Scandal Cinta Majemuk

Scandal Cinta Majemuk
Episode 40


__ADS_3

"Gua harus balik," kata Austin seraya memunguti busananya yang tercecer di beberapa tempat di ruangan itu.


"Kenapa buru-buru?" Raut tak rela ditunjukkan Gaury Berdine. Ia mengangkat tubuhnya dengan memegangi ujung selimut tebal yang menginterupsi bagian telanjangnya di depan dada.


Semua bagian pakaiannya telah Austin balutkan ke tubuhnya, kecuali hoodie yang hanya ia sampirkan di pundak kanan. "Kalo kurang, lu bisa calling langganan lu yang lain."


Kelopak mata Gaury membingkai lebar mendengar kata-kata Austin. "Ma-maksud kamu?!"


Austin menghadapkan tubuh tegapnya ke arah wanita berdarah India tersebut. Sekilas senyuman kecut ia hadiahkan untuk wanita itu. Satu tangannya dibuat berkacak pinggang, sedang lainnya nampak mengurut pelipis yang entah itu sebentuk pening karena hutang ... atau seulas sesal.


Setelah menguntai beberapa kata di pikirnya, Austin lalu berkata dengan wajah kembali mengarah lurus pada Gaury. "Thanks buat telpon daruratnya! Thanks buat sambutan panasnya. Juga ...." Sejenak kalimatnya tergantung. Dia melangkah sedikit maju ke arah Gaury. Membungkukkan tipis tubuhnya untuk meraih dagu manis wanita itu hingga terdongak ke arahnya. Kemudian melanjutkan kembali cakap dengan nada berbisik, " ... cara lu maen di atas, lumayan juga. Laen kali kalo nemu gratisan lagi, gua bakal minta lawan gua buat masang gaya miripan lu tadi."


Tak tahu harus dengan cara apa Gaury menanggapi. Ia tahu, pria seperti Austin jelas tak mungkin hanya bermain dengan satu wanita. Tapi tetap saja ia tak suka. Gaury menangkap, ada atmosfer lain yang ia rasakan dari diri pria itu saat ini. Entahlah. "Ka-kalau kamu suka ... kenapa mau pulang? Kenapa gak kita lanjutin aja?" ujarnya mencoba menahan. Rautnya nampak gusar seperti anak SD kehabisan uang jajan.


"Sayangnya ... gua udah gak selera." Demikian Austin menanggapi seraya mengangkat tegak tubuhnya kembali. "Gua suka lubang sempit yang sulit diterobos. Banyak sandungan, trus ada bau amis darah seger yang bikin nagih. Bukan goa menganga yang cepet banjir sekali pukul."


Hello ... apa kabar Jasmine?


Semua pasti mendelik penuh cemooh menanggapinya.


Bukan lagi terjungkal, Gaury mungkin sudah menggelinding-gelinding hingga seluruh tulang dan sarafnya remuk dan terputus.


Pria itu ... apakah sedang menghinanya?


Tapi kenapa ia tak bisa melawan seperti biasa? Mulutnya akan meledak bak petasan korek ketika menghadapi apa pun yang tak disukainya.


Austin terlalu horor.


"Kalo suatu saat lu bunting, jangan cari gua. Gua gak nanem cabe di lahan berjamaah punya lu itu," kata Austin seenak perut. "Tapi gua bukan tipe tolol yang gak tau terima kasih," lanjutnya dengan tampang menjengkelkan. "Oke, Gaury, makasih buat suguhan erotisnya. Gua cabut!"


Tanpa lagi mempedulikan, gegas langkah Austin meninggalkan wanita itu dalam kedongkolan setinggi Himalaya.


Seolah tercekik, tak setitik pun kata mampu disuarakan Gaury. Pikirannya kembali melayang pada percakapannya dengan Austin beberapa saat lalu, sebelum ia dan pria itu memulai kegiatan sinting mereka.


"Kalo kamu masih perawan, aku bakal kabulin apa pun yang kamu mau. Termasuk jadi istri aku."

__ADS_1


Hmm ... tawaran yang menggiurkan. Ditambah nada lembut Austin yang membuat Gaury menjadi lebih dari sekedar bodoh. Tanpa berpikir panjang, ia mengangguk seolah tak ada noda di dalamnya. "Aku ... aku bisa pastikan itu!"


******


Dilihat mini jam dengan angka digital merah menyala yang bertengger di seberang setir mobilnya, tepat di angka; 22.16.


"Maafin Daddy, Sweety. Hari ini Daddy gak ada nemenin kamu main," gumam Austin dengan raut sesal seraya membayangkan senyum lucu putri kecilnya.


Nasi telah menjadi bubur.


Ia menjadi gila hari ini. Mengabulkan keinginan Gaury untuk datang ke apartemennya melalui pesan chat tanpa pertimbangan. Lalu menjarah tubuh mulus artis newbie itu, yang sudah jelas bukan ia pendahulunya. Saking kacau perasaan si bule itu.


Seiring ingatannya menyesali, wajah Jasmine kembali membayangi pelupuk mata.


