Scandal Cinta Majemuk

Scandal Cinta Majemuk
Episode 58


__ADS_3

Sampai saat ini, sudah terhitung belasan kali banyaknya, Andrew menemui Jasmine dengan beragam cara. Mulai dari membawa sebuket bunga dan berbagai hadiah, memetik gitar dengan lagu romantis di depan pintu, menyewa badut beserta ratusan balon di halaman apartemen mengikuti saran Austin, juga lain-lainnya hingga membawa Lily lengkap dengan hasil tes DNA-nya, Jasmine masih saja bungkam, tak ingin menggubris. Bahkan tidak atas nama Lily sekali pun. Hatinya seolah mengeras seiring banyaknya duka yang ia terima.


Andrew, akankah pria itu menyerah?


Usahanya mendekati Jasmine seakan tak direstui alam. Selalu saja diakhiri sambutan kasar dan histeris wanita itu.


Kandyla, Austin dan juga Tara, mereka hanya bisa mendesah dan mengusap wajah, namun terus memberi dorongan kuat di belakang layar.


Dan hari ini, mungkin adalah usaha terakhir seorang Andrew melakukan apa yang seharusnya--menurutnya. Sudah kepalang! Begitu ia menanggapi dirinya sendiri. Jika hari ini tidak berhasil juga, maka ia benar-benar akan menyerah dan tak akan pernah mengulang.


Di sebuah halaman gedung kesenian yang di mana diadakan sebuah acara peluncuran karya-karya luar biasa anak bangsa yang semula tersembunyi di balik ketidakmampuan secara materil. Mereka mendapatkan apresiasi setelah kemunculan dua pengamen jalanan yang kini menanjak kesuksesan. Jasmine dan Kandyla, keduanya hadir sebagai bintang tamu setelah didaulat sebagai seniman inspiratif, dengan tajuk; ‘Bermula dari Jalanan’.


Di suatu tempat--yang sama, seraya menyandarkan punggungnya setengah tegak ke sebuah pohon dengan satu cup espresso di tangannya, Andrew terdiam menatap Jasmine yang saat ini tengah sibuk dengan sesi tanya jawan di pentas yang disediakan pihak penyelanggara.


Ya, ini kali pertama semenjak kejadian itu, Jasmine mulai mau membuka diri dan keluar untuk menunaikan tuntutan pekerjaannya bersama Kandyla. Dia tak boleh egois dengan mengedepankan urusan pribadi, sementara tugas hiburan lalai dikerjakannya.


Senyuman dari bibir manis Jasmine terus ditatap Andrew. Dia cantik, sangat cantik, pujinya atas wanita itu dalam hati. Wajah Jasmine ditangkapnya melalui layar lebar yang terpasang di suatu sudut tak jauh darinya.


Bukan kecantikan tipuan. Ada pancaran luar biasa dalam diri Jasmine yang Andrew pun bahkan tak bisa menjelaskannya. Pantas saja begitu banyak pria yang menginginkannya, ia melanjutkan asumsinya--masih dalam hati.


Suara para penggemar terdengar ricuh mengelu-elukan nama kedua wanita itu. Andrew masih puas di posisinya menyaksikan dengan khidmat tak tertanggu. Kopi di tangannya hampir tandas, tapi ia tak berminat sama sekali untuk menambah.


Hingga acara pun berakhir satu jam kemudian.


Tertangkap sepasang mata Andrew yang sedari tadi tak lepas mengikuti, Jasmine saat ini tengah berjalan menuju area toilet yang terletak di ujung koridor bagian terdalam gedung. Namun nada dering ponsel terpaksa membuat langkahnya mengikuti Jasmine, terhenti. Ia menepi sejenak di samping sebuah pilar untuk mengangkat panggilan virtualnya.


Beberapa saat setelah itu ....


Demi bisa berbicara empat mata dari hati ke hati bersama Jasmine, Andrew tak membuang kesempatan sekecil apa pun. Ia melanjutkan langkahnya menuju ke arah toilet, guna menemui wanita itu setelah puas bercakap dengan seseorang di line telepon. Kali ini ia harus berhasil. Jika tidak, maka pupus segala niatnya sampai di sini.


Namun ada yang salah. Sesuatu tak terduga ditangkap sejurus matanya hingga terbelalak, tepat ketika Jasmine melewati sebuah lemari tinggi dan besar berisi berbagai barang di penghabisan koridor.


"Jas! Awaaaassss!!" Teriakan Andrew membahana hingga ke seantero gedung.


Lalu ....


....


....


Satu jam kemudian ....

__ADS_1


"Gimana keadaannya, Dok?!" Jasmine bertanya tepat sesaat setelah dokter pria berkacamata setengah hitam, membukakan pintu ruang pemeriksaan. Sepasang telapak tangan wanita itu saling me.remas di antara keringat gundah, pertanda serangan cemas yang luar biasa menerjangnya saat ini.


Kandyla menghampiri tak kalah cemas. Satu tatapan serupa ia hunuskan pada sang dokter--ingin tahu bagaimana kabar orang di dalam sana.


"Tuan Andrew masih belum sadarkan diri, Nona." Dokter menyahuti dengan raut menyesalkan. "Ada pendarahan internal di bagian bawah punggung, juga retakan di sekitar tulang rusuknya. Karena itu kami harus segera melakukan tindakan operasi demi mencegah kemungkinan terburuk."


