
Menatap kenyataan di depannya, Austin yang sedari tadi mengamati dari balik pintu yang menyisakan sepuluh mili saja untuk menggapai jarak pandangnya, termangu diam.
Dia memang cukup berhasil mengambil dua peran--sebagai ayah sekaligus ibu bagi Lily. Tetapi hukum alam, siapa dapat mengelak. Ada kekuatan lain yang lebih besar dan mendasar. Kekuatan chemistry yang tak siapa pun bisa mengimbangi, termasuk dirinya sendiri yang kadang merasa sok tangguh.
Peluk kasih seorang ibu.
Walau ini pertemuan pertama semenjak terpisah, Lily tak menunjukkan kekakuan seperti biasa ketika menghadapi orang yang tak dikenalnya. Tawa bocah itu bahkan terdengar lebih renyah di telinga Austin.
Setelah ini ... apakah Austin akan berani menahan lagi?
Helai pintu yang tak tertutup sempurna itu perlahan disibak telapak kekarnya. Sejenak diam menata perasaan yang terlalu sulit dibuat merata.
Berusaha terlihat santai dengan tarikan napas panjang, menyusul sepasang tangan yang disusupkannya ke dalam saku celana, ia mulai menyusun langkah mendekati dua perempuan berjauhan generasi itu.
"Ekhhmm ... kalian lagi apa?" Anggap saja basa-basi. Berpura-pura tak tahu, yang padahal sudah jelas, tak sedetik pun kegiatan dadakan ibu dan anak itu luput dari perhatiannya sedari awal kedatangan Jasmine.
Jasmine yang berleseh di atas kasur karpet berbulu halus, melengak sontak menatap Austin. "Lily menyukai Winnie The Pooh," katanya seraya tersenyum.
Mendengar itu, pandangan Austin lalu jatuh pada Lily yang tengah asyik menonton sebuah film animasi yang baru saja disebutkan Jasmine, melalui layar ponsel yang digenggam telapak halus ibunya tersebut.
"Dia memang menyukai itu. Terutama Piglet," pria itu menimpal seolah memperlihatkan, bahwa ia lebih tahu segalanya dibanding Jasmine yang melahirkan.
Berdiri bukan posisi baik untuk berbicara. Austin menekuk lutut menurunkan tubuhnya mengambil posisi nyaman, duduk sedikit berjarak di dekat Jasmine. "Sisa waktu kamu cuma satu jam lagi."
Cetusan kalimat terakhir pria itu disambut Jasmine dengan raut dan perasaan senada, tak menerima. "Aku tahu," katanya terdengar berat. Wajah sendunya ia alihkan ke arah berlawanan. Jelas tak suka dengan peraturan itu.
Terlalu berat hingga menekan sisi keibuannya menjadi segores perih. Diciumnya pucuk kepala Lily yang terduduk nyaman di pangkuannya. Segelembung napas kasar pecah dari mulut Jasmine hingga rambut pirang Lily terkibar tertimpa embusannya.
__ADS_1
"Buatlah sisa waktu ini menjadi lambat, Tuhan. Aku masih ingin berlama-lama dengan anakku," keinginan Jasmine dalam hati.
Bukan tak mengerti, Austin jelas mengetahui arti dari gerak-gerik wanita di hadapannya. Tapi yang ia rasakan, Jasmine hanyalah bentuk dari sebuah kekecewaan. Ia tak ingin mengulang mengharap terlalu banyak. Terlebih, sosok Sigi mungkin telah mengisi kolong hati Jasmine saat ini. Terlihat dari ramainya pemberitaan perihal kedekatan mereka di dunia gosip dan informasi sejauh yang dia tahu.
Jika ia kembali memaksa, hasilnya mungkin akan sama. Terhempas lagi-lagi dalam kecewa, tak diterima.
Jarum jam terus menyusun selaksa waktu.
Tak lagi ada sesi saling menimpal kata. Kedua manusia yang saling kukuh dalam ego itu terdiam, mengenyam kebisuan.
Di luar hujan telah turun cukup deras. Austin bangkit dari duduknya, berjalan menghampiri jendela untuk menutupnya. Ia diam di sana setelah slot kecil di bagian bingkai kaca tersebut terkait sempurna. Ditatapnya udara di seberang yang mulai tak bersahabat. Angin bergemuruh hingga terlihat seperti asap yang saling bertengkar tak mau ada yang kalah--sama seperti dirinya dan Jasmine.
Di posisinya, Jasmine masih erat memeluk Lily yang entah sejak kapan telah terlelap. Mulut mungil dengan aroma sedap khas balita itu sedikit menganga. Jasmine tak bisa menahan untuk tak menyabit senyuman, menatap pemandangan yang indahnya melebihi danau ubur-ubur di Raja Ampat.
