan. Termasuk kejadian malam ini.


Awalnya lelaki itu ingin menyeret Cindy untuk langsung pulang ke villa-nya saat di taman tadi, namun dicegah Austin demi sebuah pelurusan keadaan. Mereka memang harus bicara banyak.


Di ruang tamu villa milik pria bule rasa nusantara itu, Sigi, Cindy, Alsy, seorang asisten dan Austin sendiri kini berkumpul. Mengisi beberapa titik kursi dengan jarak seadanya. Austin duduk bersilang kaki di sofa tunggal berlengan rumbay, sedangkan Cindy, Sigi, dan Alsy berdampingan di sofa panjang bersekat tiga dudukan. Satu sofa bonus polos diduduki asisten Sigi. Penjaga villa Austin berlalu setelah menyajikan lima gelas teh panas untuk orang-orang berkelas itu.


Keadaan masih beku. Belum ada yang membuka kata.


Perputaran jarum jam menunjuk waktu di angka 12.55 dini hari saat ini. Benar-benar waktu yang berkualitas untuk membahas soal penggerebekan.


"Jadi apa hubungan lu sama adek gua?!" Sigi membuka sesi obrolan. Karena jika pertanyaan itu ia lontarkan pada Cindy, jelas tak akan menghasilkan jawaban kongkret. Cindy pasti lebih banyak diam dan menunduk.


Austin menurunkan silang kaki untuk menaruh gelas tehnya ke atas meja, kemudian menyandarkan kembali punggungnya ke sandaran sofa. Wajahnya yang menjengkelkan selalu santai tak ada beban.


"Kalo gua bilang gua pacarnya, lu mau gimana, Bas?!" Dia malah balik bertanya pada Sigi.


Mendengar itu, Cindy yang terperanjat. Ia menatap Austin lalu beralih pada Sigi dengan kepala menggeleng-geleng dan mata melebar, menolak mentah apa yang diucapkan si bule. "Ngga--"


"Kamu gak usah nutupin lagi, Cin!" hardik Austin. Dia akan memulai peran ajaibnya yang ber-skenario dadakan saat ini juga. "Kamu udah nyatain perasaan kamu ke aku biarpun gak secara langsung. Dan sekarang aku bilang ... aku juga cinta kamu!" cetusnya dengan mimik dimanis-maniskan. "Deal, 'kan?” tanyanya. “Jadi mulai sekarang kita pacaran!" Dia memutuskan sendiri seenak perut. Seraya memajukan tubuhnya menatap Cindy dengan alis naik dan turun dipulas senyum memb4gongkan, Austin selalu punya cara yang tak biasa.


Persetan dengan perbedaan usia yang mencolok! Austin menentang keras dalam mindset-nya. Karena ia masih tampan, dan akan selalu seperti itu, walau uban nanti memahkotai kepalanya.


Cindy menanggapi dengan wajah merengut juga mulut sedikit menganga. Apa-apaan pria itu? Ia tak habis pikir.

__ADS_1


Sigi masih diam, mencoba menelaah keadaan. Melihat Cindy dan Austin bergiliran melalui ekor matanya. Dari perangai si Bule, lalu lari ke gerak-gerik adiknya yang terus menunjukkan kegusaran. Ada apa sebenarnya dengan mereka? tanya hati Sigi masih tak paham.


Lain mereka lain pula Alsy. Entah kenapa, kelakuan Austin membuatnya selalu ingin tertawa. Tapi bergeser dari alasan itu, jika sahabatnya--Cindy benar-benar berjodoh dengan cowok bule tampan gagah berpundak bidang tersebut, maka ia adalah orang pertama yang akan bersorak memberi dukungan. Mengingat betapa kaku dan tertutupnya Cindy pada seorang pria selama yang dia tahu, maka jika sekarang gadis itu benar-benar menemukan jodoh, Alsy akan sangat bahagia.


Sebenarnya seperti apa hubungan sahabatnya dan pria itu di masa lalu? Alsy cukup penasaran akan hal demikian sebenarnya.


Setelah semua usai, pokoknya dia akan mencecar dengan banyak pertanyaan, tekad Alsy.


"Cindy ...."


Gadis itu mendongak mendengar teguran kakak yang selalu disapanya 'abang' tersebut, namun tanpa berani menatap matanya. "Iya, Bang?" menyahut dengan suara pelan dan lemah.


