Scandal Cinta Majemuk

Scandal Cinta Majemuk
Episode 69


__ADS_3

“Iya. Aku mau.”


Semua pandang melengak mendengar jawaban itu. Terlebih Austin. Dia memasang senyuman puas.


Pria itu bangkit untuk mendekat ke arah Cindy, kemudian bersimpuh di hadapannya. “Thanks, Cin. Aku janji gak akan sia-siain kesempatan ini,” ujarnya, lantas dikecupnya punggung tangan Cindy dengan tatapan tak lepas dari wajah empunya nama.


Cindy malu pada semua, juga bingung bagaimana caranya mengambil sikap. Akhirnya hanya seulas senyum dan angguk yang dia berikan pertanda tak ada yang berat dari keputusan yang dia ambil.


“Yess yess, yuk yak yuk!” Alsy bersorak girang. Senyum lebar menandakan ia yang sama puas. “Kawin ah kawin!” oloknya.


Asisten Sigi ikut merasa senang. Dia pria, tapi pemalu luar biasa. Hidupnya hanya berisi suruhan Sigi, tak peduli bagaimana pun yang lain membutuhkannya.


Sedang Sigi sendiri, eskpresinya datar. Hatinya tidak ada yang bisa menebak. Tapi untuk situasi sejelas ini, siapa pun akan tahu, Sigi sedang berusaha memperbaiki diri dengan membiarkan keputusan sang adik tanpa campur tangannya.


Selebihnya waktu yang akan memberi terang.


***


Tujuan hubungan Austin dan Cindy memang pernikahan. Tapi Cindy meminta waktu satu bulan lamanya untuk membiasakan diri berjalan di samping Austin. Pria itu setuju, pun dengan Sigi. Semua akan baik-baik saja--kata mereka.


Austin melontarkan janji tentang sebuah kata bermakna melindungi, menyayangi dan membuktikan bahwa dia sama sekali tak main-main. Karakter riang dan supel Cindy sangat disukainya. Dia tak suka wanita bermuka dua. Dalam kamus gosip, sebut saja sebagai contoh: Gaury Berdine.

__ADS_1


Iyyuuwwhh!


Jangan bergosip. Ini bukan tentang manisnya wanita India.


Cindy hanya butuh waktu. Meskipun ia kenal Austin sebelumnya, bahkan jauh sebelum negara api menyerang----- tak lantas membuatnya langsung percaya. Sikap dari luar bisa saja membohongi. Akan digalinya hati untuk menguatkan keputusannya memilih pria itu. Dia dan Austin hanya sebatas saling mengenal, dan itu tidak termasuk membagi kisah dan kasih dalam ikatan yang pantas disebut cinta.


Dan sebulan itu tepat berlalu di hari ini.


Austin menuntut tepat di angka dua belas malam, sebelum memasuki hari ke-31.


Dia menemui Cindi di rumah besarnya.


"Aku mau tagih jawaban kamu!"


"Hmm!"


"A-aku ...."


”Aku gak mau tau!" sergah cepat Austin. Dia bahkan belum dipersilakan masuk dan masih berdiri di depan pintu. "Kamu harus jawab sekarang juga. Apa ada keluhan kamu selama jadian sama aku sebulan ini?!"


Tersentak. Cindy sampai melengak.

__ADS_1


Austin benar bukan orang yang suka berbasa-basi.


"Aku ...." Lidah Cindy mendadak terasa kelu.


Diperparah dengan tatapan Austin yang semakin menekan saja. Cindy jadi tegang sendiri.


Konyolnya, di tengah suasana itu, seekor cicak tiba-tiba terjun dari atas langit-langit, mendarat tepat di dekat ujung sepatu Austin.


Cindy dan lelaki itu serempak menunduk untuk melihat. Belum diapa-apakan, itu cicak tahu-tahu sudah lari menaiki daun pintu dengan gerak cepat, seperti menyadari nasibnya tak akan baik sesaat lagi.


"Sial!" umpat Austin, lalu mendongakan wajah ke langit-langit.


Ternyata satu cicak lain masih di sana. Ekornya bergerak-gerak seraya mengeluarkan suara nyaring. "Lagian lu kawin di tempat yang kagak-kagak. Gravitasi masih fungsi di mari wooyy!” Asli dia kesal.


Tapi kelakuannya itu justru memancing gelak tawa Cindy.


“Ahahahaha!” Dia sampai terpingkal-pingkal.


Austin sontak teralih pandang. Menatap wanitanya itu dengan wajah terpelongo. Tapi detik berikutnya dia tertular juga, ikut menarik bibir dan tersenyum semanis-manisnya.


"Oke, Cin. Kita nikah seminggu lagi!"

__ADS_1


Tawa Cindy terhenti seketika itu juga. "Weee?!"


__ADS_2