Sekarang, pesona London pun tak lagi menarik di matanya. Satu hal yang menjadi satu-satunya harapan untuk Jasmine saat ini, adalah ingin menatap wajah cantik putrinya setiap saat. Dan itu dimulai dari saat ini.
Setelah pria itu menghilang di balik pintu, pandangan Jasmine yang semula mengikutinya kini kembali pada Lily.
Memulihkan kebas tangannya, tubuh gemoy putrinya ia rebahkan perlahan di hadapannya, pada sebuah bantal bermotif animasi tak dikenali, kepala Lily ia sanggakan.
"Kamu benar-benar mirip ayahmu, Nak," gumamnya lagi-lagi tersenyum. Telapak tangannya lembut membelai wajah cantik dengan pipi tembam dan kulit halusnya itu penuh perasaan. Lily tak terusik sedikit pun karenanya.
Tak lama, pintu kembali berderak. Austin muncul dengan senampan makanan lengkap dengan minuman di pangkuan. "Ini masakan cheff di kafe aku," ungkapnya seraya menurunkan tubuhnya dan menaruh nampan itu di samping Jasmine. "Ayo makan."
Senyum Jasmine nanar terlihat. Bukan pada tampilan makanan dengan aroma menggugah selera yang dibawa Austin itu tatapannya mengarah. Tapi ....
Sampai detik perdetik dipandangnya pria itu penuh perasaan. "Lily bener-bener berhasil bikin aku lupa, kalo dia adalah anak hasil kejahatan seseorang."
__ADS_1
Spontan wajah Austin terangkat menatapnya dengan raut terperanjat. Sebuah garpu yang sedetik lalu dipekerjakannya untuk menusuk makanan, terhenti begitu saja.
"Ternyata Tuhan begitu baik," ucap Jasmine lagi. Sejenak diam, lalu kembali melanjutkan, "Dia kasih aku anugerah yang mungkin gak didapetin wanita lain yang senasib sama aku di luaran sana." Sesaat meraup udara yang tiba-tiba boros di tenggorokannya. "Kamu penjahat paling manis di antara semua penjahat." Matanya mulai berkaca-kaca. Setelahnya, ia lantas membelotkan pandangnya pada wajah polos Lily yang nampak tenang dalam tidurnya.
Austin masih diam. Diam yang sebenarnya berisi gelitik bilah belati, yang lalu merayap menciptakan sayatan-sayatan perih di ujung kalbunya yang melemah tiba-tiba.
"Waktu aku di sini udah ampir abis," sambung Jasmine. Terasa hatinya perih tak menerima. "Putaran singkat angka di jam yang kamu kasih itu, bikin aku paham ...." Dihentak perasaan yang dengan cepat menjadi sesak, ia kembali mengangkat wajahnya untuk menyorot tatap pada seraut tampan yang juga tengah menatapnya itu lekat. "Lily ... dan juga kamu ... kalian ... aku sayang." Dua butir air mata menggelinding menimpa pipi halusnya membentuk segaris lukisan basah yang memanjang. "Sekarang aku sadar semuanya, Ben. Hati aku ... ternyata cuma mengharap kamu yang mengisi."
Ada bom tak kasat mata meledak di palung hati Austin. Ungkapan Jasmine terdengar sederhana, namun bermakna cukup dalam bagi dirinya.
Ia terpekur tak mampu menimpal walau setitik kata. Sekeras apa pun berusaha menepis, dalam pancaran mata Jasmine, tetap hanya kejujuran yang ditangkapnya.
Austin dilema.
Setelah meletakkan garpu di tangannya kembali ke nampan berisi makanan yang suhunya mulai berubah dingin, Austin mengambil gerak, meluruskan sepasang tungkai kakinya untuk berdiri.
Jendela dengan gordeng terseret menepi di samping itu, kembali dihampirinya. Hujan masih turun berderu deras. Merasa bingung harus apa, Austin benar-benar membeku dalam diam. Ia berdiri menatap alam yang telah kuyup, terhalang kaca di luar sana.
Sampai sepersekian detik kemudian, sepasang tangan perlahan merayap melingkari tubuhnya dari belakang. Austin lagi-lagi terkejut. Kepalanya ia rundukan untuk memastikan pergerakan tiba-tiba tersebut.
Jari jemari Jasmine telah terkunci sempurna tepat di depan perut ratanya.
Di posisi menyamping, Jasmine menempelkan wajahnya pada punggung kekar yang cukup dirinduinya itu.
"Aku mohon sama kamu, kasih aku kesempatan, biar jadi ibu seutuhnya buat Lily. Juga buat dampingin semua waktu kamu, Ben," tutur wanita itu dengan suara lirih dan seraknya. "Aku mau kita barengan lagi kayak dulu." Semakin direkatkannya pelukan sepihaknya itu di tubuh Austin. "Aku cinta kamu, Ben!"
Masa bodo dengan kata 'tak tahu malu', Jasmine mengikuti kemana hatinya mengarah.
__ADS_1