"Abang pengen denger tanggapan kamu!" Sigi mulai menuntut--sebagai seorang kakak pengganti ayah mereka yang tak ada.


Tentu saja keadaan ini begitu menjebak Cindy. Ia tak mengira, pertemuannya dengan Austin setelah sekian lama, bisa bersamaan dengan kedatangan Sigi, yang kemudian menciptakan prahara atas dirinya dalam waktu kurang dari dua belas jam.


”Tuhaaaaan.” Cindy bingung harus apa. Hatinya terus mengeluh dan berharap--- bisa tidak tenggelam saja?


Mengangkat sekilas kepala untuk melihat ekspresi kakaknya, lalu kembali merunduk. Jemari tangan ia mainkan saling meremas hingga berkeringat. Walaupun dinginnya udara cukup menusuk di hampir sepertiga malam ini, ia tak bisa merasakan itu. Benar-benar kebas diterjang situasi.


Bagaimana bisa semua berlaku secepat ini?


Dia memang mengagumi Austin sangat jauh.


Hatinya akan menghangat dan bahagia jika di dekatnya, seperti dulu, dan sekarang pun sama. Cindy tetap merasakan getaran yang sama bila berdekatan dengan Austin. Pria itu pernah membebaskannya dari perundungan saat awal masa kuliah, dan Cindy menganggap itu adalah hutang. Meskipun tak tahu bagaimana caranya dia akan membayar.


Jawaban ambigu adiknya membuat Sigi cukup kebingungan. Pasalnya, ia telah melakukan perjanjian perjodohan atas Cindy dengan seorang pengusaha muda asal Singapore--salah satu rekan bisnisnya. Itu pun jika Cindy terus tak beranjak dari zona kosongnya atas sosok seorang pasangan, mengingat usia yang terus naik dan Cindy akan semakin tua.


Tapi jika benar ternyata Austin adalah pria yang membuat gadis itu menutup diri selama ini, maka Sigi tak bisa mencegah. Ia hanya ingin adiknya bahagia. Toh, pria itu sekarang telah ada di hadapannya. Sigi hanya perlu mengatur diri dan hatinya untuk memberi rela.

__ADS_1


"Lu serius sama adek gua?" Dengan segenap kekuatan hati, Sigi melontarkan pertanyaan itu pada Austin didorong suara tegas dan menekankan.


Austin menanggapi dengan senyuman ringan. Mendengus tipis, lalu berujar, "Umur gua kalo di Bogor uda pantes gendong anak dua, Bass." Lagi-lagi ngalor ngidul. Menjawab pertanyaan Sigi seenak jidat. “Lu gak dong0 'kan buat ngerti kalimat itu?”


Alsy kembali membekap mulut menahan tawa mendengar itu.


Sedang asisten Sigi tetap mengatur diri dalam mode datar, walau dalam hatinya sungguh ia sangat ingin tertawa.


Sigi membuang wajah. Malas sekali menjawab pertanyaan sialan Austin. Merasa belum saatnya juga dia menambah pertanyaan, akhirnya memilih diam. Akan ditunggu kalimat lanjutan Austin sampai selesai.


Mengalihkan pandangnya pada Cindy yang juga memandangnya penasaran, Austin tersenyum. "Cin.”


Merasa terpanggil, Cindy mengangkat wajah.


“Kamu siap ... lahirin anak pertama buat aku?"


JRENG!


Seperti disengat ubur-ubur di tengah air dangkal, Cindy tergagap, menegang, hingga seisi dadanya berdentam tak karu-karuan. Pertanyaan macam apa itu? Kenapa terdengar aneh?


“Ak-aku ...." Dia asli kebingungan.


Sigi terus memerhatikan di posisinya.


"Udah ... mau aja, Fer!" Alsy memprovokasi. Menyenggol lengan Cindy dengan senyum tipis namun mengolok. “Kak Osten kan tampan. Anak sepuluh aja kamu gak akan rugi. Kalo kamu kebanyakan mikir, nanti dia aku yang ambil lho! Ye kan, Kak?”


Austin manggut tanpa dosa. “Kalo yang gak mau dipaksa, buat apa capek nyari yang lain. Yang ikhlas aja lebih gampang.”


Alsy hampir tergelak, tapi ia tahan karena tatapan Sigi terasa horor.

__ADS_1


Kali ini Cindy melengak. Wajah songong Alsy pertama kali didapatinya. Dia malu. Austin juga malah santai saja seperti kentut. Bagaimana ini?


__ADS_2