
BRAAKK!
"Drew!"
Kasar pintu itu terbuka. Membuat pelukan Jasmine dan Kandyla terlerai seketika lalu menoleh ke arah yang sama--ambang pintu.
"Austin!" Bersamaan dua wanita itu menyebutkan nama orang yang kini sudah melesat di depan mereka--menghadap Andrew yang masih tergolek di atas ranjang.
"Gimana dia? Kagak mati, 'kan?" tanya pria itu ngegas dan tentu saja ... gak ngotak!
"Pe'ak! Pertanyaan lu ngajak gelud ya!" hardik Kandyla tak habis pikir. “Otak lu ketinggalan di jamb4n?!"
Austin tak mengindahkan dengan kata. Hanya sekilas lirikan tajam ditusukannya pada gadis itu. Kini ia berpindah tempat ke samping kembarannya dengan wajah cemas luar biasa. "Drew ... ngapa bisa kek gini, sih? Lu ngapa jadi lembek tibang ketiban lemari doang? Biasanya ultramen aja kalah sama lu.” Ekspresinya memang cemas, Austin sama sekali tak sedang bercanda. Bahkan sepasang mata hazel-nya pun nampak sedikit merah. Tapi kalimat-kalimat yang terlontar dari mulutnya benar-benar membuat kedua wanita itu--terlebih Kandyla, geleng-geleng kepala.
“Tu anak sebiji lahir dari pantat kodok kali, yak?” gumam Kandyla. “Mulutnya lebar kek ikan betok, berisik pula kek petasan korek!” Wanita yang akrab disapa Didy itu terus berkicau, menanggapi segala kesintingan Austin yang dia tangkap. "Sakit rohani tu anak!"
Jasmine masih diam. Ia nampak tak peduli dengan kalimat konyol apa pun yang terlontar dari mulut Austin mau pun Kandyla. Fokusnya telak menyembah satu titik--Andrew Blue Bennedict. Entah mengapa dia bahkan lupa, jika Austin pernah disembah hatinya seperti raja. Sekarang semua yang ada pada diri Austin, Jasmine merasa tak ada kepentingan.
"Maaf, Tuan dan Nona, ruang operasi sudah siap." Seorang perawat tiba-tiba muncul dari belakang Jasmine. Decit kehadirannya tak terdengar karena pintu memang tak tertutup lagi sejak kedatangan Austin ke ruangan itu.
Semua perhatian sontak berpusat ke arah wanita berseragam putih-putih itu.
"Operasi?" Austin memasang ekspresi melengak. Wajahnya kini menghadap Kandyla dan Jasmine, menuntut jawaban sejelas-jelasnya dari kedua wanita itu.
__ADS_1
“Iya, Ben. Ada tulang punggung dia yang patah.”
Semakin melebar mata Austin menyikapi jawaban Kandyla.
Pandangannya lalu jatuh pada wajah suster dan seorang dokter yang baru saja tiba. Dokter itu menjelaskan keadaan Andrew lebih secara rinci.
Dia menatap wajah kembarannya yang pucat pasi.
Tak bisa menepis, betapa kecemasan semakin kuat mencekiknya saat ini.
"Tapi dia bakal baik-baik aja, 'kan, Dok?" tanyanya terdengar seperti gumam.
"Kami akan berusaha!" jawab dokter pria setengah baya itu dengan ketegasannya.
***
Memakan waktu setidaknya enam jam, proses operasi Andrew dijalankan. Tiga jam pasca tindakan itu, ia belum juga sadarkan diri, meskipun kini telah dipindahkan ke ruang perawatan karena dinyatakan berhasil.
Jasmine nampak masih setia menunggui di sana. Riasan tipis make up sisa pertunjukkan tadi siang, sudah mulai luntur tersapu keringat dan telapak tangan yang sesekali mengusap kasar dalam gusar.
“Jas, makan dulu, ya. Perut lu belom keisi apa-apaan dari tadi siang. Dan sekarang uda lewat tengah malem." Kandyla datang dengan sekantong makanan di tangan yang dia beli dari pedagang pinggir di depan halaman rumah sakit.
"Aku gak lap--"
__ADS_1
"Makan, Jas!" Austin menyergah. Dia juga masih ada di sana. Duduk memainkan ponsel berkirim pesan dengan Tara, Nimas dan Giovan yang saat ini ada di luar negeri. "Seenggaknya lu punya tenaga buat nyambut dia sadar nanti," sambungnya sok peduli.
Kepala Jasmine berotasi mengarahkan wajahnya pada pria mantan kekasihnya itu. Tak ada cakap. Hanya tatapan sedih dimandikan sesal yang menjadikan wajah cantiknya nampak kusut tak bercahaya.
"Iya, Jas. Tar lu sakit. Gua juga yang repot." Kandyla menambahkan. Kantong berisi bakmie itu mulai dibongkarnya di atas meja di samping sahabatnya. "Lu juga makan, Ben. Biar ada tenaga buat war bareng abang lu kalo dia sadar nanti."
Menanggapi itu, Austin mendesah seraya membuang wajah. Ponsel di tangannya ia lempar ke sudut sofa. "Lu aja makan. Ketek gua aja belon keringetan. Batre gua masih full.”
"Kutu kupret! Lagak lu kuat. Pingsan jungkir balik tau rasa lu!" dengus Kandyla.
Belum perdebatan perihal makanan itu mereka usaikan, kesiur suara Andrew tiba-tiba terdengar, parau dan lemah.
"Jasmine ...."
Semua sontak melengak dan mengarah pada satu titik yang sama.
“Drew!” Austin berseru. “Akhirnya lu sadar juga.”
Andre menoleh saudaranya kaku. “Ozt,” katanya terdengar parau.
“Lu jangan banyak gerak dulu!” Austin menghardik saat Andrew mencoba ingin mengangkat tubuh.
Ditambahkan oleh Kandyla, “Iyak. Lu baru sadar, And!”
__ADS_1
Jasmine terdorong untuk mendekat, namun urung. Dia tadi mendengar pria itu menyebut namanya, cukup tercubit dengan itu. Tapi ....