Pria itu menggelengkan-gelengkan kepalanya cepat dengan mata terpejam, berusaha menepis.


CKIIIIIDDD!


Pedal rem diinjaknya serampangan. Mobil yang ia kendarai terhenti, hanya sisa beberapa jarak saja dari bengkel dan kediamannya. "Aaarrrggghhh!!" teriaknya frustrasi sembari memukuli setir.


Tak suka, ia benar-benar tak suka. Kenapa bayangan Jasmine tak pernah bisa ditepisnya walau setepuk. Bahkan setelah sekian lama, terukur dari pertumbuhan Lily yang semakin membesar dengan banyak kemampuan yang menggemaskan.


Tepat ketika ia hendak memutar kontak kuncinya, pandangannya jatuh pada area kafe, di mana Tara tengah mengobrol bertampang serius dengan seorang pria. Mengisi selingkar kursi di deretan paling depan kafe miliknya itu.


"Sama siapa tu si somplak?" gumam Austin bertanya, mungkin pada boneka monyet yang berjoget-joget di depannya.


Tak memakai asumsi lagi, Austin mulai menghidupkan mesin mobilnya lalu melaju mendekati bangunan miliknya di depan sana.


Hanya satu menit saja.


Memasukkan sepasang tangannya ke dalam saku hoodie yang terjahit tepat di kiri dan kanan sejajar perut, Austin berjalan menghampiri Tara setelah mobilnya apik terparkir di depan halaman bengkel.


Cukup penasaran juga rupanya ia pada sosok yang duduk berhadapan dengan Tara namun dalam posisi membelakanginya itu.


"Le!" Tara bangkit spontan ketika sahabat sekaligus boss-nya itu mulai mendekat.

__ADS_1


Dan ....


"Elu ...." Langkah Austin terhenti spontan, ketika sosok di depannya berbalik badan menghadap ke arahnya, dua detik setelah Tara menyeru nama panggilan konyolnya itu. "Bukannya elu ...."


"Hi, Mr. Bennedict!" Tak lain adalah Dayhan, pria itu bangkit dan mengulurkan tangannya ke hadapan Austin.


Sejenak Austin berada dalam mode menelisik, lalu menerima jabatan tangan Dayhan secepat angin berlalu. "Ada apa lu ke sini?"


Dayhan tersenyum tipis menanggapi nada sinis Austin. Ia telah membayangkan sebelumnya akan seperti apa mode sambutan Austin ketika berhadapan seperti sekarang ini dengannya.


"Duduk dulu, Le." Tara menyarankan. "Biar enak ngobrolnya."


Austin menjawab dengan pergerakan. Ia melangkah melewati tubuh Dayhan lalu duduk di samping Tara. Sedang Dayhan sendiri, kembali ke posisinya--duduk berhadapan dengan Austin.


"Pertemukan saya dengan Jasmine!"


Sebait kalimat tembakan itu membuat Austin melengak menatap Dayhan. Tak terkecuali Tara.


"Maksud lu?" tanya Austin tak cukup paham.


"Dua bulan lalu, Jasmine keluar dari rumah saya. Dan saya yakin, dia datang nemuin Anda ke sini."


Austin membuang wajahnya seraya tersenyum kecut. "Dari mana keyakinan lu itu lahir?" tanyanya kembali menatap Dayhan.


Embusan napas kasar keluar dari mulut Dayhan. "Dari cara dia natap Anda," ujarnya meyakinkan. "Saya bisa menilai, baik dari Jasmine sendiri, atau pun Anda, kalian masih sama-sama menyimpan rasa."


Merasa keberadaannya di tengah kedua pria di depannya tak tepat, Tara bangkit dari tempatnya. "Gua masuk dulu deh, kalian ngobrol aja yang anteng." Lantas melanting gegas memasuki area bagian dalam kafe.


Arah pandang Austin yang tadi mengikuti pergerakan Tara, kini kembali pada Dayhan. "Sayangnya dia gak dateng ke sini," ungkapnya. "Mungkin ke rumah pria lain."


"Maksud Anda, Tuan Bennedict?" Dayhan mengernyit. Tatap tajamnya cukup melukiskan ketidaksukaan pada kalimat Austin.


Seringai senyuman kecut kembali disuguhkan Austin untuk lawan bicaranya. "Ya ... setahu gua, sskarang dia jalan sama pembalap GP nomor wahid di negara ini," ungkapnya tanpa beban. "Lu tahu dong, dia siapa?"


"Pembalap Gp?" Dayhan bertanya dalam hati, membuang pandang ke samping kirinya sembari berpikir.

__ADS_1


Ia menyadari pencariannya terhadap Jasmine sungguh sangat terlambat. Andai Alexa tak banyak menahan langkahnya, mungkin Jasmine sudah ditemukannya sedari lama.


Ia akan meminta maaf sebanyak yang dia mampu, bahkan hingga sesak. Tapi sepertinya tak akan semudah itu. Austin ... tak ada kebohongan di wajah pria itu.


__ADS_2