Penjelasan itu menggetarkan seisi jiwa Jasmine. "Ya, Tuhan ....” Dua telapak tangan ia naikkan untuk menutup mulut yang menganga di mode terkejut.


Sedang Kandyla menyemburkan kasar napasnya seraya mengusap wajah.


"Kalau begitu saya permisi, Nona. Saya harus segera menyiapkan segala sesuatunya untuk kepentingan operasi."


"Silahkan, Dokter!" Kandyla memberi jalan.


"Dy ...."


Suara parau Jasmine disambut Kandyla dengan raut iba. "Sabar ya, Jas." Sembari diusapnya punggung ringkih itu untuk mentransfer sekepal kekuatan--setidaknya.


"Dia harus dioperasi, Dy. Gimana kalo sampe ada apa-apa sama dia?" Pundak Kandyla dijadikan Jasmine sebagai sandaran untuk menumpahkan segala lara yang dalam sekejap membebankannya.


"Gua yakin Andrew bakal bae-bae aja. Dia cowok kuat." Kandyla mencoba terus menenangkan.


Ia ingat ... betapa gigihnya pria itu berusaha membujuk, mendekati, menghibur, hingga menghiba membodohkan diri di waktu belakangan ini, demi sebuah kata 'maaf' dari mulutnya.


Tuhan ....


Pelukan atas Kandyla semakin direkatkannya, seiring semakin kuat rasa sesal menampari jiwanya yang mungkin akan terkapar sesaat lagi.


Apakah ia terlalu kejam pada pria itu?


Tidak!


Bukan, bukan seperti itu.


Ia hanya berdemo pada nasib dan waktu.


Ia hanya merasa selalu dihakimi di tengah masalah yang bahkan bukan ia yang menciptakan.


Kenapa hidup selalu menempatkannya di tempat yang salah?


Kenapa?!

__ADS_1


Sesaat kemudian, ponsel Kandyla terdengar berdering. Wanita itu melepaskan pelukan dengan Jasmine perlahan. "Gua angkat bentar, ya?"


Jasmine mengangguk tipis seraya menyeka basahan di pipi dengan make up yang hampir luntur.


Terlihat Kandyla mulai menempelkan benda sakti itu ke telinganya. "Ya, Den."


"...."


Ekspresi Kandyla menunjukkan keterkejutan menanggapi suara di seberang teleponnya. "Gaury Berdine?" Keningnya sontak berkerut ketika mendengar nama itu disebutkan Denia.


Jasmine menunjukkan gestur ingin tahu pada Kandyla.


Sekilas saja Kandyla menatap sahabatnya tersebut sebelum akhirnya menutup pembicaraan di ponselnya dengan kata, "Makasih, Den. Kabarin gua trus."


"...."


Ponsel itu digenggam Kandyla terayun di sisian tubuh. Ia lalu melihat ke arah Jasmine dan mulai menceritakan apa yang baru saja diberitahukan Denia.


Ringkasnya, Gaury ditangkap polisi setelah terbukti melakukan percobaan pembunuhan terhadap Jasmine, yang pada akhirnya digantikan Andrew. Andrew melanting lalu mendorong Jasmine dari timpaan lemari raksasa--hasil rencana Gaury, dan mengorbankan dirinya sebagai ganti keselamatan Jasmine.


"Kenapa dia ngelakuin itu?" Jasmine menanggapi tak percaya.


"Dia iri sama kita Jas, terutama elu!" jawab Kandyla langsung saja. "Dia ngerasa kita ambil yang seharusnya jadi milik dan tempatnya dia. Dan juga Austin," tandasnya.


"Austin?" Jasmine mengerutkan kening penuh tanya. Air matanya masih luruh belum mengering.


"Iya. Dia tahu kalo lu deket sama Austin."


Jasmine menyergah, "Maksud kamu ... Nona Gaury suka Austin?"


"Ya."


Tatapan Jasmine berubah merenung. Dipandangnya pintu tertutup yang di mana ada Andrew di dalamnya itu dengan tatapan sakit. "Tapi dia bukan Austin," katanya lemah.


Kandyla mengangguk ikut prihatin.


Tanpa bicara lagi, lantai-lantai dingin menuju ruangan itu ditapaki Jasmine gontai, lalu berakhir di depan pintu. Sejenak diam menyiapkan hati. Memaut napas seraya mulai digenggamnya handle pintu, memutar, lalu membukanya secara perlahan.


Setelah melawan ragu dan takutnya, Jasmine kini sudah berdiri di samping brankar di mana Andrew terbaring. Mata dengan bingkai bulu-bulu lentik itu masih terpejam. Jasmine menatapnya penuh tekanan rasa bersalah. Ditutupnya mulut untuk menahan tangisnya agar tak pecah dan menimbulkan suara.


"Harusnya aku yang ada di ranjang itu, bukan kamu," sesalnya setelah melepas sumbatan telapak tangan di depan mulut. "Aku cuma marah sama hidup aku. Bukan berniat menghukum siapa pun termasuk kamu, Andrew ... juga Lily."

__ADS_1


__ADS_2